Berkesempatan
menhirup dunia kampus membuatku banyak berfikir tentang arti sebuah perjuangan
dan kerja keras dalam mencari ilmu dan pengetahuan. Ketika masa sekolah dulu,
murid terbiasa dengan perintah dan hukuman. Namun, ketika mata ini melihat
luasnya hamparan lahan perkuliahan dan riuhnya civitas akademika, hal itu
membuatku sadar bahwa kita tak mungkin akan berkembang tanpa memulai langkah
dengan kekuatan kita sendiri bukan lagi perintah atau hukuman.
Mulai
ke pokok pembicaraan tentang SPB 2012 dan hukum alam ala mahasiswa. Percaya atau
tidak percaya dari 400-an pendaftar yang bisa mengikuti Grand Opening tidak
sampai separuhnya. Dari kelas pertama hingga terakhir pun orang-orang yang
muncul berbeda-beda. Mungkin harus dimaklumi bahwa jadwal kuliah tiap fakultas
memang sangat beragam. SPB 2012 mempunyai kurikulum yang harus diberikan pada
peserta. Dari sekian banyak kurikulum yang paling aku ingat adalah materi
kewirausahaan dan managemen aksi. Kenapa?? Karena 2 materi itu ada simulasi dan
praktek langsungnya. Jualan pisang caramel tak semudah yang dibayangkan.
Menjadi
seorang penjual apalagi pemula dituntut untuk mengobarkan kepercayaan diri
seekstra mungkin ketika menawarkan dagangannya. Pasang senyum paling manis
meskipun sebenarnya nih bibir juga pegel senyum mulu.
Nah..bagian
managemen aksi inilah yg membuatku mencabut kata-kata “gak mau aksi lagi, cukup
sekali!!”. Ternyata eh ternyata aksi itu tidak hanya koar-koar dijalan
menyuarakan tuntutan, ada prosesnya. Aksi adalah jalan terakhir setelah diskusi
dan pada akhirnya tidak ditemukan jalan keluar. Mungkin dizaman sekarang orang
menganggap bahwa ini bukan lagi saatnya aksi. Tetapi kalau dipikir-pikir aksi
itu perlu juga. Aksi menjadi salah satu bentuk eksistensi bahwa mahasiswa itu
ada, kekritisan mereka masih hidup. Dengan jumlah yang banyak dibanding jumlah
anggota pemerintah, setidaknya dengan aksi itu cukup membuat para pejabat yg
mau korupsi agak sedikit bergidik takut diserang. Tapi ya dasar namanya manusia
kalau sudah pegang uang banyak kadang lupa.
Aduuhh
penulisnya lagi gak focus pada judul nih hehe..kembali ke topik! Jadi seiring
keberjalanan SPB 2012 satu per satu peserta mulai gugur. Mulai dari ratusan ke
puluhan, lalu sekarang hanya belasan. dan pada akhirnya wisuda menyapa, tak ada 30 orang yg berhasil diwisuda. berawal dr 400-an mjd 30-an hemmm..keren bgt. Miris memang, tapi inilah kenyataannya. Orang
yang mampu mencapai garis finish adalah PEMENANG meskipun ini bukan perlombaan.
Dalam menggeluti sesuatu dibutuhkan komitmen untuk bertahan. Banyak kerugian
bila kita mulai dari start tapi ditengah perjalanan kita menyerah oleh keadaan,
banyak alasan. Ya aku harap kalian yang tidak lagi membersamaiku telah
menemukan keinginan kalian. Kita dipertemukan di SPB 2012 dan kita dipisahkan
pula disana. Tak mengapa..tiap-tiap manusia mempunyai jalannya sendiri-sendiri.
Tak ada yang bisa memaksa. Semua kembali pada tujuan awal. Yang punya tujuan
untuk mendapat almamter ya dia hanya akan mendapatkan itu saja. Berbeda dengan
yang punya tujuan untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, maka setiap
langkah yang ia lakukan akan melunasi semua tujuan awal. Apalah arti sebuah
tittle, apalah arti sebuah nama kalau didalam tittle atau nama itu sendiri tak
ada apa-apanya. Hukum alam sudah berkata dan berkehendak.








han han.. :D
BalasHapus