Menjadi bahagia adalah tujuan hidup semua orang. Terlepas
dari siapa mereka dan apa yang mereka lakukan, orang-orang bergerak maju menuju
kebahagiaan versi masing-masing. Ada yang rela melepas pekerjaan dengan gaji
selangit demi menekuni hobi yang ternyata jauh memberikan kebahagiaan meski
pendapatannya pas-pasan. Ada yang rela memangkas waktu tidur untuk belajar demi
mengejar target nilai ulangan. Ada pula yang kerja keras siang dan malam
menghidupi keluarga demi tercukupinya kebutuhan. Apa yang mereka lakukan
berbeda, tapi ujung-ujungnya adalah sama: mencari bahagia.
![]() |
| Happy is my choice |
Aku masih ingat beberapa tahun lalu ketika perjuangan
mendapat kursi perguruan tinggi begitu menguras tenaga. Mengalami penolakan
yang menyakitkan dan harus berjuang melalui jalur-jalur yang tersisa. Semuanya membekas
begitu dalam hingga aku kesulitan untuk mengubur semuanya. Mau diingat sakit,
mau dihapus sayang. Serba salah jadinya. Bagi orang lain mungkin itu pengalaman
yang biasa saja, namun bagiku itu luar biasa. Aku banyak belajar tentang makna
berjuang dan alur pendidikan yang sebenarnya. Jauh, jauh sekali dari perburuan
kursi di SD, SMP, ataupun SMA. Membandingkan keempat jenjang itu rasanya ingin
tertawa bila ingat keluhan-keluhan kita selama SD, SMP, dan SMA yang sebenarnya
hanya pemanasan saja.
“Perguruan tinggi hanya berlaku bagi orang-orang yang memiliki jiwa petarung dan pekerja keras. Kalau kuliah hanya didasari gengsi atau mempertinggi status pribadi lebih baik urungkan niat. Lahan kampus yang luas akan percuma menampung orang-orang seperti itu.”
Kembali pada topik tentang bahagia. Makna bahagia itu
susah-susah gampang untuk dideskripsikan. Aku sendiri bingung bila ditanya
makna kata itu. Jelasnya, bahagia adalah sesuatu yang membuat kita senang,
puas, ingin lagi, dan seperti candu yang tak ingin dihentikan. Begitulah otakku
menjabarkan. Masing-masing orang pasti memiliki definisi bahagia mereka
sendiri. Apapun definisi bahagia itu, bahagia adalah tujuan hidup. Baik bahagia
di dunia maupun bahagia di akhirat. Semua bentuk bahagia itu ada prosesnya. Sembilan
puluh Sembilan prosen proses menuju bahagia didahului dengan yang namanya
berjuang, menderita, sedih, kecewa, marah, dan padanan istilah lainnya.
“Kita miskin agar tahu cara untuk kaya. Kita kecewa agar paham apa itu bangga. Kita sedih agar tahu makna dari bahagia.”
Belum pernah kan kita menjumpai cerita orang yang selalu
bahagia? Pasti semua didahului dengan bersedih, kecewa, menderita. Lihat saja
Sokarno, sebelum menjabat sebagai presiden beliau harus merasakan perjuangan
melawan penjajah terlebih dahulu, kehilangan keluarga, diasingkan, disiksa, dan
penderitaan-penderitaan lainnya. Berkaca pada penulis Tere Liye, naskahnya
harus ditolak sana-sini sebelum akhirnya diterima penerbit besar dan karyanya
merajai tangga literasi nasional. Belajar dari pengalaman Einstein si jenius
yang namanya berkibar seantero dunia. Siapa sangka ia pernah dikeluarkan dari
sekolah formal dan di cap sebagai anak bodoh yang akhirnya malah menghantarkannya
pada rumus fisika/matematika dasar. Orang-orang tersebut adalah contoh dari
orang-orang yang menukar kebahagiaan. Menukar bahagia bersama keluarga dengan
kesedihan karena harus menjadi anak kos untuk menuntut ilmu di kota lain. Menukar
bahagianya bisa makan dengan rasa lapar sepanjang hari demi pahala puasa dan
nikmatnya berbuka. Itulah proses menuju bahagia. Bahagia selalu memiliki cara
sendiri untuk menghampiri sasarannya.
![]() |
| Sedih iya, bahagia pasti |
Begitu pun dengan aku. Kebahagiaan masa remaja yang
seharusnya menjadi milikku pernah aku tukar dengan menjadi anak pondok. Demi
membahagiakan orang tua karena sekolah di pondok adalah harapan orang tuaku. Sedih
rasanya, kecewa berat juga ada. Iri dengan teman-teman seumuran yang bisa
jalan-jalan kemana saja yang mereka ingin, sedangkan aku hanya bisa duduk di
aula menanti jadwal menonton televisi bersama penghuni pondok lainnya. Semua aku
lakukan karena saat itu aku percaya bahwa kebahagiaan lain pasti menghampiri di
lain waktu. Meskipun sebenarnya aku sendiri tak pernah tahu kapan itu akan
terjadi.
Allah adalah Dzat yang paling menepati janji. Ternyata
benar apa yang aku percayai. Di saat kita rela menukar kebahagiaan itu dengan
kesedihan yang mendalam, ternyata kebahagiaan lain menunggu di depan mata. Seokarno
menjadi presiden pertama dengan gelar pahlawan sepanjang masa, Tere Liye dengan
belasan buku best seller-nya mulai
mendunia, lalu Einstein yang berkat jasanya, dunia ilmu pengetahuan berkembang
demikian hebat. Kebagiaan yang mereka tukar diganti dengan hal yang jauh lebih
baik dan mungkin tak mereka sangka sebelumnya. Aku pun termasuk di dalamnya. Kebahagiaan
yang aku tukar sebelumnya, beberapa tahun kemudian Allah berikan ganti. Entah
bagaimana cara menjelaskannya, bisa kuliah di perguruan tinggi ber-prestise dan gratis itu sangatlah manis.
Apalagi untuk aku yang dapat dikatakan sebagai keluarga dengan ekonomi
pas-pasan yang mengarah pada rentang menengah ke bawah.
Benar! Mengambil langkah dengan menukar kebahagiaan itu
tak pernah salah. Bahagia memang hanya bisa dicapai ketika kita mau mengawalinya
dengan berkorban terlebih dahulu. Manusia beriman adalah manusia yang percaya
bahwa pertolongan Tuhan itu pasti dan ada. Apapun langkah yang kita ambil,
sesakit apapun jalan yang harus ditempuh, dan sebesar apapun kabahagiaan yang
harus dikorbankan, kita wajib ingat bahwa Tuhan tak pernah ingkar. Kebahagiaan
yang kita korbankan pasti akan ditukar di masa depan. Ingat, yang menukar bukan
sembarangan, yang menukar itu Tuhan, Allah dzat Yang Maha Besar.









0 komentar:
Posting Komentar