Dimana arus darah mengalir dengan derasnya, itu pemuda.
Dimana
pemikiran masih dalam idealismenya, itu pemuda.
Dimana
semangatnya menggebu luar biasa, itu pemuda.
Dan
dimana itu pemuda, kamulah orangnya.
We are young.
Kita adalah pemuda. Ketika setiap manusia membanggakan status kepemudaannya,
berarti itulah pertanda bahwa ia sadar bahwa dirinya pemuda. Sekarung potensi
yang dimiliki seorang pemuda seharusnya membuat Indonesia bangga karena
memiliki cadangan penerus bangsa yang melimpah. Usia yang produktif akan
melandasi terciptanya inovasi-inovasi yang luar biasa. Keadaan fisik yang baik
membuat para pemuda pantang untuk diam tanpa gerak karena tubuhnya yang kuat
akan menjadi lemah ketika ia tak melakukan apa-apa. Kemampuan teknologi yang
tinggi membuatnya bisa segaris dengan perkembangan zaman yang tak akan mampu
kita hentikan laju teknologinya. Sikap yang terbuka membuat semua pemikiran
yang luar biasa dari lain kepala dapat diolah menjadi suatu pemikiran ekstra
yang mampu mengubah dunia pada waktunya.
Ya, itulah pemuda
(seharusnya). Namun sayang seribu sayang, fakta bersiul riang dengan kenyataan.
40 % dari 200.000.000 jumlah pengangguran didunia merupakan pemuda.
International Labour Organization (ILO) menyatakannya dengan angka 75.000.000
juta pemuda adalah pengangguran.
Then, how about your
country? Indonesia, ibu pertiwi yang kita cinta. International Labour
Organization (ILO) mengungkapkan bahwa 50 % pengangguran di Indonesia adalah
pemuda. Jangan kaget dahulu, masih ada fakta yang mencengangkan dari itu. Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapepenas) menohok kita dengan datanya yang
berbunyi Indonesia merupakan Negara nomor satu dengan jumlah pengangguran muda
tertinggi di Asia Pasifik.
Maraknya pemuda
pengangguran disebabkan oleh banyak hal. Ketidaksinkronnya pendidikan terdahulu
dengan perkembangan zaman yang melesat adalah salah satu sebabnya. Dimana
kebebasan berekspresi dan pengembangan skill yang dirasa sangat kurang
ditanamkan pada diri siswa-siswanya dahulu harus menantang zaman yang
membutuhkan kemampuan komunikasi, leadership dan banyak lagi tuntutannya. Masih
ingat dengan pembelajaran terdahulu?
Kita hanya diberikan materi dengan kondisi pembelajaran yang satu arah
dan monoton. Guru menjadi center atau pusat pembelajaran kemudian siswa menjadi objeknya. Pengupasan teori itu
penting, namun alangkah baiknya ada implementasi langsung meskipun sederhana
namun memberikan pemahaman ekstra melalui pengalaman. Pengalamanlah yang akan
membentuk skill dan dengan skill pengalaman akan semakin berkembang lagi. Bukan permasalahan tidak ada sarana dan
prasarana dilingkungan pendidikan. Tapi bagaimana bisa menciptakan sarana dan
prasarana itu didepan kita, tidak melulu mengemis harta pada orang-orang
berdasi diatas sana. Guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, bukan pengemis minta
dana atau sarana dan prasarana.
Kenapa skill? Karena
Skill dan pengalaman yang tinggilah yang dibutuhkan dunia kerja (O’Higgins:
2001). Foundation skill atau kemampuan dasar seperti kemampuan membaca, menulis
dan mengerti teks sangatlah kurang dalam keberjalanan pendidikan dizaman
global. Dibutuhkan skil-skil penunjang yang akan melengkapi kekurangannya.
Transferable skill adalah kemampuan untuk menganalisa masalah, menemukan
solusi, mengkomunikasikan ide dan informasi secara efektif, kreatif, kemampuan
memimpin dan mendemonstrasikan kemampuan enterpreuner. Setiap manusia adalah
pemimpin bagi dirinya sendiri, dan pada saatnya nanti semuanya akan mempunyai
kesempatan untuk memimpin. Seorang pemimpin tidak hanya pandai berdeklamasi
namun sudah sangat jelas bahwa pemimpin adalah pemutus sebuah kebijakan,
mengeksekusi solusi dan menentukan jalan yang akan diambil. Technical skill
tidak kalah penting, dimana setiap manusia sebaiknya mempunyai kemampuan
memahami dan mengaplikasikan kenapa sesuatu ada dan bagaimana menanggapinya.
Ketiga skill tersebut
idealnya dimiliki para pemuda, tapi pada kenyataannya mungkin baru sepersekian
persen yang sudah mengembangkannya. UNESCO atau suatu badan pendidikan
internasional milik PBB menyatakan bahwa pendidikan masih menyentuh ranah
foundation skill saja.
Terus apakah kita harus
menyalahkan perubahan zaman yang melesat cepat. Tidak! Rasa malas telah merasuk
pada kepribadian pemuda, itulah masalahnya. Senang dengan hal-hal yang serba
instan dan praktis, padahal ke-praktisan itulah yang mengurangi pembelajaran
proses. Proses yang seharusnya memberikan pengalaman harus terpotong demi sikap
minta enak pada pemuda. Proses yang mereka jalani untuk menuju suatu tujuan
tidak lengkap, dicuri oleh makluk yang bernama malas dan kepraktisan.
Kamu pemuda, kamu
pengubah dunia (Seharusnya). Sudah tidak zaman lagi kalau hanya duduk berkutat
dengan buku dan buku. Seimbangkan! Diluar sana banyak ilmu tanpa harus membaca
buku. Skill harus ada dalam pemuda karena masa depan menantang itu semua. Memang
bukan pekerjaan orientasi kita, tapi apa kita bisa hidup tanpa kerja? Tidak. Mau
jadi pengangguran? Mau jadi beban Negara? Mau jadi gunjingan dikeluarga karena
katanya sarjana tapi kerjanya nongkrong didepan rumah saja?
Kita adalah pemuda dan
yakinlah dengan semangat kita, kita mampu mengubah dunia Dengan ilmu yang
seimbang (Skill dan teori) kita membangun dunia. Dengan malas kita mengiamatkan
dunia. Bukan dengan menjadi presiden Amerika atau Negara super power yang
lainnya, tapi dari hal yang ada di sekitar kita. Perubahan itu berawal dari
hal-hal kecil dan sederhana. Semangat menuntut ilmu, menyebarkannya dan
implementasinya.
















