Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Selasa, 30 Agustus 2016

PASCASARJANA

Sebagai manusia kita hanya mampu berencana, sedang Allah tetap hakim utama yang memutuskan setiap perkara dalam hidup.

Pascasarjana
       Siang itu seperti biasa aku mengajar dari kelas satu ke kelas yang lainnya. Tepat di hari jumat, panggilan sholat jumat pun tiba. Semua murid, guru, dan karyawan berkumpul menunaikannya dengan khidmat. Usai menjalankan sholat jumat berjamaah aku turun ke ruang guru untuk mengambil berkas biodata karyawan yang baru kemarin diberikan petugas TU sekolah. Membaca judul berkas itu rasanya senang sekali. Aku yang sebulan lalu masih dipanggil mahasiswa, kini sudah benar-benar menjadi guru yang harus bisa memberikan teladan pada siswa.
            Sepeti biasa, Jumat siang jam terakhir setelah shalat jumat adalah waktu longgar untukku. Jadwal mengajarku sudah habis. Berkas biodata karyawan yang harusnya disertai ijazah ternyata lupa aku bawa. Niat untuk pulang pun muncul. Mengingat pegawai TU memintaku untuk mengumpulkan berkas hari itu juga.
            Jarak rumah dan sekolah yang sangat dekat membuatku cepat sampai. Cukup dua menit sepeda motor sudah terparkir cantik di halaman rumah.
“Assalammualaikum,” kataku mengucap salam.
Ibu yang berada di ruang tamu menjawab salam.
“Opo kroso tak tunggu-tunggu to?” kata ibu waktu itu. Aku hanya tersenyum merasa digombali.
“Berkasku ketinggalan, Bu,” jawabku sambil mengobrak-abrik berkas wisuda mencari selembar fotokopian ijazah yang tersimpan di dalam satu map.
Dari luar kamar ibu bersuara lagi, “Mbok ya, dijupuk wae S2-ne. Mesakne bapak ndak gelo.” Masih sangat terasa betapa suara ibu memohon padaku. Sepertinya baru kali itu ibu meminta sesuatu dariku dengan sangat. Aku trenyuh beberapa waktu, tapi keputusanku bulat. Tidak. Aku memilih bekerja karena dengan begitu aku benar-benar bisa mengurangi beban keluarga.
“Emoh, Bu. Hani pengen kerja. Ben bisa beli apa-apa dewe. Eman-eman tujuh juta, Bu. Tahun depan Hani daftar malih nek bapak ibu pengen Hani S2.”
“Iyo, tapi kae hlo mesakne bapakmu. Wis dijilihne duit. Mosok ra sido. Kan ibu ora nglarang kerja to.”
Berulang kali aku mengutarakan penolakan. Dari alasan sudah terlanjur kerja, tidak disetujui nyambi S2, SPP yang mahal, beasiswa yang sulit, hingga waktu menikah yang bisa-bisa makin lama. Semua meluncur begitu saja. Ibu masih kokoh.
Kemudian muncullah sosok yang paling gagah di rumah. Bapak pulang dari salah satu rumah kerabat untuk meminta masukan. Juga menemui salah satu sahabatnya yang seorang kepala sekolah. Bahkan dari situ aku jadi tahu bahwa niat bapak sangat besar untuk memberikan pendidikan terbaik buatku. Salah satu sahabatnya itu berjanji akan memberikan uang pinjaman demi kelancaran studi S2-ku. Aku bersyukur, tapi juga kahawatir kalau-kalau di masa depan malah menimbulkan masalah baru.
            Luluh. Satu kata itu yang bisa aku gambarkan di jumat siang kala itu. “Nggih sampun, terserah bapak ibu pripun. Hani nyarah” ujarku. Kepala rasanya pusing sekali. Antara pilihanku dan pilihan kedua orang tuaku. Keduanya sama-sama berat. Ikhlas gak ikhlas harus ikhlas. Kata-kata bahwa ridho Allah berada di ridho orang tua selalu berhasil membuatku mengiyakan setiap keinginan bapak dan ibu.
Aku bergegas kembali ke sekolah untuk mengambil tas dan dompet yang tadi tidak aku bawa pulang. Hari itu seharusnya aku pulang sore karena jadwal jaga menunggu anak-anak semua pulang. Semua kutinggal. Aku meminta izin untuk pulang duluan. Salah satu guru yang melihat ketergesa-gesaanku curiga. “Bu hani kok kesusu. Mau kemana to?”
“Saya mau pergi ke tempat yang penting Bu. Izin sebentar ya Bu.”
Dan laju motorku seperti orang kesetanan. Bank tempat membayar registrasi S2 tutup pukul 13.00 WIB. Aku masih harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk sampai di bank terdekat. Aku pasrah. Semua aku serahkan pada Allah. Bagaimana pun keputusannya yang penting sudah kuusahakan menunaikan keinginan orang tua.
            Pukul 14.40 WIB. Aku sampai di bank dengan napas ngos-ngosan karena berlari dari tempat parkir. Ternyata antriannya cukup panjang, sekitar depalan orang. Mataku tak lepas dari jam dinding di ruang antrian. Waktu terus berjalan. Hingga jam menunjukkan pukul 14. 50 WIB tibalah antrianku di depan teller.
“Mas, mau bayar S2 UNS” kusudorkan selembar kertas transaksi yang sudah kutulis waktu awal tadi.
“Nomor pesertanya berapa mbak?” tanya mas teller.
“Nomor peserta mas? Emang pakai ya? Saya lupa bawa,” jawabku dengan wajah panik dan jantung yang memompa lebih cepat.
“Wah maaf mbak, ndak bisa. Satu-satunya cara log in pembayaran ya cuma pakai itu.” Mas teller mengembalikan kertas transaksi padaku.
“Lha gimana mas? Masak ndak bisa? Ini sudah hari terakhir bayar.” Ku akui suaraku mulai berat. Mengingat  permohonan ibu sebelum berangkat tadi.
“Itu masih ada waktu sedikit, telpon bapak atau ibu saja.” kata mas teller memberi solusi. Entah saking panik atau lelahnya, otak seakan-akan tak bisa bekerja. Aku mundur ke belakang dan berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
Ku keluarkan handphone yang baterainya sudah merah. Ku cari kontak bapak secepat yang aku bisa. Ku coba menelepon, tapi suara dari seberang mengabarkan bahwa pulsa tidak mencukupi. Aku lupa. Pulsa adalah hal yang paling jarang aku beli. Lebih sering menggunakan internet untuk berkomunikasi, sedang orang tua hanya bisa dihubungi via SMS ataupun telepon. Aku berlari melihat kanan-kiri bank, berharap ada konter atau setidaknya tukang jual pulsa di sekitar sana. Nihil. Kepanikan bertambah. Jam masih terus bergulir. Ku hampiri tukang parkir yang sedang duduk di depan toko sebelah kiri bank.
“Pak, maaf. Sebelah sini yang jual pulsa di mana ya pak?” kataku dengan napas memburu.
Tukang parkir lantas menunjuk arah di mana konter berada. Aku berlari lagi. Tidak beduli dengan jalan yang rusak karena penggalian pipa PDAM atau apalah itu.
‘Mbak, beli pulsa. 10 ribu. Cepat ya mbak, penting!” pintaku pada penjaga konter
Mbak-mbak penjaga konter langsung mengirimkan pulsa dengan HP kecil di tangannya. Uang dua belas ribu kusodorkan. “Cepat mbak. Waktunya mepet. Penting banget ini.” aku cerewet.
“Sudah kok mbak, ini SMS sukses.”
Mbak-mbak konter menunjukkan SMS pengiriman pulsa ke nomor handponeku yang memang telah terkirim.
“Kok belum masuk mbak? Lama banget? Udah jam tiga ini.” kaki dan tanganku tak tenang. Usrek. Berulang kali aku mengecek handphone tapi pulsa sepuluh ribu itu tak kunjung sampai juga. Jengkel. Hingga akhirnya baterai makin sekarat. “Mbak, HP saya lobet ini. lama sekali.” Mbak-mbak yang mungkin sama-sama jengkel kemudian mengulurkan kabel putih, “Charger pakai ini dulu mbak.”
Ku raih kemudian aku colokkan. Handphone benar-benar tak bisa diajak kompromi waktu itu.
“Mbak pinjam HP mbak aja, berapa pun pulsanya saya bayar,” kataku sok punya uang padahal cuma bawa uang 20 ribu.
Mbak-mbak konter akhirnya mengalah dan meminjamkan HP-nya. Waktu itu jam sudah menujukkan pukul 15.02 WIB. Waktu benar-benar sudah habis. Aku menelepon dengan sisa-sisa harapan. Berharap ada pertolongan dari Allah lewat siapapun dan dari manapun. Meski dalam hati rasa putus asa sudah merajai, apa daya ketika telepon sudah tersambung dengan orang rumah. Tidak mungkin aku tutup, mengabarkan bahwa waktu pembayaran sudah habis dan aku gagal. Sama saja aku melukai mereka setelah harapan besar mereka berkobar-kobar.
Kuminta ibu yang sedang di seberang telepon untuk mencari kertas ujian itu. Seingatku nomor peserta ada di kartu peserta ujian warna biru. Tak ada. Ibu tak menemukannya. Harapanku mulai pupus berlahan.
“Ono ne pink, kartu peserta ujian,” kata ibu yang sama-sama panik.
Aku baru menyadari ditambah lupa-lupa ingat dengan kertas ujian S2. Entah biru atau pink sebenarnya. “Ya ya ya. Pokoke kui, Bu!” kuminta ibu membacakan nomor peserta sekaligus nomor ujian yang tertera di kartu. Entah benar atau salah yang penting sudah ada nomornya, pikirku waktu itu.
            Selesai menelepon, ku bayar pulsa dan kukembalikan HP pinjamannya kemudian berlari lagi menuju bank. Napas ngos-ngosan lagi. Mataku terbelalak ketika pintu besi bank sudah tertutup setengah. Tulisan ‘TUTUP” juga sudah terpampang jelas sekali. Kepanikanku meningkat sepuluh kali lipat. Kupercepat menghampiri pintu kaca yang masih tersisa. Melompat-lompat berusaha mencari tahu siapa yang sedang berada di dalam,” Pak..pak..pak..” teriakku cukup keras. Entah aku memanggil bapaknya siapa saat itu. Harapanku cuma satu, ada seseorang yang baik hatinya dan mau memberikan kesempatan terakhir.
Seorang satpam yang badannya tak terlalu tinggi muncul. “Kenapa mbak? Sudah tutup ini.” muka pak satpam itu garang sekali. Perpaduan antara marah dan capek sangat jelas terlihat.
“Pak, saya mau bayar S2 UNS, Pak,” kataku memohon.
“Ini sudah tutup mbak, ndak bisa. Besok pagi saja. Pagi-pagi sekali ke sini lagi.”
“Ndak bisa Pak, ini hari terakhir. Kalau hari ini saya tidak bayar besok sudah tidak bisa lagi Pak.” Suaraku serak hampir menangis. Tak peduli lagi dengan umur. Rasa malu itu seperti hilang entah kemana.
Mukaku yang melas plus kasihan membuat pak satpam beranjak masuk ke dalam. Tak sampai satu menit satpam keluar lagi, “Tadi sudah ngantri ya? Ini harusnya ndak bisa ya. Sudah tutup. Besuk jangan kayak gini lagi!” Pak satpam sedikit membentak dengan muka marahnya. Aku tak peduli. Menerobos masuk menuju teller yang tadi sudah melayaniku. “Mbak yang mau bayar S2 tadi kan?” tanya mas teller. Aku mengangguk, tak berani menjawab karena takut katahuan hampir menagis.
Kulirik jam sudah di angka 15.08 WIB. Sekitar lima menit transaksi selesai. Aku berlari lagi menuju pintu keluar hingga hampir terpeleset di lantai yang licin. Tak lupa kuteriakkan ucapan terima kasih pada satpam yang mukanya garang tapi hatinya bagai hello kitty tadi. Di tempat parkir, susah payah ku tarik motor yang sedikit terperosok. Ujian keduaku hari itu adalah mengumpulkan berkas yang sama sekali belum aku input datanya dan belum pula aku print out  hasilnya.
 Motorku kembali ngebut di jalanan Karanganyar-Solo. Aku yang sempat kerja partime di salah satu birokrasi kampus paham betul bahwa jam kerja kampus di hari jumat selesai pukul 15.30 WIB. Ku tambah kecepatan agar segera sampai di gedung pascasarjana. Sampai di bagian pengumpulan berkas, aku kembali memohon pada petugas yang masih cukup muda,” Mas, saya mau ngumpulin berkas. Tapi saya belum print mas. Tungguin bisa mas? Sebentar kok, Cuma lima menit,” kataku. Mas-mas TU itu mengangguk. Aku bergegas menuju tempat FC di belakang kampus.
            Kuulangi memasukkan nomor peserta dan kode akses hingga beberapa kali tapi gagal. Di percobaan ke lima aku baru berhasil log in. Mengisi data-data dengan kecepatan kilat. Sampailah di kolom yang menanyakan tahun kelahiran orang tua. Blenk. Aku lupa. Berkas apapun tak ada yang aku bawa. Telepon sudah tak lagi bisa. Aku harus gimana? The power of kepepet bertindak. Kubuka aplikasi kalkulator, ku kira-kira umur ibu dan bapak kemudian kuhitung selisihnya dengan tahun ini. Dan tadaaa..muncullah sebuah tahun yang sebenarnya aku tak yakin itu tahun lahir bapak dan ibu. Tak apalah, yang penting bisa registrasi dulu haha..
Selesai mencetak foto, langsung ku bawa semua berkas ke ruang TU pascasarjana. Ternyata benar, petugas-petugas masih duduk di kursi kerjanya. Betapa bersyukurnya aku dengan hari yang melelahkan itu, Jumat yang penuh barokah. Kita tak pernah tahu dengan rencana Allah. Beberapa jam lalu aku masih keukeuh tak ingin mengambil S2, tapi Allah berkata lain. Beberapa jam kemudian aku sah sebagai mahasiswa pascasarjana. Selesai mengurus berkas badanku lemas di atas motor. Masih tidak percaya dengan apa yang aku lakukan dua jam terakhir. Menginat-ingat  polahku yang lari-larian seperti anak TK.

Sejak saat itu aku percaya bahwa ketika berlari, aku tak hanya membawa diri sendiri, tapi membawa mimpi bapak dan ibu yang harus bisa terlunasi.



Sampai jumpa di wisuda Hani yang kedua Pak, Bu. Maret 2018.Amiin