Kamis, 07 April 2016

Kapan Bangun?

Selamat malam, masihkah rasamu aman di pedalaman?

Hatiku masih baik- baik saja. Seperti dulu. Aneh memang aku ini. Terkadang hatiku condong sekali pada namamu. Namun sesekali, hatiku ingin lepas pergi mencari pengganti. Rasa ini fluktuatif, seperti harga sembako yang naik turun tiap tahun. Tapi aku masih bisa menjaganya untuk tetap aman di dalam sana. Aku masih menunggu surat- suratku ini sampai pada pemiliknya, dirimu.
Aku tak mau dibilang munafik. Sok kuat menjalani hari- hari sendirian. Aku perempuan, kadang butuh sandaran yang lebih kuat dan bisa menenangkan. Ayah ibuku mungkin bisa, tapi mereka sudah cukup berumur untuk memahami perjuanganku di usia semuda ini. Untuk saat ini, mereka berdualah yang menyemangati meski aku berharap ada seseorang yang bisa lebih melengkapi.
Hei, malam ini hujan ditemani kilatan petir yang menyambar- nyambar pendengaran. Aku sedikit takut. Berulang kali kurapal doa mendengar petir. Doa itu menentramkan. Allah memang yang terbaik. Setiap ketakutan manusia dibuatnya memiliki pelega.
Kala hujan mereda, aku masih takut. Lebih takut malah. Aku takut tidurmu di dalam sana terganggu. Terganggu oleh ketukan orang lain yang ingin menggantikan posisimu. Apakah kamu terbangun? Mungkin tidak. Orang lain itu sudah aku pinta pergi jauh, sejak ketukan pertama ia ketukkan pada pintu hatiku. Ku harap kau tak terbangun. Aku masih memilihmu untuk menjadi penunggu. Meski kau tidur pulas sekali, aku masih saja mau menunggu. Gila ya? Mungkin tidak juga. Aku belum menemukan lelaki seperti dirimu. Lelaki yang bisa meredam amarahku. Lelaki yang selalu bisa mengingatkan aku tanpa nada tinggimu. Lelaki yang selalu dapat membuatku malu kala khilaf melakukan sesuatu. 
Kamu masih saja tertidur di dalam sana. Kapankah kau bangun? Mencari kunci yang entah aku selipkan dimana. Aku takut, kunci itu berhasil ditemukan orang lain. Menendangmu keluar, kemudian menguasai aku. Aku takut, orang lain yang ada di dalam dan telah menggantikanmu tidak dapat kueja namanya, tidak dapat ku raba wajahnya. Tidak dapat kuterima kehadiran dirinya. Bukankah ini akan sangat menyiksa?

0 komentar:

Posting Komentar