Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Selasa, 23 Juni 2015

Perkara dan Sendal Jepitnya





Hari masih buta. Pagi masih dua jam lagi. Namun, orang –orang sudah terlihat sibuk menyiapkan diri mereka. Ada yang sedang bersiap mandi. -Gayung ditangan dengan beberapa batang sikat gigi dan handuk bertengger sekenanya dipundak-. Ada yang tenang menggosok pakaian dengan setrika. Meja setrika di seberang kamarku itu begitu lebar. Diatasnya tepat ada lampu neon putih yang amat terang. Sorotnya selalu menembus jendela kamarku. Kulihat dilantai satu teman-temanku sedang asik mengobrol, berbincang bersama Tuhannya. Sujud di sepertiga malam akhir-akhir ini sangat laris. Bangunan yang tidak sampai setahun aku tempati ini seperti ceruk. Dari lantai dua aku bisa melinguk ke lantai satu. Aula yang biasanya digunakan untuk aktivitas keagamaan seperti qiraah, sholat jamaah, pengisian, dan terkadang untuk makan akbar. Suasana seperti ini hampir selesai aku jalani. Iya, ini salah satu potret hidup yang entah sudah Allah takdirkan untukku.
Hari ini adalah hari penting. Bisa dibilang adalah hari terakhirku mengenyam status anak SMA. Hari terakhir aku menginjakkan kaki di penjara suci. Begitulah orang-orang itu menyebutnya. Orang-orang yang sering aku sebutkan tadi adalah teman-teman sejawatku. Teman seasrama, sekamar, sekelas, senasib dan seperjuangan. Penjara suci, nama yang aneh bukan? Iya haha. Terkadang aku juga ingin tertawa mendengarnya, meskipun lebih sering menitikkan air mata. Bahasa halus penjara suci itu adalah ASRAMA. Bangunan besar yang digunakan untuk menampung para pencari ilmu nun jauh dari kampung halaman, termasuk aku.
Aku berdiri didepan asrama. Menatapnya agak lama. “sebentar lagi aku pergi, hari yang aku tunggu-tunggu hampir tiga tahun ini sudah tiba,” ucapku pada diriku sendiri. Tak ada yang mendengar. Hanya aku. Kaki panjangku mulai melangkah meninggalkan bangunan (tak begitu megah) itu menuju sekolah. Jaraknya tak begitu jauh. Sekitar sepuluh menitan dengan berjalan kaki. teman-teman kentalku sudah menunggu. Berlari kecil. Menyusul meraka.
Pelepasan siswa. Kursi-kursi dan panggung sudah tertata rapi. Sekolahku Nampak berbeda dibeberapa sisinya. Acara tahunan ini sudah dipersiapkan dengan matang. Sejak sebulan setelah hasil kelulusan muncul para guru sudah sibuk merancang acara ini. Tanaman-tanaman yang biasanya berada dihalaman berpindah dikanan-kiri panggung. Asri. Hijau dan segar ketika mata memandang.
Sosok-sosok yang berlapis kerinduan mulai bermunculan. Mereka datang membawa kemenangan dan rasa bangga luar biasa. Anak-anak mereka sudah mencapai ujung tombak perjuangan. Hari ini aku dan kawan seangkatanku akan melaksanakan acara purna tugas sebagai anak SMA. Iya, sudah selesai.
Aku duduk di deretan kiri bersama teman-teman dekatku. Zona puteri. Sekolahku menetapkan syariah agama yang begitu kuat. Laki-laki dan perempuan tak bisa di satukan disini. Sejak aku masuk hingga saat ini, selalu ada batas antara kami, putera dan puteri. Kulihat ke beberapa sudut, para orang tua sedang asik bercakap dengan guru dan anak-anaknya. Celingukan. Aku belum melihat ayahku. Padahal beberapa hari lalu aku sudah menelpon untuk mengingatkan undangan acara pelepasan ini. Diujung telepon saat itu ayah mengiyakan.
Disini, disekolahku yang bisa dibilang unik ini. Telepon adalah barang mahal. Ada jam-jam tertentu untuk menghubungi orang-orang tercinta diluar asrama. Apalagi posisiku sekarang berada di pelataran sekolah, sedangkan telepon yang disediakan yayasan berada di gedung asrama. Sekitar satu kilometer dari gedung ini. Aku menghela napas. Berharap ayah tidak lupa dengan janjinya. Tak mungkin aku kembali ke asrama. Acara segera dimulai. Aku benarkan posisi duduk tepat menghadap ke panggung acara. Berharap-harap cemas untuk segera bisa menangkap raut wajah ayah yang makin menua menurutku.
Acara dimulai. Tirau terbuka lebar. Beberapa pertunjukkan seni tergelar dengan apik. Sambutan-sambutan yang disampaikan pun mengharu biru. Semua menyiratkan rasa bangga karena kami lulus 100 %. Tidak ada yang tertinggal satu pun diantara kami. Tibalah pada prosesi pemberian penghargaan. Kepala sekolah menaiki mimbar dengan membawa map batik ditangan kanannya. Perlahan beliau membuka dan membacakan nama-nama yang berhasil menorehkan nilai terbaik untuk ujian nasional tahun ini. Tiga orang puteri dan tiga orang putera. Satu per satu nama terpanggil mulai dari dari peringkat 3. Satu diantara nama-nama itu adalah namaku. Aku gembira bukan kepalang. Ucap syukur saat itu juga. Menangkupkan wajahku pada kedua telapak tangan, “Alhamdulillah”. Teman-teman yang duduk didekatku memeluk dan mengucapkan selamat atas keberhasilanku. Aku melangkah maju. Mengikuti teman-temanku yang sudah terlebih dahulu dipanggil. Kepala sekolah yang masih berada di mimbar kembali bersuara.
“Silakan bagi wali murid – murid di depan untuk maju dan berfoto bersama”, perintah bapak kepala sekolah. Dengan senyum bangga ibu dan bapak wali murid berjalan mendekat ke arah anak kebanggaan mereka. Kemudia aku, tak ada satu pun yang mendekat ke arahku. Tak ada ayahku, apalagi ibuku. Dimanakah gerangan keduanya? Semudah inikah melupakan hari penting ini. Aku meneteskan air mata didepan puluhan hadirin. Menunduk. Menyembunyikan kesedihanku seorang diri. Cepat-cepat aku hapus menggunakan punggung tangan kiriku. Percuma. Sia-sia benar usahaku tiga tahun ini. Usaha yang aku upayakan dengan keras tak membuahkan apa-apa. Tak ubahnya hanya angin lalu. Kado ini tak seindah yang aku bayangkan beberapa tahun lalu. Janjiku ketika pertama kali kakiku memasuki pelataran ini untuk pertama kali. Nilai terbaik yang aku persembahkan tak sampai pada pemiliknya.
 Ingin rasanya aku berlari meninggalkan panggung, menerobos para hadirin yang dengan seenak hati menepuktangani aku. Apa-apaan, aku sedang berduka. “Mengapa mereka bisa tersenyum begitu lebarnya”. Batinku memberi perlawanan. Pembawa acara mempersilakan kami kembali menuju kursi duduk. Aku tersedu sejadinya. Menanggalkan suara tepuk tangan yang semakin keras berirama. Pundak seorang teman menjadi sasaran kesedihanku. Bajunya basah teraliri air mataku yang terus saja menjadi. Teman yang mulai melihatku iba membawaku ke belakang sekolah. Tempat yang cukup sepi untuk meluapkan kesedihan ini. kepalaku masih menunduk. Map bergambar logo almamater sekolahku menjadi tameng paling mujarap untuk menutupi muka sembabku.
Teman perempuanku memelukku erat, “ Sudah mbak, sudah. Bapakmu pasti tetap bangga kok” katanya menenangkan.
“Bukan itu masalahnya mbak. Hari sepenting ini bapakku bisa lupa. Kenapa begitu tega mbak. Apa aku tidak penting lagi untuk mereka,”
Ya begitulah amarah yang keluar tanpa aku minta. Tak ingat lagi apa itu makna anak durhaka. Marah. Aku marah dengan caraku. Kucuci muka dengan air. Beberapa saat aku pandang wajah sembabku di kaca kamar mandi. Begitu memelasnya diriku. Aku mengasihani diriku sendiri. Otakku seperti mlompong. Hanya ingin melamun dan menangis. Itu saja, tak lebih. Air mata pun keluar tanpa intruksi. Sesak bila mengingat kejadian beberapa menit lalu.
Dari kamar mandi aku mendengarkan moment-moment akhir acara. Dirasa hampir selesai, teman sebayaku mengajakku kembali ke pelataran untuk mengikuti prosesi penutupan. Rasanya ingin ku tolak ajakan itu. Tempat ini sepertinya menjadi tempat paling nyaman kali ini. Apa daya, aku tetap kembali dengan gontai. Paksaan seperti ini yang aku benci.
Saat aku berjalan menuju kursiku, teman-teman yang lain memandangku iba. Apa yang sedang mereka pikirkan terhadapku? Sampai-sampai mereka melihatku tanpa kedip seperti itu. Aku bukan narapidana yang mau dihukum mati. Sampailah tubuh ini ke kursi. Pembawa acara mengakhiri prosesi dengan salam yang sangat bersemangat. Semangat karena setelah ini kami akan menjalani kehidupan baru. Tidak lagi terkurung di SMA apalagi asrama. Lepas. Bebas melakukan aktivitas seperti orang pada umumnya. Pikiran-pikiran itu tak berpengaruh padaku. Aku masih terpaku. Diam seribu bahasa menatap map berlogo SMA.
Teman yang mengantarku ke belakang sekolah tadi menggandeng jemariku. Menarikku ke halaman parkir yang letaknya berseberangan dengan pelataran sekolah. Temanku menunjuk ke salah satu sudut. Kelopak mataku melebar. Menangkap sosok yang tak asing.
“Bapak..” desisku pelan.
Aku berjalan lunglai mendekatinya. Membawa sejuta kecewa yang tak bisa kuterima. Mencium tangannya.
“Pulang sekarang?”, Beliau bertanya. Aku mengangguk. Melihat posisi sepeda motor yang sedikit menjorok ke dalam, tak mungkin bila beliau datang terlambat tadi. Lalu kenapa beliau tak muncul ketika momen sakralku?
Tangis bisuku mengudara bersama terik senja. Beberapa kali air mataku hendak meluncur, lagi-lagi aku hapus secepat kilat. Aku mendongakkan kepala ke langit agar lebih kuasa menahannya. Isakku yang pelan beradu dengan suara derum motor yang salip-salipan. Hanya punggung ayah yang menjadi saksiku. Beliau tidak, fokus pada rute jalan pulang. Aku yang dibonceng dibelakang egois pada jalan. Larut dalam kekecewaan. Rumah yang hampir 18 tahun aku huni bersama keluargaku sudah didepan mata. Mesin motor diistirahatkan
Assalammualaikum”, ujarku seraya membuka pintu. Di ruang tengah kulihat ibu dan adik-adikku sudah menunggu. Aku mencium tangan ibu kemudian duduk lesehan tepat disebelah kanannya. Perjalanan yang cukup memakan waktu tadi berhasil membuat badanku pegal. Begitu pun dengan bapak. Beliau ikut duduk bersama kami.
“Bagimana hasilnya?,” begitulah pertanyaan yang dilontarkan ibu padaku.
Alhamdulillah. Tadi dapat hadiah, Bu dari sekolahan. Tapi Bapak mboten wonten pas mau difoto kaliyan bapak ibu guru.” Curhatku pada ibu. Tenggorokan rasanya mendadak kering. Serak. Mata mulai memanas. “Tidak..tidak..aku harus menahannya. Jangan menangis didepan mereka. Aku sudah besar. Tidak”, batinku melawan kekecewaan.
“Lha kenapa tho pak? Mboten telat tho?”, tanya ibu pada bapak yang sedang terbaring. Kedua tangannya disatukan untuk bantalan kepala sambil menghadap langit-langit rumah. Ibu tahu apa mauku, jawaban.
“Bapak tadi pakai sandal jepit, nduk. Padahal yang lain pakai sepatu klimis-klimis. Tapi hadiahnya lak  tetep dikasih tho?”.
Aku tertawa. Jawaban bapak membuat urat tawaku bereaksi. Tawa pertama semenjak pagi buta. Aku menagkap jawaban bapak yang dilontarkan dalam bentuk candaan. Hanya seberkas alasan sesederhana itu. Aku kalut dengan kekecewaan yang aku buat sendiri. Bergulat dengan amarah dan kesedihan yang juga aku bentuk sendiri.
“Masihkah pantas kau sebut aku anakmu? Bapak ibu. Ini secuil baktiku”, ucapku dalam hati. Kusodorkan hadiah dari kepala sekolah dan map berlogo sekolahku pada kedua orang tuaku. Bapak ibu, kalian selalu punya cara untuk mencintai aku.


Rabu, 03 Juni 2015

Bubur Beras Merah on The Story

Jarum pendek jam menodongkan ujungnya pada angka 4 dan jarum panjang ke angka 12. Hari sudah sore. Panas suda sedikit mereda dibandingkan siang tadi. Usai membersihkan badan, meluruhkan segala lelah dengan air aku meluncur ke tempat yang untuk beberapa kali ini menjadi sumber rezeki. Aku dan blacki –sebutan untuk motor kesayanganku- menyusuri pedaringan, pasar jebres, STIE AUB dan pada akhirnya sampai di kecamatan Kadipiro, Solo.
Gang-gang kecil aku lalui, sesekali bersenandung menyambut rezeki. Blacki berhenti. Helm merah hasil pinjaman teman kos aku lepas dari batok kepala. Beberapa waktu ini aku mengandalkan helm pinjaman, helm kesayanganku yang harganya tak seberapa hilang. Heran sama malingnya, helm murahan diembat juga.
Aku masuk ke pelataran. Tak mengucap salam seperti biasa yang aku lakukan ketika memasuki rumah. Keluarga kecil ini berbeda Tuhan. Si gadis kecil muncul menyambutku. “mbak hani datang..mbak hani datang…,” begitulah kiranya perayaan selamat datang untukku. Gigi gadis kecil itu “gigis”, mungkin kebanyakan makan permen. Rambutnya model salah satu kartun di televisi. Sebahu namun lurus kecoklatan. Namanya Melinda. Melinda Patricia, si anak kecil yang selalu menyebut dirinya adalah putrid elsa di film Frozen. Lucu sekali ketawanya ketika berceletuk, “aku putri Elsa yang di Frozen itu loh mbak. Jadi panggil aku Melinda Elsa ya..” Aku iyakan saja. Toh, dengan anggukan sederhana akan membuatnya tersenyum bahagia dan dia akan menurut untuk aku ajari membaca.
Ya beginilah caraku (berusaha) menikmati hidup. Menberikan les privat untuk salah satu anak TK. Berharap kegiatan ini mampu menjadi menambal penatku dengan dunia kuliah. Menjadi sumber penghasilan tambahan juga (semoga~). Pertama kali mengajar..buset deh, nih badan serasa loggkrak alias capek banget. Ngajar satu anak kecil sama dengan ngajari 10 anak SMA. Susah banget, dikit-dikit minta main. Baru baca satu huruf minta main. Al hasil ngelesiku didominasi dengan main-main haha. Seperti tujuan awalku, menghilangkan penat. Aku sukses! Jangan dikira gampang, penat hilang lelah yang datang. Bosen sedikit si Melinda ngambek. Yang makan dulu lah, ke kamar mandi dulu lah, main skoter dululah. “Hemm..pengen tak borgol juga nih anak lama-lama,” pikir jahatku. Sama-sama kerja dua jam capeknya tiga kali lipat dari kerjaku jadi front office. Kaki tangan pegal semua. Sampai kos bisa aku pastikan langsung tidur memeluk guling.
Secapek apapun mengajar, tetap saja aku bahagia. Bersama Melinda dan tingkah polahnya aku belajar mengasuh anak, atau lebih tepatnya adik yang masih sangat aktif, belum bisa dikontrol secara penuh. Secara, dulu ketika masa adik-adikku masih seumurannya melinda aku masih di taraf umur anak yang labil (SD). Pokoknya yang penting adikku diam, gimana pun itu caranya. Menguak kenangan sebentar #eaaa.. Sering sekali sama ibu diminta untuk nyuapin adikku bubur Sun. Aku masih ingat sekali bubur itu punya varian rasa yang beragam, salah satunya adalah beras merah. Yummy. Aku lebih senang rasa pisang sebenarnya. Kalau jatahku beli bubur, meskipun ibu minta beli yang rasa beras merah tetap akan aku belikan yang rasa pisang haha. Atau kalau enggak suruh beli tiga bungkus, dua bungkus rasa beras merah satu bungkus rasa pisng. Anggap saja ini upah anak solehah. Memulai aktivitas tiap sore, “ndulang” adik. Aku suapkan satu sendok ke mulut adikku. Dia makan pelan sekali. Kemudian aku suapkan ke mulutku sendiri dua kali dengan sigap biar ibu tak tahu kelakuanku. Makanku cepat sekali. Secara, itu bubur tak perlu dikunyah, gigiku sudah tumbuh dan adikku masih ompong aja. Kalau sudah habis dan adik masih rewel, aku akan kembali ke dapur. 
Bilang sama ibu, “bu, adik masih lapar. Tak buatkan bubur lagi ya”. Begitulah kalimatku beberapa kali hingga tak kusangka buburnya sudah habis, baik di mangkuk maupun dibungkus. Begitu seterusnya untuk tiga generasi. Ibuku akan ngomel begini, “loh, kok habis buburnya. Yang makan kamu apa adik ini?”, dengan tampang tanpa dosa aku berdalih, “adik tadi lapar banget bu, jadi makannya rada banyakan hehe..” Ibu menimpali lagi,” lha sing lemu kok malah koe udu adimu?” begitulah percakapanku, silahkan dialih bahasakan ke Bahasa Jawa sendiri ya. 
anaknya kurang satu -_-
Ya begitulah tingkahku “ngemong” tiga adikku. Masih sangat tak mutu. Berbeda dengan sekarang. Meskipun Melinda bukan adik kandungku, tapi dengan dia aku banyak belajar bagaimana cara memperlakukan anak kecil secara manusiawi. Tidak lagi dengan mengambil jatah bubur beras maerah, tapi memberikan apa yang dimiliki dan dibutuhkan. Menjadi lebih sabar, mengajari pelan-pelan dan berusaha mengerti apa yang sebenarnya dia butuhkan. Dahulu bodo amat adik mau dapat nilai berapa, sekarang pokoknya anak ini harus bisa. Searching banyak metode belajar biar ini anak jauh dari nilai jelek. Ikut deg-degkan ketika penerimaan rapor. Wah, merasa bersalah aku dengan adik-adikku. Tiga generasi bubur beras merah mereka aku korupsi semua. Andai mbak dulu sudah ngerti cara memperlakukan kalian…

Sekali Ini Saja

Bersamamu kulewati
Lebih dari seribu malam
Bersamamu yang kumau
Namun kenyataannya tak sejalan
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Izinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup sekali ini saja
Tak sanggup bila harus jujur
Hidup tanpa hembusan napasnya
Tuhan bila waktu dapat kuputar kembali
Sekali lagi untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini, biarkan cinta ini
Hidup untuk sekali ini saja 
(Glend Fredly)