Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Sabtu, 19 November 2016

BEBERAPA PANDANGAN UNTUK KEBUDAYAAN

Haniah
Universitas Sebelas Maret
Jalan Ir. Sutami 36A, Kentingan, Jebres, Surakarta
Kebudayaan merupakan unsur yang lekat dengan masyarakat.  Kebudayaan berasal dari kata “budaya” yang berasal dari Sansakerta “budhayah” sebagai bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Kebudayaan adalah hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal (Sudibyo,dkk, 2013: 29). Kebudayaan adalah semua hasil ciptaan manusia yang terdiri daripada budaya material dan bukan material. Budaya material adalah budaya yang boleh dilihat, disentuh, dirasa dan mempunyai bentuk fisikal seperti komputer, telefon, bimbit dan lain-lain lagi. Manakala budaya bukan material merupakan budaya yang terhasil dalam bentuk abstrak seperti teori, ideologi, formula dan falsafah. Selanjutnya  Koentjaraningrat  (1980)  mendefinisikan Kebudayaan sebagai “keseluruhan dari  hasil budi dan karya”. Dengan kata lain “kebudayaan  adalah keseluruhan dari apa yang pernah dihasilkan  oleh manusia karena pemikiran dan karyanya”. Jadi, kebudayaan merupakan produk dari budaya.
Wujud dari kebudayaan terbagi menjadi beberapa macam. Koentjaraningrat (2000: 5-6) menjelaskan wujud-wujud kebudayaan. Wujud pertama adalah wujud ideel. Wujud ideel ini dapat disebut sebagai adat tata kelakuan, bentuknya abstrak dan lokasinya berada di kepala-kepala/ alam pikiran kebudayaan itu hidup. Sebutan tata kelakuan itu merujuk pada fungsi mengatur, mengendalikan, member arah, kepada kelakuan dan perbuatan manusia. Wujud kedua adalah kebudayaan yang sering disebut sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari pola aktivitas-aktivitas manusia. Wujud ketiga adalah kebudayaan yang berbentuk fisik. Kebudayaan ini bersifat paling konkret karena berupa benda yang dapat dilihat dan diraba. Ketiga wujud kebudayaan tersebut tidak dapat berdiri sendiri, dan saling terkait satu sama lain.
   Warsito (2012: 55) memberikan gambaran bahwa sebuah universitas adalah produk kebudayaan. Universitas merupakan wujud ideal kebudayaan yang terdiri dari cita-cita universitas, norma-norma untuk mahasiswa, karyawan dan dosen, aturan ujian, dan lain sebagainya. Sebuah universitas berdiri mengangkat tujuan dan kebutuhan suatu kota atau lingkup wilayah tertentu sebagai jawaban atas masalah-masalah yang terjadi. Realitasnya, masing-masing wilayah memiliki permasalahan dan solusi yang berbeda. Oleh karena itu, bila universitas merupakan gambaran kebudayaan maka sesungguhnya tidak ada universitas terbaik maupun yang kurang baik.
Pemeringkatan universitas sama saja dengan pemeringkatan kebudayaan. Padahal masing-masing universitas mengembang tujuan dan kebutuhan yang berbeda. Gambaran di atas mengerucut pada tidak adanya pemeringkatan atau asumsi bahwa ada satu kebudayaan yang lebih tinggi dari kebudayaan lain. Penulis memandang bahwa masing-masing kebudayaan memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Kebudayaan tidak ada yang sama, dan tidak ada yang lebih baik maupun paling baik di antara kesemuanya itu. Beberapa pandangan memberikan reaksi berbeda dan berseberangan terkait posisi budaya dengan budaya lain. Tergantung dari perspektif mana kebudayaan tersebut dilihat. Hal tersebut sah-sah saja asalkan tetap menjunjung kebhinekaan terutama di Indonesia.
Keberadaan budaya Indonesia yang sangat multikultural secara tidak langsung  mewajibkan setiap manusia untuk dapat menyesuaikan diri terhadap semua macam budaya yang ada.  Beberapa pihak memandang bahwa budaya adalah sesuatu yang penting maka pandangan terhadap budaya juga harus diperhatikan. Sikap etnosentrisme adalah sikap yang mengagungkan budaya suku bangsanya sendiri dan menganggap rendah budaya suku lain (Setiadi, Hakam, dan Effendi, 2012: 43). Sikap inilah yang mendasari adanya perbedaan pandangan tentang posisi antarbudaya.  Etnosentrisme tidak selalu buruk. Liliweri (2009: 138) menjelaskan bahwa nasionalisme merupakan salah satu bentuk etnosentrisme. Nasionalis sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup suatu negara.
Etnosentrisme menurut Nanda dan Warms dalam Darmastuti (2013:73) merupakan “pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan dengan budaya yang lain”. Pandangan dari definisi Nanda dan Warms tersebut maksudnya hasil penilaian budaya lain menurut kacamata budaya kita. Samovar dan kawan-kawan dalam Darmastuti menambahkan bahwa etnosentrisme memiliki 3 tingkatan, pertama, pandangan positif maksudnya kepercayaan menurut kita budaya kita lebih baik dari budaya lain. Pandangan tersebut biasanya membuat kita merasa bangga akan budaya yang kita miliki dan berusaha untuk melestarikannya. Kedua, tingkat negatif, maksudnya seringkali kita menganggap budaya kita sebagai pusat dari segalanya, sehingga kita memandang budaya lain sebagian dengan standar budaya kita. Ketiga, tingkat yang sangat negatif, tingkatan ini menganggap bahwa budaya kita paling berkuasa, sehingga kita merasa budaya kita harus diadopsi oleh budaya lain menyebabkan sikap egoisme pada budaya. Jika etnosentrisme terus berkembang, dapat menyebabkan konflik diantara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain, karena merasa mereka lebih baik dibandingkan dengan yang lain.
Etnosentrisme sebagai suatu kecenderungan bukanlah hal yang harus dimusuhi. Ihromi (2013: 14) member penekanan bahwa kebiasaan menilai “baik” atau “kurang baik” adalah tidak ada gunanya. Lagipula, gagasan tentang adat istiadat yang baik maupun yang buruk akan berubah seiring berjalannya waktu. Sebagai manusia yang berbudaya di tengah masyarakat multikultural, sudah  menjadi keharusan untuk menjaga dan saling menghargai antarpemeluk budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Darmastuti, Rini. 2013. Mindfullness Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Buku Litera
Ihromi, T. O. (2013) Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Pustaka Obor
Liliweri, Alo. (2009). Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Koentjaraningrat. (1980). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru
______________. (2000). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Setiadi, Elly M., Kama A. Hakam, Ridwan Effendi. (2012). Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Kencana
Sudibyo, Lies, dkk. (2013). Ilmu Sosial Budaya Dasar. Yogyakarta: ANDI
Warsito. (2012). Antropologi Budaya. Yogyakarta: Penerbit Ombak


Sabtu, 12 November 2016

KEWAJIBAN ISTRI TERHADAP SUAMI

Ahad, 13 Nopember 2016/13 Shafar 1438
Sumber: Brosur No. : 1828/1868/IA

Sebagaimana suami mempunyai hak dan kewajiban terhadap istri, begitu pula istri mempunyai hak dan kewajiban terhadap suami.
Haknya istri merupakan kewajiban bagi suaminya, dan begitu pula haknya suami merupakan kewajiban istri terhadap suaminya.


Firman Allah SWT :

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena laki-laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang thaat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka) .... . [QS. An-Nisaa' : 34]
~
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkat kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. Al-Baqarah : 228]
~
Dan sabda Nabi SAW :
~
Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin dalam menjaga harta tuannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan masing-masing dari kamu sekalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. [HR. Bukhari juz 1, hal. 215, dari Ibnu ‘Umar]
~
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Seandainya saya boleh menyuruh seseorang untuk bersujud kepada orang, tentu aku akan menyuruh wanita supaya bersujud kepada suaminya". [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 314, no. 1169, hadits hasan gharib]
~
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila wanita bisa menjaga shalat lima waktu, puasa Ramadlan dan menjaga kemaluannya serta thaat kepada suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu manasaja yang ia sukai". [HR. Ibnu Hibban juz 9, hal. 471, no. 4163]
'~
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Nabi SAW ditanya, “Wanita yang bagaimanakah yang paling baik ?”. Beliau bersabda, “Sebaik-baik wanita (istri) adalah yang apabila dipandang suaminya menyenangkan, apabila diperintah dia thaat dan tidak menyelisihinya karena (mengandalkan) dirinya dan hartanya”. [HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 2, hal. 175, no. 2682]
~
Dari Tamim Ad-Daariy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Haknya suami atas istrinya ialah : Agar istri tidak meninggalkan tempat tidur suaminya, berbuat baik pada waktu bagiannya, menthaati perintahnya, tidak keluar kecuali dengan izin (suami)nya dan tidak memasukkan orang yang dibenci oleh suaminya". [HR. Thabarani dalam Al-Kabir juz 2, hal. 52, no. 1258, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Dlirar bin ‘Amr]
~
Dari Abu Umamah, dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda, “Tidak ada yang memberi faidah (kesenangan) kepada orang mu’min sesudah taqwa kepada Allah yang lebih baik baginya selain dari istri yang shalihah. Jika diperintah dia thaat. Jika dipandang, dia menyenangkan. Jika diberi bagian, dia berbuat baik kepadanya. Jika suami sedang bepergian, dia menjaga dirinya dan harta suaminya”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 596, no. 1857, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Ali bin Yazid]
~
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidur, tiba-tiba istrinya itu tidak mau, lalu suaminya bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat melaknat istri itu sampai pagi". [HR. Muslim juz 2, hal. 1060]
~
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah seorang laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidur, tetapi ia tidak mau menurutinya, kecuali yang di langit murka kepadanya, sehingga suaminya ridla kepadanya. [HR. Muslim juz 2, hal. 1060]
~
Dari Thalaq bin Ali, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang suami memanggil istrinya untuk sesuatu kebutuhannya, maka hendaklah ia segera datang kepadanya, meskipun ia sedang memasak di dapur". [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 314, no. 1170, ini hadits hasan gharib]
'~
Dari Abu Sa'id Al-Khudriy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya seburuk-buruk manusia menurut Allah kedudukannya pada hari qiyamat adalah seorang suami yang bersenang-senang dengan istrinya dan istri yang bersenang-senang dengan suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasianya". [HR. Muslim juz 2, hal. 1060]
~
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sedang suaminya berada di rumah, kecuali dengan izinnya, dan tidak boleh mengizinkan orang masuk ke rumahnya kecuali dengan izin (suami)nya". [HR. Bukhari juz 6, hal. 150]
~
Dari Tsauban, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Siapa saja istri yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan (yang dibenarkan oleh syara'), maka bau surga haram atasnya". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 662, no. 2055]
~
Dari Ibnu 'Abbas RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Ada empat perkara, barangsiapa diberi empat perkara itu berarti dia telah diberi kebaikan dunia dan akhirat : 1. Hati yang bersyukur. 2. Lisan yang senantiasa berdzikir, 3. Dia bershabar apabila mendapat balak (mushibah), dan 4. Istri yang tidak berkhianat, tidak berkhianat pada dirinya dan harta suaminya". [HR. Thabarani dalam Al-Kabir juz 11, hal. 105, no. 11275]
~
Dari Ummu Salamah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Siapasaja wanita yang meninggal dunia, sedang suaminya ridla kepadanya, niscaya dia masuk surga". [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 314, no. 1171, ini hadits hasan gharib]
~
Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata : Nabi SAW bersabda, "Aku pernah diperlihatkan kepada neraka, tiba-tiba penghuninya kebanyakan adalah wanita yang kufur". Ada shahabat yang bertanya, "Apakah mereka itu kufur kepada Allah, ya Rasulullah ?". Rasulullah SAW bersabda, "Mereka kufur terhadap suaminya dan mereka mengkufuri kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka sepanjang tahun, kemudian ia melihat pada dirimu sesuatu (yang tidak menyenangkan), ia akan berkata, "Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali". [HR. Bukhari juz 1, hal. 13]
'~
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, yaitu yang selalu merasa tidak cukup dari padanya”. [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 2, hal. 207, no. 2771, ini hadits shahih sanadnya, tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya]
~
Dari Anas RA, ia berkata, "Telah meninggal anaknya Abu Thalhah dari Ummu Sulaim. Lalu Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, "Janganlah kalian ceritakan hal ini kepada Abu Thalhah, biarlah saya sendiri nanti yang memberitahukan kepadanya". Maka tatkala Abu Thalhah telah datang (dari bepergian), segeralah (Ummu Sulaim) menghidangkan makan malam, lalu (Abu Thalhah) makan-minum hingga selesai. Kemudian Abu Thalhah diajak bergurau, sampai terjadi persetubuhan. Setelah Ummu Sulaim mengetahui bahwa Abu Thalhah sudah merasa puas dari semuanya itu, barulah Ummu Sulaim berkata kepadanya, "Ya Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada suatu kaum mereka meminjamkan barang kepada suatu keluarga, lalu dimintanya kembali pinjaman itu, apakah keluarga yang dipinjami itu boleh menolaknya ?". Abu Thalhah menjawab, "Tidak boleh (menolak)". Lalu Ummu Sulaim berkata, "Relakanlah anakmu kepada Allah". Kemudian Abu Thalhah marah sambil berkata, "Mengapa kamu sembunyikan berita itu, hingga aku berlumuran begini baru kamu beritahukan keadaan anakku ?". Kemudian (setelah pagi) Abu Thalhah pergi menghadap Rasulullah SAW dan memberitahukan kejadian malam itu. Maka Rasulullah SAW berdoa : Baarakalloohu lakumaa fii ghoobiri lailatikumaa (Semoga Allah memberkahi kamu berdua pada malam itu). [HR. Muslim juz 4, hal. 1909]
~
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Dunia itu adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1090]
~
~oO[ @ ]Oo~

Tulisan ini saya dapatkan dari broadcast salah satu media sosial. Tulisannya yang baik, amat disayangkan bila hanya menjadi angin lalu. Semoga dengan menuliskan di blog ini dapat tersebar ke seantero penjuru bumi dan memberikan pemahaman kepada perempuan-perempuan muslim. Terima kasih. Semoga bermanfaat.