Senin, 30 Mei 2016

Tentang Menukar Kebahagiaan

             Menjadi bahagia adalah tujuan hidup semua orang. Terlepas dari siapa mereka dan apa yang mereka lakukan, orang-orang bergerak maju menuju kebahagiaan versi masing-masing. Ada yang rela melepas pekerjaan dengan gaji selangit demi menekuni hobi yang ternyata jauh memberikan kebahagiaan meski pendapatannya pas-pasan. Ada yang rela memangkas waktu tidur untuk belajar demi mengejar target nilai ulangan. Ada pula yang kerja keras siang dan malam menghidupi keluarga demi tercukupinya kebutuhan. Apa yang mereka lakukan berbeda, tapi ujung-ujungnya adalah sama: mencari bahagia. 
Happy is my choice

            Aku masih ingat beberapa tahun lalu ketika perjuangan mendapat kursi perguruan tinggi begitu menguras tenaga. Mengalami penolakan yang menyakitkan dan harus berjuang melalui jalur-jalur yang tersisa. Semuanya membekas begitu dalam hingga aku kesulitan untuk mengubur semuanya. Mau diingat sakit, mau dihapus sayang. Serba salah jadinya. Bagi orang lain mungkin itu pengalaman yang biasa saja, namun bagiku itu luar biasa. Aku banyak belajar tentang makna berjuang dan alur pendidikan yang sebenarnya. Jauh, jauh sekali dari perburuan kursi di SD, SMP, ataupun SMA. Membandingkan keempat jenjang itu rasanya ingin tertawa bila ingat keluhan-keluhan kita selama SD, SMP, dan SMA yang sebenarnya hanya pemanasan saja.  

“Perguruan tinggi hanya berlaku bagi orang-orang yang memiliki jiwa petarung dan pekerja keras. Kalau kuliah hanya didasari gengsi atau mempertinggi status pribadi lebih baik urungkan niat. Lahan kampus yang luas akan percuma menampung orang-orang seperti itu.”

            Kembali pada topik tentang bahagia. Makna bahagia itu susah-susah gampang untuk dideskripsikan. Aku sendiri bingung bila ditanya makna kata itu. Jelasnya, bahagia adalah sesuatu yang membuat kita senang, puas, ingin lagi, dan seperti candu yang tak ingin dihentikan. Begitulah otakku menjabarkan. Masing-masing orang pasti memiliki definisi bahagia mereka sendiri. Apapun definisi bahagia itu, bahagia adalah tujuan hidup. Baik bahagia di dunia maupun bahagia di akhirat. Semua bentuk bahagia itu ada prosesnya. Sembilan puluh Sembilan prosen proses menuju bahagia didahului dengan yang namanya berjuang, menderita, sedih, kecewa, marah, dan padanan istilah lainnya.

“Kita miskin agar tahu cara untuk kaya. Kita kecewa agar paham apa itu bangga. Kita sedih agar tahu makna dari bahagia.”

            Belum pernah kan kita menjumpai cerita orang yang selalu bahagia? Pasti semua didahului dengan bersedih, kecewa, menderita. Lihat saja Sokarno, sebelum menjabat sebagai presiden beliau harus merasakan perjuangan melawan penjajah terlebih dahulu, kehilangan keluarga, diasingkan, disiksa, dan penderitaan-penderitaan lainnya. Berkaca pada penulis Tere Liye, naskahnya harus ditolak sana-sini sebelum akhirnya diterima penerbit besar dan karyanya merajai tangga literasi nasional. Belajar dari pengalaman Einstein si jenius yang namanya berkibar seantero dunia. Siapa sangka ia pernah dikeluarkan dari sekolah formal dan di cap sebagai anak bodoh yang akhirnya malah menghantarkannya pada rumus fisika/matematika dasar. Orang-orang tersebut adalah contoh dari orang-orang yang menukar kebahagiaan. Menukar bahagia bersama keluarga dengan kesedihan karena harus menjadi anak kos untuk menuntut ilmu di kota lain. Menukar bahagianya bisa makan dengan rasa lapar sepanjang hari demi pahala puasa dan nikmatnya berbuka. Itulah proses menuju bahagia. Bahagia selalu memiliki cara sendiri untuk menghampiri sasarannya. 
Sedih iya, bahagia pasti
             Begitu pun dengan aku. Kebahagiaan masa remaja yang seharusnya menjadi milikku pernah aku tukar dengan menjadi anak pondok. Demi membahagiakan orang tua karena sekolah di pondok adalah harapan orang tuaku. Sedih rasanya, kecewa berat juga ada. Iri dengan teman-teman seumuran yang bisa jalan-jalan kemana saja yang mereka ingin, sedangkan aku hanya bisa duduk di aula menanti jadwal menonton televisi bersama penghuni pondok lainnya. Semua aku lakukan karena saat itu aku percaya bahwa kebahagiaan lain pasti menghampiri di lain waktu. Meskipun sebenarnya aku sendiri tak pernah tahu kapan itu akan terjadi.
            Allah adalah Dzat yang paling menepati janji. Ternyata benar apa yang aku percayai. Di saat kita rela menukar kebahagiaan itu dengan kesedihan yang mendalam, ternyata kebahagiaan lain menunggu di depan mata. Seokarno menjadi presiden pertama dengan gelar pahlawan sepanjang masa, Tere Liye dengan belasan buku best seller-nya mulai mendunia, lalu Einstein yang berkat jasanya, dunia ilmu pengetahuan berkembang demikian hebat. Kebagiaan yang mereka tukar diganti dengan hal yang jauh lebih baik dan mungkin tak mereka sangka sebelumnya. Aku pun termasuk di dalamnya. Kebahagiaan yang aku tukar sebelumnya, beberapa tahun kemudian Allah berikan ganti. Entah bagaimana cara menjelaskannya, bisa kuliah di perguruan tinggi ber-prestise dan gratis itu sangatlah manis. Apalagi untuk aku yang dapat dikatakan sebagai keluarga dengan ekonomi pas-pasan yang mengarah pada rentang menengah ke bawah.
            Benar! Mengambil langkah dengan menukar kebahagiaan itu tak pernah salah. Bahagia memang hanya bisa dicapai ketika kita mau mengawalinya dengan berkorban terlebih dahulu. Manusia beriman adalah manusia yang percaya bahwa pertolongan Tuhan itu pasti dan ada. Apapun langkah yang kita ambil, sesakit apapun jalan yang harus ditempuh, dan sebesar apapun kabahagiaan yang harus dikorbankan, kita wajib ingat bahwa Tuhan tak pernah ingkar. Kebahagiaan yang kita korbankan pasti akan ditukar di masa depan. Ingat, yang menukar bukan sembarangan, yang menukar itu Tuhan, Allah dzat Yang Maha Besar.

0 komentar:

Posting Komentar