Raditya
Dika bilang “Cinta (rasa) itu punya kadaluarsa”. Dan itulah kalimat yang
menggelitikku untuk membuat tulisan ini. Dahulu ketika masing-masing dari kita
masih belajar bagaimana caranya aksi hingga sekarang aksi menjadi hal yang
dinanti-nanti. Dulu belajar mengkonsep sekarang jadi pengonsep. Dulu belajar
cari duit sekarang belajar mengiklaskan duit. Dulu belajar kritisisasi sekarang
sudah harus mengkritisi. Dan yang dulu buku SPB masih hitam putih sekarang sudah
berwarna-warni. Ya itulah perjalanan kami, manusia yang dulunya bayi dan
sekarang mulai mencari jati diri. Dalam buku kehidupan kami ada sosok-sosok
yang mewarnai perjalanan hidup ini. Sosok penuh inspirasi yang senantiasa
mengurangi tanggal kadaluarsanya sebuah rasa…
Kebersamaan
ini sudah mulai hadir sejak beberapa tahun lalu, namun sayang sekali baru sangat terasa akhir-akhir ini, rasa yang
datang terlambat aku bilang. Ketika pertemuan sudah mulai jarang. Ya memang
benar jika “sesuatu akan lebih terasa keberadaannya jika ia sudah tiada atau
sulit menemukannya”. Dan itulah yang terjadi sekarang, dimana kebersamaan yang
dulu-dulu semakin terasa mahal dan dalam. Annisa, sahabat hawa yang pertama
kali aku kenal di SPB12 sampai menginisiasi untuk menjodohkan anak-anak kami
agar kebersamaan ini selalu terpatri rapi. Aku bilang “sekalian aja bikin
kompleks perumahan khusus, tiap sore yang perempuan diskusi resep masakan dan
harga bahan-bahan pokok, kalau tiba-tiba ada kenaikan yang laki-laki disuruh
aksi”. Silahkan bilang itu ide gila namun bagiku itu adalah cerminan bahwa ia
tak mau kebersamaan ini luntur begitu saja pasca kami wisuda yang “sebenarnya”.
Itu
juga yang membuatku paham bahwa ia berusaha agar rasa itu tak kadaluarsa. Rasa
bisa memiliki unexpired bila selalu dijaga dan dipupuk bersama. Dan seorang
kiki aprilia bilang “aku gak mau tahu, pokoknya setiap hari minimal lima menit
kamu harus setor muka sama kita-kita, lima menit han, lima menit aja”. Oke,
bagian ini yang membuat hati ini rasanya perih. Aku sudah berani mengikrarkan
diri untuk menjadi ibu curhat dan pundakku adalah sandaran gratis bagi kalian
yang mau berbagi masalah. Kadang aku sendiri berpikir, mau-maunya aku dikasih
masalah wong aku sendiri punya masalah yang harus aku tangani. Tak mengapa,
asalkan pundakku bisa berguna meski aku sendiri bingung mau ngasih wejangan apa
kalau semua pada minta.
Maaf
ya kalau tulisan ini terkesan mellow, ya mau gimana lagi aku orang melankolis.
Terserah deh mau bilang lebay, alay atau berlebihan. Yang jelas aku jujur, inilah
yang terjadi, mungkin lirik lagu ini bisa mencerminkan perasaan kita:
Sepatu
(Tulus)
Kita
adalah sepasang sepatu
Selalu
bersama tak bisa bersatu
Kita
mati bagai tak berjiwa
Bergerak
karena kaki manusia
Aku
sang sepatu kanan
Kamu
sang sepatu kiri
Intro:
Senang
bila diajak berlari kencang
Tapi
aku takut kamu kelelahan
Tak
masalah bila terkena hujan
Tapi
aku takut kamu kedinginan
Reff:
Kita
sadar ingin bersama
Tapi
tak bisa apa-apa
Terasa
lengkap bila kita berdua
Terasa
sedih bila kita di rak berbeda
Didekatmu
kotak bagai nirwana
Tapi
saling sentuh pun kita tak berdaya
Cinta
memang banyak bentuknya
Mungkin
tak semua bisa bersatu…
Aku yakin tak ada yang
mau mengakhiri kebersamaan ini, seperti kada Dede,
“Kebersamaan itu tak harus selalu bersama-sama”dan itulah yang sekarang harus dipegang. Sekarang yang harus dilakukan adalah belajar iklas dan belajar kuat. Sudah saatnya meng-upgrade diri, kita semakin dewasa, umur selalu tambah, dan yang namanya manusia tak ada kata kembali menjadi anak kecil lagi. Tapi boleh deh kapan-kapan kita semua menjadi sehari menjadi anak kecil, jadi anak gede terlalu berat menurutku, biar seimbang juga hhaha..









0 komentar:
Posting Komentar