Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Rabu, 14 Agustus 2013

SEKOLAH PENERUS BANGSA BEM UNS MENGAJARKANKU “HUKUM ALAM”



Berkesempatan menhirup dunia kampus membuatku banyak berfikir tentang arti sebuah perjuangan dan kerja keras dalam mencari ilmu dan pengetahuan. Ketika masa sekolah dulu, murid terbiasa dengan perintah dan hukuman. Namun, ketika mata ini melihat luasnya hamparan lahan perkuliahan dan riuhnya civitas akademika, hal itu membuatku sadar bahwa kita tak mungkin akan berkembang tanpa memulai langkah dengan kekuatan kita sendiri bukan lagi perintah atau hukuman.  
Awal perjumpaanku dengan BEM UNS adalah melalui Sekolah Penerus Bangsa (SPB) 2012. Bersama 400-an pendaftar lainnya aku berharap mendapatkan ilmu yg banyak dan mulai membangun kepercayaan diri, karena aku yakin untuk kedepannya skill seseorang sangat menentukan kesuksesan. Aku sangat ingat dan tak mngkin lupa dengan moment bersejarah ini. Sehari sebelum Grand Opening Sekolah Penerus Bangsa (selanjutnya disingkat SPB 2012) aku dan beberapa peserta yg tentunya baru saja aku kenal bersama-sama meluncur ke kota pelajar, Jogjakarta. Panitia SPB 2012 mendampingi kami atau kami yg mendampingi panitia entah aku juga bingung pada waktu itu. Agendanya adalah “AKSI”. Jujur sejujur-jujurnya aku sendiri belum tahu sama sekali yang namanya aksi. Aku berangkat membawa segudang pertanyaan dan semua terjawab pada waktu itu juga. Kesimpulan kasar yg bisa aku tarik sepulang dari aksi jogja adalah “aksi=demonstrasi” dan mulai saat itu juga aku bertekad untuk tidak lagi ikut yang namanya aksi.
Mulai ke pokok pembicaraan tentang SPB 2012 dan hukum alam ala mahasiswa. Percaya atau tidak percaya dari 400-an pendaftar yang bisa mengikuti Grand Opening tidak sampai separuhnya. Dari kelas pertama hingga terakhir pun orang-orang yang muncul berbeda-beda. Mungkin harus dimaklumi bahwa jadwal kuliah tiap fakultas memang sangat beragam. SPB 2012 mempunyai kurikulum yang harus diberikan pada peserta. Dari sekian banyak kurikulum yang paling aku ingat adalah materi kewirausahaan dan managemen aksi. Kenapa?? Karena 2 materi itu ada simulasi dan praktek langsungnya. Jualan pisang caramel tak semudah yang dibayangkan.
 Menjadi seorang penjual apalagi pemula dituntut untuk mengobarkan kepercayaan diri seekstra mungkin ketika menawarkan dagangannya. Pasang senyum paling manis meskipun sebenarnya nih bibir juga pegel senyum mulu.
Nah..bagian managemen aksi inilah yg membuatku mencabut kata-kata “gak mau aksi lagi, cukup sekali!!”. Ternyata eh ternyata aksi itu tidak hanya koar-koar dijalan menyuarakan tuntutan, ada prosesnya. Aksi adalah jalan terakhir setelah diskusi dan pada akhirnya tidak ditemukan jalan keluar. Mungkin dizaman sekarang orang menganggap bahwa ini bukan lagi saatnya aksi. Tetapi kalau dipikir-pikir aksi itu perlu juga. Aksi menjadi salah satu bentuk eksistensi bahwa mahasiswa itu ada, kekritisan mereka masih hidup. Dengan jumlah yang banyak dibanding jumlah anggota pemerintah, setidaknya dengan aksi itu cukup membuat para pejabat yg mau korupsi agak sedikit bergidik takut diserang. Tapi ya dasar namanya manusia kalau sudah pegang uang banyak kadang lupa. 
Aduuhh penulisnya lagi gak focus pada judul nih hehe..kembali ke topik! Jadi seiring keberjalanan SPB 2012 satu per satu peserta mulai gugur. Mulai dari ratusan ke puluhan, lalu sekarang hanya belasan. dan pada akhirnya wisuda menyapa, tak ada 30 orang yg berhasil diwisuda. berawal dr 400-an mjd 30-an hemmm..keren bgt. Miris memang, tapi inilah kenyataannya. Orang yang mampu mencapai garis finish adalah PEMENANG meskipun ini bukan perlombaan. Dalam menggeluti sesuatu dibutuhkan komitmen untuk bertahan. Banyak kerugian bila kita mulai dari start tapi ditengah perjalanan kita menyerah oleh keadaan, banyak alasan. Ya aku harap kalian yang tidak lagi membersamaiku telah menemukan keinginan kalian. Kita dipertemukan di SPB 2012 dan kita dipisahkan pula disana. Tak mengapa..tiap-tiap manusia mempunyai jalannya sendiri-sendiri. Tak ada yang bisa memaksa. Semua kembali pada tujuan awal. Yang punya tujuan untuk mendapat almamter ya dia hanya akan mendapatkan itu saja. Berbeda dengan yang punya tujuan untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, maka setiap langkah yang ia lakukan akan melunasi semua tujuan awal. Apalah arti sebuah tittle, apalah arti sebuah nama kalau didalam tittle atau nama itu sendiri tak ada apa-apanya. Hukum alam sudah berkata dan berkehendak.

Minggu, 11 Agustus 2013

SEHARI MENJADI ANGGOTA DPR RI



Menunggu bis Rosalia Indah Solo- Malang

  Banyak orang mengeluh terhadap kinerja anggota parlemen di Indonesia. Keluhan yang mereka utarakan bermacam-macam hingga acara infotaiment, breaking news, maupun acara-acara investigasi di layar televisi tak mampu mengexpos seluruh isu negative tersebut. Allah Swt mengizinkan aku bersama beberapa temanku di BEM UNS merasakan betapa sulitnya menjadi anggota DPR atau pejuang wakil rakyat. Bersama kak Triana Rahmawati, kak Ruslan Diantoro, Christina Indrawati, Annisa Nur Rohcmah, Siti Ramdani dan Novita sari kami bertolak ke kota Malang menuju Universitas Brawijaya pada 13-14 April 2013. Jumat, 12 April kami menunggu bis Rosalia Indah jurusan Solo – Malang dan tepatnya pukul 21.00 WIB perjalanan dimulai.

Hari pertama sekolah parlemen nasional adalah pemberian materi oleh pakar-pakar yang cukup mempuni dibidangnya. Sekolah Parlemen 2013 mengangkat tema Menakar Efektivitas Kinerja DPR RI “Perspektif Pelaksanaan Fungsi Representatif.” Dengan pemateri, Drs. H. Priyo Budi Santoso (Wakil Ketua DPR RI), Indah Kurnia (Anggota DPR RI komisi XI), Mar’atul Makhmuda, S.IP, M.Si (Dosen Ilmu Politik FISIP-UB), dan Achmad Djuned, SH., MH., (Wakil Sekretaris Jendral RI).
Pembukaan Sekolah Parlemen

 
Turut hadir sekitar 18 Universitas delegasi BEM FISIP se-Tanah Air diantaranya dari Universitas Indonesia, Universitas Sebelas Maret, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Negeri Jember, Universitas Negeri Malang, Universitas Nasional Jakarta, Universitas Sebelas Maret, dan Universitas Swasta di sekitar Malang.
 Banyak sekali ilmu yg didapat dan banyak pula teman-teman baru yg dikenal. Dengan mengikuti acara berskala nasional seperti ini, maka kita dapat mengukur betapa banyak orang yang lebih disbanding kita. Sehingga kita harus selalu “meng-upgrade” kemampuan diri pribadi secara berkala agar tidak tertinggal oleh yang lainnya. Kita mahasiswamempunyai tanggung jawab dan fungsi sebagai iron stock dan agent of change. Melalui dunia kampus inilah kita bisa meningkatkannya, setidaknya sebagai wujud syukur karena kita diberi kesempatan mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. 


suasana simulasi sidang ttg RUU Desa
narsis dikit sma salah satu pejabat
Hari kedua di Sekolah Parlemen Nasional 2013 adalah puncaknya. Simulasi sidang kami rasakan dan telah dirancang khusus menyerupai sidang-sidang di gedung DPR RI yang sebenarnya. Aku mendapat bagian fraksi terbesar yaitu fraksi majapahit. Teman-temanku yang lain mendapat bagian fraksi yang berbeda lagi. Ketika itu masalah yang kami angkat adalah Undang-undang Desa. Menakar bagaimana baiknya RUU Desa di sahkan atau tidak. Layaknya wakil rakyat semua fraksi mengadu pendapat masing-masing hingga suasana menjadi riuh. Rapat ini berjalan tak cukup sejam dua jam tapi berjam-jam dengan teknis yang rumit. Hal ini membuat aku mengerti kenapa terkadang dalam sebuah sidang DPR RI ada perkelahian antar anggota parpol. Masing- masing saling menguatkan pendapatnya dan pada akhirnya emosilah yang maju. Banyak sekali ilmu yang aku dapat hingga aku bingung bagian mana yang harus aku tulis diblog ini. Kasihan sekali mahasiswa yang hanya menikmati masa studinya dengan pulang-kuliah-pulang kuliah saja. Ilmu yang mereka dapat tidak maksimal dan hanya punya teman yang itu-itu saja. Melalui tulisan singkat ini aku menghimbau pada seluruh pembaca terutama mahasiswa khususnya yang belum ikut satu kegiatan kampus pun, maka kamula mahasiswa yang “merugi”. 
Teman2 dr UI dan UNHasanudin
 Banyak sekali pengalam diluar sana, banyak sekali kawan-kawan baru yang menunggu kahadiranmu dan jabatan tanganmu. Kenapa kita harus kalah dengan anak ayam yang oleh induknya diizinkan berkelana. Jangan mengedepankan masalah financial, karena ketika ada semangat menuntut ilmu yang berkobar-kobar kemudahan pasti menyertai. HIDUP MAHASISWA!!!!! 
Ini bukan akhir perjalananku, karena aku yakin akan lebih banyak lagi pengalaman dan ilmu yg bisa aku dapat bersama BEM UNS dan kampus tercinta Universitas Sebelas Maret, Surakarta.