Ku katakan sebagai seorang
perempuan bahwa begitu berat menjaga perasaan. Kini aku paham mengapa teman-
teman seangkatan begitu beraninya mengambil sebuah keputusan bernama
pernikahan. Menjaga harga diri begitu sulit di zaman sekarang. Berjilbab panjang
pun tak menjamin luput dari godaan lelaki yang dikelilingi bisikan setan. Kalau
kau paham mengenai tuntunan, harusnya
memandang pun tak kau miliki keberanian.
Terima kasih aku
ucapkan. Pada kamu yang sudah menjadi peringatan. Allah mengingatkanku lewat
kehadiran dirimu yang begitu menyakitkan. Aku serasa di tampar oleh keadaan. Kedatanganmu
pada kehidupanku adalah ujian yang kali ini ingin kuubah menjadi sebuah
kenikmatan.
Sekarang aku berada di
titik tinggi keimanan. Aku paham bahwa di dalam diriku ini masih sangat banyak
kekurangan. Kekurangan yang menjadi penghalang terbesar untuk mengambil langkah
besar demi masa depan. Aku sedang berupaya memantaskan. Entah untuk siapa
kelak, aku harus tetap memantaskan.
Aku jadi dekat dengan
Allah. Aku jadi semangat belajar tentang agama lebih dalam. Aku jadi lebih bisa
menyikapi kegalauan. Aku jadi semakin yakin siapa yang pantas aku pertahankan
dan siapa yang aku butuhkan. Mungkin inilah titik balik yang Allah inginkan
agar aku menjadi hamba yang taat dan penuh keimanan. Terima kasih untuk dirimu
yang telah hadir dalam diriku sebagai suatu peringatan. Semoga kau dipertemukan
dengan perempuan yang lebih baik dan kamu inginkan.
Ku harap silaturahmi
kita tetap terjaga meski ada setitik memori yang mungkin membuatmu kesakitan. Aku
senang, dari dirimu dapat kuambil sebuah pelajaran. Bukankah sebaik- baik
manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain? Itulah dirimu. Terima
kasih sudah mampir dalam pelabuhanku. Berlayarlah pulang, carilah pelabuhan
yang Allah sediakan. Aku di sini hanya bisa mendoakan. Berharap masing- masing
dari kita mendapatkan yang terbaik
sebagai teman beribadah sampai maut memisahkan.
Kamar,
9 April 2016








0 komentar:
Posting Komentar