Haniah
Universitas
Sebelas Maret
Jalan
Ir. Sutami 36A, Kentingan, Jebres, Surakarta
Kebudayaan merupakan unsur yang lekat dengan masyarakat. Kebudayaan berasal dari kata “budaya” yang
berasal dari Sansakerta “budhayah” sebagai bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.
Kebudayaan adalah hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal (Sudibyo,dkk,
2013: 29). Kebudayaan adalah semua hasil
ciptaan manusia yang terdiri daripada budaya material dan bukan material.
Budaya material adalah budaya
yang boleh dilihat, disentuh, dirasa dan mempunyai bentuk fisikal seperti
komputer, telefon, bimbit dan lain-lain lagi. Manakala budaya bukan material
merupakan budaya yang terhasil dalam bentuk abstrak seperti teori, ideologi,
formula dan falsafah. Selanjutnya
Koentjaraningrat (1980) mendefinisikan Kebudayaan sebagai “keseluruhan dari hasil budi dan karya”. Dengan kata lain “kebudayaan adalah keseluruhan dari apa yang pernah
dihasilkan oleh manusia karena pemikiran
dan karyanya”. Jadi, kebudayaan
merupakan produk dari budaya.
Wujud dari
kebudayaan terbagi menjadi beberapa macam. Koentjaraningrat (2000: 5-6)
menjelaskan wujud-wujud kebudayaan. Wujud pertama adalah wujud ideel. Wujud
ideel ini dapat disebut sebagai adat tata kelakuan, bentuknya abstrak dan
lokasinya berada di kepala-kepala/ alam pikiran kebudayaan itu hidup. Sebutan
tata kelakuan itu merujuk pada fungsi mengatur, mengendalikan, member arah,
kepada kelakuan dan perbuatan manusia. Wujud kedua adalah kebudayaan yang
sering disebut sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari pola
aktivitas-aktivitas manusia. Wujud ketiga adalah kebudayaan yang berbentuk
fisik. Kebudayaan ini bersifat paling konkret karena berupa benda yang dapat
dilihat dan diraba. Ketiga wujud kebudayaan tersebut tidak dapat berdiri
sendiri, dan saling terkait satu sama lain.
Warsito (2012: 55) memberikan gambaran bahwa sebuah
universitas adalah produk kebudayaan. Universitas merupakan wujud ideal
kebudayaan yang terdiri dari cita-cita universitas, norma-norma untuk
mahasiswa, karyawan dan dosen, aturan ujian, dan lain sebagainya. Sebuah
universitas berdiri mengangkat tujuan dan kebutuhan suatu kota atau lingkup
wilayah tertentu sebagai jawaban atas masalah-masalah yang terjadi.
Realitasnya, masing-masing wilayah memiliki permasalahan dan solusi yang
berbeda. Oleh karena itu, bila universitas merupakan gambaran kebudayaan maka
sesungguhnya tidak ada universitas terbaik maupun yang kurang baik.
Pemeringkatan universitas
sama saja dengan pemeringkatan kebudayaan. Padahal masing-masing universitas
mengembang tujuan dan kebutuhan yang berbeda. Gambaran di atas mengerucut pada
tidak adanya pemeringkatan atau asumsi bahwa ada satu kebudayaan yang lebih
tinggi dari kebudayaan lain. Penulis memandang bahwa masing-masing kebudayaan
memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Kebudayaan tidak ada yang sama, dan tidak
ada yang lebih baik maupun paling baik di antara kesemuanya itu. Beberapa
pandangan memberikan reaksi berbeda dan berseberangan terkait posisi budaya
dengan budaya lain. Tergantung dari perspektif mana kebudayaan tersebut
dilihat. Hal tersebut sah-sah saja asalkan tetap menjunjung kebhinekaan
terutama di Indonesia.
Keberadaan budaya Indonesia yang sangat multikultural secara tidak langsung mewajibkan setiap manusia untuk dapat
menyesuaikan diri terhadap semua macam budaya yang ada. Beberapa
pihak memandang bahwa budaya adalah sesuatu yang penting maka
pandangan terhadap budaya juga harus diperhatikan.
Sikap etnosentrisme adalah sikap yang mengagungkan budaya suku
bangsanya sendiri dan menganggap rendah budaya suku lain (Setiadi, Hakam, dan
Effendi, 2012: 43). Sikap
inilah yang mendasari adanya perbedaan pandangan tentang posisi antarbudaya. Etnosentrisme tidak selalu buruk. Liliweri
(2009: 138) menjelaskan bahwa nasionalisme merupakan salah satu bentuk
etnosentrisme. Nasionalis sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup suatu
negara.
Etnosentrisme menurut Nanda dan Warms
dalam Darmastuti (2013:73) merupakan “pandangan bahwa budaya seseorang lebih
unggul dibandingkan dengan budaya yang lain”. Pandangan dari definisi Nanda dan
Warms tersebut maksudnya hasil penilaian budaya lain menurut kacamata budaya kita.
Samovar dan kawan-kawan dalam Darmastuti menambahkan bahwa etnosentrisme
memiliki 3 tingkatan, pertama, pandangan positif maksudnya kepercayaan
menurut kita budaya kita lebih baik dari budaya lain. Pandangan tersebut
biasanya membuat kita merasa bangga akan budaya yang kita miliki dan berusaha
untuk melestarikannya. Kedua, tingkat negatif, maksudnya seringkali kita
menganggap budaya kita sebagai pusat dari segalanya, sehingga kita memandang
budaya lain sebagian dengan standar budaya kita. Ketiga, tingkat yang sangat negatif,
tingkatan ini menganggap bahwa budaya kita paling berkuasa, sehingga kita
merasa budaya kita harus diadopsi oleh budaya lain menyebabkan sikap egoisme
pada budaya. Jika etnosentrisme terus berkembang, dapat menyebabkan konflik
diantara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain, karena merasa mereka
lebih baik dibandingkan dengan yang lain.
Etnosentrisme sebagai suatu
kecenderungan bukanlah hal yang harus dimusuhi. Ihromi (2013: 14) member
penekanan bahwa kebiasaan menilai “baik” atau “kurang baik” adalah tidak ada
gunanya. Lagipula, gagasan tentang adat istiadat yang baik maupun yang buruk akan
berubah seiring berjalannya waktu. Sebagai manusia yang berbudaya di tengah
masyarakat multikultural, sudah menjadi
keharusan untuk menjaga dan saling menghargai antarpemeluk budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Darmastuti, Rini. 2013. Mindfullness
Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Buku Litera
Ihromi,
T. O. (2013) Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Pustaka Obor
Liliweri, Alo. (2009). Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar Koentjaraningrat. (1980). Pengantar Ilmu Antropologi.
Jakarta: Aksara Baru
______________. (2000). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Setiadi, Elly M., Kama A. Hakam, Ridwan Effendi.
(2012). Ilmu Sosial Budaya Dasar.
Jakarta: Kencana
Sudibyo, Lies, dkk. (2013). Ilmu Sosial Budaya Dasar. Yogyakarta: ANDI
Warsito. (2012). Antropologi
Budaya. Yogyakarta: Penerbit Ombak









