Sabtu, 19 Oktober 2013

Terima Kasih Kau Telah Hadir, Masalah



Kenapa kebanyakan manusia mengutuk yang namanya masalah?? Kenapa kata “terima kasih” sangat jarang dilontarkan oleh orang-orang yang ketiban masalah??
Orang bilang hidup tanpa masalah itu bukan hidup, karena berawal dari sebuah masalah maka disitulah kamu belajar mendewasakan diri dan didewasakan oleh keadaan. Kita mungkin pernah berpikir untuk rehat dari segala aktivitas yang sering menimbulkan masalah bagi keberjalanan hidup ini. Apa mungkin? Kamu yakin? Saya katakan “tidak mungkin” bisa. Kenapa? Karena masalah itulah yang akan selalu melekat pada diri manusia mengiringi tiap jengkal kehidupan dan langkah kakinya.
Contoh konkrit dan sederhana dimana sebuah masalah akan membawa kita bergerak kearah yang lebih positif adalah ketika kita berencana pergi makan, tapi masih bingung mau makan dimana. Ini masalah! Kemudian salah satu dari kita menawarkan sebuah tempat makan. Ada yang menolak ada juga yang langsung mengiyakan. Ini masalah juga, bagaimana cara kita menyamakan tujuan dan persepsi, meski dalam hal ini hanya sebatas mengenyangkan perut yang keroncongan karena lapar. Berbedakan kalau tidak ada masalah, dalam artian ketika kita ingin makan ditempat yang terjadwal. Hari ini disini, besok disana dan minggu depan giliran sini lagi. Ahh…itu membosankan, yang ada adalah kita memperbudak diri kita sendiri. Terkadang  munculnya masalah itu sangat penting untuk menjadi pemantik  ide-ide cemerlang. Ide yang “pure” atau murni dari hasil pemikiran dan analisis keadaan bukan meng-copas ide orang lain. Aku jamin bila ada UUD tentang plagiatisme ide dan itu benar-benar dijalankan dengan baik, penjara akan lebih penuh sesak bercampur dengan koloni-koloni koruptor dan para mafia dari segala bidang.
 Flash back kebelakang tentang masalah makan tadi, pelajaran apa yang bisa kita ambil? Yups..kita belajar lobbying dan negosiasi secara tersirat karena saking sederhananya dan kita tak sadar akan itu. Kita belajar menyakinkan bahwa tempat yang kita pilih adalah tempat makan yang paling tepat untuk dikunjungi. Kalau boleh julukan kerennya sih agent of change versi makan-makan hehe.. Posisi ini menjadikan kita sebagai “penggerak”, bukan “follower” yang menjadi bibit-bibit penggerak untuk situasi-situasi yang lebih kompleks kedepaannya.
Satu lagi contoh kecil masalah. Akhir-akhir ini listrik didaerah kosan sering mati, malah hampir seharian. Ini masalah! Hape lobet, laptop mati, gelap-gelapan dan banyak sekali keluhan yang keluar dari fans-fans-nya PLN. Dari segudang masalah yang timbul dari mati listrik ada hikmah yang bisa kita petik: kerjakan tugas jauh-jauh hari bagi yang laptopnya mati, jangan sms-an dan telponan terus bagi yang hapenya lobet dan rasa syukur kepada Allah yang masih memberikan nikmat penglihatan sampai sekarang. Satu lagi yang harus dicamkan adalah “kita terlalu bergantung pada teknologi” dan dari seabrek masalah yang muncul itu kita bisa mulai berfikir tentang keadaan terburuk yang pasti akan menimpa kita juga dan bersyukur kepada apa yang sudah diberikan pada kita oleh Yang Maha Kuasa.
Masih takut dengan masalah??
Ungkapan “kenapa harus takut dengan masalah, toh dia tidak akan pergi begitu saja dari kita kalau tidak diselesaikan dan dicari solusinya”. Kenapa kita harus gelisah kalau disekeliling kita ada sosok-sosok luar biasa yang siap membagi ilmunya, siap mendengarkan keluh kesah dan siap digandeng dan membersamai menuju titik solusi itu. Hidup itu tak sendiri karena Tuhan tak menciptakan diri kita sendiri. Salah satu cara berterima kasih pada-Nya adalah dengan memperbanyak teman dan menjalin silaturahmi antar makluk dimuka bumi (red: manusia).
Dengan masalah itu pula pertanda bahwa Allah sayang pada kita, toh “Dia tidak akan menguji hamba-Nya melebihi kemampuannya” itu jelas termaktub dalam Al qur’an. Kesimpulan sederhana yang bisa dipetik dari tulisan sederhana ini adalah “masalah itu bukan untuk dihindari apalagi ditakuti, karena percuma mau bagaimanapun masalah pasti akan hinggap dalam diri kita. Masalah bukan untuk diratapi tapi dicari solusi untuk pembelajaran dan pendewasaan diri”
Yaa… inilah sedikit curahan yang tiba-tiba muncrat dari diri saya pagi ini (Minggu, 20 Oktober 2013). Terima kasih sudah membaca tulisan sederhana ini, meskipun tidak banyak ilmu yang kamu dapat dari sini tapi setidaknya setelah kamu membaca saya harap muncul tulisan kecil tentang apapun yang akan menjadi awal dari tulisan-tulisan besar untuk merubah dunia. Kita budayakan aktivitas menulis, ya meskipun tulisan saya juga masih ecek-ecek tapi ini lebih baik daripada orang yang dianugerahi bakat bakat menulis tapi tidak menulis. Menulis itu tak butuh bakat sebenarnya, hanya butuh kemauan dan kedisiplinan. Salam sastra, hidup mahasiswa!!

0 komentar:

Posting Komentar