Rabu, 26 Maret 2014

Rasa yang Datang Terlambat



Raditya Dika bilang “Cinta (rasa) itu punya kadaluarsa”. Dan itulah kalimat yang menggelitikku untuk membuat tulisan ini. Dahulu ketika masing-masing dari kita masih belajar bagaimana caranya aksi hingga sekarang aksi menjadi hal yang dinanti-nanti. Dulu belajar mengkonsep sekarang jadi pengonsep. Dulu belajar cari duit sekarang belajar mengiklaskan duit. Dulu belajar kritisisasi sekarang sudah harus mengkritisi. Dan yang dulu buku SPB masih hitam putih sekarang sudah berwarna-warni. Ya itulah perjalanan kami, manusia yang dulunya bayi dan sekarang mulai mencari jati diri. Dalam buku kehidupan kami ada sosok-sosok yang mewarnai perjalanan hidup ini. Sosok penuh inspirasi yang senantiasa mengurangi tanggal kadaluarsanya sebuah rasa… 

Kebersamaan ini sudah mulai hadir sejak beberapa tahun lalu, namun sayang sekali  baru sangat terasa akhir-akhir ini, rasa yang datang terlambat aku bilang. Ketika pertemuan sudah mulai jarang. Ya memang benar jika “sesuatu akan lebih terasa keberadaannya jika ia sudah tiada atau sulit menemukannya”. Dan itulah yang terjadi sekarang, dimana kebersamaan yang dulu-dulu semakin terasa mahal dan dalam. Annisa, sahabat hawa yang pertama kali aku kenal di SPB12 sampai menginisiasi untuk menjodohkan anak-anak kami agar kebersamaan ini selalu terpatri rapi. Aku bilang “sekalian aja bikin kompleks perumahan khusus, tiap sore yang perempuan diskusi resep masakan dan harga bahan-bahan pokok, kalau tiba-tiba ada kenaikan yang laki-laki disuruh aksi”. Silahkan bilang itu ide gila namun bagiku itu adalah cerminan bahwa ia tak mau kebersamaan ini luntur begitu saja pasca kami wisuda yang “sebenarnya”.
Itu juga yang membuatku paham bahwa ia berusaha agar rasa itu tak kadaluarsa. Rasa bisa memiliki unexpired bila selalu dijaga dan dipupuk bersama. Dan seorang kiki aprilia bilang “aku gak mau tahu, pokoknya setiap hari minimal lima menit kamu harus setor muka sama kita-kita, lima menit han, lima menit aja”. Oke, bagian ini yang membuat hati ini rasanya perih. Aku sudah berani mengikrarkan diri untuk menjadi ibu curhat dan pundakku adalah sandaran gratis bagi kalian yang mau berbagi masalah. Kadang aku sendiri berpikir, mau-maunya aku dikasih masalah wong aku sendiri punya masalah yang harus aku tangani. Tak mengapa, asalkan pundakku bisa berguna meski aku sendiri bingung mau ngasih wejangan apa kalau semua pada minta.
Maaf ya kalau tulisan ini terkesan mellow, ya mau gimana lagi aku orang melankolis. Terserah deh mau bilang lebay, alay atau berlebihan. Yang jelas aku jujur, inilah yang terjadi, mungkin lirik lagu ini bisa mencerminkan perasaan kita:
Sepatu
(Tulus)
Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia
Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri
Intro:
Senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Tak masalah bila  terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan

Reff:
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Didekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya
Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu…

Aku yakin tak ada yang mau mengakhiri kebersamaan ini, seperti kada Dede, 
“Kebersamaan itu tak harus selalu bersama-sama”
 dan itulah yang sekarang harus dipegang. Sekarang yang harus dilakukan adalah belajar iklas dan belajar kuat. Sudah saatnya meng-upgrade diri, kita semakin dewasa, umur selalu tambah, dan yang namanya manusia tak ada kata kembali menjadi anak kecil lagi. Tapi boleh deh kapan-kapan kita semua menjadi sehari menjadi anak kecil, jadi anak gede terlalu berat menurutku, biar seimbang juga hhaha.. 


0 komentar:

Posting Komentar