Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Minggu, 29 Desember 2013

Pemuda, Sosok Pengubah Dunia (Seharusnya)


Dimana arus darah mengalir dengan derasnya, itu pemuda.
Dimana pemikiran masih dalam idealismenya, itu pemuda.
Dimana semangatnya menggebu luar biasa, itu pemuda.
Dan dimana itu pemuda, kamulah orangnya.
We are young. Kita adalah pemuda. Ketika setiap manusia membanggakan status kepemudaannya, berarti itulah pertanda bahwa ia sadar bahwa dirinya pemuda. Sekarung potensi yang dimiliki seorang pemuda seharusnya membuat Indonesia bangga karena memiliki cadangan penerus bangsa yang melimpah. Usia yang produktif akan melandasi terciptanya inovasi-inovasi yang luar biasa. Keadaan fisik yang baik membuat para pemuda pantang untuk diam tanpa gerak karena tubuhnya yang kuat akan menjadi lemah ketika ia tak melakukan apa-apa. Kemampuan teknologi yang tinggi membuatnya bisa segaris dengan perkembangan zaman yang tak akan mampu kita hentikan laju teknologinya. Sikap yang terbuka membuat semua pemikiran yang luar biasa dari lain kepala dapat diolah menjadi suatu pemikiran ekstra yang mampu mengubah dunia pada waktunya.

Ya, itulah pemuda (seharusnya). Namun sayang seribu sayang, fakta bersiul riang dengan kenyataan. 40 % dari 200.000.000 jumlah pengangguran didunia merupakan pemuda. International Labour Organization (ILO) menyatakannya dengan angka 75.000.000 juta pemuda adalah pengangguran.
Then, how about your country? Indonesia, ibu pertiwi yang kita cinta. International Labour Organization (ILO) mengungkapkan bahwa 50 % pengangguran di Indonesia adalah pemuda. Jangan kaget dahulu, masih ada fakta yang mencengangkan dari itu. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapepenas) menohok kita dengan datanya yang berbunyi Indonesia merupakan Negara nomor satu dengan jumlah pengangguran muda tertinggi di Asia Pasifik.
Maraknya pemuda pengangguran disebabkan oleh banyak hal. Ketidaksinkronnya pendidikan terdahulu dengan perkembangan zaman yang melesat adalah salah satu sebabnya. Dimana kebebasan berekspresi dan pengembangan skill yang dirasa sangat kurang ditanamkan pada diri siswa-siswanya dahulu harus menantang zaman yang membutuhkan kemampuan komunikasi, leadership dan banyak lagi tuntutannya. Masih ingat dengan pembelajaran terdahulu?  Kita hanya diberikan materi dengan kondisi pembelajaran yang satu arah dan monoton. Guru menjadi center atau pusat pembelajaran kemudian  siswa menjadi objeknya. Pengupasan teori itu penting, namun alangkah baiknya ada implementasi langsung meskipun sederhana namun memberikan pemahaman ekstra melalui pengalaman. Pengalamanlah yang akan membentuk skill dan dengan skill pengalaman akan semakin berkembang lagi.  Bukan permasalahan tidak ada sarana dan prasarana dilingkungan pendidikan. Tapi bagaimana bisa menciptakan sarana dan prasarana itu didepan kita, tidak melulu mengemis harta pada orang-orang berdasi diatas sana. Guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, bukan pengemis minta dana atau sarana dan prasarana.
Kenapa skill? Karena Skill dan pengalaman yang tinggilah yang dibutuhkan dunia kerja (O’Higgins: 2001). Foundation skill atau kemampuan dasar seperti kemampuan membaca, menulis dan mengerti teks sangatlah kurang dalam keberjalanan pendidikan dizaman global. Dibutuhkan skil-skil penunjang yang akan melengkapi kekurangannya. Transferable skill adalah kemampuan untuk menganalisa masalah, menemukan solusi, mengkomunikasikan ide dan informasi secara efektif, kreatif, kemampuan memimpin dan mendemonstrasikan kemampuan enterpreuner. Setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, dan pada saatnya nanti semuanya akan mempunyai kesempatan untuk memimpin. Seorang pemimpin tidak hanya pandai berdeklamasi namun sudah sangat jelas bahwa pemimpin adalah pemutus sebuah kebijakan, mengeksekusi solusi dan menentukan jalan yang akan diambil. Technical skill tidak kalah penting, dimana setiap manusia sebaiknya mempunyai kemampuan memahami dan mengaplikasikan kenapa sesuatu ada dan bagaimana menanggapinya.
Ketiga skill tersebut idealnya dimiliki para pemuda, tapi pada kenyataannya mungkin baru sepersekian persen yang sudah mengembangkannya. UNESCO atau suatu badan pendidikan internasional milik PBB menyatakan bahwa pendidikan masih menyentuh ranah foundation skill saja.
Terus apakah kita harus menyalahkan perubahan zaman yang melesat cepat. Tidak! Rasa malas telah merasuk pada kepribadian pemuda, itulah masalahnya. Senang dengan hal-hal yang serba instan dan praktis, padahal ke-praktisan itulah yang mengurangi pembelajaran proses. Proses yang seharusnya memberikan pengalaman harus terpotong demi sikap minta enak pada pemuda. Proses yang mereka jalani untuk menuju suatu tujuan tidak lengkap, dicuri oleh makluk yang bernama malas dan kepraktisan. 

Kamu pemuda, kamu pengubah dunia (Seharusnya). Sudah tidak zaman lagi kalau hanya duduk berkutat dengan buku dan buku. Seimbangkan! Diluar sana banyak ilmu tanpa harus membaca buku. Skill harus ada dalam pemuda karena masa depan menantang itu semua. Memang bukan pekerjaan orientasi kita, tapi apa kita bisa hidup tanpa kerja? Tidak. Mau jadi pengangguran? Mau jadi beban Negara? Mau jadi gunjingan dikeluarga karena katanya sarjana tapi kerjanya nongkrong didepan rumah saja?
Kita adalah pemuda dan yakinlah dengan semangat kita, kita mampu mengubah dunia Dengan ilmu yang seimbang (Skill dan teori) kita membangun dunia. Dengan malas kita mengiamatkan dunia. Bukan dengan menjadi presiden Amerika atau Negara super power yang lainnya, tapi dari hal yang ada di sekitar kita. Perubahan itu berawal dari hal-hal kecil dan sederhana. Semangat menuntut ilmu, menyebarkannya dan implementasinya.

Jumat, 27 Desember 2013

My Family




Sebuah Monolog Hidup

                                                               Kamu Tahu?
Ketika tiba-tiba air matamu jatuh tanpa kau tahu alasannya, apa kamu tahu kenapa?
Ketika  perasaanmu tiba-tiba perih dan sekujur tubuhmu panas melihat hal yang tak kau sukai, kamu tahu itu kenapa?
Dan ketika tanganmu mengepal kuat tanpa aba-aba ingin menonjok wajahnya, kamu tahu itu kenapa?
Ya, aku tak tahu itu kenapa, maka dari itu aku bertanya. Aku bertanya dan berharap dirimu yang banyak  janji itu bisa memberi jawaban yang jelas dan tuntas untuk segala pertanyaan yang aku lontarkan hanya padamu.
Kamu tahu? sakit hati ini, ketika janji yang kamu ucapkan ternyata kamu sendiri yang mengingkari. Kamu tahu? Ketika sosokmu tak ada, aku mati-matian mencari pengganti pundak yang bisa sejenak aku sandari. Namun ternyata, tak ada. Ya! Tak ada yang bisa memposisikan pundaknya senyaman pundakmu yang selama ini menjadi tempat bernaungnya kesedihanku.
Kamu tahu? Ketika ketiadaanmu  aku berusaha mengisi kekosongan yang kamu tinggalkan. Kamu tahu? Kamu tahu itu telah aku lakukan? dan ketika kamu datang tak kau tanyakan sama sekali keadaanku saat kau pergi pada waktu itu.
Kamu tahu? Ketika posisimu terjepit oleh masalah yang menikammu dari segala penjuru aku yang tak pernah sekalipun menjatuhkan perasaanmu. Kamu tahu? Tahu? Aku satu-satunya orang yang membangun semangatmu meski aku tahu itu adalah murni kesalahanmu.
Kamu tahu? Ketika batin ini terkadang merasa tak mampu lagi menahan sesak yang tanpa sadar telah kau hinggapkan padaku dan sudah mencapai ambang batas hidupku. Kamu tahu? Bila ada panci, kursi, meja, batu, atau pisau ingin rasanya aku menikammu. Namun, apa kamu tahu? Ketika aku melihat wajahmu aku pun tak jadi menghajarmu dengan amarahku. Kamu tahu? Kamu tahu kenapa itu?
Kamu tahu? Disaat orang-orang disekitarmu meluncurkan kata-kata pedas terhadapmu, aku yang menjadi tameng itu dari telingamu. Aku yang merasakan pahitnya cacian, pedasnya makian dan sakitnya hujatan yang sebenarnya itu ditujukan padamu.
Kamu tahu? Kata-kata indah yang membuatmu salah paham itu sebenarnya aku tujukan hanya untukmu. Apa kamu tahu? Tahu? Hah..! jawab pertanyaanku! Apa kamu tahu itu?
Kamu tahu? Karena aku tahu temanku sendiri mengejarmu, aku rela menjauh secara perlahan.
Kamu tahu? Dibalik pintu aku menangis sendu meratapi nasibku.
Lalu ketika aku menyatakan akan pergi meninggalkanmu, kenapa mulutmu diam bagai bisu.
Dan sampai sekarang pun aku tak tahu jawabannya. Jawaban darimu maupun jawaban dari diriku. 
_MONOLOG_

Sabtu, 19 Oktober 2013

Terima Kasih Kau Telah Hadir, Masalah



Kenapa kebanyakan manusia mengutuk yang namanya masalah?? Kenapa kata “terima kasih” sangat jarang dilontarkan oleh orang-orang yang ketiban masalah??
Orang bilang hidup tanpa masalah itu bukan hidup, karena berawal dari sebuah masalah maka disitulah kamu belajar mendewasakan diri dan didewasakan oleh keadaan. Kita mungkin pernah berpikir untuk rehat dari segala aktivitas yang sering menimbulkan masalah bagi keberjalanan hidup ini. Apa mungkin? Kamu yakin? Saya katakan “tidak mungkin” bisa. Kenapa? Karena masalah itulah yang akan selalu melekat pada diri manusia mengiringi tiap jengkal kehidupan dan langkah kakinya.
Contoh konkrit dan sederhana dimana sebuah masalah akan membawa kita bergerak kearah yang lebih positif adalah ketika kita berencana pergi makan, tapi masih bingung mau makan dimana. Ini masalah! Kemudian salah satu dari kita menawarkan sebuah tempat makan. Ada yang menolak ada juga yang langsung mengiyakan. Ini masalah juga, bagaimana cara kita menyamakan tujuan dan persepsi, meski dalam hal ini hanya sebatas mengenyangkan perut yang keroncongan karena lapar. Berbedakan kalau tidak ada masalah, dalam artian ketika kita ingin makan ditempat yang terjadwal. Hari ini disini, besok disana dan minggu depan giliran sini lagi. Ahh…itu membosankan, yang ada adalah kita memperbudak diri kita sendiri. Terkadang  munculnya masalah itu sangat penting untuk menjadi pemantik  ide-ide cemerlang. Ide yang “pure” atau murni dari hasil pemikiran dan analisis keadaan bukan meng-copas ide orang lain. Aku jamin bila ada UUD tentang plagiatisme ide dan itu benar-benar dijalankan dengan baik, penjara akan lebih penuh sesak bercampur dengan koloni-koloni koruptor dan para mafia dari segala bidang.
 Flash back kebelakang tentang masalah makan tadi, pelajaran apa yang bisa kita ambil? Yups..kita belajar lobbying dan negosiasi secara tersirat karena saking sederhananya dan kita tak sadar akan itu. Kita belajar menyakinkan bahwa tempat yang kita pilih adalah tempat makan yang paling tepat untuk dikunjungi. Kalau boleh julukan kerennya sih agent of change versi makan-makan hehe.. Posisi ini menjadikan kita sebagai “penggerak”, bukan “follower” yang menjadi bibit-bibit penggerak untuk situasi-situasi yang lebih kompleks kedepaannya.
Satu lagi contoh kecil masalah. Akhir-akhir ini listrik didaerah kosan sering mati, malah hampir seharian. Ini masalah! Hape lobet, laptop mati, gelap-gelapan dan banyak sekali keluhan yang keluar dari fans-fans-nya PLN. Dari segudang masalah yang timbul dari mati listrik ada hikmah yang bisa kita petik: kerjakan tugas jauh-jauh hari bagi yang laptopnya mati, jangan sms-an dan telponan terus bagi yang hapenya lobet dan rasa syukur kepada Allah yang masih memberikan nikmat penglihatan sampai sekarang. Satu lagi yang harus dicamkan adalah “kita terlalu bergantung pada teknologi” dan dari seabrek masalah yang muncul itu kita bisa mulai berfikir tentang keadaan terburuk yang pasti akan menimpa kita juga dan bersyukur kepada apa yang sudah diberikan pada kita oleh Yang Maha Kuasa.
Masih takut dengan masalah??
Ungkapan “kenapa harus takut dengan masalah, toh dia tidak akan pergi begitu saja dari kita kalau tidak diselesaikan dan dicari solusinya”. Kenapa kita harus gelisah kalau disekeliling kita ada sosok-sosok luar biasa yang siap membagi ilmunya, siap mendengarkan keluh kesah dan siap digandeng dan membersamai menuju titik solusi itu. Hidup itu tak sendiri karena Tuhan tak menciptakan diri kita sendiri. Salah satu cara berterima kasih pada-Nya adalah dengan memperbanyak teman dan menjalin silaturahmi antar makluk dimuka bumi (red: manusia).
Dengan masalah itu pula pertanda bahwa Allah sayang pada kita, toh “Dia tidak akan menguji hamba-Nya melebihi kemampuannya” itu jelas termaktub dalam Al qur’an. Kesimpulan sederhana yang bisa dipetik dari tulisan sederhana ini adalah “masalah itu bukan untuk dihindari apalagi ditakuti, karena percuma mau bagaimanapun masalah pasti akan hinggap dalam diri kita. Masalah bukan untuk diratapi tapi dicari solusi untuk pembelajaran dan pendewasaan diri”
Yaa… inilah sedikit curahan yang tiba-tiba muncrat dari diri saya pagi ini (Minggu, 20 Oktober 2013). Terima kasih sudah membaca tulisan sederhana ini, meskipun tidak banyak ilmu yang kamu dapat dari sini tapi setidaknya setelah kamu membaca saya harap muncul tulisan kecil tentang apapun yang akan menjadi awal dari tulisan-tulisan besar untuk merubah dunia. Kita budayakan aktivitas menulis, ya meskipun tulisan saya juga masih ecek-ecek tapi ini lebih baik daripada orang yang dianugerahi bakat bakat menulis tapi tidak menulis. Menulis itu tak butuh bakat sebenarnya, hanya butuh kemauan dan kedisiplinan. Salam sastra, hidup mahasiswa!!

Selasa, 24 September 2013

Lapis Legit Sastra



         Manusia akan ternganga dengan indahnya kata. Maknanya yang bercabang dan indah bak mawar merah dipadang rumput. Memukau banyak orang tapi juga dapat menjerumuskan banyak orang pula. Itulah kekuatan mistis tulisan melalui kata-kata. Menulis itu tak gampang bila tak ada kemauan. Butuh niat dan kesungguhan untuk melahirkan sebuah tulisan yang akan hidup sepanjang hayat melebihi umur penulisnya sendiri. Sayangnya, tak dapat dipungkiri bahwa honor terkadang memberikan daya keterpikatan tersendiri. Itulah salah satu alasan munculnya wirausaha lapis legit sastra. Tidak banyak orang sadar bahwa menulis dapat membuat kita kaya hingga berlapis-lapis dan berwarna-warni seperti kue lapis legit yang menggoda lidah. Ilmu yang semakin bertambah dan menggunung menjadi lapisan pertama.
 Menulis harus dibarengi dengan banyak membaca pula, karena ketika proses menulis kita membutuhkan informasi-informasi yang dapat memperkuat tulisan kita. Membaca dapat menambah wawasan sehingga kita menjadi pribadi yang tak biasa-biasa saja sebagai intelek muda. Menjadi penulis adalah suatu profesi yang sangat abadi dan paling kokoh seperti kata Pramoedya Ananta Toer “ Orang boleh pintar setinggi langit, tapi jika ia tidak menulis maka ia akan ditelan sejarah”. Menulislah, karena tulisanmulah yang akan membangun sejarah.

Menulis itu butuh imajinasi untuk membangun opini. Orang yang berotak tapi otaknya tak ia gunakan untuk berpikir dan berimajinasi untuk membangun dirinya sendiri maka ialah mayat hidup yang sebenarnya. Ia hanya mampu berjalan tanpa mampu melahirkan ide-ide cemerlang yang dapat menggugah. Bayangkan bila tulisan-tulisan kita mempunyai isi yang fantastis dan kreatif, berapa banyak mata membaca dan berapa banyak orang yang berdecak kagum. Hal ini bukan untuk membangun sebuah kesombongan tapi membangun image diri. Image yang baik akan melahirkan proses-proses yang mudah untuk menuju kesuksesan.”Apabila kamu bukan anak raja atau ulama besar maka jadilah penulis”, itulah kata Golagong. Intinya pangkat atau prestice seorang penulis itu melebihi pamor seorang anak raja maupun ulama besar. Dengan karya-karya yang ia tulis, tak menutup kemungkinan bahwa dari situlah pintu cemerlang terbuka, menghantar seorang sastrawan dan kritikus jalanan menjadi orang-orang besar dan wirausaha sukses yang patut diacungi jempol dan dipertimbangkan. Lapisan-lapisan keuntungan yang kita dapat mungkin tak semuanya langsung tampak. Tidak menutup kemungkinan bahwa dampak dari tulisan-tulisan kita mungkin akan terlihat 5-10 tahun lagi. Waktu bukan menjadi halangan, karena tujuan kita menulis adalah bagaimana cara kita bisa membuka pikiran-pikiran kolot manusia dan mengajaknya untuk berpikir lebih maju dan melebihi apa yang kita pikirkan.



Rabu, 14 Agustus 2013

SEKOLAH PENERUS BANGSA BEM UNS MENGAJARKANKU “HUKUM ALAM”



Berkesempatan menhirup dunia kampus membuatku banyak berfikir tentang arti sebuah perjuangan dan kerja keras dalam mencari ilmu dan pengetahuan. Ketika masa sekolah dulu, murid terbiasa dengan perintah dan hukuman. Namun, ketika mata ini melihat luasnya hamparan lahan perkuliahan dan riuhnya civitas akademika, hal itu membuatku sadar bahwa kita tak mungkin akan berkembang tanpa memulai langkah dengan kekuatan kita sendiri bukan lagi perintah atau hukuman.  
Awal perjumpaanku dengan BEM UNS adalah melalui Sekolah Penerus Bangsa (SPB) 2012. Bersama 400-an pendaftar lainnya aku berharap mendapatkan ilmu yg banyak dan mulai membangun kepercayaan diri, karena aku yakin untuk kedepannya skill seseorang sangat menentukan kesuksesan. Aku sangat ingat dan tak mngkin lupa dengan moment bersejarah ini. Sehari sebelum Grand Opening Sekolah Penerus Bangsa (selanjutnya disingkat SPB 2012) aku dan beberapa peserta yg tentunya baru saja aku kenal bersama-sama meluncur ke kota pelajar, Jogjakarta. Panitia SPB 2012 mendampingi kami atau kami yg mendampingi panitia entah aku juga bingung pada waktu itu. Agendanya adalah “AKSI”. Jujur sejujur-jujurnya aku sendiri belum tahu sama sekali yang namanya aksi. Aku berangkat membawa segudang pertanyaan dan semua terjawab pada waktu itu juga. Kesimpulan kasar yg bisa aku tarik sepulang dari aksi jogja adalah “aksi=demonstrasi” dan mulai saat itu juga aku bertekad untuk tidak lagi ikut yang namanya aksi.
Mulai ke pokok pembicaraan tentang SPB 2012 dan hukum alam ala mahasiswa. Percaya atau tidak percaya dari 400-an pendaftar yang bisa mengikuti Grand Opening tidak sampai separuhnya. Dari kelas pertama hingga terakhir pun orang-orang yang muncul berbeda-beda. Mungkin harus dimaklumi bahwa jadwal kuliah tiap fakultas memang sangat beragam. SPB 2012 mempunyai kurikulum yang harus diberikan pada peserta. Dari sekian banyak kurikulum yang paling aku ingat adalah materi kewirausahaan dan managemen aksi. Kenapa?? Karena 2 materi itu ada simulasi dan praktek langsungnya. Jualan pisang caramel tak semudah yang dibayangkan.
 Menjadi seorang penjual apalagi pemula dituntut untuk mengobarkan kepercayaan diri seekstra mungkin ketika menawarkan dagangannya. Pasang senyum paling manis meskipun sebenarnya nih bibir juga pegel senyum mulu.
Nah..bagian managemen aksi inilah yg membuatku mencabut kata-kata “gak mau aksi lagi, cukup sekali!!”. Ternyata eh ternyata aksi itu tidak hanya koar-koar dijalan menyuarakan tuntutan, ada prosesnya. Aksi adalah jalan terakhir setelah diskusi dan pada akhirnya tidak ditemukan jalan keluar. Mungkin dizaman sekarang orang menganggap bahwa ini bukan lagi saatnya aksi. Tetapi kalau dipikir-pikir aksi itu perlu juga. Aksi menjadi salah satu bentuk eksistensi bahwa mahasiswa itu ada, kekritisan mereka masih hidup. Dengan jumlah yang banyak dibanding jumlah anggota pemerintah, setidaknya dengan aksi itu cukup membuat para pejabat yg mau korupsi agak sedikit bergidik takut diserang. Tapi ya dasar namanya manusia kalau sudah pegang uang banyak kadang lupa. 
Aduuhh penulisnya lagi gak focus pada judul nih hehe..kembali ke topik! Jadi seiring keberjalanan SPB 2012 satu per satu peserta mulai gugur. Mulai dari ratusan ke puluhan, lalu sekarang hanya belasan. dan pada akhirnya wisuda menyapa, tak ada 30 orang yg berhasil diwisuda. berawal dr 400-an mjd 30-an hemmm..keren bgt. Miris memang, tapi inilah kenyataannya. Orang yang mampu mencapai garis finish adalah PEMENANG meskipun ini bukan perlombaan. Dalam menggeluti sesuatu dibutuhkan komitmen untuk bertahan. Banyak kerugian bila kita mulai dari start tapi ditengah perjalanan kita menyerah oleh keadaan, banyak alasan. Ya aku harap kalian yang tidak lagi membersamaiku telah menemukan keinginan kalian. Kita dipertemukan di SPB 2012 dan kita dipisahkan pula disana. Tak mengapa..tiap-tiap manusia mempunyai jalannya sendiri-sendiri. Tak ada yang bisa memaksa. Semua kembali pada tujuan awal. Yang punya tujuan untuk mendapat almamter ya dia hanya akan mendapatkan itu saja. Berbeda dengan yang punya tujuan untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, maka setiap langkah yang ia lakukan akan melunasi semua tujuan awal. Apalah arti sebuah tittle, apalah arti sebuah nama kalau didalam tittle atau nama itu sendiri tak ada apa-apanya. Hukum alam sudah berkata dan berkehendak.