Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Sabtu, 16 April 2016

Surat untuk Hani Kecil

Hai Hani kecil apakah kau tahu ibumu sedang bersedih sekarang?  Ibu sedang mencoba untuk kuat dan tidak cengeng. Bukankah kau tak mau memiliki ibu yang cengeng? Ibu juga tak ingin melihatmu tumbuh menjadi anak yang cengeng.
Ibumu sedang dirundung masalah yang amat banyak. Sedih? Tidak kok. Ibu tidak sedih. Allah selalu menemani ibu, jadi ibu tenang. Ingat ya nak, Allah tidak akan menguji seorang hamba melebihi kemampuannya. Kamu tak perlu resah ibumu akan tumbang, ibu kuat kok. Ibu memang harus kuat karena ingin melihatmu menjadi anak yang kuat. Tidak mudah terseok oleh ujian- ujian dunia. Tenanglah nak, ibu percaya ujian ini untuk meningkatkan kualitas keimanan ibu. Kau tentu senang dan bangga memiliki ibu yang taat serta cinta pada-Nya bukan? Ibu selalu berharap nantinya kau menjadi anak yang sholih dan sholihah pula. Rajin beribadah dan senantiasa berbakti pada kedua orang tua. 

Nak, hidup ini tak mudah. Terlalu menyakitkan untuk dijalani seorang diri. Kali ini ibu sedang berjuang menata masa depan. Kalau bukan ibu yang merencanakan masa depan, siapa lagi.  Doakan selalu ibu agar diberikan kemudahan dan kelancaran ya. Ibu ingin kamu menjadi anak yang cerdas, bermanfaat untuk bangsa dan agama. Lebih- lebih kau mewarisi karakter Rasulullah yang berjuang mati-matian membela Islam. Ibu sedang berjuang menjadi perempuan yang pandai. Kelak jika kau sudah hadir ditengah hidup ibu, ibu akan sanggup mengajarimu banyak hal. Mengajarimu tentang ilmu dunia dan ilmu akhirat.
Ibu kira ibu terlalu semangat. Sampai- sampai ibu tak menjaga kesehatan. Beberapa waktu terakhir perut ibu sangat perih. Mual pula. Nasi dan lauk seperti tak ada artinya. Ibu sering telat makan ditambah pikiran yang stres menjelang ujian. Ibu telah lama memiliki penyakit maag, mungkin kambuh lagi karena kebiasaan ibu yang kurang baik. Tak mengapa nak, asal untuk kebaikanmu nanti ibu rela walau harus menanggung sakit. Kamu jangan ikut- ikutan kebiasaan ibu yang jelek ini ya, Nak.
Masa muda ibu yang pendek ini harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Kelak, ketika menemanimu tidur ibu dapat menceritakan banyak hal untukmu. Memberikan warna di masa kecilmu. Membangun mimpi sejak kau belajar membaca. Nak, sungguh menyenangkan memiliki banyak mimpi. Ibu senang bisa mewujudkannya. Beberapa mimpi ibu memang terkubur, tapi Allah yang terbaik. Ia tahu mana yang baik untuk ibu dan tidak baik untuk Ibu. Kelak jika kau sudah dewasa, banyak meminta pada-Nya. Libatkan ia di setiap langkah hidup yang kamu ambil ya. Allah tidak akan mengecewakanmu, Ia akan memberikan pengganti yang lebih membahagiakan dari apa yang kau anggap baik itu.
Ibu mengirimkan surat ini karena ibu ingin kau tahu bahwa ibu sedang berjuang. Ibu sedang berjuang untuk memperbaiki diri. Ibu tak mau menjadi orang tua yang abal-abal untukmu. Kelak jikalau kau sudah mengerti apa itu hidup, ambillah pelajaran dari langkah ibu ini. Ibu hanya punya waktu pendek untuk memperbaiki diri, oleh karena itu sebelum terlambat ibu harus mempersiapkan segalanya sejak sekarang. Oiya nak, ibu sedang senang membaca buku- buku tentang masa depan. Doakan ibu ya, agar kelak ibu mendapatkan yang terbaik. Ibu sangat percaya Allah sedang bekerja merancang hidup ibu. Kau juga jangan menyerah ya, teruslah berdoa hingga kita dipertemukan di dunia nyata. Selamat malam Hani kecil. Jaga dirimu baik- baik. Ibu sayang padamu. 

Matesih, 16 April 2016
22.26 WIB

Jumat, 15 April 2016

Lalu


Aku sedang bergulat.
Bersama waktu yang menuju tamat.
Menata rindu yang tak tentu memiliki alamat.
Merenda doa yang ku harap makbul oleh Yang Maha Kuat.
Aku membenci sesuatu yang berbau masa lalu.
Terlalu menyakitkan untuk diingat.
Terlalu sendu untuk diratap.
Beberapa orang mengoceh, meminta masa lalu dijadikan pelajaran. Oke, aku mengalah.
Untuk beberapa dekade, masa lalu memang seolah menjadi obat yang mujarab.
Hanya sebagian, selebihnya  menunggu angin yang akan menjadikannya kering.
Aku bukan kamu. Kamu bukan aku.
Bukankah terlalu egois untuk kita disamakan.
Rinduku.
Doaku.
Dua hal yang masih mencari jalan kepada siapa ia akan dijatuhkan.


Matesih, 15 April 2016
21.54 WIB




Senin, 11 April 2016

Luka



Sadar tidak kita sedang memintal luka yang sama. Luka yang kita pelihara sekian lama dan pada akhirnya semakin menganga. Sakitnya dari waktu ke waktu menggiring kita pada objek  bernama pelampiasan. Objek yang kita harapkan mampu menjadi penawar sakit yang diam- diam menggerogoti perasaan. Ketika objek itu di depan mata, kita hanya bisa diam. Melihatnya lamat- lamat dan menyadari bahwa bukan itu penyembuh lukanya. Kemudian kita akan kembali ke belakang. Merasakan sakit yang sama atau bahkan lebih sakit lagi rasanya. Kemudian kita mencari pelarian yang lagi- lagi menuntun kita pada masa lalu. Begitu seterusnya hingga kita merasa jenuh dan ingin sekali mencaci takdir yang serasa tak adil. 
 

Sabtu, 09 April 2016

Titik Balik

Ku katakan sebagai seorang perempuan bahwa begitu berat menjaga perasaan. Kini aku paham mengapa teman- teman seangkatan begitu beraninya mengambil sebuah keputusan bernama pernikahan. Menjaga harga diri begitu sulit di zaman sekarang. Berjilbab panjang pun tak menjamin luput dari godaan lelaki yang dikelilingi bisikan setan. Kalau  kau paham mengenai tuntunan, harusnya memandang pun tak kau miliki keberanian.
Terima kasih aku ucapkan. Pada kamu yang sudah menjadi peringatan. Allah mengingatkanku lewat kehadiran dirimu yang begitu menyakitkan. Aku serasa di tampar oleh keadaan. Kedatanganmu pada kehidupanku adalah ujian yang kali ini ingin kuubah menjadi sebuah kenikmatan.
Sekarang aku berada di titik tinggi keimanan. Aku paham bahwa di dalam diriku ini masih sangat banyak kekurangan. Kekurangan yang menjadi penghalang terbesar untuk mengambil langkah besar demi masa depan. Aku sedang berupaya memantaskan. Entah untuk siapa kelak, aku harus tetap memantaskan. 

Aku jadi dekat dengan Allah. Aku jadi semangat belajar tentang agama lebih dalam. Aku jadi lebih bisa menyikapi kegalauan. Aku jadi semakin yakin siapa yang pantas aku pertahankan dan siapa yang aku butuhkan. Mungkin inilah titik balik yang Allah inginkan agar aku menjadi hamba yang taat dan penuh keimanan. Terima kasih untuk dirimu yang telah hadir dalam diriku sebagai suatu peringatan. Semoga kau dipertemukan dengan perempuan yang lebih baik dan kamu inginkan.
Ku harap silaturahmi kita tetap terjaga meski ada setitik memori yang mungkin membuatmu kesakitan. Aku senang, dari dirimu dapat kuambil sebuah pelajaran. Bukankah sebaik- baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain? Itulah dirimu. Terima kasih sudah mampir dalam pelabuhanku. Berlayarlah pulang, carilah pelabuhan yang Allah sediakan. Aku di sini hanya bisa mendoakan. Berharap masing- masing dari kita  mendapatkan yang terbaik sebagai teman beribadah sampai maut memisahkan.

Kamar,
9 April 2016

Kamis, 07 April 2016

Nano- Nano(ne) Skripsi

Orang bilang skripsi membuat kita jadi mabuk kepayang, kepala keliyengan, tidur kurang tenang, badan kesemutan, sampai jodoh tak kunjung bertandang. Hei..siapa bilang? Wah..wah..kenapa yang dia bilang benar :’
Menjadi mahasiswa semester sepuh memang ada enaknya juga ada sedihnya. Enaknya sih kita tak perlu begadang buat ngerjan tugas dosen yang bejibun, enggak enaknya kita harus lari marathon tiap hari buat mengejar ACC dosen pembimbing. Apapun itu, menjadi mahasiswa semester delapan adalah sebuah keharusan yang harus dinikmati. Iya enggak? Mau menghindar dengan cara apapun ya tetap saja bakal ketemu yang namanya skrispi.
Hei, tapi tunggu dulu. Sebagai mahasiswa bahasa, sastra adalah objek yang menarik untuk dikaji lebih dalam. Judul- judul yang bertebaran menyilaukan mataku yang selalu bernapsu dengan buku baru. Alhasil, kajian sastra adalah pilihan untuk mengakhiri status mahasiswaku. Psikologi sastra aku ambil sebagai bentuk balas dendam terhadap rasa penasaranku tentang dunia psikologi. Dunia yang sampai saat ini masih kuanggap ilmu hitam untuk membaca pikiran orang haha. Tuh kan, ngerjain skripsi akan membuat kita belajar banyak hal.
Mengambil kajian sastra apalagi psikologi sastra adalah tantangan yang cukup menantang (ya iyalah ya -_-). Kenapa? Karena mau tidak mau sebagai peneliti harus paham dengan dua ilmu tersebut: sastra dan psikologi. Oke, untuk ilmu sastra di perkuliahan aku sudah mendapatkannya, tapi psikologi? Aku harus mulai dari awal, mulai dari angka terkecil. Belajar itu menyenangkan, buktinya skripsiku bisa kelar juga. Pembahasan atau Bab IV aku mulai bulan Februari 2016. Alhamdulillah Allah mengizinkan aku ujian pendadaran di bulan April 2016. Sungguh nikmat yang luar biasa.
Cepat? Lumayan. Beberapa decak kagum mungkin membuat bahagia, tapi mereka hanya tahu awal dan akhirnya saja. Saat mereka tidur, mataku masih terbelalak di depan laptop. Mencumbu nuts- nuts keyboard untuk kejar deadline wisuda. Waktu tidurku kupangkas habis, makan, mandi kujadikan nomor sekian, kecuali solat. Kewajiban satu itu tak boleh dinomorduakan, sholatkan tiangnya agama. Berkat sikap bawaanku yang terkadang menyiksa itu, aku merasa lebih dekat dengan Allah. Ia maha pengertian. Di sela- sela mengerjakan skripsi hingga pukul 3 pagi, aku jadi punya waktu untuk mengadu lama kepada Allah. Mengadukan semuanya. Hati jadi tenang, perasaan jadi riang, tapi pagi- pagi ngantuk menghadang. Tak jarang aku menguap di dalam perjalanan, puluhan kali. Badan rasanya seperti habis dikeroyok warga sekecamatan. Berkat itu aku semakin paham makna berjuang. Kita hidup memang harus berjuang kan ya.
Selain susah sedih, mengerjakan skrispi ada senangnya juga kok. Seperti beberapa waktu lalu, niat hati ingin wawancara skripsi eh sama Allah dikasih lebih. Bahan skripsi yang mengharuskan sumber data yang valid menggiringku pada sebuah acara literasi di kampus ternama Yogyakarta. Sehari sebelumnya aku sudah mendarat cantik di Kota itu, menumpang di salah satu kos sahabatku. Oke, sejauh ini misi skripsiku berhasil. Sore hari sebelum prosesi wawancara, sahabatku mengajakku berkeliling kampus sekaligus memberikan penunjuk arah tempat pertemuanku dengan sang sumber data (pengarang). Aku tenang- tenang saja sampai pagi harinya zonk datang menyapa. Lokasi acara dipindah entah kemana. Aku yang bukan mahasiswa kampus itu mendadak panik seketika. “Heiii kok acaranya nggak ada??” sempat aku dimarahi satpam jaga karena informasi yang aku peroleh tidak ditemukan kebenarannya.
“Pak, serius saya tidak bohong. Di sini lokasinya.” Aku ngeyel menyodorkan poster acara yang ada di handphone.
“Lha mana? Wong ngaak ada loh.” Si satpam rada sinis gimana gitu. Mungkin dia lelah setelah jaga semalaman.
Aku jadi bingung sendiri. Di poster itu tak tercantum CP atau apapun yang bisa memberitahuku lokasi acaranya. Oke, aku punya ide! Aha! Aku hubungi saja penulisnya. Pasti beliau sudah berada dalam forum acara. Sedikit kewanen juga aku sebagai peserta, masak tanya lokasi acara sama pembicaranya dan sekaligus key note speech juga. Ehehehe..
Untungnya si penulis baik bener. Tak lama pesan WA ku kirim, balasan datang memberi kabar baik. Oiya, sebelum mendapat ide itu aku sempat muter- muter kompleks kampus dari depan ke belakang beberapa kali. Tidak kutemukan juga poster cetak atau baliho dilokasi. 
"Jangan- jangan benar- benar gaib ini acara!" Pikiranan anehku menghadang.
Oke, motor sahabatku yang dipercayakan padaku kubawa menuju lokasi yang lagi- lagi membuatku kebingungan. Sebelum menyalakan motor, aku searching nama acara itu. Berharap ada informasi lebih yang kudapat dari mbah Google. Oke! Ada info tambahan. Acaranya bayar! Akhhh padahal ku kira gratisan, toh aku kesana cuma ingin wawancara saja. Masak bayar??  Daripada dilarang masuk kayak pemulung- pemulung di kecamatan, aku putar balik ke kos. Ambil dompet yang ketinggalan hehe. Dasar pelupa!selesai ambil dompet, aku muter- muter lagi nyari lokasi acara berbekal arahan dari sahabatku yang sempat menertawakan keteledoranku waktu itu.
Yes, aku berhasil masuk acara. Duduk di deretan tengah dekat microphone. Ada keuntungan yang bisa aku dapat. Bisa gerak cepat buat dapat hadiah hehe. Pikiran kotor kalau lagi ikut acara muncul. Berhubung antusiasme peserta besar, kesempatan tanya sesi awal gagal. Oke tak masalah, ada sesi dua. Aku harus lebih berjuang. Kan lumayan dapat modem gratisan asiik.. Mas- mas MC ternyata menutup sesi perebutan hadiah sepihak. Kesempatanku hilanglah sudah.Mas MC nggak sportif, nggak bisa diajak kerjasama nih.
Sasaran empukku mulai bergerak. Aku sudah siap siaga dari tadi memelototi sosok yang aku incar itu. Ketika keluar ruang, aku bergerak cepat menghampiri karena takut si narasumber yang aku butuhkan untuk skripsi tiba- tiba hilang ditelan bumi. Aku sapa dengan ramah.
Assalamualaikum Mbak Sinta.” Aku pasang muka manis, meski sebenarnya juga sudah manis haha.
“eh, iya, waalaikumsalam. Siapa ya?”
Hemm..begini nih, memang sih ya aku nggak terkenal, jadi Mbak Sinta juga nggak kenal. Setelah memperkanalkan diri dan mengikrarkan perihal kedatanganku kesana, Mbak Sinta lantas pergi. Pamit sebentar, katanya ingin menemui koleganya dahulu. Oke, detik ini aku masih santai. Menunggu memang sudah jadi kebiasaanku. Apalagi menunggu jodoh, sejak aku dilahirkan ke duania aku sudah sangat terlatih dalam hal tunggu- menunggu jodoh.
Posisi saat itu aku sendirian, tak ada yang aku kenal. Kulirik semua penjuru mata angin, berharap ada sesuatu yang menarik dan bisa mengalihkan kebosananku dalam menunggu. Kulihat di sebelah kanan ruang ada orang berjajar rapi sekali. Mengular sangat panjang. Ternyata mereka sedang antre untuk berfoto bersama Asma Nadia. Oke, fix! Aku nggak boleh ketinggalan. Kususupkan tubuhku pada antrian yang berjubel. Satu per satu mendapat jatah narsis bersama penulis keren itu. Tiba giliranku, Mbak Asma ternyata dipanggil ke dalam ruang. Yah apes banget memang hidupku. Aku yang nggak mau mengalah malah maksa. “Bentar aja Mbak, gapapa ya Mbak. Sekali tok!” pintaku. Asistennya yang dari tadi bertugas mengambilkan foto akhirnya meminta handphoneku. Kudapatkan satu kenang- kenangan indah yang kuharap dapat membuatku semangat menulis lagi. Sayang sekali, hasilnya kurang memuaskan. Mbak Asmanya  menghadap kemana, akunya kemana, tapi gapapa deh. Penting kan ada.
  

Mbak Asma yang masuk ke dalam terlebih dahulu akhirnya kususul. Ternyata aku ketinggalan sesi perebutan hadiah lagi. MC sudah memilih seorang laki- laki untuk menjawab pertanyaan dari seorang penulis, Boim Lebon. Pertanyaan yang sangat mudah aku jawab tapi tak punya kesempatan lagi untuk menjawab. Aku mencari tempat duduk yang paling strategis untuk memantai keberadaan Mbak Sinta yang tengah duduk bersama koleganya. Laki- laki yang ditunjuk tadi ternyata salah menjawab. Mas Boim melempar pertanyaan yang sama. Dengan gerakan refleks dan tangan yang panjang serta penampilan yang ngejreng banget (baju kuning, jilbab kuning), MC berhasil memilihku. Cieeeee..dipilih..aku maju kedepan dan bersiap menjawab pertanyaan. Eh ternyata Mas Boim lagi baik ahaha. Hadiah aku terima dengan mudahnya. Tanpa pertanyaan dan tanpa jawaban pula. Tuhan memang baik. Pas banget karena aku sedang tak memiliki banyak uang untuk membeli buku bulan itu. Malah dapat buku ngratisan.


Turun dari mimbar, pergerakan mataku langsung terpaku lagi dengan Mbak Sinta yang masih saja dengan koleganya. Perbincangan mereka sepertinya serius. Oke aku masih menunggu. Berjam- jam lamanya hingga usai acara. Aku masih belum mendapat kepastian kapan bisa mulai wawancara. Panitia sudah mulai merapikan tempat dan memunggut sampah yang berserakan. Ah dasar, terkadang mahasiswa juga perlu diingatkan untuk menjaga lingkungan. Untung sampahku masih aku simpan. Aku naik turun tangga. Dari lantai tiga ke lantai satu. Balik lagi. Turun lagi. Duduk di kursi. Berdiri, terus duduk lagi. Sampai akhirnya aku hampir putus asa. Apakah sesulit ini bertemu penulis nasional. skrispiku terancam. Oh, ya Tuhan. Sepahit inikah perjuanganku?sahabatku yang kala itu sedang menghadiri prosesi wisuda bolak- balik menelepon. menanyakan keberadaanku, kondisiku dan sudah makan ataukah belum. Tumben loh dia perhatian ahaha..aku sudah bilang padanya kalau aku ingin pulang saja. besok pagi saja aku cari hotel tempat Mbak Sinta menginap untuk wawancara. Badanku sudah lemas karena kecapekan, ditambah tak sempat sarapan pagi.
Pertolongan Allah datang. Pesan WA ku dibalas Mbak Sinta. Aku diminta untuk mulai wawancara. Yes! Kebahagiaan datang. Beberapa pertanyaan aku ajukan. Mbak Sinta Ramah sekali. Mbak Asma juga. Penulis- penulis dari FLP memang begitu ramah. Setinggi apapun kesuksesan meraka sekarang, tak ada sedikitpun kesombongan. Apalah aku ini, seorang pejuang skrispi yang baru diminta menunggu saja sudah hampir putus asa. 

Ya begitulah suka dukanya. Semoga kisah ini dapat memnjadi kenangan yang berharga dan teladan bagi pembaca. Saranku jangan pernah putus asa ya, apalagi cuma suruh nunggu. Perlu diingat bahwa putus asa mengerjakan skrispi itu haram hukumnya. Skripsi pasti memiliki ujung kalau ada niat mengerjakannya kok. Ingatlah selalu kedua orang tua yang membiayai kita demi gelar sarjana. Sekian dari aku, terima kasih sudah membaca.

Kapan Bangun?

Selamat malam, masihkah rasamu aman di pedalaman?
Hatiku masih baik- baik saja. Seperti dulu. Aneh memang aku ini. Terkadang hatiku condong sekali pada namamu. Namun sesekali, hatiku ingin lepas pergi mencari pengganti. Rasa ini fluktuatif, seperti harga sembako yang naik turun tiap tahun. Tapi aku masih bisa menjaganya untuk tetap aman di dalam sana. Aku masih menunggu surat- suratku ini sampai pada pemiliknya, dirimu.
Aku tak mau dibilang munafik. Sok kuat menjalani hari- hari sendirian. Aku perempuan, kadang butuh sandaran yang lebih kuat dan bisa menenangkan. Ayah ibuku mungkin bisa, tapi mereka sudah cukup berumur untuk memahami perjuanganku di usia semuda ini. Untuk saat ini, mereka berdualah yang menyemangati meski aku berharap ada seseorang yang bisa lebih melengkapi.
Hei, malam ini hujan ditemani kilatan petir yang menyambar- nyambar pendengaran. Aku sedikit takut. Berulang kali kurapal doa mendengar petir. Doa itu menentramkan. Allah memang yang terbaik. Setiap ketakutan manusia dibuatnya memiliki pelega.
Kala hujan mereda, aku masih takut. Lebih takut malah. Aku takut tidurmu di dalam sana terganggu. Terganggu oleh ketukan orang lain yang ingin menggantikan posisimu. Apakah kamu terbangun? Mungkin tidak. Orang lain itu sudah aku pinta pergi jauh, sejak ketukan pertama ia ketukkan pada pintu hatiku. Ku harap kau tak terbangun. Aku masih memilihmu untuk menjadi penunggu. Meski kau tidur pulas sekali, aku masih saja mau menunggu. Gila ya? Mungkin tidak juga. Aku belum menemukan lelaki seperti dirimu. Lelaki yang bisa meredam amarahku. Lelaki yang selalu bisa mengingatkan aku tanpa nada tinggimu. Lelaki yang selalu dapat membuatku malu kala khilaf melakukan sesuatu. 
Kamu masih saja tertidur di dalam sana. Kapankah kau bangun? Mencari kunci yang entah aku selipkan dimana. Aku takut, kunci itu berhasil ditemukan orang lain. Menendangmu keluar, kemudian menguasai aku. Aku takut, orang lain yang ada di dalam dan telah menggantikanmu tidak dapat kueja namanya, tidak dapat ku raba wajahnya. Tidak dapat kuterima kehadiran dirinya. Bukankah ini akan sangat menyiksa?

Selasa, 05 April 2016

Cara Hidup

        Aku bukan perempuan hebat. Bukan pula perempuan kaya raya. Darah yang mengalir dalam tubuhku hanyalah darah seorang wanita dan pria sederhana. Apalagi rupa, aku hanya perempuan dengan paras biasa saja. Aku hanya perempuan yang selama ini berani bicara dalam diamku saja. Perempuan yang belum mampu meredam detak jantung yang tiba- tiba berkejaran tetiba kau datang. Perempuan yang mungkin tak pernah kau pandang seksama dengan kedua bola mata. Perempuan yang mungkin kau anggap angin lalu dan sekejap sirna. Perempuan yang sampai detik ini butuh kekuatan dewa untuk bisa memandang wajahmu meski hanya melalui resolusi warna.
Aku hanya perempuan yang tak memiliki jumlah bilangan pas untuk alasan mengagumimu. Aku mulai suka dengan caramu menuntut ilmu. Aku mulai suka dengan caramu belajar agama. Aku mulai suka dengan caramu menolak ajakan wanita yang tak dibenarkan agama kita. Aku mulai suka dengan caramu bercanda yang membuat tertawa tapi tetap berwibawa. Aku mulai suka dengan caramu meminta sesuatu. Aku mulai suka dengan caramu meminta maaf meski sebenarnya bukan salahmu. Aku suka dengan caramu menghargaiku sebagai perempuan biasa. Aku mulai suka dengan caramu memandang ragu- ragu. Aku mulai suka dengan caramu menulis dan membaca buku. Aku mulai suka membaca berulang kali cerita yang kau tulis di banyak media. Aku  mulai suka dengan caramu marah. Aku mulai suka dengan caramu memperingatkanku. Aku mulai suka dengan kebiasaanmu yang sedikit aneh. Aku mulai suka dengan caramu lupa akan sesuatu. Aku mulai suka dengan konflik kecil di antara kita. Aku mulai suka semuanya. Entah sampai kapan, mungkin sampai kau bangun dari tidur pulasmu. Ketika kau bangun, aku akan mulai suka dengan caramu hidup.

Senin, 04 April 2016

#KATAMEREKA

              Selamat pagi kawan, apakah harimu menyenangkan? Sudah sarapan? Jangan lupa makan pagi karena itu sumber energi. Apa kabar kalian? Baik- baik saja kan? Sehat? Alhamdulillah..
Hari ini, ketika aku tengah merapikan tumpukan buku pribadi, ada objek yang tiba- ingin aku ambil. Buku agenda ukuran quarto kecil warna hijau batik. Ku pikir dengan membaca buku dapat meredam kekesalanku karena habis dimarahi ibu.. Memang dasar ibu dan anak yang sama- sama keras kepala. Masalah sepele bisa jadi besar, tapi kita langsung baikan ketika sama- sama butuh bantuan haha. 
            Kembali ke buku agenda tadi. Beberapa detik aku melihat- lihat bentuknya, kemudian seutas benang kenangan muncul ke permukaan. Buku itu adalah hadiah dari seorang sahabatku ketika ulang tahunku di usia kepala dua. Sederhana, bahkan aku bisa membelinya sendiri bila aku mau. Mahal atau murah bukan itu yang menjadi patokanku. Adalah isi dari buku itu yang sampai sekarang masih begitu mengharukan, ketika aku membuka lembar demi lembar di dalamnya.
            Lembar pertama, aku disuguhi dengan selembar foto keluarga. Fotoku bersama mereka:  teman- teman dan kakak- kakak yang aku kenal di salah satu organisasi tingkat universitas. Mulai lembar selanjutnya, potongan- potongan foto tentang perjalanan persahabatan kami dimulai. Seperti sebuah puzzle, setiap potongan itu memiliki ceritanya sendiri- sendiri. Mulai dari pertama kali kenal, melanglang buana ke berbagai kota, pergi bersama, dan jalan- jalan menikmati akhir pekan yang sederhana. Semua terpampang manis dengan caption yang membuat mata menitikkan airnya.
            Semakin dalam menuju lembar- lembar selanjutnya, ada catatan- catatan lucu yang membuat aku terpingkal membacanya. Ucapan- ucapan selamat ulang tahun yang ditulis dengan gaya mereka masing- masing. Uniknya, si penulis buku agenda hanya menyertakan deretan nomor telepon pengirim ucapanya tanpa menyertakan nama si pemberi ucapan. Aku yang penasaran langsung mencari satu per satu deretan nomor telepon tanpa nama itu. Aku rangkum semua pesan itu dalam #KataMereka. Silakan disimak. Semoga bermanfaat dan menghibur bagi anda. Jika tidak bermanfaat, tinggalkan blog ini lalu pindah ke blog lain saja. Waktu terlalu sia- sia untuk dibuang percuma:
#KataMereka…

“Haniah galak :D” -085778248***-

Ya, aku memang bisa galak juga. Gak percaya? Haha. Galakku hanya kuberikan pada orang- orang tertentu kok. Biasanya yang membuatku gemes tingkat Monas dan tingkahnya bikin pikiran pegel.

“Haniah itu jayus, polos tapi temen yang baik.” -085726055***-

Ini benar juga, aku memang gak terlalu pintar ngelucu sih. Aku tipe orang yang serius hehe maunya diseriusin *eh haha

“Han han itu calon ibu yang sabar, perhatian, penyayang. Calon ibu idaman deh J

Kalau yang nulis ini laki- laki, mungkin dia lagi belajar ngode. Pengucapnya perempuan sih, jadi aku aman dari pelajaran sandi morse yang membingungkan.

“Han itu han han. Dia bukan kakakku, adikku, bahkan guru ngajiku. Han han itu temanku, sahabatku. Han han itu tinggi, anak Pendidikan Bahasa Indonesia, rumahnya Karanganyar. Nah, malah nulis biodatanya. Emm Hancan sih aku kadang manggilnya. Stand for Haniah cantik, lebih cantikkan aku :3 Han han itu orangnya baik, dewasa, pokoknya manteb jos. Selamat ulang tahun yang ke-40 kan? Hehe..” -085743178***-

Ini ngucapin selamat ulang tahun apa nge-bully aku sih? Umurku ditambah dua kali lipat -__- ini orang cocok buat teman bikin CV kayaknya, apal banget biodataku heemm..

“Han han itu…yang tersabar di antara yang lain. Berbicara dalam diam, pengertian. Gitu aja sih haha. Ucapannya nanti aku SMS sendiri.” -085799014***-

Yayaya..sesabar- sabarnya aku, aku juga pernah marah dan kesal kok. Masih manusiawi kan ya. Baythewey, gimana caranya aku ngomong kalau aku diam? Jadi binggung kan..

“Haniah yang aku kenal itu selalu bisa memposisikan dirinya berada di tempat yang paling aman, tidak mau ambil banyak resiko dan banyak pertimbangan. Selalu bisa jadi tempat berbagi untuk teman- temannya. Suka minjemin bahunya buat nangis teman- temannya ataupun suka jadi pendengar yang menyenangkan. Pokoknya Haniah sehat selalu, makin tua makin berkah, keep smile :D” -089649898***-

Ya namanya manusia hidup kan pengennya hidup dengan tenang hehe. Aku juga gampang stress, makanya semua harus dipikirkan dengan matang biar sesuai rencana. Pundakku selalu gratis kok, karena aku percaya: ketika mampu memberikan kenyamanan sama orang lain, maka aku pun akan diberi kenyamanan sama yang lain.

“Haniah itu dewasa, calm, baik. Semoga mimpi- mimpinya bisa tercapai. Amiin.” -0857908000***-

Dewasa? Mungkin belum. Lebih tepatnya aku gak mau bergantung sama orang lain, jadi semua harus bisa aku lakukan sendiri meski pekerjaan laki- laki sekalipun. Mungkin karena itu aku gak pernah terlihat merengek- rengek sama orang lain, jadi kelihatan dewasa gitu ya.

“Culun, cupu, gampang dibohongin, gak mau ngelawan, tapi mau berkorban (kayaknya sih gitu) dan suka bagi- bagi makanan. Sering- sering aja ya hehe. Di usia berkepala dua ya? Ya moga aja gak terlalu polos aja. Sama semoga bisa naik kereta tahun ini, pesawat juga :D” -085714896***-

Heemm gimana ya. Aku mantan anak asrama soalnya, jadi masih kinyis- kinyis gitu haha. Dunia kuliah buatku adalah hutan belantara. Tiga tahun ditempa tanpa cela, ketika keluar harus  berhadapan dengan pergaulan yang vulgar. Sepertinya saya sedikit syook waktu itu hehe…

“Haniah, cewek satu ini tinggi banget tapi kurus. Pertanda pikirannya tinggi tapi tidak serakah dalam melangkah. Happy birthday sayangku :* Di usia yang baru jangan ketilang lagi  ya :P I Love you J” -083866040***-

Terima kasih doanya, tapi sepertinya kurang manjur hehe. Aku ketilang berulang kali, kalau dijumlah udah 5-6 kali kena tilang polisi. Jangan tanya berapa total dendanya ya. Bikin sakit hati..hiks T,T

“Pendiem tapi judes, judes tapi lucu, haha” -085728553***-

Ya ampun, jadi kesimpulannya adalah aku pendiem tapi lucu gitu aja kali haha

“Haniah itu, H-A-N-I-A-H yap. Orang kalem yang ternyata pecicilan (kayaknya). Sukses terus kuliah, cumlaude, nikah, bahagia, punya anak banyak, terus anaknya juga tidak akan pernah cukup. Semuanya harus masuk UNS, semangat :D” -089697088***-

Pecicilan? Masih “kayaknya” kan? Haha. Maaf, aku Cuma berencana punya anak 3. Gak usah banyak- banyak yang penting bisa membesarkan mereka dengan baik dan jadi anak sholeh sholehah. Masalahnya, kapan aku nikah? *jleb
Sekian #KataMereka. Lucu ya haha. Bisa buat hiburan kalau aku lagi sedih. Apalagi sedih setelah dimarahi ibukku tadi. Disuruh bersihin akar jamur, malah tak potong- potongin semua haha. Tiba- tiba bisa ketawa lagi kan. Sederhana banget ya? Tapi ucapan- ucapan itu adalah  motivasi yang paling mahal buatku. Terima kasih, terima kasih sudah menjadi bagian hidup seorang Haniah. Terima kasih sudah menjadi inspirasi kisah untukku. Semoga bisa aku ceritakan ke generasiku kelak. Mungkin setiap malam usai membacakan cerita, mereka akan bertanya dengan antusiasnya, “Bu, mereka siapa?” Dan aku akan menjawabnya dengan sukacita, “Mereka adalah orang- orang hebat di kehidupan ibu.”