Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Jumat, 03 Februari 2017

NIKAH TELAT TAPI TEPAT ATAU NIKAH CEPAT TAPI NEKAD?

Ada yang aneh bin ajaib, jadi ketika saya menulis hal-hal semacam kebaperan gitu viewer blog saya meningkat drastis haha. Ternyata banyak orang jomlo di dunia ini. Padahal saya kalau nulis tema yang kepaberan itu refleks saja. Kadang terpancing karena dicurhatin teman, kadang gatel karena efek habis baca buku high thinking, tapi kadang naluri dari dalam hati haha.
Terus kali ini saya mau bahas bagian mana lagi? Bingung juga sih haha. Ada banyak hal yang berkecamuk di pikiran saya dan minta segera dituliskan, tapi apa daya waktu begitu pendek. Tugas kuliah begitu banyak. Temanya masih sama sih ya itu-itu lagi haha. Tahu kan maksud saya? Tema yang selalu jadi hot topic di grup-grup yang bermacam kultur tapi bahasannya sama: Nikah. Secara tangan lagi gatel nulis yang beginian karena seminggu ini habis ditinggal nikah sama teman-teman seperjuangan haha.

Itu yang suka nyuruh-nyuruh cepat nikah. TENGGELAMKAN!

 Jadi gini, pernah enggak sih kamu merasa muak porsi besar tentang pertanyaan kapan nikah dan kapan nyusul? Heloo si A sudah punya suami loh, si B sudah hamil, si C sudah mau punya 2 anak. Heemm..itu pertanyaan plus pernyataan gampang banget diucapin tapi susah banget dijawabnya. Apalagi buat para jomlo-jomlo yang kelewat umur 20 tahun. Sakit hati adek bang..
            Emosi saya kadang bereaksi keras dengan seabrek peristiwa yang awalnya bahas A tapi ujung-ujungnya bahas Nikah. Alamak. Sudah susah payah meredam gejolak perasaan, eh diberantakin lagi sama orang-orang yang tak bertanggung jawab. Kata salah seorang teman, “Lama-lama kita akan kebal sama pertanyaan horor itu kok.” Iya, kebal sama sebal itu beda-beda tipis. Yang awalnya biasa saja dengan kata “nikah” lama-lama bête juga tahu kalau tiap keluar rumah yang ditanyain dan dibahas itu lagi..itu lagi. gimana otak enggak bereaksi.
            Lebih herannya lagi, itu orang-orang yang suka men-judgement dan nyuruh-nyuruh segera nikah itu. Hemm. What can I do, dear? Jangan-jangan malah dia sendiri yang ngebet nikah. Pasca tulisan ini terbit pasti bakal tambah banyak orang-orang yang kurang pengertian terhadap nasib jomblo seperti saya. Padahal yang bereaksi terhadap tulisan-tulisan baper ya hanya orang-orang yang lagi baper. Ibaratnya kayak orang yang lagi sakit batuk, pasti dia bakal bereaksi juga kalau lihat artikel tentang penyakit batuk. Padahal yang nulis artikel tentang batuk belum tentu punya sakit batuk. Jadi kalau ada orang yang bilangnya "ah nanti dulu deh nikahnya" atau "nikmatin kesendirian dululah. ngapain cepet-cepet" tapi pas saya nge-post tulisan macam ini dia termasuk orang-orang yang sangat cepat bereaksi, taraaaaaaa.. Masih mau mengelak? Aku apa kamu yang kebelet nikah? Hayooo wkwk
            Lagi baca buku tentang pernikahan, pengasuhan anak, keluarga harmonis, dibilang ‘eh si A itu kebelet nikah banget ya. Bacaannya kayak gitu terus” Hemm..kata “kebelet” itu saja sudah mengarah pada suatu hal yang tidak tertahankan, apalagi diimbuhi kata “banget.” Mubazir kata banget nih ya. Makanya penggunaan kata kebelet itu harus diminimalkan, apalagi buat orang-orang yang kurang mengetahui maknanya. Salah seorang teman saya yang niatnya memang belajar tentang seluk-beluk pernikahan jadi down karena terlabeli secara illegal dengan “kebelet nikah.” Kan kasian dia, niatnya baik malah enggak jadi. Padahal kalau dia benar-benar kebelet nikah, banyak lelaki yang sudah mengantri di depan rumahnya. So, the label is not good, gais. Bahaya! terus gimana? Masih mau men-judgement orang yang bahas dan belajar tentang pernikahan dengan “kebelet nikah”? semoga mau berpikir ulang untuk mengucapkan itu.  hiii…..
Saya jadi ingat pertanyaan teman yang tiba-tiba curcol tentang dirinya yang tak kunjung menikah, padahal gadis-gadis di desanya sudah pada sold out semua. Tinggalah dia yang masih berstatus single available. Dari sekian banyak cerita yang ia sampaikan ke saya, ada satu peryataan yang membuat saya sedikit berpikir dan menggali beberapa memori otak. Pernyataannya adalah, “Aku kira kamu jenis orang yang menganggap menikah adalah bentuk ibadah. Jadi kalau ada yang lamar langsung cus gitu, Han.”
            Heloooo..itu nikah apa naik taksi? Main cuss aja. Saya memang tipe  orang yang berpikir demikian: menikah adalah bentuk ibadah. Nah, karena bentuk ibadah itu makanya saya enggak nikah-nikah. Kok gitu sih? Haha. Begini maksudnya:
           Menikah adalah ibadah yang ketika ada orang yang melakukannya akan mendapat pahala. Nikah juga melengkapi separuh agama. Sampai sini sudah jelas bukan bahwa menikah itu bukan perkara main-main? Yang bukan hanya sehari- dua hari atau kalau bosan bisa minta ganti. Makanya kalau memang sudah ada keinginan ya pantaskan, kalau sudah kebelet ya cari.  Menikah itu ibadah makanya butuh bekal. Mencari bekal itulah tahap awalnya. Seperti sholat yang butuh wudlu, atau puasa yang butuh makan sahur. Semua ada tahapnya. Bukan asal jalan saja. Karena ibadah itulah bekalnya harus maksimal. Kalau cuma asal nikah karena saling suka (yang kebelet itu tadi), anak SMP pun bisa. Banyak sih yang bilang “kalau nunggu siap, enggak bakal ada kata siap.” Nah, dibagian ini saya selalu salut dengan orang-orang yang rela menunda menikah demi mengumpulkan bekal dulu, terus makna “kebelet”-nya dibagian mana coba? Yang kebelet itu mesti enggak bakal sempat mencari bekal, langsung main cuss aja.
Nah, yang membedakan kita dengan yang hanya “kebelet” adalah di situ: perbekalannya. Orang yang kebelet  nikah bakal negebayangin enak-enaknya aja, karena di balik kata kebelet itu ada sekelebat napsu. Enggak mikir ke depannya mau gimana, pokoknya pingin itu ya lakuin. Sedangkan orang-orang yang sudah “mengumpulkan bekal” tadi akan memikirkan menikah dari dua sisi, positif dan negatif. Ia sadar bahwa menikah adalah awal kehidupan rumah tangga yang ke depan pasti bakal banyak ujiannya. Makanya direla-relain nikahnya telat tapi pasangannya tepat, daripada kebelet nikah tapi modalnya nekad.
Pernah suatu ketika salah seorang teman yang namanya mawar (nama samaran) haha mengatakan demikian, “itu si A (maksudnya saya) ikut banyak organisasi, temannya banyak, tapi enggak nikah-nikah” dia mengatakan itu tepat dibelakang saya dan telinga ini jelas sekali menangkap gelombang suaranya. Sakit enggak digituin? (jawab sendiri deh ahaha) Berhubung sudah kenal betul, saya anggap pernyataan itu adalah angin lalu. Toh memang kenyataannya begitu, saya punya banyak teman, tapi memang belum naik pelaminan. No problem gitu loh. Orang tua saja tidak mempermasalahkan. Malah lebih sering tanya mana teman-teman kamu daripada mana calonmu. Selow..bekal saya belum cukup nih. Dan itu tadi, saya tidak ingin menjadi bagian orang-orang yang “kebelet” lantas mengesampingkan “perbekalannya.”
Nah buat mbak-mbak cantik yang nasibnya seperti saya, masih gini-gini aja. Atau mas-mas yang punya hak “tinggal pilih” tapi juga ada yang bernasib sama, jangan sedih. Ada banyak manfaat yang bisa kita ambil kok. Semua akan menikah pada waktunya. Tenang loh. Menikah itu seperti ujian nasional, seperti wisuda, pasti bakal kita lewati. Jangan dipikir terlalu berat, karena yang harus dipikir adalah nilai ibadahnya. Takdir allah lebih indah daripada yang kita sangka. Terbukti, setiap pasangan memiliki moment pertemuan yang selalu indah dan dapat mereka kenang tiap tahunnya. So, kenapa harus gelisah karena ditinggal nikah wkwkwk. Single available itu enggak buruk-buruk amat.
Pertama, dengan menjomblo (lebih tepatnya single) lebih lama, kita memiliki waktu bermain yang lebih panjang. Lebih banyak tempat yang bisa kita kunjungi bareng sahabat. Lebih banyak kesempatan yang bisa kita gunakan untuk quality time bersama keluarga. Dan paling penting lagi nih, makin banyak waktu yang bisa kita gunakan untuk mempersiapkan diri menjelang hari bahagia nanti yang masih Allah rahasiakan. Ngumpulin bekal sebanyak-banyaknya. Intinya, dibalik masa tunggu yang lebih lama, ada kesempatan-kesempatan emas yang bisa kita manfaatkan sebaik mungkin. Bisa belajar masak dulu, belajar parenting dulu, belajar ngurus suami dulu. Yang ibadahnya masih acak adul bisa latihan benerin sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya. Intinya Allah itu baik. Harus jadi perempuan tangguh dulu biar dapat imam yang sama-sama tangguh. Teman-teman saya juga masih banyak yang sendiri dan kami santai dengan itu semua. Malahan beberapa merintis usaha barsama. Itung-itung ngumpulin bekal dalam bentuk modal uang resepsi. Keren kan.
Kedua, waktu sendiri adalah waktu yang paling baik untuk memaksimalkan potensi. Yang suka nulis, sebelum nikah keluarin dulu tuh satu buku karya sendiri. Nanti kalau sudah punya anak mau cari waktu buat nuliskan bakal susah. Dapat satu paragraf, ngoeek. Satu paragraf lagi, ngoek lagi. kapan kelar coba tuh buku. Memaksimalkan potensi di waktu muda itu penting, biar pikirannya teralihkan. Tidak melulu “mupeng” dengan teman atau sahabat yang sudah duluan naik pelaminan. Heloo..si single di dunia ini stoknya bejibun kok.
Ketiga, Allah ingin menunjukkan bahwa kita adalah perempuan dan laki-laki tangguh. Jodoh itu datang ketika kita sudah butuh (jodoh itu sendiri). Ibaratnya ketika kita dilanda kekeringan panjang hingga tanaman hampir mati, Allah memberi hujan untuk menumbuhkannya lagi. Kalau sampai sekarang jodoh masih di tangan Tuhan, berarti kita masih kuat untuk sendirian. Keren kan. De e akan datang di waktu yang tepat kok. Ketika kita sudah siap bekalnya. Allah akan mengatakan “kun faya kun.” Maka datanglah seseorang yang mengetuk pintu rumah dan meminta hatimu. Enggak perlu lagi tuh pakai istilah kebelet segala. Semua memiliki akhir sendiri-sendiri. Santai saja mbak dan broo. Kita doakan mereka yang sudah berlayar mengarungi samudra rumah tangga duluan. Kita di dermaga nunggu nahkoda yang membawa kapal disambi beli sayur, ikan, beras, minyak, buat bekal nanti di tengah lautan. Kan bahaya kalau enggak makan, nanti mati terus siapa yang menjalankan kapal? Bisa kandas kan?