Selamat malam, masihkah
rasamu aman di pedalaman?
Hatiku masih baik- baik
saja. Seperti dulu. Aneh memang aku ini. Terkadang hatiku condong sekali pada
namamu. Namun sesekali, hatiku ingin lepas pergi mencari pengganti. Rasa ini
fluktuatif, seperti harga sembako yang naik turun tiap tahun. Tapi aku masih
bisa menjaganya untuk tetap aman di dalam sana. Aku masih menunggu surat-
suratku ini sampai pada pemiliknya, dirimu.
Aku tak mau dibilang
munafik. Sok kuat menjalani hari- hari sendirian. Aku perempuan, kadang butuh
sandaran yang lebih kuat dan bisa menenangkan. Ayah ibuku mungkin bisa, tapi
mereka sudah cukup berumur untuk memahami perjuanganku di usia semuda ini. Untuk
saat ini, mereka berdualah yang menyemangati meski aku berharap ada seseorang
yang bisa lebih melengkapi.
Hei, malam ini hujan
ditemani kilatan petir yang menyambar- nyambar pendengaran. Aku sedikit takut. Berulang
kali kurapal doa mendengar petir. Doa itu menentramkan. Allah memang yang terbaik.
Setiap ketakutan manusia dibuatnya memiliki pelega.
Kala hujan mereda, aku
masih takut. Lebih takut malah. Aku takut tidurmu di dalam sana terganggu. Terganggu
oleh ketukan orang lain yang ingin menggantikan posisimu. Apakah kamu terbangun?
Mungkin tidak. Orang lain itu sudah aku pinta pergi jauh, sejak ketukan pertama
ia ketukkan pada pintu hatiku. Ku harap kau tak terbangun. Aku masih memilihmu
untuk menjadi penunggu. Meski kau tidur pulas sekali, aku masih saja mau menunggu.
Gila ya? Mungkin tidak juga. Aku belum menemukan lelaki seperti dirimu. Lelaki yang
bisa meredam amarahku. Lelaki yang selalu bisa mengingatkan aku tanpa nada
tinggimu. Lelaki yang selalu dapat membuatku malu kala khilaf melakukan
sesuatu.
Kamu masih saja
tertidur di dalam sana. Kapankah kau bangun? Mencari kunci yang entah aku
selipkan dimana. Aku takut, kunci itu berhasil ditemukan orang lain. Menendangmu
keluar, kemudian menguasai aku. Aku takut, orang lain yang ada di dalam dan
telah menggantikanmu tidak dapat kueja namanya, tidak dapat ku raba wajahnya. Tidak
dapat kuterima kehadiran dirinya. Bukankah ini akan sangat menyiksa?








0 komentar:
Posting Komentar