Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Minggu, 30 Maret 2014

Mimpi Bawaku ke Puncak Lawu II



Bergejolak tekad menuju puncak peraduan


Kokoh pundak membawa sebuah tujuan

Erat gandengan mengusir egoisme persaingan

Berbekal mimpi, ia bawaku dalam realisasi

 

Roboh berdiri menyertai setiap raga

Batang pohon menjadi saksi bisu tak terkira

Liku terjal jalan setapak menuai inspirasi

Mengilhami diri yang bukan apa-apa didunia ini

Sungguh, kami hanya seonggok daging yang katanya manusiawi

 

Tiada prasasti demi abadinya kisah

Namun, ia ada disetiap sanubari yang melangkahkan kaki dari malam ke malam lagi

Dan hati yang akan menjaganya hingga mata tak mampu berkedip lagi

Ucapan sakral dariku untuk perjalanan realisasi mimpi ini, TERIMA KASIH

_Haniah_
Surakarta, 9 Februari 2014

Sabtu, 29 Maret 2014

Mimpi Bawaku ke Puncak Lawu



Ketika dulu hanya sekadar bernyanyi “..naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali” kamarin 7-8 Februari 2014 lagu itu menjadi backsong perjalananku  serta menjadi  ajang pembuktian bawa lagu itu memang tidak bohong ahaha :D Mimpi yang aku tulis pada 100 impian hidup, tepat pada nomer 32 yang bertuliskan “naik gunung” sudah tercoret rapi pertanda bahwa mimpi itu sudah tercapai.
Kalau dipikir-pikir tak ada yang mengenakkan ketika perjalanan kemarin, sakit, pegal, capek, dingin semua jadi satu. Malah ketika mulai naik ke pos 2 aku bertanya-tanya pada diriku sendiri “..aku kie meh ngopo to iki, tak rewangi kesel-kesel ora cetho koyo ngene”. Namun ada sebuah kenikmatan tersendiri dari itu semua. Dimana tak semua orang mampu menapakkan kaki dipuncak lawu, melewati jalan terjal dan berliku, merefleksi diri serta memaknai hidup yang sebenarnya.
Berawal dari janji (disertai tekanan dari beberapa pihak juga) seorang kepala sekolah SPB ingin mengajak muncak pasca pembubaran panitia, rencana yang pernah menjadi wacana kini sudah terealisasi dengan indahnya. Setelah melalui beberapa pertimbangan pada akhirnya permintaan MENWA (Menteri Wacana) untuk naik ke lawu saja daripada ke sumbing terkabulkan.
Yak, bersama oknum-oknum berikut: Doni, Zefa, Aji, Riyan, Kak Tria, Kiki, Anis, Mas Ruslan, Dayu, Dede, Mbak Dela, dan Mas Syahid yang tiba-tiba menyusul pendakian dimulai. Dari basecamp menuju pos satu, semangatnya masih berkobar dan masih bisa ketawa-ketiwi diperjalanan meskipun pada akhirnya disuruh diem juga. Lukisan langit dan sorot lampu kota dibawah sana cukup meringankan beban kami, bebanku sih lebih tepatnya karena harus bawa tas carrier segede dan seberat itu. Awalnya udah senang-senang aja nih ada yang mau bawain (katanya), tapi kok pas mau berangkat malah aku sendiri yang bawa. Dengan modus “biar loe belajar, kalau gak gini loe gak akan mulai belajar. Nanti kalau udah gak kuat bilang, tak bawain”. Salahku dibagian ini nih, kenapa aku percaya-percaya aja gitu loh ckckck, Jangan-jangan sakitmu dan kegagalan sampai puncakmu gara-gara gak jadi bawain carrierku ahahah :D
Pos 1 meuju pos 2, ya namanya juga gunung, kebanyakan naiknya daripada turunya kalau lagi berangkat. Jalan makin terjal, cuaca makin dingin tapi badan makin panas, hari juga semakin malam. Mulai banyak batu-batu besar berserakan dan jalan setapak. Dari sini mualai banyak pertanyaan “mana sih posnya? Mana sih posnya? udah kelihatan belum? kok gak nyampek-nyampek” dengan nada rendah menuju memelas. Dengan gampangnya yang udah biasa naik gunung bakal bilang “itu loh, udah kelihatan, atau 5 menit lagi sampai, gak jauh kok, atau dekat kok, udah mau sampai tuh”, kemungkinan terbesar itu adalah prinsip anak gunung. Tahu sih, mungkin niatnya baik biar tetap semangat jalannya, tapi terkadang kami juga butuh kejuuuujuuuuuraaaannn wooyy… -_-
Pos 2 menuju pos 3. Ini jalur yang paling berat bagiku. Dimana intensitas istiratnya paling banyak dan butuh bantuan banyak buat naik dari satu tangga ke tangga selanjutnya. Buang pikiran kalau ini tangga aspal apalagi keramik, tidaaakkk…!! Ini tangga batu, mau cari yang kerikil sampai sebesar 3 kepala manusia aja ada dan itu harus dinaiki dengan jalan yang semakin berkelok. Di pos ini untuk pertama kalinya, seorang Triana Rahmawati bisa diam atau mungkin  lebih tepatnya kadar omongannya berkurang 95 persen. 5 persen sisanya itu adalah untuk teriak “pos tigaa..pos tigaa..udah ada yang nyampek belum??atau ayo han, kita kuat kok, bisa kok bisa”. Padahal biasanya mau cari tombol pause aja susah. Dan terkaparlah kami di pos 3 hingga pagi didalam tenda.
Lanjut ke pos 4 dan 5 yang sebenarnya motivasi tertingginya adalah mencari keberadaan warung mbok Yem. Warungnya sih ketemu tapi mbok Yemnya enggak, mungkin kemarin yang bertugas jaga warung adalah pak Yem karena pas bayar yang ada cuma bapak-bapak. Banyak warga asli yang lalu lalang dan berpapasan, subhanallah, masak aku yang masih muda kalah dengan orang-orang yang kebanyakan sudah berumur itu. Dengan lincah mereka menaiki, menuruni tangga dan jalan terjal.
Ya karena mulai capek nulisnya, sekarang to the point aja. Ceritanya udah sampai puncak lawu. Ya cuma melakukan kegiatan biasa, foto-foto, bikin video ucapan ulang tahun sampai video tim sukses, semuanya mencantumkan kata-kata puncak lawunya.
Sebanarnya bukan semata-mata puncak yang aku cari, bagiku itu hanya bumbu penyedap dari sebuah pendakian. Yang aku cari adalah makna dari realisasi mimpi itu sendiri. Mimpi tak akan tercapai bila tidak diusahakan apalagi cuma dijadikan angan-angan dan omong kosong doang. Ada orang bilang “Diamnya Haniah adalah bicaranya” ada 2 kemunkinan, antara capek atau memang berbicara dalam diam. Selama perjalanan aku memilih lebih banyak diam, bukan karena capek tapi lelah haha :D lebih ke berbicara dengan diri sendiri, mereflesksi diri. Aku yang dikampus, aku yang dirumah, aku yang dimasyarakat akan berbeda dengan aku yang digunung. Serifikat sebanyak apapun, pengalaman sebanyak apapun didunia kampus bisa jadi tak punya arti apa-apa digunung. Semua tempat semua waktu dan semua kesempatan mengajarkan hal-hal yang berbeda, ia tak bisa tiba-tiba datang begitu saja. Kesempatan yang sama tidak datang dua kali, begitu juga dengan cita-cita dan mimpi yang kitalah seharusnya yang menjemput karena tak mungkin datang sendiri.
Pengalaman itu untuk dicari, dibagi, dan diterapkan, tak ada kata menunggu bahkan berdiam diri. Dunia ini luas, sayang sekali bagi manusia yang ngakunya muda tapi hobinya online didunia maya saja. Hidup cuma sekali buatlah berarti. Tuntutlah ilmu semenjak dari gendongan bayi hingga liang lahat nanti. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan dunia ini.

Jumat, 28 Maret 2014

Aku Wanita

Wanita itu perhiasan jadi tak usah dihias pun sudah indah. Keindahan itulah yang harus dijaga sampai datang pemilik sahnya dan dikembalikan lagi pada pencipta-Nya.

Hawariyah (Sahabat Sejati)



Hawariyah
Sosok yang masih sulit dicari
Dalam penjuru takdir yang telah aku lewati
Berbekal hati ini aku tetap mencari
Dalam dimensi dunia tak berujung ini

Hawariyah
Dikau lari aku tangisi
Dikau pergi aku ratapi
Dikau sunyi aku kasihi
Dikau lupa diri aku ajari

Hawariyah
Aku sepi kau berlari pergi
Aku lara hati kau tak mau kembali
Aku depresi kau tak pernah peduli
Aku mati kau tak tahu diri

Hawariyah..hawariyah
Hawariyah bukan belati
Hawariyah bukan bidadari
Hawariyah bukan merpati
Dan
Hawariyah bukan untuk pergi lalu ditangisi

MAU DIBAWA KEMANA PENDIDIKAN KITA ?



 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerima 837 laporan terkait Ujian Nasional (UN) SMA/SMK/MA/SMA LB 2012. 213 diantaranya terkait kecurangan.

Lead dari salah satu portal berita nasional diatas menggambarkan betapa parahnya kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya siswa-siswi Sekolah Menengah Atas dan sederajat yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi. Keputusan Muhammad Nuh selaku Mendikbud yang menghapuskan SNMPTN jalur tulis mengundang banyak polemik di masyarakat terutama para mahasiswa yang telah merasakan proses berjalannya SNMPTN baik undangan maupun tulis pada tahun-tahun sebelumnya. Mahasiswa yang akan berperan sebagai agent of change atau agent of control social harus mempunyai kualitas lebih dan tidak boleh hanya sekadar “ecek-ecek” belaka. Mereka memegang peran sebagai agen-agen perubahan dan akan menjadi pemegang kekuasaan selanjutnya setelah para generasi-generasi tua saat ini lengser atau pensiun. Untuk itu sejak proses awal penyaringan mahasiswa baru pun harus dengan standarisasi yang berkualitas. Kembali ke permasalahan awal mengenai penetapan SNMPTN 2013 atau yang lebih menyoroti pada SNMPTN Undangan tahun ini. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa ada dampak positif yang langsung bisa dirasakan oleh beberapa pihak seperti siswa itu sendiri dan sekolahnya. Tidak adanya pungutan biaya alias gratisnya pendaftaran SNMPTN undangan tahun ini cukup melegakan mereka. Tapi dibalik itu semua tersimpan masalah-masalah yang tidak bisa dianggap enteng. Tidak banyak orang tahu namun sayangnya hal ini benar-benar terjadi. Beberapa masalah tersebut antara lain :
Manipulasi Nilai
Penggunaan nilai rapor sebagai salah satu syarat mengikuti SNMPTN Undangan secara tidak langsung ikut meningkatkan kecurangan atau manipulasi nilai rapor oleh pihak sekolah. Kuantitas siswa yang diterima di PTN menjadi salah satu aspek untuk meningkatkan akreditasi sekolah yang bersangkutan terkadang dijadikan dalih untuk memanipilasi nilai rapor para siswanya agar peluang untuk diterima semakin terbuka lebar. Sistem Pangkalan Data Siswa dan Sekolah (PDSS) yang menampung rekam jejak akademik semua siswa di suatu sekolah sejak semester pertama dirasa belum dapat menanggulagi masalah ini, karena masih sangat memungkinkan penggelembungan nilai rapor menjelang pendaftaran SNMPTN 2013. Pencanangan SNMPTN Undangan yang telah berlangsung sejak 2010 lalu tidak menutup memungkinkan bahwa mark up nilai tidak hanya dilakukan pada siswa kelas XII saja tapi juga adik-adik mereka di kelas X dan XI untuk memperlebar peluang ditahun-tahun setelahnya.
Memperkecil Kesempatan
SNMPTN 2013 yang lebih menfokuskan pada siswa lulusan 2013 memperkecil kesempatan bagi siswa-siswi yang telah lulus di tahun sebelumnya tapi belum mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri. Bila dengan SNMPTN tulis mereka mempunyai proporsi yang seimbang karena tidak memihak pada salah satu lulusan di tahun tertentu, maka ditahun 2013 mereka harus berlapang dada memberikan kesempatan lebih besar pada adik-adik kelasnya yang baru lulus. Jalur mandiri yang diharapkan menjadi alternatif ternyata tidak terlalu menyelesaikan polemik ini karena lagi-lagi ada keberpihakan. Untuk kalangan yang mempunyai strata finansial baik mengikuti Ujian mandiri tentu tidak ada apa-apanya, tapi bagi kelas menengah ke bawah hal ini pasti  menjadi faktor penghambat untuk bisa mendapat kursi di PTN. Mereka yang sudah mempersiapkan SNMPTN tulis sejak 1-2 tahun sebelumnya harus rela menerima kenyataan yang tidak menyenangkan ini.
Meningkatkan Kecurangan
Bagi siswa-siswi yang telah mengetahui bahwa nilai rapor mereka masih dirasa kurang memenuhi untuk bisa diterima di PTN pasti akan melakukan segala cara untuk menutup kekurangan tersebut. Sayangnya, salah satu jalan yang ditempuh peserta didik di Indonesia adalah mencontek ketika ujian. Budaya instan dan degradasi kepercayaan diri menjadi salah satu faktor peningkatan kasus kecurangan ujian nasional. Pemerintah yang berencana membuat 20 paket soal ujian nasional 2013 belum bisa menjamin kejujuran siswa-siswi. Dari UN tahun lalu saja diperoleh laporan kecurangan hingga 213 laporan, meningkat daripada tahun 2011 yang hanya 109 laporan. Padahal jika dibandingkan jumlah variasi soal antara tahun 2012 yaitu 5 tipe soal dan tahun 2011 hanya 2 tipe soal A dan B. Kenyataanya banyak sedikitnya tipe soal tidak menutup kecurangan demi kecurangan yang ada dalam ujian nasional. Kecurangan di SNMPTN tulis pun dapat dikatakan sangat minim bahkan tidak ada. Selain soal-soal yang juga bervariasi, di dalam satu kelas peserta mempunyai latar belakang sekolah yang berbeda, apabila ada pun hanya 1-2 orang saja sehingga menutup kemungkinan bahwa mereka telah saling kenal sebelumnya.
Dari segi kualitas soal UN dan SNMPTN tentunya sangat berbeda jauh. Soal-soal UN hanya bersifat evaluatif sedangkan soal-soal SNMPTN jelas-jelas bertujuan untuk menyaring siswa-siswa yang memenuhi kriteria dan pantas mengikuti pembelajaran di tingkat Universitas.
Kurang Transparasi
Ketidakjelasan mengenai nilai-nilai atau aspek-aspek apa saja yang menjadi alasan siswa diterima maupun ditolak dari SNMPTN terutama jalur undangan memerlukan transparasi yang jelas. Koordinator Bidang pendidikan, Indonesia Corruption Watch (ICW) juga menyatakan bahwa dirahasiakannya nilai seluruh peserta SNMPTN akan membuat rawannya kecurangan. Selain itu, kurangnya transparasi ini bisa berakibat semakin suburnya praktik jual-beli kursi di PTN. Dengan adanya keterbukaan diharapkan mampu mengobati rasa penasaran siswa, wali murid, guru-guru dan pihak-pihak yang terkait dalam masalah kependidikan mengenai proses dan seleksi yang terjadi selama SNMPTN berlangsung hingga keluarnya pengumuman lolos atau tidak lolos. Bila dibandingkan dengan SNMPTN tulis, setidaknya para peserta telah mengerjakan soal-soal sehingga dapat memperkirakan sejauh mana keberhasilan yang dapat ia capai dengan menkalkulasi jumlah jawaban yang yakin bisa terjawab dengan yang tidak.
Sensasi Ujian
Sayang sekali bila moment SNMPTN  menjadi sangat biasa bahkan tidak berkesan sama sekali. Sensasi yang di timbulkan melalui SNMPTN tulis tidak akan pernah terjadi di SNMPTN tahun ini. Bagaimana seorang siswa belajar mati-matian untuk mempersiapkan SNMPTN tulisnya, mencari tempat ujian, mengerjakan soal-soal yang cukup asing hingga menunggu detik-detik pengumuman lolos yang terkadang hingga membuat seseorang mengalami stres dan jatuh sakit. Seorang siswa yang akan menghadapi SNMPTN dipastikan akan belajar dengan giat sehingga meningkatkan intensitas belajarnya dibandingkan dengan siswa yang hanya mengandalkan nilai rapor atau ujian mandiri yang kadang telah lebih dahulu membuat pesimis karena kesempatan untuk diterima yang relatif sangat kecil. Hal tersebut akan selalu terkenang dan dapat menjadi pemicu semangat ketika kegiatan kuliah dirasa membosankan. Berbeda dengan SNMPTN undangan yang sangat memposisikan siswanya “PW (Posisi Wenak)”. Mulai dari arsip berkas hingga proses-proses yang lain sudah diusahan oleh sekolah masing-masing. Mereka tinggal tunggu jadi dan melihat pengumuman, tidak ada “greget” sama sekali dalam pengalaman hidup yang dijalani seperti ini.
Itulah sekelumit masalah-masalah yang muncul bail itu disengaja maupun tidak. Secara keseluruhan tentu kami meninginkan keputusan-keputusan yang lebih baik, transparan serta adil bagi semua pihak.