Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Senin, 30 Mei 2016

Tentang Menukar Kebahagiaan

             Menjadi bahagia adalah tujuan hidup semua orang. Terlepas dari siapa mereka dan apa yang mereka lakukan, orang-orang bergerak maju menuju kebahagiaan versi masing-masing. Ada yang rela melepas pekerjaan dengan gaji selangit demi menekuni hobi yang ternyata jauh memberikan kebahagiaan meski pendapatannya pas-pasan. Ada yang rela memangkas waktu tidur untuk belajar demi mengejar target nilai ulangan. Ada pula yang kerja keras siang dan malam menghidupi keluarga demi tercukupinya kebutuhan. Apa yang mereka lakukan berbeda, tapi ujung-ujungnya adalah sama: mencari bahagia. 
Happy is my choice

            Aku masih ingat beberapa tahun lalu ketika perjuangan mendapat kursi perguruan tinggi begitu menguras tenaga. Mengalami penolakan yang menyakitkan dan harus berjuang melalui jalur-jalur yang tersisa. Semuanya membekas begitu dalam hingga aku kesulitan untuk mengubur semuanya. Mau diingat sakit, mau dihapus sayang. Serba salah jadinya. Bagi orang lain mungkin itu pengalaman yang biasa saja, namun bagiku itu luar biasa. Aku banyak belajar tentang makna berjuang dan alur pendidikan yang sebenarnya. Jauh, jauh sekali dari perburuan kursi di SD, SMP, ataupun SMA. Membandingkan keempat jenjang itu rasanya ingin tertawa bila ingat keluhan-keluhan kita selama SD, SMP, dan SMA yang sebenarnya hanya pemanasan saja.  

“Perguruan tinggi hanya berlaku bagi orang-orang yang memiliki jiwa petarung dan pekerja keras. Kalau kuliah hanya didasari gengsi atau mempertinggi status pribadi lebih baik urungkan niat. Lahan kampus yang luas akan percuma menampung orang-orang seperti itu.”

            Kembali pada topik tentang bahagia. Makna bahagia itu susah-susah gampang untuk dideskripsikan. Aku sendiri bingung bila ditanya makna kata itu. Jelasnya, bahagia adalah sesuatu yang membuat kita senang, puas, ingin lagi, dan seperti candu yang tak ingin dihentikan. Begitulah otakku menjabarkan. Masing-masing orang pasti memiliki definisi bahagia mereka sendiri. Apapun definisi bahagia itu, bahagia adalah tujuan hidup. Baik bahagia di dunia maupun bahagia di akhirat. Semua bentuk bahagia itu ada prosesnya. Sembilan puluh Sembilan prosen proses menuju bahagia didahului dengan yang namanya berjuang, menderita, sedih, kecewa, marah, dan padanan istilah lainnya.

“Kita miskin agar tahu cara untuk kaya. Kita kecewa agar paham apa itu bangga. Kita sedih agar tahu makna dari bahagia.”

            Belum pernah kan kita menjumpai cerita orang yang selalu bahagia? Pasti semua didahului dengan bersedih, kecewa, menderita. Lihat saja Sokarno, sebelum menjabat sebagai presiden beliau harus merasakan perjuangan melawan penjajah terlebih dahulu, kehilangan keluarga, diasingkan, disiksa, dan penderitaan-penderitaan lainnya. Berkaca pada penulis Tere Liye, naskahnya harus ditolak sana-sini sebelum akhirnya diterima penerbit besar dan karyanya merajai tangga literasi nasional. Belajar dari pengalaman Einstein si jenius yang namanya berkibar seantero dunia. Siapa sangka ia pernah dikeluarkan dari sekolah formal dan di cap sebagai anak bodoh yang akhirnya malah menghantarkannya pada rumus fisika/matematika dasar. Orang-orang tersebut adalah contoh dari orang-orang yang menukar kebahagiaan. Menukar bahagia bersama keluarga dengan kesedihan karena harus menjadi anak kos untuk menuntut ilmu di kota lain. Menukar bahagianya bisa makan dengan rasa lapar sepanjang hari demi pahala puasa dan nikmatnya berbuka. Itulah proses menuju bahagia. Bahagia selalu memiliki cara sendiri untuk menghampiri sasarannya. 
Sedih iya, bahagia pasti
             Begitu pun dengan aku. Kebahagiaan masa remaja yang seharusnya menjadi milikku pernah aku tukar dengan menjadi anak pondok. Demi membahagiakan orang tua karena sekolah di pondok adalah harapan orang tuaku. Sedih rasanya, kecewa berat juga ada. Iri dengan teman-teman seumuran yang bisa jalan-jalan kemana saja yang mereka ingin, sedangkan aku hanya bisa duduk di aula menanti jadwal menonton televisi bersama penghuni pondok lainnya. Semua aku lakukan karena saat itu aku percaya bahwa kebahagiaan lain pasti menghampiri di lain waktu. Meskipun sebenarnya aku sendiri tak pernah tahu kapan itu akan terjadi.
            Allah adalah Dzat yang paling menepati janji. Ternyata benar apa yang aku percayai. Di saat kita rela menukar kebahagiaan itu dengan kesedihan yang mendalam, ternyata kebahagiaan lain menunggu di depan mata. Seokarno menjadi presiden pertama dengan gelar pahlawan sepanjang masa, Tere Liye dengan belasan buku best seller-nya mulai mendunia, lalu Einstein yang berkat jasanya, dunia ilmu pengetahuan berkembang demikian hebat. Kebagiaan yang mereka tukar diganti dengan hal yang jauh lebih baik dan mungkin tak mereka sangka sebelumnya. Aku pun termasuk di dalamnya. Kebahagiaan yang aku tukar sebelumnya, beberapa tahun kemudian Allah berikan ganti. Entah bagaimana cara menjelaskannya, bisa kuliah di perguruan tinggi ber-prestise dan gratis itu sangatlah manis. Apalagi untuk aku yang dapat dikatakan sebagai keluarga dengan ekonomi pas-pasan yang mengarah pada rentang menengah ke bawah.
            Benar! Mengambil langkah dengan menukar kebahagiaan itu tak pernah salah. Bahagia memang hanya bisa dicapai ketika kita mau mengawalinya dengan berkorban terlebih dahulu. Manusia beriman adalah manusia yang percaya bahwa pertolongan Tuhan itu pasti dan ada. Apapun langkah yang kita ambil, sesakit apapun jalan yang harus ditempuh, dan sebesar apapun kabahagiaan yang harus dikorbankan, kita wajib ingat bahwa Tuhan tak pernah ingkar. Kebahagiaan yang kita korbankan pasti akan ditukar di masa depan. Ingat, yang menukar bukan sembarangan, yang menukar itu Tuhan, Allah dzat Yang Maha Besar.

Sabtu, 28 Mei 2016

Ya Allah, Ini Proposalku


“Kecerdasan terselubung dari tiap-tiap manusia adalah berencana. Sayangnya cerdas saja tidak cukup kuat untuk mematahkan titah Sang pemilik asmaul husna.”

     Merencanakan suatu hal seperti liburan, menu masak, mau pakai baju apa, hingga rencana masa depan yang begitu kompleks adalah keahlian manusia. Begitu pula dengan saya yang seorang manusia biasa. Menerbitkan karya (buku) adalah salah satu rencana dari sekian banyak rencana yang telah saya susun untuk sepuluh tahun ke depan. Visioner? Begitulah orang zaman sekarang menyebutnya. Bagi saya, berencana adalah salah satu usaha agar saya tak membuang-buang waktu hidup yang hanya “mampir ngombe” ini. Juga bentuk rasa syukur saya masih mampu menggunakan kemampuan berpikir untuk hal-hal yang baik.
      Mengapa buku? bukan yang lain seperti single lagu atau album? Ya karena saya tak begitu pandai bernyanyi, jadi rencana mengeluarkan single lagu tak akan pernah saya tulis di buku mimpi haha. Allah hanya mengizinkan saya untuk menjadi penyanyi kamar mandi, alias penyanyi yang menyanyi untuk dirinya sendiri.
      Dari sekian banyak ide yang berkejar-kejaran di kepala, saya memilih sepuluh tema. Tema tersebut mengarah ke rasa nonfiksi karena coach di KMO memang mengharuskan rasa nonfiksi daripada fiksi untuk tugas kedua kali ini. Saya sebut ini proposal karya karena memang ada keinginan dan harapan (tentunya) untuk benar-benar membuatnya menjadi nyata. Mengubah yang awalnya hanya proposal (rencana) menjadi sebenar-benarnya karya yang setiap orang dapat menikmatinya.
     Rasanya hambar bila hanya berisi deretan huruf, jadi untuk tugas kali ini special saya buatkan sampul dari sepuluh buku impian. (Sebenarnya hanya saya edit tulisannya saja sih. Gambarnya adalah hasil mengobrak-abrik folder-folder di laptop hehe). Ralat! Bukan tugas ding. Saya tak pernah menganggapnya tugas. Saya anggap semua hal yang saya lakukan ini adalah tahapan untuk “be better writer.” Saya tak ingin ketika KMO selesai, mimpi-mimpi yang sudah bersemayam ini akan ikut selesai.
Banyak dari teman-teman saya berkata bahwa:

"Semakin detail mimpi yang kamu inginkan, maka Allah akan semakin yakin untuk mengabulkan. Allah melihat betapa kita berusaha keras untuk mencapainya, sampai merancangya sedetail mungkin."

 Begitulah kepercayaan saya. Berhubung coach menyampaikan “kekayaan seorang penulis terletak di idenya”, maka niat untuk mendeskripsikan masing-masing tema saya urungkan. Makanya sebagai gantinya saya merancang sampulnya saja hehe. Masing-masing gambar di bawah ini menggambarkan satu tema murni dan ada pula yang tema campuran (mengawinkan ide). Selamat menikmati, semoga terinspirasi. 
Tema: Hidup Pasca Wisuda
Tema: Baca Buku Sambil Jalan-Jalan
Tema: Pasangan Hidup
Tema: Motivasi dan Menulis
Tema: Persahabatan Masa Kini
Tema: Keluarga (Ibu dan Anak Perempuannya)
Tema: Anak Muda dan Potensinya
Tema: Online Shop Syndrom
Tema: Musik dan Mood
Tema: Hewan Peliharaan
Terima kasih sudah membaca. Boleh kok bantu doa hehe..

"Semoga proposal ini menjadi nyata. Amiin."


Selasa, 24 Mei 2016

Menulis adalah Jalan menjadi Tuhan yang ke-2

“Orang-orang yang memiliki mimpi adalah orang-orang yang mampu bertahan hidup sepuluh kali lipat dibanding orang-orang yang takut merancang mimpinya sendiri.” 
I Have Dreams
     Mimpi menjadi penulis adalah salah satu dari sekian mimpi yang sedang merangkak untuk saya realisasikan. Ia menjadi penyumbang terbesar dalam diri saya untuk terus hidup. Menekuni dunia tulis menulis saya mulai ketika masih duduk di Sekolah Dasar. Entah pada kelas berapa, yang jelas masa-masa seragam putih merah adalah masa dimana saya menjadi penulis puisi dan penikmat puisi-puisi saya sendiri. Dari daun yang jatuh, kelinci yang putih, kupu-kupu yang terbang, semuanya menjadi sumber puisi-puisi SD saya.
Naik pangkat ke SMP, cerita anak dan cerita pendek mulai saya produksi. Berawal dari gambar kelinci lucu di kaos adik saya, cerita berjudul “Pinci dan Linci” saya nobatkan sebagai cerita sulung (pertama kali lahir) yang cukup panjang saya tuliskan. Saya yang mulai mengenal pula tentang dunia cinta-cintaan akhirnya mendayung kapal kearah yang sedikit berombak. Saya mulai beralih ke cerpen teenlit dengan segala dinamika anak SMP. Beberapa cerita pendek beraliran teenlit itu mulai muncul dari kepolosan saya tentang pacaran, cinta, dan laki-laki idaman. Entah berapa judul yang berhasil saya produksi waktu itu, jelasnya teman-teman sekelas adalah pembaca paling budiman yang selalu siap menagih jalan cerita lanjutan dan memberi masukan. Baper rasanya mengenang masa–masa itu. Memiliki sekolah menangah yang hanya di lingkup kecamatan membuat saya tak pernah berani mengirimkan cerita-cerita teenlit itu ke media. Padahal waktu itu, majalah MOP adalah majalah remaja pertama yang saya impi-impikan menjadi media pertama yang akan menampung cerita saya untuk pertama kalinya. 
Majalah MOP
Tuhan memang Maha Mendengar. Merasa terpencil hidup di lingkup kecamatan, orang tua mengirimkan saya ke sebuah sekolah di pinggiran kota Solo. Di sekolah tersebut akses kirim-mengirim tulisan lebih lancar dibanding sekolah saya sebelumnya. Saya juga sudah memiliki sedikit keberanian untuk mengizinkan tulisan saya dinikmati banyak orang. Saya mulai melirik kolom opini siswa di koran Solopos dan rubrik cerpen di beberapa majalah yang beredar di lingkungan hidup saya waktu itu. Hidup di asrama yang memiliki cita rasa semi-semi pondok membuat aliran cerpen saya mengarah pada cerpen-cerpen nuansa islami. Awalnya membangun karakter teenlit dengan rok mini berubah menjadi karakter anak pondok islami ber-rok sampai mata kaki.
Pada sesi perubahan aliran ini saya mengerti bahwa jalan hidup ternyata sangat berpengaruh pada tulisan seseorang. Masa putih abu-abu yang akses literasi mulai terbuka lebar membuat saya keranjingan membaca novel. Merasa tertantang dengan dunia pernovelan, saya memberanikan diri untuk menulis novel. Sampai sekarang masih tersimpan bakal novel saya yang tidak selesai-selesai di rak buku kamar. Sejak saat itu, mimpi memiliki novel karya sendiri terus saja terngiang-ngiang di kepala hingga akhirnya dunia menulis saya seperti mati sia-sia (untuk beberapa waktu).
Letak kantor pos yang mudah dijangkau akhirnya memberikan peluang pada cerpen-cerpen saya untuk nonkrong di beberapa rubrik cerpen islami. Dari rubrik-rubrik itu uang mengalir ke kantong sebagai uang jajan pribadi. Saya masih ingat sekali, cerpen saya yang paling berkesan dan berhasil dimuat adalah cerita tentang saya sendiri yang sering telat mendapat nomor tes karena selalu nunggak uang SPP. Nyeseknya masih terasa sampai detik di mana tulisan ini saya ketik. Cerita-cerita yang saya tulis sebenarnya adalah hasil curhatan dan perjalanan hidup yang saya lewati. 
Honor Pertama
Selepas SMA, masa-masa kuliah datang. Saya sempat menerbitkan sebuah buku yang saya garap bersama teman-teman penulis (hasil kenalan di grup Facebook). Berhubung mencari kursi PTN waktu itu adalah harga mahal dan sulit saya dapatkan, akhirnya saya berinisiatif mengajak teman-teman untuk berbagi cerita dan menuangkannya dalam sebuah buku untuk memotivasi anak-anak SMA yang gagal di perjuangan berburu PTN. Buku itu bercerita tentang perjalanan saya dan teman-teman lain untuk mendapatkan satu kursi di perguruan tinggi. Terbit secara indie menjadi penghalang buku itu beredar luas di pasaran. Jangankan di toko buku, cara pemesanan saja sampai sekarang masih acak kadut. Penerbit seolah tiba-tiba hilang. Entah bagaimana nasib buku saya (dan kawan-kawan) sekarang. Seperti genangan air hujan yang bertemu sinar matahari, sekejap hilang entah dimana rimbanya. Pada sesi ini saya belajar banyak mengenai dunia penerbitan buku dan pemasaran karya. Beberapa teman dan kenalan kampus sempat mengajak saya berdiskusi tentang penerbitan karya mereka di penerbit indie atau penerbit mayor.
Menelurkan satu buah karya ternyata bukan menjadi obor pemicu semangat saya untuk lebih giat lagi menulis. Saya salah, setelah buku sulung itu lahir, saya mati. Bangku kuliah ternyata menyilaukan. Banyak dunia yang ingin saya jamah dan ingin saya cicipi saat itu. Pada akhirnya, menulis adalah kegiatan yang saya nomor sekiankan. Ujung-ujungnya saya seperti kehilangan nyawa saya sendiri. Ya, saya mati. Kemampuan menulis yang sudah saya bangun sejak SD mendadak mati. Berkelana entah kemana. Jangankan menyelesaikan satu cerpen. Menulis sebait puisi saja pada waktu itu membutuhkan waktu hingga satu bulan lamanya. Jangan tanya bobotnya. Bisa saya katakana bahwa puisi-puisi saya ketika kuliah bobrok tak memiliki nilai jual sama sekali. Semuanya hancur. Cerpen juga begitu. Jangankan satu bulan, setahun pun saya tak mampu menghasilkan satu cerita, padahal media seperti laptop, email, internet gratis, semua tersedia. Mengingat masa itu saya bisa mendadak gila.
Mati di dunia literasi memberikan nyawa baru di dunia lain. Banyak kegiatan yang saya jalani, tapi semuanya tak pernah memberikan kepuasan. Berbeda rasanya dengan mampu membuat satu tulisan sampai selesai. Meskipun hanya satu paragraf tapi rasanya sangat bahagia dan tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Saya mulai menyadari bahwa passion saya bukan menjadi aktivis yang banyak dipuja mahasiswa baru, melainkan dunia literasi terutama fiksi. Dunia saya adalah dunia menulis yang sudah Tuhan tunjukkan sejak masih di bangkus SD. Saya bodoh. Saya tidak peka dengan kode dari Allah. Tuhan sudah baik sekali menunjukkan jalan, tapi saya mangkir dan terlena dalam godaan.
Matinya jari-jari tangan untuk menulis ternyata menyadarkan bahwa saya harus hidup kembali. Saya semakin yakin dan sadar bahwa menulis adalah dunia saya yang sampai kapan pun tak akan pernah tergantikan. Saya juga mulai paham mengapa saya harus menulis. Padahal beberapa tahun lalu, ketika ditanya alasan menulis saya tak pernah memiliki jawaban baku. Menulis ya menulis, menulis karena saya senang melakukannya. Hanya begitu prinsip yang bisa saya lontarkan. Perjalanan panjang sejak sekolah dasar hingga merasa mati konyol semakin membuka mata saya bahwa saya memang harus menulis. Tersesat di dunia lain membuat saya semakin  yakin sekaligus bersyukur karena dapat mengintisarikan alasan-alasan mengapa saya harus kembali menulis. Butuh waktu hampir 22 tahun bagi saya menukan jawaban, “mengapa saya harus menulis?” pertanyaan yang sepele namun jawabannya adalah dasar hidup seorang penulis.
  1. Menulis adalah Cara untuk Bahagia 
I am Happy


         Adakah cara lain untuk bahagia (bagi seorang penulis) selain membuat tulisan (dan selesai)? Saya yakin tidak. Mengerjakan hal yang kita sukai adalah kegiatan yang paling menyenangkan dan tak mengenal kata bosan. Seenak-enaknya pekerjaan adalah pekerjaan yang sesuai passion. Ketika tidak bisa menulis, perasaan menjadi kacau tapi tak pernah paham dengan sumber kekacauan itu. Ketika menulis (dan selesai) mendadak berubah bahagia dan tak pernah tahu alasan bahagianya. Bahagia memang tak pernah memiliki definisi konkret bukan? Begitulah menulis bagi saya. Menulis adalah cara saya untuk merasa bahagia meski saya tak pernah bisa menjabarkan perasaan bahagia itu seperti apa. 
2.      Menulis adalah Cara untuk menjadi Tuhan yang ke-2
Menjadi tuhan ke-2
     Saya tidak sedang menantang Tuhan. Saya tahu betul bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah. Mengapa saya katakan bahwa menulis adalah cara menjadi Tuhan yang kedua? Menjadi penulis adalah cara saya untuk dapat menciptakan apa saja. Gunung, sungai, bentuk awan, angin, tanah, bahkan manusia dengan berbagai macam rupa, bentuk, karakter, dan jiwa yang bagaimana pun dapat saya ciptakan semau dan sesuka hati saya. Tentu semuanya dalam bentuk dunia fiksi. Jika Allah adalah Tuhan di dunia nyata, maka menjadi penulis adalah Tuhan di dunia fiksi. Saya yang seorang anak sulung dan mendampakan seorang kakak laki-laki sangat mungkin memiliki kakak laki-laki bukan? Dengan karakter dan fisik yang sesuai dengan keinginan saya sebagai adik perempuan. Yap, saya adalah Tuhan di dunia saya sendiri. Tuhan ke-2. Saya bisa menciptakan kakak laki-laki yang saya inginkan dengan menjadi penulis. Begitukan kuasa Tuhan? Menciptakan yang tidak ada menjadi ada dan yang tidak mungkin menjadi mungkin.
3.      Menulis adalah Cara untuk menjadi Siapa Saja
I can be a Chef
    Saya adalah tipe orang yang tidak pernah bisa puas dengan satu hal. Saya ingin bisa jadi guru, dokter, jaksa, nelayan, petani, wartawan, koki, hingga presiden. Menjadi penulis adalah cara saya untuk bisa menjadi semua yang saya inginkan. Ketika ingin menjadi guru, maka saya menulis cerita tentang guru dan dari sudut pandang guru. Jadilah saya seorang guru yang dengan wibawanya memberikan pengajaran. Ketika saya ingin menjadi seorang petani, maka saya belajar mengenai kehidupan para petani dan jadilah saya petani. Petani yang tak perlu memiliki sawah berhektar-hektar tapi paham bagaimana cara petani menjalani kehidupan. Petani yang dengan kisah hidupnya mampu mengingatkan para penguasa mengenai rakyat yang dipimpinnya. Begitu pula dengan profesi lain. Menjadi ustadzah yang siap berdakwah, menjadi jaksa yang menularkan sifat bijaksana, atau menjadi peternak kambing yang siap memberi informasi tentang cara memelihara kambing. Dalam satu minggu saya dapat menjadi siapapun yang saya inginkan dan saya impikan. Semua hanya terjadi ketika saya menulis. Menulis memberikan ruang bebas untuk menjadi siapa saja dan apa saja yang saya inginkan meski hanya bermodal mimpi.
4.      Cara untuk semakin Cinta kepada-Nya
Senantiasa Bersyukur
    Menjadi penulis adalah pekerjaan yang menuntut kepekaan. Peka terhadap lingkungan, peka terhadap sesama manusia, dan peka terhadap Tuhan. Semakin peka mengenai apa yang terjadi, fenomena tsunami, puting beliung, longsor, kecelakaan, semuanya adalah media untuk paham tentang tanda-tanda kuasa-Nya. Tentang kode-kode dari Tuhan, semuanya menjadikan saya semakin cinta kepada-Nya. Tanda-tanda yang kecil namun sangat berarti. Tanpa menjadi penulis dan menuliskannya, mungkin saya tak pernah peka terhadap kuasa-Nya.
5.      Cara untuk Menunjukkan bahwa Haniah Pernah Ada
Karya! Bukan Bicara
    Eksistensi atau kebutuhan untuk diakui adalah salah salah satu kebutuhan hidup seorang manusia. Menjadi penulis adalah alasan saya untuk bisa diakui bahwa seorang Haniah pernah hidup di sebuah planet bernama bumi. Diakui bagi saya tak melulu soal menjadi terkenal atau menjadi orang yang dihormati banyak kalangan. Diakui bagi saya adalah ketika orang-orang dapat merasakan kebermanfaatan dari apa yang saya miliki, meski hanya sesuap nasi. Minimal dengan menjadi penulis, pihak “Pustaka Buku Nasional” pernah mencatat judul buku yang pernah saya tulis dan mereka memiliki pekerjaan (beserta gaji) karena hal itu.
6.      Cara untuk Menjemput Pasangan Hidup Saya 

The Best Couple is with Same Passion
     Alasan terakhir ini sesungguhnya saya sedikit ragu, tapi tidak dapat saya hapuskan. Memiliki pendamping hidup yang ber-passion sama adalah impian saya. Bagaimana tidak, sesama ber-passion menulis dan hidup dalam satu atap akan senantiasa memberi semangat menulis dan saling memberikan masukan tanpa minta gaji. Kata orang hal itu membosankan, bagi saya tidak. Bagaimana mau bosan bila setiap hari ada seseorang yang berusaha menjadikan kita lebih baik. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang selalu berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya?  Penulis menurut saya adalah orang yang peka dan sabar, karena menulis tak bisa lepas dari kepekaan dan keuletan. Dua hal itu adalah syarat mutlak sikap seorang laki-laki versi saya hehe.
Alasan hanya akan menjadi alasan ketika tidak diiringi tindakan. Alasan dan tindakan akan menjadi tonggak perubahan bila digabungkan dengan benar.

 Mohon diaminkan. Lets write