Sebagai manusia kita hanya mampu berencana, sedang
Allah tetap hakim utama yang memutuskan setiap perkara dalam hidup.
 |
| Pascasarjana |
Siang itu seperti biasa aku mengajar dari kelas satu ke
kelas yang lainnya. Tepat di hari jumat, panggilan sholat jumat pun tiba. Semua
murid, guru, dan karyawan berkumpul menunaikannya dengan khidmat. Usai menjalankan
sholat jumat berjamaah aku turun ke ruang guru untuk mengambil berkas biodata
karyawan yang baru kemarin diberikan petugas TU sekolah. Membaca judul berkas
itu rasanya senang sekali. Aku yang sebulan lalu masih dipanggil mahasiswa,
kini sudah benar-benar menjadi guru yang harus bisa memberikan teladan pada
siswa.
Sepeti biasa, Jumat siang jam terakhir setelah shalat
jumat adalah waktu longgar untukku. Jadwal mengajarku sudah habis. Berkas
biodata karyawan yang harusnya disertai ijazah ternyata lupa aku bawa. Niat
untuk pulang pun muncul. Mengingat pegawai TU memintaku untuk mengumpulkan
berkas hari itu juga.
Jarak rumah dan sekolah yang sangat dekat membuatku cepat
sampai. Cukup dua menit sepeda motor sudah terparkir cantik di halaman rumah.
“Assalammualaikum,”
kataku mengucap salam.
Ibu yang berada di
ruang tamu menjawab salam.
“Opo kroso tak
tunggu-tunggu to?” kata ibu waktu itu. Aku hanya tersenyum merasa digombali.
“Berkasku ketinggalan,
Bu,” jawabku sambil mengobrak-abrik berkas wisuda mencari selembar fotokopian
ijazah yang tersimpan di dalam satu map.
Dari
luar kamar ibu bersuara lagi, “Mbok ya, dijupuk wae S2-ne. Mesakne bapak ndak
gelo.” Masih sangat terasa betapa suara ibu memohon padaku. Sepertinya baru
kali itu ibu meminta sesuatu dariku dengan sangat. Aku trenyuh beberapa waktu,
tapi keputusanku bulat. Tidak. Aku memilih bekerja karena dengan begitu aku
benar-benar bisa mengurangi beban keluarga.
“Emoh, Bu. Hani pengen
kerja. Ben bisa beli apa-apa dewe. Eman-eman tujuh juta, Bu. Tahun depan Hani
daftar malih nek bapak ibu pengen Hani S2.”
“Iyo, tapi kae hlo
mesakne bapakmu. Wis dijilihne duit. Mosok ra sido. Kan ibu ora nglarang
kerja to.”
Berulang kali aku
mengutarakan penolakan. Dari alasan sudah terlanjur kerja, tidak disetujui
nyambi S2, SPP yang mahal, beasiswa yang sulit, hingga waktu menikah yang
bisa-bisa makin lama. Semua meluncur begitu saja. Ibu masih kokoh.
Kemudian
muncullah sosok yang paling gagah di rumah. Bapak pulang dari salah satu rumah
kerabat untuk meminta masukan. Juga menemui salah satu sahabatnya yang seorang
kepala sekolah. Bahkan dari situ aku jadi tahu bahwa niat bapak sangat besar
untuk memberikan pendidikan terbaik buatku. Salah satu sahabatnya itu berjanji
akan memberikan uang pinjaman demi kelancaran studi S2-ku. Aku bersyukur, tapi
juga kahawatir kalau-kalau di masa depan malah menimbulkan masalah baru.
Luluh. Satu kata itu yang bisa aku gambarkan di jumat
siang kala itu. “Nggih sampun, terserah bapak ibu pripun. Hani nyarah” ujarku. Kepala
rasanya pusing sekali. Antara pilihanku dan pilihan kedua orang tuaku. Keduanya
sama-sama berat. Ikhlas gak ikhlas harus ikhlas. Kata-kata bahwa ridho Allah
berada di ridho orang tua selalu berhasil membuatku mengiyakan setiap keinginan
bapak dan ibu.
Aku
bergegas kembali ke sekolah untuk mengambil tas dan dompet yang tadi tidak aku
bawa pulang. Hari itu seharusnya aku pulang sore karena jadwal jaga menunggu
anak-anak semua pulang. Semua kutinggal. Aku meminta izin untuk pulang duluan. Salah
satu guru yang melihat ketergesa-gesaanku curiga. “Bu hani kok kesusu. Mau kemana
to?”
“Saya mau pergi ke
tempat yang penting Bu. Izin sebentar ya Bu.”
Dan laju motorku
seperti orang kesetanan. Bank tempat membayar registrasi S2 tutup pukul 13.00
WIB. Aku masih harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk sampai di bank
terdekat. Aku pasrah. Semua aku serahkan pada Allah. Bagaimana pun keputusannya
yang penting sudah kuusahakan menunaikan keinginan orang tua.
Pukul 14.40 WIB. Aku sampai di bank dengan napas
ngos-ngosan karena berlari dari tempat parkir. Ternyata antriannya cukup
panjang, sekitar depalan orang. Mataku tak lepas dari jam dinding di ruang
antrian. Waktu terus berjalan. Hingga jam menunjukkan pukul 14. 50 WIB tibalah
antrianku di depan teller.
“Mas, mau bayar S2 UNS”
kusudorkan selembar kertas transaksi yang sudah kutulis waktu awal tadi.
“Nomor pesertanya
berapa mbak?” tanya mas teller.
“Nomor peserta mas? Emang
pakai ya? Saya lupa bawa,” jawabku dengan wajah panik dan jantung yang memompa
lebih cepat.
“Wah maaf mbak, ndak
bisa. Satu-satunya cara log in pembayaran ya cuma pakai itu.” Mas teller mengembalikan
kertas transaksi padaku.
“Lha gimana mas? Masak ndak
bisa? Ini sudah hari terakhir bayar.” Ku akui suaraku mulai berat.
Mengingat permohonan ibu sebelum
berangkat tadi.
“Itu masih ada waktu
sedikit, telpon bapak atau ibu saja.” kata mas teller memberi solusi. Entah saking
panik atau lelahnya, otak seakan-akan tak bisa bekerja. Aku mundur ke belakang
dan berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
Ku
keluarkan handphone yang baterainya sudah merah. Ku cari kontak bapak secepat
yang aku bisa. Ku coba menelepon, tapi suara dari seberang mengabarkan bahwa
pulsa tidak mencukupi. Aku lupa. Pulsa adalah hal yang paling jarang aku beli. Lebih
sering menggunakan internet untuk berkomunikasi, sedang orang tua hanya bisa
dihubungi via SMS ataupun telepon. Aku berlari melihat kanan-kiri bank,
berharap ada konter atau setidaknya tukang jual pulsa di sekitar sana. Nihil. Kepanikan
bertambah. Jam masih terus bergulir. Ku hampiri tukang parkir yang sedang duduk
di depan toko sebelah kiri bank.
“Pak, maaf. Sebelah
sini yang jual pulsa di mana ya pak?” kataku dengan napas memburu.
Tukang parkir lantas
menunjuk arah di mana konter berada. Aku berlari lagi. Tidak beduli dengan
jalan yang rusak karena penggalian pipa PDAM atau apalah itu.
‘Mbak, beli pulsa. 10
ribu. Cepat ya mbak, penting!” pintaku pada penjaga konter
Mbak-mbak penjaga
konter langsung mengirimkan pulsa dengan HP kecil di tangannya. Uang dua belas
ribu kusodorkan. “Cepat mbak. Waktunya mepet. Penting banget ini.” aku cerewet.
“Sudah kok mbak, ini
SMS sukses.”
Mbak-mbak konter
menunjukkan SMS pengiriman pulsa ke nomor handponeku yang memang telah
terkirim.
“Kok belum masuk mbak? Lama
banget? Udah jam tiga ini.” kaki dan tanganku tak tenang. Usrek. Berulang kali
aku mengecek handphone tapi pulsa sepuluh ribu itu tak kunjung sampai juga. Jengkel.
Hingga akhirnya baterai makin sekarat. “Mbak, HP saya lobet ini. lama sekali.” Mbak-mbak
yang mungkin sama-sama jengkel kemudian mengulurkan kabel putih, “Charger pakai
ini dulu mbak.”
Ku raih kemudian aku
colokkan. Handphone benar-benar tak bisa diajak kompromi waktu itu.
“Mbak pinjam HP mbak
aja, berapa pun pulsanya saya bayar,” kataku sok punya uang padahal cuma bawa
uang 20 ribu.
Mbak-mbak
konter akhirnya mengalah dan meminjamkan HP-nya. Waktu itu jam sudah menujukkan
pukul 15.02 WIB. Waktu benar-benar sudah habis. Aku menelepon dengan sisa-sisa
harapan. Berharap ada pertolongan dari Allah lewat siapapun dan dari manapun.
Meski dalam hati rasa putus asa sudah merajai, apa daya ketika telepon sudah
tersambung dengan orang rumah. Tidak mungkin aku tutup, mengabarkan bahwa waktu
pembayaran sudah habis dan aku gagal. Sama saja aku melukai mereka setelah
harapan besar mereka berkobar-kobar.
Kuminta
ibu yang sedang di seberang telepon untuk mencari kertas ujian itu. Seingatku
nomor peserta ada di kartu peserta ujian warna biru. Tak ada. Ibu tak
menemukannya. Harapanku mulai pupus berlahan.
“Ono ne pink, kartu
peserta ujian,” kata ibu yang sama-sama panik.
Aku baru menyadari
ditambah lupa-lupa ingat dengan kertas ujian S2. Entah biru atau pink
sebenarnya. “Ya ya ya. Pokoke kui, Bu!” kuminta ibu membacakan nomor peserta
sekaligus nomor ujian yang tertera di kartu. Entah benar atau salah yang
penting sudah ada nomornya, pikirku waktu itu.
Selesai menelepon, ku bayar pulsa dan kukembalikan HP
pinjamannya kemudian berlari lagi menuju bank. Napas ngos-ngosan lagi. Mataku terbelalak
ketika pintu besi bank sudah tertutup setengah. Tulisan ‘TUTUP” juga sudah
terpampang jelas sekali. Kepanikanku meningkat sepuluh kali lipat. Kupercepat menghampiri
pintu kaca yang masih tersisa. Melompat-lompat berusaha mencari tahu siapa yang
sedang berada di dalam,” Pak..pak..pak..” teriakku cukup keras. Entah aku
memanggil bapaknya siapa saat itu. Harapanku cuma satu, ada seseorang yang baik
hatinya dan mau memberikan kesempatan terakhir.
Seorang
satpam yang badannya tak terlalu tinggi muncul. “Kenapa mbak? Sudah tutup ini.”
muka pak satpam itu garang sekali. Perpaduan antara marah dan capek sangat
jelas terlihat.
“Pak, saya mau bayar S2
UNS, Pak,” kataku memohon.
“Ini sudah tutup mbak,
ndak bisa. Besok pagi saja. Pagi-pagi sekali ke sini lagi.”
“Ndak bisa Pak, ini
hari terakhir. Kalau hari ini saya tidak bayar besok sudah tidak bisa lagi Pak.”
Suaraku serak hampir menangis. Tak peduli lagi dengan umur. Rasa malu itu seperti
hilang entah kemana.
Mukaku
yang melas plus kasihan membuat pak satpam beranjak masuk ke dalam. Tak sampai
satu menit satpam keluar lagi, “Tadi sudah ngantri ya? Ini harusnya ndak bisa
ya. Sudah tutup. Besuk jangan kayak gini lagi!” Pak satpam sedikit membentak
dengan muka marahnya. Aku tak peduli. Menerobos masuk menuju teller yang tadi
sudah melayaniku. “Mbak yang mau bayar S2 tadi kan?” tanya mas teller. Aku
mengangguk, tak berani menjawab karena takut katahuan hampir menagis.
Kulirik
jam sudah di angka 15.08 WIB. Sekitar lima menit transaksi selesai. Aku berlari
lagi menuju pintu keluar hingga hampir terpeleset di lantai yang licin. Tak lupa
kuteriakkan ucapan terima kasih pada satpam yang mukanya garang tapi hatinya
bagai hello kitty tadi. Di tempat parkir, susah payah ku tarik motor yang
sedikit terperosok. Ujian keduaku hari itu adalah mengumpulkan berkas yang sama
sekali belum aku input datanya dan belum pula aku print out hasilnya.
Motorku kembali ngebut di jalanan Karanganyar-Solo.
Aku yang sempat kerja partime di salah satu birokrasi kampus paham betul bahwa
jam kerja kampus di hari jumat selesai pukul 15.30 WIB. Ku tambah kecepatan
agar segera sampai di gedung pascasarjana. Sampai di bagian pengumpulan berkas,
aku kembali memohon pada petugas yang masih cukup muda,” Mas, saya mau
ngumpulin berkas. Tapi saya belum print mas. Tungguin bisa mas? Sebentar kok, Cuma
lima menit,” kataku. Mas-mas TU itu mengangguk. Aku bergegas menuju tempat FC
di belakang kampus.
Kuulangi memasukkan nomor peserta dan kode akses hingga
beberapa kali tapi gagal. Di percobaan ke lima aku baru berhasil log in. Mengisi
data-data dengan kecepatan kilat. Sampailah di kolom yang menanyakan tahun
kelahiran orang tua. Blenk. Aku lupa. Berkas apapun tak ada yang aku bawa. Telepon
sudah tak lagi bisa. Aku harus gimana? The power of kepepet bertindak. Kubuka aplikasi
kalkulator, ku kira-kira umur ibu dan bapak kemudian kuhitung selisihnya dengan
tahun ini. Dan tadaaa..muncullah sebuah tahun yang sebenarnya aku tak yakin itu
tahun lahir bapak dan ibu. Tak apalah, yang penting bisa registrasi dulu haha..
Selesai
mencetak foto, langsung ku bawa semua berkas ke ruang TU pascasarjana. Ternyata
benar, petugas-petugas masih duduk di kursi kerjanya. Betapa bersyukurnya aku
dengan hari yang melelahkan itu, Jumat yang penuh barokah. Kita tak pernah tahu
dengan rencana Allah. Beberapa jam lalu aku masih keukeuh tak ingin mengambil
S2, tapi Allah berkata lain. Beberapa jam kemudian aku sah sebagai mahasiswa
pascasarjana. Selesai mengurus berkas badanku lemas di atas motor. Masih tidak
percaya dengan apa yang aku lakukan dua jam terakhir. Menginat-ingat polahku yang lari-larian seperti anak TK.
Sejak saat itu aku
percaya bahwa ketika berlari, aku tak hanya membawa diri sendiri, tapi membawa
mimpi bapak dan ibu yang harus bisa terlunasi.
Sampai jumpa di wisuda
Hani yang kedua Pak, Bu. Maret 2018.Amiin