Hari
masih buta. Pagi masih dua jam lagi. Namun, orang –orang sudah terlihat sibuk
menyiapkan diri mereka. Ada yang sedang bersiap mandi. -Gayung ditangan dengan
beberapa batang sikat gigi dan handuk bertengger sekenanya dipundak-. Ada yang
tenang menggosok pakaian dengan setrika. Meja setrika di seberang kamarku itu
begitu lebar. Diatasnya tepat ada lampu neon putih yang amat terang. Sorotnya
selalu menembus jendela kamarku. Kulihat dilantai satu teman-temanku sedang
asik mengobrol, berbincang bersama Tuhannya. Sujud di sepertiga malam
akhir-akhir ini sangat laris. Bangunan yang tidak sampai setahun aku tempati
ini seperti ceruk. Dari lantai dua aku bisa melinguk ke lantai satu. Aula yang
biasanya digunakan untuk aktivitas keagamaan seperti qiraah, sholat jamaah,
pengisian, dan terkadang untuk makan akbar. Suasana seperti ini hampir selesai
aku jalani. Iya, ini salah satu potret hidup yang entah sudah Allah takdirkan
untukku.
Hari
ini adalah hari penting. Bisa dibilang adalah hari terakhirku mengenyam status
anak SMA. Hari terakhir aku menginjakkan kaki di penjara suci. Begitulah
orang-orang itu menyebutnya. Orang-orang yang sering aku sebutkan tadi adalah teman-teman
sejawatku. Teman seasrama, sekamar, sekelas, senasib dan seperjuangan. Penjara
suci, nama yang aneh bukan? Iya haha. Terkadang aku juga ingin tertawa
mendengarnya, meskipun lebih sering menitikkan air mata. Bahasa halus penjara
suci itu adalah ASRAMA. Bangunan besar yang digunakan untuk menampung para
pencari ilmu nun jauh dari kampung halaman, termasuk aku.
Aku
berdiri didepan asrama. Menatapnya agak lama. “sebentar lagi aku pergi, hari
yang aku tunggu-tunggu hampir tiga tahun ini sudah tiba,” ucapku pada diriku
sendiri. Tak ada yang mendengar. Hanya aku. Kaki panjangku mulai melangkah
meninggalkan bangunan (tak begitu megah) itu menuju sekolah. Jaraknya tak
begitu jauh. Sekitar sepuluh menitan dengan berjalan kaki. teman-teman kentalku
sudah menunggu. Berlari kecil. Menyusul meraka.
Pelepasan
siswa. Kursi-kursi dan panggung sudah tertata rapi. Sekolahku Nampak berbeda
dibeberapa sisinya. Acara tahunan ini sudah dipersiapkan dengan matang. Sejak
sebulan setelah hasil kelulusan muncul para guru sudah sibuk merancang acara
ini. Tanaman-tanaman yang biasanya berada dihalaman berpindah dikanan-kiri
panggung. Asri. Hijau dan segar ketika mata memandang.
Sosok-sosok
yang berlapis kerinduan mulai bermunculan. Mereka datang membawa kemenangan dan
rasa bangga luar biasa. Anak-anak mereka sudah mencapai ujung tombak perjuangan.
Hari ini aku dan kawan seangkatanku akan melaksanakan acara purna tugas sebagai
anak SMA. Iya, sudah selesai.
Aku
duduk di deretan kiri bersama teman-teman dekatku. Zona puteri. Sekolahku
menetapkan syariah agama yang begitu kuat. Laki-laki dan perempuan tak bisa di
satukan disini. Sejak aku masuk hingga saat ini, selalu ada batas antara kami,
putera dan puteri. Kulihat ke beberapa sudut, para orang tua sedang asik
bercakap dengan guru dan anak-anaknya. Celingukan. Aku belum melihat ayahku.
Padahal beberapa hari lalu aku sudah menelpon untuk mengingatkan undangan acara
pelepasan ini. Diujung telepon saat itu ayah mengiyakan.
Disini,
disekolahku yang bisa dibilang unik ini. Telepon adalah barang mahal. Ada
jam-jam tertentu untuk menghubungi orang-orang tercinta diluar asrama. Apalagi
posisiku sekarang berada di pelataran sekolah, sedangkan telepon yang
disediakan yayasan berada di gedung asrama. Sekitar satu kilometer dari gedung
ini. Aku menghela napas. Berharap ayah tidak lupa dengan janjinya. Tak mungkin
aku kembali ke asrama. Acara segera dimulai. Aku benarkan posisi duduk tepat
menghadap ke panggung acara. Berharap-harap cemas untuk segera bisa menangkap
raut wajah ayah yang makin menua menurutku.
Acara
dimulai. Tirau terbuka lebar. Beberapa pertunjukkan seni tergelar dengan apik.
Sambutan-sambutan yang disampaikan pun mengharu biru. Semua menyiratkan rasa
bangga karena kami lulus 100 %. Tidak ada yang tertinggal satu pun diantara
kami. Tibalah pada prosesi pemberian penghargaan. Kepala sekolah menaiki mimbar
dengan membawa map batik ditangan kanannya. Perlahan beliau membuka dan
membacakan nama-nama yang berhasil menorehkan nilai terbaik untuk ujian
nasional tahun ini. Tiga orang puteri dan tiga orang putera. Satu per satu nama
terpanggil mulai dari dari peringkat 3. Satu diantara nama-nama itu adalah
namaku. Aku gembira bukan kepalang. Ucap syukur saat itu juga. Menangkupkan
wajahku pada kedua telapak tangan, “Alhamdulillah”.
Teman-teman yang duduk didekatku memeluk dan mengucapkan selamat atas
keberhasilanku. Aku melangkah maju. Mengikuti teman-temanku yang sudah terlebih
dahulu dipanggil. Kepala sekolah yang masih berada di mimbar kembali bersuara.
“Silakan
bagi wali murid – murid di depan untuk maju dan berfoto bersama”, perintah
bapak kepala sekolah. Dengan senyum bangga ibu dan bapak wali murid berjalan
mendekat ke arah anak kebanggaan mereka. Kemudia aku, tak ada satu pun yang
mendekat ke arahku. Tak ada ayahku, apalagi ibuku. Dimanakah gerangan keduanya?
Semudah inikah melupakan hari penting ini. Aku meneteskan air mata didepan
puluhan hadirin. Menunduk. Menyembunyikan kesedihanku seorang diri. Cepat-cepat
aku hapus menggunakan punggung tangan kiriku. Percuma. Sia-sia benar usahaku
tiga tahun ini. Usaha yang aku upayakan dengan keras tak membuahkan apa-apa. Tak
ubahnya hanya angin lalu. Kado ini tak seindah yang aku bayangkan beberapa
tahun lalu. Janjiku ketika pertama kali kakiku memasuki pelataran ini untuk
pertama kali. Nilai terbaik yang aku persembahkan tak sampai pada pemiliknya.
Ingin rasanya aku berlari meninggalkan
panggung, menerobos para hadirin yang dengan seenak hati menepuktangani aku.
Apa-apaan, aku sedang berduka. “Mengapa mereka bisa tersenyum begitu lebarnya”.
Batinku memberi perlawanan. Pembawa acara mempersilakan kami kembali menuju
kursi duduk. Aku tersedu sejadinya. Menanggalkan suara tepuk tangan yang
semakin keras berirama. Pundak seorang teman menjadi sasaran kesedihanku.
Bajunya basah teraliri air mataku yang terus saja menjadi. Teman yang mulai
melihatku iba membawaku ke belakang sekolah. Tempat yang cukup sepi untuk
meluapkan kesedihan ini. kepalaku masih menunduk. Map bergambar logo almamater
sekolahku menjadi tameng paling mujarap untuk menutupi muka sembabku.
Teman
perempuanku memelukku erat, “ Sudah mbak, sudah. Bapakmu pasti tetap bangga
kok” katanya menenangkan.
“Bukan
itu masalahnya mbak. Hari sepenting ini bapakku bisa lupa. Kenapa begitu tega
mbak. Apa aku tidak penting lagi untuk mereka,”
Ya
begitulah amarah yang keluar tanpa aku minta. Tak ingat lagi apa itu makna anak
durhaka. Marah. Aku marah dengan caraku. Kucuci muka dengan air. Beberapa saat
aku pandang wajah sembabku di kaca kamar mandi. Begitu memelasnya diriku. Aku
mengasihani diriku sendiri. Otakku seperti mlompong. Hanya ingin melamun dan
menangis. Itu saja, tak lebih. Air mata pun keluar tanpa intruksi. Sesak bila
mengingat kejadian beberapa menit lalu.
Dari
kamar mandi aku mendengarkan moment-moment akhir acara. Dirasa hampir selesai,
teman sebayaku mengajakku kembali ke pelataran untuk mengikuti prosesi
penutupan. Rasanya ingin ku tolak ajakan itu. Tempat ini sepertinya menjadi tempat
paling nyaman kali ini. Apa daya, aku tetap kembali dengan gontai. Paksaan
seperti ini yang aku benci.
Saat
aku berjalan menuju kursiku, teman-teman yang lain memandangku iba. Apa yang sedang
mereka pikirkan terhadapku? Sampai-sampai mereka melihatku tanpa kedip seperti
itu. Aku bukan narapidana yang mau dihukum mati. Sampailah tubuh ini ke kursi.
Pembawa acara mengakhiri prosesi dengan salam yang sangat bersemangat. Semangat
karena setelah ini kami akan menjalani kehidupan baru. Tidak lagi terkurung di SMA
apalagi asrama. Lepas. Bebas melakukan aktivitas seperti orang pada umumnya.
Pikiran-pikiran itu tak berpengaruh padaku. Aku masih terpaku. Diam seribu
bahasa menatap map berlogo SMA.
Teman
yang mengantarku ke belakang sekolah tadi menggandeng jemariku. Menarikku ke
halaman parkir yang letaknya berseberangan dengan pelataran sekolah. Temanku
menunjuk ke salah satu sudut. Kelopak mataku melebar. Menangkap sosok yang tak
asing.
“Bapak..”
desisku pelan.
Aku
berjalan lunglai mendekatinya. Membawa sejuta kecewa yang tak bisa kuterima. Mencium
tangannya.
“Pulang
sekarang?”, Beliau bertanya. Aku mengangguk. Melihat posisi sepeda motor yang
sedikit menjorok ke dalam, tak mungkin bila beliau datang terlambat tadi. Lalu
kenapa beliau tak muncul ketika momen sakralku?
Tangis
bisuku mengudara bersama terik senja. Beberapa kali air mataku hendak meluncur,
lagi-lagi aku hapus secepat kilat. Aku mendongakkan kepala ke langit agar lebih
kuasa menahannya. Isakku yang pelan beradu dengan suara derum motor yang
salip-salipan. Hanya punggung ayah yang menjadi saksiku. Beliau tidak, fokus
pada rute jalan pulang. Aku yang dibonceng dibelakang egois pada jalan. Larut
dalam kekecewaan. Rumah yang hampir 18 tahun aku huni bersama keluargaku sudah
didepan mata. Mesin motor diistirahatkan
“Assalammualaikum”, ujarku seraya membuka
pintu. Di ruang tengah kulihat ibu dan adik-adikku sudah menunggu. Aku mencium
tangan ibu kemudian duduk lesehan tepat disebelah kanannya. Perjalanan yang
cukup memakan waktu tadi berhasil membuat badanku pegal. Begitu pun dengan
bapak. Beliau ikut duduk bersama kami.
“Bagimana
hasilnya?,” begitulah pertanyaan yang dilontarkan ibu padaku.
“Alhamdulillah. Tadi dapat hadiah, Bu
dari sekolahan. Tapi Bapak mboten wonten
pas mau difoto kaliyan bapak ibu guru.” Curhatku pada ibu. Tenggorokan
rasanya mendadak kering. Serak. Mata mulai memanas. “Tidak..tidak..aku harus
menahannya. Jangan menangis didepan mereka. Aku sudah besar. Tidak”, batinku
melawan kekecewaan.
“Lha
kenapa tho pak? Mboten telat tho?”, tanya ibu pada bapak yang sedang terbaring.
Kedua tangannya disatukan untuk bantalan kepala sambil menghadap langit-langit
rumah. Ibu tahu apa mauku, jawaban.
“Bapak
tadi pakai sandal jepit, nduk.
Padahal yang lain pakai sepatu klimis-klimis.
Tapi hadiahnya lak tetep
dikasih tho?”.
Aku
tertawa. Jawaban bapak membuat urat tawaku bereaksi. Tawa pertama semenjak pagi
buta. Aku menagkap jawaban bapak yang dilontarkan dalam bentuk candaan. Hanya
seberkas alasan sesederhana itu. Aku kalut dengan kekecewaan yang aku buat
sendiri. Bergulat dengan amarah dan kesedihan yang juga aku bentuk sendiri.
“Masihkah
pantas kau sebut aku anakmu? Bapak ibu. Ini secuil baktiku”, ucapku dalam hati.
Kusodorkan hadiah dari kepala sekolah dan map berlogo sekolahku pada kedua
orang tuaku. Bapak ibu, kalian selalu punya cara untuk mencintai aku.










