Ada
yang aneh bin ajaib, jadi ketika saya menulis hal-hal semacam kebaperan gitu viewer blog saya meningkat drastis haha.
Ternyata banyak orang jomlo di dunia ini. Padahal saya kalau nulis tema yang
kepaberan itu refleks saja. Kadang terpancing karena dicurhatin teman, kadang
gatel karena efek habis baca buku high
thinking, tapi kadang naluri dari dalam hati haha.
Terus
kali ini saya mau bahas bagian mana lagi? Bingung juga sih haha. Ada banyak hal
yang berkecamuk di pikiran saya dan minta segera dituliskan, tapi apa daya
waktu begitu pendek. Tugas kuliah begitu banyak. Temanya masih sama sih ya
itu-itu lagi haha. Tahu kan maksud saya? Tema yang selalu jadi hot topic di grup-grup yang bermacam
kultur tapi bahasannya sama: Nikah. Secara tangan lagi gatel nulis yang
beginian karena seminggu ini habis ditinggal nikah sama teman-teman
seperjuangan haha.
Itu yang suka nyuruh-nyuruh cepat nikah. TENGGELAMKAN!
Jadi gini, pernah enggak sih kamu merasa muak
porsi besar tentang pertanyaan kapan nikah dan kapan nyusul? Heloo si A sudah
punya suami loh, si B sudah hamil, si C sudah mau punya 2 anak. Heemm..itu
pertanyaan plus pernyataan gampang banget diucapin tapi susah banget dijawabnya.
Apalagi buat para jomlo-jomlo yang kelewat umur 20 tahun. Sakit hati adek
bang..
Emosi saya kadang bereaksi keras dengan seabrek peristiwa
yang awalnya bahas A tapi ujung-ujungnya bahas Nikah. Alamak. Sudah susah payah
meredam gejolak perasaan, eh diberantakin lagi sama orang-orang yang tak
bertanggung jawab. Kata salah seorang teman, “Lama-lama kita akan kebal sama
pertanyaan horor itu kok.” Iya, kebal sama sebal itu beda-beda tipis. Yang
awalnya biasa saja dengan kata “nikah” lama-lama bête juga tahu kalau tiap
keluar rumah yang ditanyain dan dibahas itu lagi..itu lagi. gimana otak enggak
bereaksi.
Lebih herannya lagi, itu orang-orang yang suka men-judgement dan nyuruh-nyuruh segera nikah itu. Hemm. What can I do, dear? Jangan-jangan malah dia sendiri yang ngebet nikah. Pasca tulisan ini terbit
pasti bakal tambah banyak orang-orang yang kurang pengertian terhadap nasib
jomblo seperti saya. Padahal yang bereaksi terhadap tulisan-tulisan baper ya
hanya orang-orang yang lagi baper. Ibaratnya kayak orang yang lagi sakit batuk,
pasti dia bakal bereaksi juga kalau lihat artikel tentang penyakit batuk. Padahal
yang nulis artikel tentang batuk belum tentu punya sakit batuk. Jadi kalau ada
orang yang bilangnya "ah nanti dulu deh nikahnya" atau "nikmatin kesendirian dululah. ngapain cepet-cepet" tapi pas saya nge-post tulisan macam
ini dia termasuk orang-orang yang sangat cepat bereaksi, taraaaaaaa.. Masih mau mengelak? Aku apa kamu yang kebelet nikah? Hayooo wkwk
Lagi baca buku tentang pernikahan, pengasuhan anak,
keluarga harmonis, dibilang ‘eh si A itu kebelet nikah banget ya. Bacaannya
kayak gitu terus” Hemm..kata “kebelet” itu saja sudah mengarah pada suatu
hal yang tidak tertahankan, apalagi diimbuhi kata “banget.” Mubazir kata banget
nih ya. Makanya penggunaan kata kebelet itu harus diminimalkan, apalagi buat
orang-orang yang kurang mengetahui maknanya. Salah seorang teman saya yang
niatnya memang belajar tentang seluk-beluk pernikahan jadi down karena terlabeli secara illegal dengan “kebelet nikah.” Kan
kasian dia, niatnya baik malah enggak jadi. Padahal kalau dia benar-benar
kebelet nikah, banyak lelaki yang sudah mengantri di depan rumahnya. So, the label is not good, gais. Bahaya! terus gimana?
Masih mau men-judgement orang yang
bahas dan belajar tentang pernikahan dengan “kebelet nikah”? semoga mau
berpikir ulang untuk mengucapkan itu. hiii…..
Saya
jadi ingat pertanyaan teman yang tiba-tiba curcol tentang dirinya yang tak
kunjung menikah, padahal gadis-gadis di desanya sudah pada sold out semua. Tinggalah dia yang masih berstatus single available. Dari sekian banyak
cerita yang ia sampaikan ke saya, ada satu peryataan yang membuat saya sedikit
berpikir dan menggali beberapa memori otak. Pernyataannya adalah, “Aku kira
kamu jenis orang yang menganggap menikah adalah bentuk ibadah. Jadi kalau ada
yang lamar langsung cus gitu, Han.”
Heloooo..itu nikah apa naik taksi? Main cuss aja. Saya
memang tipe orang yang berpikir
demikian: menikah adalah bentuk ibadah. Nah, karena bentuk ibadah itu makanya
saya enggak nikah-nikah. Kok gitu sih? Haha. Begini maksudnya:
Menikah adalah ibadah
yang ketika ada orang yang melakukannya akan mendapat pahala. Nikah juga
melengkapi separuh agama. Sampai sini sudah jelas bukan bahwa menikah itu bukan
perkara main-main? Yang bukan hanya sehari- dua hari atau kalau bosan bisa
minta ganti. Makanya kalau memang sudah ada keinginan ya pantaskan, kalau sudah
kebelet ya cari. Menikah itu ibadah
makanya butuh bekal. Mencari bekal itulah tahap awalnya. Seperti sholat yang
butuh wudlu, atau puasa yang butuh makan sahur. Semua ada tahapnya. Bukan asal
jalan saja. Karena ibadah itulah bekalnya harus maksimal. Kalau cuma asal nikah
karena saling suka (yang kebelet itu tadi), anak SMP pun bisa. Banyak sih yang
bilang “kalau nunggu siap, enggak bakal ada kata siap.” Nah, dibagian ini saya
selalu salut dengan orang-orang yang rela menunda menikah demi mengumpulkan
bekal dulu, terus makna “kebelet”-nya dibagian mana coba? Yang kebelet itu
mesti enggak bakal sempat mencari bekal, langsung main cuss aja.
Nah,
yang membedakan kita dengan yang hanya “kebelet” adalah di situ: perbekalannya.
Orang yang kebelet nikah bakal
negebayangin enak-enaknya aja, karena di balik kata kebelet itu ada sekelebat
napsu. Enggak mikir ke depannya mau gimana, pokoknya pingin itu ya lakuin.
Sedangkan orang-orang yang sudah “mengumpulkan bekal” tadi akan memikirkan
menikah dari dua sisi, positif dan negatif. Ia sadar bahwa menikah adalah awal
kehidupan rumah tangga yang ke depan pasti bakal banyak ujiannya. Makanya
direla-relain nikahnya telat tapi pasangannya tepat, daripada kebelet nikah
tapi modalnya nekad.
Pernah
suatu ketika salah seorang teman yang namanya mawar (nama samaran) haha
mengatakan demikian, “itu si A (maksudnya saya) ikut banyak organisasi,
temannya banyak, tapi enggak nikah-nikah” dia mengatakan itu tepat dibelakang
saya dan telinga ini jelas sekali menangkap gelombang suaranya. Sakit enggak
digituin? (jawab sendiri deh ahaha) Berhubung sudah kenal betul, saya anggap
pernyataan itu adalah angin lalu. Toh memang kenyataannya begitu, saya punya
banyak teman, tapi memang belum naik pelaminan. No problem gitu loh. Orang tua saja tidak mempermasalahkan. Malah lebih
sering tanya mana teman-teman kamu daripada mana calonmu. Selow..bekal saya belum
cukup nih. Dan itu tadi, saya tidak ingin menjadi bagian orang-orang yang
“kebelet” lantas mengesampingkan “perbekalannya.”
Nah
buat mbak-mbak cantik yang nasibnya seperti saya, masih gini-gini aja. Atau
mas-mas yang punya hak “tinggal pilih” tapi juga ada yang bernasib sama, jangan
sedih. Ada banyak manfaat yang bisa kita ambil kok. Semua akan menikah pada
waktunya. Tenang loh. Menikah itu seperti ujian nasional, seperti wisuda, pasti
bakal kita lewati. Jangan dipikir terlalu berat, karena yang harus dipikir adalah
nilai ibadahnya. Takdir allah lebih indah daripada yang kita sangka. Terbukti,
setiap pasangan memiliki moment
pertemuan yang selalu indah dan dapat mereka kenang tiap tahunnya. So, kenapa
harus gelisah karena ditinggal nikah wkwkwk. Single available itu enggak buruk-buruk amat.
Pertama,
dengan menjomblo (lebih tepatnya single)
lebih lama, kita memiliki waktu bermain yang lebih panjang. Lebih banyak tempat
yang bisa kita kunjungi bareng sahabat. Lebih banyak kesempatan yang bisa kita
gunakan untuk quality time bersama
keluarga. Dan paling penting lagi nih, makin banyak waktu yang bisa kita
gunakan untuk mempersiapkan diri menjelang hari bahagia nanti yang masih Allah
rahasiakan. Ngumpulin bekal sebanyak-banyaknya. Intinya, dibalik masa tunggu
yang lebih lama, ada kesempatan-kesempatan emas yang bisa kita manfaatkan
sebaik mungkin. Bisa belajar masak dulu, belajar parenting dulu, belajar ngurus suami dulu. Yang ibadahnya masih
acak adul bisa latihan benerin sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya. Intinya
Allah itu baik. Harus jadi perempuan tangguh dulu biar dapat imam yang
sama-sama tangguh. Teman-teman saya juga masih banyak yang sendiri dan kami
santai dengan itu semua. Malahan beberapa merintis usaha barsama. Itung-itung
ngumpulin bekal dalam bentuk modal uang resepsi. Keren kan.
Kedua,
waktu sendiri adalah waktu yang paling baik untuk memaksimalkan potensi. Yang
suka nulis, sebelum nikah keluarin dulu tuh satu buku karya sendiri. Nanti
kalau sudah punya anak mau cari waktu buat nuliskan bakal susah. Dapat satu
paragraf, ngoeek. Satu paragraf lagi, ngoek lagi. kapan kelar coba tuh buku. Memaksimalkan
potensi di waktu muda itu penting, biar pikirannya teralihkan. Tidak melulu
“mupeng” dengan teman atau sahabat yang sudah duluan naik pelaminan. Heloo..si single di dunia ini stoknya bejibun kok.
Ketiga,
Allah ingin menunjukkan bahwa kita adalah perempuan dan laki-laki tangguh.
Jodoh itu datang ketika kita sudah butuh (jodoh itu sendiri). Ibaratnya ketika
kita dilanda kekeringan panjang hingga tanaman hampir mati, Allah memberi hujan
untuk menumbuhkannya lagi. Kalau sampai sekarang jodoh masih di tangan Tuhan,
berarti kita masih kuat untuk sendirian. Keren kan. De e akan datang di waktu
yang tepat kok. Ketika kita sudah siap bekalnya. Allah akan mengatakan “kun
faya kun.” Maka datanglah seseorang yang mengetuk pintu rumah dan meminta
hatimu. Enggak perlu lagi tuh pakai istilah kebelet segala. Semua memiliki
akhir sendiri-sendiri. Santai saja mbak dan broo. Kita doakan mereka yang sudah
berlayar mengarungi samudra rumah tangga duluan. Kita di dermaga nunggu nahkoda
yang membawa kapal disambi beli sayur, ikan, beras, minyak, buat bekal nanti di
tengah lautan. Kan bahaya kalau enggak makan, nanti mati terus siapa yang
menjalankan kapal? Bisa kandas kan?








