Sabtu, 09 April 2016

Titik Balik

Ku katakan sebagai seorang perempuan bahwa begitu berat menjaga perasaan. Kini aku paham mengapa teman- teman seangkatan begitu beraninya mengambil sebuah keputusan bernama pernikahan. Menjaga harga diri begitu sulit di zaman sekarang. Berjilbab panjang pun tak menjamin luput dari godaan lelaki yang dikelilingi bisikan setan. Kalau  kau paham mengenai tuntunan, harusnya memandang pun tak kau miliki keberanian.
Terima kasih aku ucapkan. Pada kamu yang sudah menjadi peringatan. Allah mengingatkanku lewat kehadiran dirimu yang begitu menyakitkan. Aku serasa di tampar oleh keadaan. Kedatanganmu pada kehidupanku adalah ujian yang kali ini ingin kuubah menjadi sebuah kenikmatan.
Sekarang aku berada di titik tinggi keimanan. Aku paham bahwa di dalam diriku ini masih sangat banyak kekurangan. Kekurangan yang menjadi penghalang terbesar untuk mengambil langkah besar demi masa depan. Aku sedang berupaya memantaskan. Entah untuk siapa kelak, aku harus tetap memantaskan. 

Aku jadi dekat dengan Allah. Aku jadi semangat belajar tentang agama lebih dalam. Aku jadi lebih bisa menyikapi kegalauan. Aku jadi semakin yakin siapa yang pantas aku pertahankan dan siapa yang aku butuhkan. Mungkin inilah titik balik yang Allah inginkan agar aku menjadi hamba yang taat dan penuh keimanan. Terima kasih untuk dirimu yang telah hadir dalam diriku sebagai suatu peringatan. Semoga kau dipertemukan dengan perempuan yang lebih baik dan kamu inginkan.
Ku harap silaturahmi kita tetap terjaga meski ada setitik memori yang mungkin membuatmu kesakitan. Aku senang, dari dirimu dapat kuambil sebuah pelajaran. Bukankah sebaik- baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain? Itulah dirimu. Terima kasih sudah mampir dalam pelabuhanku. Berlayarlah pulang, carilah pelabuhan yang Allah sediakan. Aku di sini hanya bisa mendoakan. Berharap masing- masing dari kita  mendapatkan yang terbaik sebagai teman beribadah sampai maut memisahkan.

Kamar,
9 April 2016

0 komentar:

Posting Komentar