Orang bilang skripsi
membuat kita jadi mabuk kepayang, kepala keliyengan, tidur kurang tenang, badan
kesemutan, sampai jodoh tak kunjung bertandang. Hei..siapa bilang? Wah..wah..kenapa
yang dia bilang benar :’
Menjadi mahasiswa
semester sepuh memang ada enaknya juga ada sedihnya. Enaknya sih kita tak perlu
begadang buat ngerjan tugas dosen yang bejibun, enggak enaknya kita harus lari marathon
tiap hari buat mengejar ACC dosen pembimbing. Apapun itu, menjadi mahasiswa
semester delapan adalah sebuah keharusan yang harus dinikmati. Iya enggak? Mau menghindar
dengan cara apapun ya tetap saja bakal ketemu yang namanya skrispi.
Hei, tapi tunggu dulu. Sebagai
mahasiswa bahasa, sastra adalah objek yang menarik untuk dikaji lebih dalam. Judul-
judul yang bertebaran menyilaukan mataku yang selalu bernapsu dengan buku baru.
Alhasil, kajian sastra adalah pilihan untuk mengakhiri status mahasiswaku. Psikologi
sastra aku ambil sebagai bentuk balas dendam terhadap rasa penasaranku tentang
dunia psikologi. Dunia yang sampai saat ini masih kuanggap ilmu hitam untuk
membaca pikiran orang haha. Tuh kan, ngerjain skripsi akan membuat kita belajar banyak hal.
Mengambil kajian sastra
apalagi psikologi sastra adalah tantangan yang cukup menantang (ya iyalah ya
-_-). Kenapa? Karena mau tidak mau sebagai peneliti harus paham dengan dua ilmu
tersebut: sastra dan psikologi. Oke, untuk ilmu sastra di perkuliahan aku
sudah mendapatkannya, tapi psikologi? Aku harus mulai dari awal, mulai dari
angka terkecil. Belajar itu menyenangkan, buktinya skripsiku bisa kelar juga. Pembahasan
atau Bab IV aku mulai bulan Februari 2016. Alhamdulillah Allah mengizinkan aku
ujian pendadaran di bulan April 2016. Sungguh nikmat yang luar biasa.
Cepat? Lumayan. Beberapa
decak kagum mungkin membuat bahagia, tapi mereka hanya tahu awal dan akhirnya
saja. Saat mereka tidur, mataku masih terbelalak di depan laptop. Mencumbu nuts-
nuts keyboard untuk kejar deadline wisuda. Waktu tidurku kupangkas habis,
makan, mandi kujadikan nomor sekian, kecuali solat. Kewajiban satu itu tak boleh dinomorduakan, sholatkan tiangnya agama. Berkat sikap bawaanku yang
terkadang menyiksa itu, aku merasa lebih dekat dengan Allah. Ia maha pengertian.
Di sela- sela mengerjakan skripsi hingga pukul 3 pagi, aku jadi punya waktu
untuk mengadu lama kepada Allah. Mengadukan semuanya. Hati jadi tenang, perasaan jadi riang, tapi
pagi- pagi ngantuk menghadang. Tak jarang aku menguap di dalam perjalanan,
puluhan kali. Badan rasanya seperti habis dikeroyok warga sekecamatan. Berkat itu
aku semakin paham makna berjuang. Kita hidup memang harus berjuang kan ya.
Selain susah sedih,
mengerjakan skrispi ada senangnya juga kok. Seperti beberapa waktu lalu, niat
hati ingin wawancara skripsi eh sama Allah dikasih lebih. Bahan skripsi yang
mengharuskan sumber data yang valid menggiringku pada sebuah acara literasi di
kampus ternama Yogyakarta. Sehari sebelumnya aku sudah mendarat cantik di Kota
itu, menumpang di salah satu kos sahabatku. Oke, sejauh ini misi skripsiku
berhasil. Sore hari sebelum prosesi wawancara, sahabatku mengajakku berkeliling
kampus sekaligus memberikan penunjuk arah tempat pertemuanku dengan
sang sumber data (pengarang). Aku tenang- tenang saja sampai pagi harinya zonk
datang menyapa. Lokasi acara dipindah entah kemana. Aku yang bukan mahasiswa
kampus itu mendadak panik seketika. “Heiii kok acaranya nggak ada??” sempat aku
dimarahi satpam jaga karena informasi yang aku peroleh tidak ditemukan
kebenarannya.
“Pak, serius saya tidak
bohong. Di sini lokasinya.” Aku ngeyel menyodorkan poster acara yang ada di
handphone.
“Lha mana? Wong ngaak
ada loh.” Si satpam rada sinis gimana gitu. Mungkin dia lelah setelah jaga
semalaman.
Aku jadi bingung
sendiri. Di poster itu tak tercantum CP atau apapun yang bisa memberitahuku
lokasi acaranya. Oke, aku punya ide! Aha! Aku hubungi saja penulisnya. Pasti beliau
sudah berada dalam forum acara. Sedikit kewanen juga aku sebagai peserta, masak
tanya lokasi acara sama pembicaranya dan sekaligus key note speech juga. Ehehehe..
Untungnya si penulis
baik bener. Tak lama pesan WA ku kirim, balasan datang memberi kabar baik. Oiya,
sebelum mendapat ide itu aku sempat muter- muter kompleks kampus dari depan ke
belakang beberapa kali. Tidak kutemukan juga poster cetak atau baliho dilokasi.
"Jangan- jangan benar- benar gaib ini acara!" Pikiranan anehku menghadang.
Oke, motor sahabatku
yang dipercayakan padaku kubawa menuju lokasi yang lagi- lagi membuatku
kebingungan. Sebelum menyalakan motor, aku searching nama acara itu. Berharap ada
informasi lebih yang kudapat dari mbah Google. Oke! Ada info tambahan. Acaranya
bayar! Akhhh padahal ku kira gratisan, toh aku kesana cuma ingin
wawancara saja. Masak bayar?? Daripada
dilarang masuk kayak pemulung- pemulung di kecamatan, aku putar balik ke kos. Ambil
dompet yang ketinggalan hehe. Dasar pelupa!selesai ambil dompet, aku muter- muter lagi nyari lokasi acara berbekal arahan dari sahabatku yang sempat menertawakan keteledoranku waktu itu.
Yes, aku berhasil masuk
acara. Duduk di deretan tengah dekat microphone. Ada keuntungan yang bisa aku
dapat. Bisa gerak cepat buat dapat hadiah hehe. Pikiran kotor kalau lagi ikut
acara muncul. Berhubung antusiasme peserta besar, kesempatan tanya sesi awal gagal. Oke tak masalah, ada sesi dua. Aku harus lebih berjuang. Kan lumayan
dapat modem gratisan asiik.. Mas- mas MC ternyata menutup sesi perebutan hadiah
sepihak. Kesempatanku hilanglah sudah.Mas MC nggak sportif, nggak bisa diajak kerjasama nih.
Sasaran empukku mulai
bergerak. Aku sudah siap siaga dari tadi memelototi sosok yang aku incar itu. Ketika
keluar ruang, aku bergerak cepat menghampiri karena takut si narasumber yang
aku butuhkan untuk skripsi tiba- tiba hilang ditelan bumi. Aku sapa dengan
ramah.
“Assalamualaikum Mbak
Sinta.” Aku pasang muka manis, meski sebenarnya juga sudah manis haha.
“eh, iya,
waalaikumsalam. Siapa ya?”
Hemm..begini nih,
memang sih ya aku nggak terkenal, jadi Mbak Sinta juga nggak kenal. Setelah memperkanalkan
diri dan mengikrarkan perihal kedatanganku kesana, Mbak Sinta lantas pergi. Pamit
sebentar, katanya ingin menemui koleganya dahulu. Oke, detik ini aku masih
santai. Menunggu memang sudah jadi kebiasaanku. Apalagi menunggu jodoh, sejak
aku dilahirkan ke duania aku sudah sangat terlatih dalam hal tunggu- menunggu
jodoh.
Posisi saat itu aku
sendirian, tak ada yang aku kenal. Kulirik semua penjuru mata angin, berharap
ada sesuatu yang menarik dan bisa mengalihkan kebosananku dalam menunggu. Kulihat di
sebelah kanan ruang ada orang berjajar rapi sekali. Mengular sangat panjang. Ternyata
mereka sedang antre untuk berfoto bersama Asma Nadia. Oke, fix! Aku nggak boleh
ketinggalan. Kususupkan tubuhku pada antrian yang berjubel. Satu per satu
mendapat jatah narsis bersama penulis keren itu. Tiba giliranku, Mbak Asma
ternyata dipanggil ke dalam ruang. Yah apes banget memang hidupku. Aku yang
nggak mau mengalah malah maksa. “Bentar aja Mbak, gapapa ya Mbak. Sekali tok!”
pintaku. Asistennya yang dari tadi bertugas mengambilkan foto akhirnya meminta
handphoneku. Kudapatkan satu kenang- kenangan indah yang kuharap dapat
membuatku semangat menulis lagi. Sayang sekali, hasilnya kurang memuaskan. Mbak
Asmanya menghadap kemana, akunya kemana,
tapi gapapa deh. Penting kan ada.

Mbak Asma yang masuk ke
dalam terlebih dahulu akhirnya kususul. Ternyata aku ketinggalan sesi perebutan hadiah
lagi. MC sudah memilih seorang laki- laki untuk menjawab pertanyaan dari
seorang penulis, Boim Lebon. Pertanyaan yang sangat mudah aku jawab tapi tak
punya kesempatan lagi untuk menjawab. Aku mencari tempat duduk yang paling
strategis untuk memantai keberadaan Mbak Sinta yang tengah duduk bersama
koleganya. Laki- laki yang ditunjuk tadi ternyata salah menjawab. Mas Boim
melempar pertanyaan yang sama. Dengan gerakan refleks dan tangan yang panjang
serta penampilan yang ngejreng banget (baju kuning, jilbab kuning), MC berhasil memilihku. Cieeeee..dipilih..aku maju
kedepan dan bersiap menjawab pertanyaan. Eh ternyata Mas Boim lagi baik ahaha. Hadiah
aku terima dengan mudahnya. Tanpa pertanyaan dan tanpa jawaban pula. Tuhan
memang baik. Pas banget karena aku sedang tak memiliki banyak uang untuk
membeli buku bulan itu. Malah dapat buku ngratisan.

Turun dari mimbar,
pergerakan mataku langsung terpaku lagi dengan Mbak Sinta yang masih saja
dengan koleganya. Perbincangan mereka sepertinya serius. Oke aku masih
menunggu. Berjam- jam lamanya hingga usai acara. Aku masih belum mendapat
kepastian kapan bisa mulai wawancara. Panitia sudah mulai merapikan tempat dan
memunggut sampah yang berserakan. Ah dasar, terkadang mahasiswa juga perlu
diingatkan untuk menjaga lingkungan. Untung sampahku masih aku simpan. Aku naik
turun tangga. Dari lantai tiga ke lantai satu. Balik lagi. Turun lagi. Duduk di
kursi. Berdiri, terus duduk lagi. Sampai akhirnya aku hampir putus asa. Apakah sesulit
ini bertemu penulis nasional. skrispiku terancam. Oh, ya Tuhan. Sepahit inikah
perjuanganku?sahabatku yang kala itu sedang menghadiri prosesi wisuda bolak- balik menelepon. menanyakan keberadaanku, kondisiku dan sudah makan ataukah belum. Tumben loh dia perhatian ahaha..aku sudah bilang padanya kalau aku ingin pulang saja. besok pagi saja aku cari hotel tempat Mbak Sinta menginap untuk wawancara. Badanku sudah lemas karena kecapekan, ditambah tak sempat sarapan pagi.
Pertolongan Allah
datang. Pesan WA ku dibalas Mbak Sinta. Aku diminta untuk mulai wawancara. Yes! Kebahagiaan
datang. Beberapa pertanyaan aku ajukan. Mbak Sinta Ramah sekali. Mbak Asma
juga. Penulis- penulis dari FLP memang begitu ramah. Setinggi apapun kesuksesan
meraka sekarang, tak ada sedikitpun kesombongan. Apalah aku ini, seorang
pejuang skrispi yang baru diminta menunggu saja sudah hampir putus asa.
Ya begitulah suka
dukanya. Semoga kisah ini dapat memnjadi kenangan yang berharga dan teladan
bagi pembaca. Saranku jangan pernah putus asa ya, apalagi cuma suruh nunggu. Perlu diingat bahwa putus asa mengerjakan
skrispi itu haram hukumnya. Skripsi pasti memiliki ujung kalau ada niat
mengerjakannya kok. Ingatlah selalu kedua orang tua yang membiayai kita demi gelar
sarjana. Sekian dari aku,
terima kasih sudah membaca.