Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Minggu, 18 Desember 2016

Ada Apa dengan Perempuan?

“Kau tahu puteriku sayang? Laki- laki adalah layang- layang dan perempuan adalah benang. Tanpa perempuan, laki- laki tak akan menjadi apa- apa. Di balik ketinggian (kesuksesan), ada perempuan dibaliknya. Puteriku, jadilah benang dengan kualitas terbaik. Buatlah layang- layangmu kelak terbang  setinggi- tingginya. Karena setinggi apapun ia terbang, ia selalu terkait denganmu dan bergantung padamu. Jagalah dia agar tak putus atau hilang arah. Ingatlah bahwa layang- layang selalu ingin terbang tinggi.” 

Saya awali tulisan ini dengan kalimat ampuh Kurniawan Gunadi. Seorang aktivis mahasiswa di Institut Teknologi Bandung. Langkahnya sudah tak mampu dibendung, buku- bukunya laris manis bak jagung “godog” kala hujan meradang. Dikepalanya, tersemat mahkota pemimpin dari sebuah forum pemuda (ke-XVI) yang tenar di jagad kampus seluruh Indonesia. Bukan kesuksesannya yang ingin saya bahas disini. Namun, tentang caranya memandang keistimewaan seorang perempuan.
Bagaimana pun, kita tak lagi punya kesempatan untuk mengelak tentang pentingnya peran perempuan dari zaman ke zaman. Bila tak banyak yang tahu mengenai seorang Kurniawan Gunadi, bagaimana dengan yang satu ini? Tentunya sosok B. J. Habibie tidak akan pernah terusir dari ingatan masyarakat Indoneisa. Perjuangannya menciptakan pesawat terbang mengalir dari generasi ke generasi. Menjadi pil semangat bagi generasi muda untuk senantiasa berprestasi di bidangnya. Adalah rahasia umum bahwa, dibalik kehebatan beliau, ada Ibu Ainun yang menyertai setiap langkahnya. Kisahnya diadaptasi dalam film berjudul Habibie dan Ainun yang telah banyak ditayangkan pula di berbagai negara tetangga. “Saya dan Ainun adalah dua raga yang berada dalam satu jiwa,” begitulah Bapak Habibie memuliakan perempuan yang selalu ada di sampingnya. Air matanya selalu menetes ketika berbicara mengenai istri yang telah meninggalkannya terlebih dahulu ke hadapan- Nya.
            Mari kita tutup sejenak cerita mengenai Habibie dan Ainun. Sebagai generasi muda, terutama perempuan- perempuan muda yang mungkin adalah anda yang sedang membaca ini, apakah harus menjadi Ainun untuk bisa dikatakan perempuan hebat? Pelaut ulung adalah teman ombak besar. Proses yang ia lalui tak akan pernah menghianati hasil. Bila ingin menjadi bernilai, berarti harus rela ditempa. Menjadi perempuan yang bernilai lebih, berarti harus ada usaha.
Dalam Islam, Khadijah r.a istri Rasulullah adalah sosok yang luar biasa. Bahasa anak muda sekarang ini adalah Alpha female. Alpha female adalah peremuan yang memiliki berperan dalam kelompoknya. Para perempuan yang menginspirasi, memimpin, menggerakkan orang- orang sekitarnya, dan membawa perubahan. Sampai sekarang pun, banyak muslimah yang mengidolakan dan mencontoh beliau. Mencontoh tindak tanduknya, cara berbisnisnya, hingga cara beliau memuliakan nabi Muhammad SAW. Alpha female mencerminkan hubungan perempuan dengan lingkungan sekitarnya. Bagi saya, menjadi alpha female pada zaman ini bukan berarti harus menjadi ketua RT, bupati, gubernur, walikota, atau presiden. Alpha female lebih mengarah kepada peran untuk berbagi kepada sesama, terutama sesama perempuan. Bukan hanya berbagi harta, namun berbagi ilmu baik ilmu agama yang dipahami maupun ilmu kehidupan yang berasal dari pengalaman- pengalaman. Perlu digaris bawahi bahwa menyembunyikan ilmu adalah sebuah larangan dalam islam. Dalam sebuah hadist berbunyi:

Man su’ila ‘an ‘ilmin fakatamahu uljima yaumal qiyaamati bilijaamin minnaarin

(Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dicambuk dengan cambuk neraka)
Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, setiap perempuan wajib berpendidikan tinggi karena mereka akan menjadi seorang ibu. Ibu- ibu yang cerdas akan melahirkan anak- anak yang cerdas. Tentunya, ibu adalah perempuan yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak- anaknya. Membagikan ilmu yang ia miliki kepada anak- anaknya. Apa yang akan terjadi bila kita menjadi perempuan yang malas belajar? Tentu semua sudah mengetahui jawabannya. 
Tentu kita semua sepakat dengan kalimat “Perempuan terdidik akan menghasilkan generasi yang terdidik.” Entah siapa pun yang mencetuskan ungkapan itu pertama kali yang jelas begitu tenar kini. Generasi yang terdidik adalah generasi yang mampu membangun zaman, tidak hanya numpang tidur dan makan (hedonis). Generasi Hedonisme adalah genarasi yang sudah tertutup mata hatinya oleh kepentingan dan kesenangan dunia. Selalu mengutamakan “mata’un qalil” atau kesenangan yang semu saja. Bila seorang ibu melahirkan seorang anak, maka ia membangun dunia satu generasi. Apalagi bila melahirkan anak yang dibekali ilmu agama yang baik, maka ia sedang membangun satu generasi beserta kejayaannya esok hari.
Kita memang tidak memiliki pilihan untuk menjadi laki- laki atau perempuan. Pun tidak memiliki kesempatan untuk hidup di beberapa zaman. Namun, kita punya pilihan untuk menjadi perempuan pembangun peradaban. Besarnya peran seorang perempuan dalam membangun generasi, tak boleh hanya dipandang sebelah mata apalagi diacuhkan begitu saja. Perlu adanya usaha untuk turut serta membangun bangsa dan menghidupkan islam dalam setiap dekadenya. Khadijah, Maryam, Aisyah, Ainun dan sosok- sosok hebat lain adalah sekian dari puluhan ribu perempuan yang dapat memberikan teladan bagi kita semua.
(Telah termuat di majalah Cahaya Hati)

Sabtu, 19 November 2016

BEBERAPA PANDANGAN UNTUK KEBUDAYAAN

Haniah
Universitas Sebelas Maret
Jalan Ir. Sutami 36A, Kentingan, Jebres, Surakarta
Kebudayaan merupakan unsur yang lekat dengan masyarakat.  Kebudayaan berasal dari kata “budaya” yang berasal dari Sansakerta “budhayah” sebagai bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Kebudayaan adalah hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal (Sudibyo,dkk, 2013: 29). Kebudayaan adalah semua hasil ciptaan manusia yang terdiri daripada budaya material dan bukan material. Budaya material adalah budaya yang boleh dilihat, disentuh, dirasa dan mempunyai bentuk fisikal seperti komputer, telefon, bimbit dan lain-lain lagi. Manakala budaya bukan material merupakan budaya yang terhasil dalam bentuk abstrak seperti teori, ideologi, formula dan falsafah. Selanjutnya  Koentjaraningrat  (1980)  mendefinisikan Kebudayaan sebagai “keseluruhan dari  hasil budi dan karya”. Dengan kata lain “kebudayaan  adalah keseluruhan dari apa yang pernah dihasilkan  oleh manusia karena pemikiran dan karyanya”. Jadi, kebudayaan merupakan produk dari budaya.
Wujud dari kebudayaan terbagi menjadi beberapa macam. Koentjaraningrat (2000: 5-6) menjelaskan wujud-wujud kebudayaan. Wujud pertama adalah wujud ideel. Wujud ideel ini dapat disebut sebagai adat tata kelakuan, bentuknya abstrak dan lokasinya berada di kepala-kepala/ alam pikiran kebudayaan itu hidup. Sebutan tata kelakuan itu merujuk pada fungsi mengatur, mengendalikan, member arah, kepada kelakuan dan perbuatan manusia. Wujud kedua adalah kebudayaan yang sering disebut sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari pola aktivitas-aktivitas manusia. Wujud ketiga adalah kebudayaan yang berbentuk fisik. Kebudayaan ini bersifat paling konkret karena berupa benda yang dapat dilihat dan diraba. Ketiga wujud kebudayaan tersebut tidak dapat berdiri sendiri, dan saling terkait satu sama lain.
   Warsito (2012: 55) memberikan gambaran bahwa sebuah universitas adalah produk kebudayaan. Universitas merupakan wujud ideal kebudayaan yang terdiri dari cita-cita universitas, norma-norma untuk mahasiswa, karyawan dan dosen, aturan ujian, dan lain sebagainya. Sebuah universitas berdiri mengangkat tujuan dan kebutuhan suatu kota atau lingkup wilayah tertentu sebagai jawaban atas masalah-masalah yang terjadi. Realitasnya, masing-masing wilayah memiliki permasalahan dan solusi yang berbeda. Oleh karena itu, bila universitas merupakan gambaran kebudayaan maka sesungguhnya tidak ada universitas terbaik maupun yang kurang baik.
Pemeringkatan universitas sama saja dengan pemeringkatan kebudayaan. Padahal masing-masing universitas mengembang tujuan dan kebutuhan yang berbeda. Gambaran di atas mengerucut pada tidak adanya pemeringkatan atau asumsi bahwa ada satu kebudayaan yang lebih tinggi dari kebudayaan lain. Penulis memandang bahwa masing-masing kebudayaan memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Kebudayaan tidak ada yang sama, dan tidak ada yang lebih baik maupun paling baik di antara kesemuanya itu. Beberapa pandangan memberikan reaksi berbeda dan berseberangan terkait posisi budaya dengan budaya lain. Tergantung dari perspektif mana kebudayaan tersebut dilihat. Hal tersebut sah-sah saja asalkan tetap menjunjung kebhinekaan terutama di Indonesia.
Keberadaan budaya Indonesia yang sangat multikultural secara tidak langsung  mewajibkan setiap manusia untuk dapat menyesuaikan diri terhadap semua macam budaya yang ada.  Beberapa pihak memandang bahwa budaya adalah sesuatu yang penting maka pandangan terhadap budaya juga harus diperhatikan. Sikap etnosentrisme adalah sikap yang mengagungkan budaya suku bangsanya sendiri dan menganggap rendah budaya suku lain (Setiadi, Hakam, dan Effendi, 2012: 43). Sikap inilah yang mendasari adanya perbedaan pandangan tentang posisi antarbudaya.  Etnosentrisme tidak selalu buruk. Liliweri (2009: 138) menjelaskan bahwa nasionalisme merupakan salah satu bentuk etnosentrisme. Nasionalis sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup suatu negara.
Etnosentrisme menurut Nanda dan Warms dalam Darmastuti (2013:73) merupakan “pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan dengan budaya yang lain”. Pandangan dari definisi Nanda dan Warms tersebut maksudnya hasil penilaian budaya lain menurut kacamata budaya kita. Samovar dan kawan-kawan dalam Darmastuti menambahkan bahwa etnosentrisme memiliki 3 tingkatan, pertama, pandangan positif maksudnya kepercayaan menurut kita budaya kita lebih baik dari budaya lain. Pandangan tersebut biasanya membuat kita merasa bangga akan budaya yang kita miliki dan berusaha untuk melestarikannya. Kedua, tingkat negatif, maksudnya seringkali kita menganggap budaya kita sebagai pusat dari segalanya, sehingga kita memandang budaya lain sebagian dengan standar budaya kita. Ketiga, tingkat yang sangat negatif, tingkatan ini menganggap bahwa budaya kita paling berkuasa, sehingga kita merasa budaya kita harus diadopsi oleh budaya lain menyebabkan sikap egoisme pada budaya. Jika etnosentrisme terus berkembang, dapat menyebabkan konflik diantara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain, karena merasa mereka lebih baik dibandingkan dengan yang lain.
Etnosentrisme sebagai suatu kecenderungan bukanlah hal yang harus dimusuhi. Ihromi (2013: 14) member penekanan bahwa kebiasaan menilai “baik” atau “kurang baik” adalah tidak ada gunanya. Lagipula, gagasan tentang adat istiadat yang baik maupun yang buruk akan berubah seiring berjalannya waktu. Sebagai manusia yang berbudaya di tengah masyarakat multikultural, sudah  menjadi keharusan untuk menjaga dan saling menghargai antarpemeluk budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Darmastuti, Rini. 2013. Mindfullness Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Buku Litera
Ihromi, T. O. (2013) Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Pustaka Obor
Liliweri, Alo. (2009). Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Koentjaraningrat. (1980). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru
______________. (2000). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Setiadi, Elly M., Kama A. Hakam, Ridwan Effendi. (2012). Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Kencana
Sudibyo, Lies, dkk. (2013). Ilmu Sosial Budaya Dasar. Yogyakarta: ANDI
Warsito. (2012). Antropologi Budaya. Yogyakarta: Penerbit Ombak


Sabtu, 12 November 2016

KEWAJIBAN ISTRI TERHADAP SUAMI

Ahad, 13 Nopember 2016/13 Shafar 1438
Sumber: Brosur No. : 1828/1868/IA

Sebagaimana suami mempunyai hak dan kewajiban terhadap istri, begitu pula istri mempunyai hak dan kewajiban terhadap suami.
Haknya istri merupakan kewajiban bagi suaminya, dan begitu pula haknya suami merupakan kewajiban istri terhadap suaminya.


Firman Allah SWT :

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena laki-laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang thaat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka) .... . [QS. An-Nisaa' : 34]
~
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkat kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. Al-Baqarah : 228]
~
Dan sabda Nabi SAW :
~
Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin dalam menjaga harta tuannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan masing-masing dari kamu sekalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. [HR. Bukhari juz 1, hal. 215, dari Ibnu ‘Umar]
~
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Seandainya saya boleh menyuruh seseorang untuk bersujud kepada orang, tentu aku akan menyuruh wanita supaya bersujud kepada suaminya". [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 314, no. 1169, hadits hasan gharib]
~
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila wanita bisa menjaga shalat lima waktu, puasa Ramadlan dan menjaga kemaluannya serta thaat kepada suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu manasaja yang ia sukai". [HR. Ibnu Hibban juz 9, hal. 471, no. 4163]
'~
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Nabi SAW ditanya, “Wanita yang bagaimanakah yang paling baik ?”. Beliau bersabda, “Sebaik-baik wanita (istri) adalah yang apabila dipandang suaminya menyenangkan, apabila diperintah dia thaat dan tidak menyelisihinya karena (mengandalkan) dirinya dan hartanya”. [HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 2, hal. 175, no. 2682]
~
Dari Tamim Ad-Daariy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Haknya suami atas istrinya ialah : Agar istri tidak meninggalkan tempat tidur suaminya, berbuat baik pada waktu bagiannya, menthaati perintahnya, tidak keluar kecuali dengan izin (suami)nya dan tidak memasukkan orang yang dibenci oleh suaminya". [HR. Thabarani dalam Al-Kabir juz 2, hal. 52, no. 1258, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Dlirar bin ‘Amr]
~
Dari Abu Umamah, dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda, “Tidak ada yang memberi faidah (kesenangan) kepada orang mu’min sesudah taqwa kepada Allah yang lebih baik baginya selain dari istri yang shalihah. Jika diperintah dia thaat. Jika dipandang, dia menyenangkan. Jika diberi bagian, dia berbuat baik kepadanya. Jika suami sedang bepergian, dia menjaga dirinya dan harta suaminya”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 596, no. 1857, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Ali bin Yazid]
~
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidur, tiba-tiba istrinya itu tidak mau, lalu suaminya bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat melaknat istri itu sampai pagi". [HR. Muslim juz 2, hal. 1060]
~
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah seorang laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidur, tetapi ia tidak mau menurutinya, kecuali yang di langit murka kepadanya, sehingga suaminya ridla kepadanya. [HR. Muslim juz 2, hal. 1060]
~
Dari Thalaq bin Ali, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang suami memanggil istrinya untuk sesuatu kebutuhannya, maka hendaklah ia segera datang kepadanya, meskipun ia sedang memasak di dapur". [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 314, no. 1170, ini hadits hasan gharib]
'~
Dari Abu Sa'id Al-Khudriy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya seburuk-buruk manusia menurut Allah kedudukannya pada hari qiyamat adalah seorang suami yang bersenang-senang dengan istrinya dan istri yang bersenang-senang dengan suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasianya". [HR. Muslim juz 2, hal. 1060]
~
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sedang suaminya berada di rumah, kecuali dengan izinnya, dan tidak boleh mengizinkan orang masuk ke rumahnya kecuali dengan izin (suami)nya". [HR. Bukhari juz 6, hal. 150]
~
Dari Tsauban, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Siapa saja istri yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan (yang dibenarkan oleh syara'), maka bau surga haram atasnya". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 662, no. 2055]
~
Dari Ibnu 'Abbas RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Ada empat perkara, barangsiapa diberi empat perkara itu berarti dia telah diberi kebaikan dunia dan akhirat : 1. Hati yang bersyukur. 2. Lisan yang senantiasa berdzikir, 3. Dia bershabar apabila mendapat balak (mushibah), dan 4. Istri yang tidak berkhianat, tidak berkhianat pada dirinya dan harta suaminya". [HR. Thabarani dalam Al-Kabir juz 11, hal. 105, no. 11275]
~
Dari Ummu Salamah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Siapasaja wanita yang meninggal dunia, sedang suaminya ridla kepadanya, niscaya dia masuk surga". [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 314, no. 1171, ini hadits hasan gharib]
~
Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata : Nabi SAW bersabda, "Aku pernah diperlihatkan kepada neraka, tiba-tiba penghuninya kebanyakan adalah wanita yang kufur". Ada shahabat yang bertanya, "Apakah mereka itu kufur kepada Allah, ya Rasulullah ?". Rasulullah SAW bersabda, "Mereka kufur terhadap suaminya dan mereka mengkufuri kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka sepanjang tahun, kemudian ia melihat pada dirimu sesuatu (yang tidak menyenangkan), ia akan berkata, "Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali". [HR. Bukhari juz 1, hal. 13]
'~
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, yaitu yang selalu merasa tidak cukup dari padanya”. [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 2, hal. 207, no. 2771, ini hadits shahih sanadnya, tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya]
~
Dari Anas RA, ia berkata, "Telah meninggal anaknya Abu Thalhah dari Ummu Sulaim. Lalu Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, "Janganlah kalian ceritakan hal ini kepada Abu Thalhah, biarlah saya sendiri nanti yang memberitahukan kepadanya". Maka tatkala Abu Thalhah telah datang (dari bepergian), segeralah (Ummu Sulaim) menghidangkan makan malam, lalu (Abu Thalhah) makan-minum hingga selesai. Kemudian Abu Thalhah diajak bergurau, sampai terjadi persetubuhan. Setelah Ummu Sulaim mengetahui bahwa Abu Thalhah sudah merasa puas dari semuanya itu, barulah Ummu Sulaim berkata kepadanya, "Ya Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada suatu kaum mereka meminjamkan barang kepada suatu keluarga, lalu dimintanya kembali pinjaman itu, apakah keluarga yang dipinjami itu boleh menolaknya ?". Abu Thalhah menjawab, "Tidak boleh (menolak)". Lalu Ummu Sulaim berkata, "Relakanlah anakmu kepada Allah". Kemudian Abu Thalhah marah sambil berkata, "Mengapa kamu sembunyikan berita itu, hingga aku berlumuran begini baru kamu beritahukan keadaan anakku ?". Kemudian (setelah pagi) Abu Thalhah pergi menghadap Rasulullah SAW dan memberitahukan kejadian malam itu. Maka Rasulullah SAW berdoa : Baarakalloohu lakumaa fii ghoobiri lailatikumaa (Semoga Allah memberkahi kamu berdua pada malam itu). [HR. Muslim juz 4, hal. 1909]
~
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Dunia itu adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1090]
~
~oO[ @ ]Oo~

Tulisan ini saya dapatkan dari broadcast salah satu media sosial. Tulisannya yang baik, amat disayangkan bila hanya menjadi angin lalu. Semoga dengan menuliskan di blog ini dapat tersebar ke seantero penjuru bumi dan memberikan pemahaman kepada perempuan-perempuan muslim. Terima kasih. Semoga bermanfaat. 

Jumat, 21 Oktober 2016

Ar Rahman

Tuk. Secangkir teh panas mendarat cantik di atas meja ruang tamu. Tepat di depan ayah duduk. Aku  baru saja selesai membaca surat ar- rahman dan tiba-tiba ayah memanggilku minta dibuatkan minum.
“Ini, Yah,” kataku.
Selesai menunaikan tugas, aku hendak kembali ke kamar. “Mbak Lala..” panggilan ayah menahanku, Badanku berbalik. Menatap ayah yang menepuk-nepuk kursi. Ya, aku paham bahwa itu kode untukku agar duduk di sampingnya.
Nampan plastik yang tadi kugunakan sebagai alas cangkir masih tergenggam. Genggamanku semakin erat ketika ayah menjelaskan duduk persoalan yang membuat adanya pembicaraan ayah dan anak perempuan ini.
            “Mbak Lala benar-benar sudah siap menikah?”
Dalam keluargaku, istilah “mbak” dan “Dik” adalah kata sapaan yang wajib disandingkan sebelum menyebut nama anak-anak ibu dan ayah. Termasuk aku yang merupakan anak tertua. Aku tertegun. Pertanyaan ayah cukup membuat jantungku berdegup-degup seperti mau maju lomba pidato.
            “Insyaallah. Ada apa, Yah?” Aku berbalik melempar kata tanya.
            “Teman ayah punya anak laki-laki yang siap menikah. Sarjana pertanian. Sudah kerja juga. Mbak Lala mau ya taaruf sama dia?”
Aku sedikit kaget, tapi juga girang. Akhirnya penantian panjang tentang pangeran berkuda hitam mulai muncul ke permukaan. Niatku sudah bulat. Hanya jalan ini yang bisa menjagaku dan melipatgandakan ibadahku. Ayah dan ibu sudah terlalu lama aku repotkan. Dua puluh tiga tahun lamanya mereka membesarkanku penuh cinta. Kini tiba saatnya ada laki-laki baik hati yang bisa menggantikan tanggung jawab mereka.
            “Emm boleh, Yah. Siapa tahu dia benar-benar jodoh Lala yang lama tersimpan hehe”
Kulihat senyum  Ayah mengembang. Aku membalas senyum itu disertai muka yang memerah malu-malu. Pikiranku melayang ke sosok yang ditawarkan ayah sebagai calon penggenap agamaku. Bismillah, jika berjodoh pasti dimudahkan. Bila bukan jodoh pasti segera diganti dengan yang lebih menjanjikan.
            Dua minggu selang pembicaraanku dengan ayah, momentum penting itu berlangsung. Karpet-karpet yang biasanya hanya berdiri di gudang akhirnya dikeluarkan untuk menyambut tamu istimewa. Kue-kue kering dan basah beraneka warna juga tersedia. Rumahku yang biasanya sepi mendadak mirip arisan keluarga.
            “Bu, kok banyak banget sih makanannya. Kan baru taaruf, belum lamaran.” Kataku protes. Tanganku sibuk menata kue di piring saji.
“Memuliakan tamu itu wajib hukumnya.” Ibu mengelak, tapi benar.
Melihat makanan sebanyak itu membuatku sedikit grogi. Pertanyaan-pertanyaan aneh mulai kubuat-buat sendiri. Berapa orang yang akan datang? Kan malu taaruf ditemani banyak orang. Seperti apa orang yang akan taaruf denganku? Jangan-jangan tua banget? Atau lebih muda dariku? Bagaimana agamanya? Sering ke masjid enggak ya? Lamunanku rontok ketika ibu menepuk pundakku dan memberitahu  rombongan sudah datang.
Kudengar dari dapur ayah menjawab salam dengan hangat dan mempersilakan duduk. Beberapa suara yang asing membuat radar telingaku lebih sensitif menguping topic  yang sedang mereka bicarakan. “Sana siap-siap,” kata ibu pelan sekali sambil merapikan jilbab yang sebenarnya tidak berantakan. Jantungku berdegup lagi. lebih kencang dibanding ketika ayah menawari proses taaruf ini.
Strategi sudah disusun sejak kemarin. Malam ini adalah eksekusinya dan aku sebagai aktor utama. Aku keluar dengan anggun. Bukan pencitraan. Sudah keseharianku memakai gamis dan jilbab panjang. Di tanganku ada nampan berisi empat gelas teh manis hangat yang harus aku taruh di depan tempat duduk calon suamiku, ayahnya, ibunya, dan adikknya. Keberaniannya membawa seluruh anggota keluarga dalam proses awal pernikaan ini sudah membuatku memberikan nilai plus padanya. Langkahku hampir tersandung karena gugup, atau lebih tepatnya sedikit malu.
Segelas teh manis pertama aku taruh di depan teman ayah. Kedua di depan anak kecil yang berumur sekitar  9 tahun. Ketiga di depan ibu-ibu berjilbab lebar dengan gamis berwarna coklat gelap. Terakhir aku meletakkan gelas tepat di hadapan seorang laki-laki yang berparas bersih. Ada sedikit senyum yang kucoba sembunyikan tapi tak berhasil. Tiga detik  lamanya tatapan laki-laki itu mengarah padaku, sebelum akhirnya berakhir karena sama-sama malu.
Ayah memulai pertemuan keluarga. Ah sudah pantaskah ini disebut pertemuan keluarga? Aku dan dia baru akan menuju tahap “berkeluarga.” Selesai sesi perkenalan secara umum, ayah mempersilahkan Mas Damar untuk duduk di kursi meja makan. Ya, calon suamiku itu bernama Damar, Damar Putra Wibawa. Ibu juga memberikan intruksi kepadaku untuk menyusul Mas Damar. Aku kikuk. Antara ingin cepat pergi atau tetap duduk di posisi. Kakiku rasanya lemas sekali. Maunya langsung duduk di kursi sana tanpa harus jalan meski hanya beberapa langkah saja menuju meja makan. Ibu yang paham anak perempuannya sedang salah tingkah segera memberi pertolongan bak pahlawan. Pahlawan dadakan itu berdalih ingin mengambil air putih ke dapur, padahal sebenarnya hendak mengantarku menuju meja makan.
“Mas Damar, rotinya jangan lupa dicoba ya.” Kata ibu basa-basi pada Mas Damar yang sudah duduk duluan. Aku merapatkan tubuh ke kursi meja makan. Ibu pergi setelah yakin anaknya dalam posisi PW (puwenak). “Aduh, ibu temani anakmu,” batinku mengiba.
Satu kursi kosong menjadi jarak diantara kami. Ruang tamu dan ruang makan bersebelahan tanpa sekat. Dari meja makan aku masih bisa melihat dua keluarga itu saling mengobrol seru sekali. Mas Damar berdehem dan memulai pembicaraan. Jantungku mulai kerja berlebihan lagi.
“Dik Kumala kenapa ingin menikah?”
“Panggil Lala saja Mas.”
“Oh, iya. Silakan Lala jawab pertanyaan saya tadi.”
Mas Damar juga sama-sama kikuk. Ku dengar proses taaruf ini juga proses pertamanya, sama juga denganku.
“Seperti semua muslim di dunia ini yang jelas Lala ingin menggenapi setengah agama, menjalankan sunnah rasul dan memenuhi kebutuhan hidup, Mas.”
Mas Damar sempat hampir tertawa mendengar poin ketiga alasanku menikah. Bukankah menikah juga kebutuhan hidup baik laki-laki maupun perempuan? Ada yang salah? Aku menambahkan lagi. “Tapi, sebenarnya alasan terkuat Lala adalah menjaga kesucian. Menjauhkan diri dari zina. Baik itu zina mata, hati maupun pikiran, Mas. Itu yang paling membuat Lala ingin segera memiliki pendamping hidup.” Mas Damar mengangguk. Dia tampak paham dengan apa yang baru saja aku jelaskan.
“Baik. Sekarang Dik Lala mau tanya apa?”
Deg. Jantungku sedikit sakit. Sakit karena berusaha mengumpulkan keberanian. Aliran darahku pasti berdesir-desir deras sekali di dalam sana.
“Mas Damar hafal surat Ar-Rahman?” tanyaku.
“Tentu.”
“Lala boleh mendengarnya, Mas?”
Mas Damar mengangguk dan memulai murajaahnya. Ayat demi ayat ia lantunkan. Benar, Mas Damar sudah hafal di luar kepala. Satu poin plus bertambah lagi. Aku menyunggingkan senyum entah berapa senti. Bahagia.
“Artinya?”
Muka Mas Damar kaget ketika aku memintanya menyuarakan arti dari ayat-ayat surat ar-rahman. Sejak tadi tangan Mas Damar diletakkan di atas meja, jadi dapat kulihat jari-jarinya saling mengait lebih erat. “Maaf, mas tidak hafal kalau artinya.” 
 Bagaimanakah nasib Lala selanjutnya? Tunggu di part kedua ya :) kalau di aploud haha..kalau enggak ya silakan lanjutkan dan tebak sendiri endingnya.

Minggu, 11 September 2016

WISUDA ATAU WIS UDAH?

                                                                      BAB I
                                                        WISUDA atau WIS UDAH

Ciee yang kemarin habis wisuda. Bagaimana? Bahagia banget kan ya. Sudah dandan cantik, di gandeng orang tua, dikelilingi sahabat-sahabat tercinta, plus di hujani hadiah dan doa yang tak terhitung besarannya. Sebagai seorang yang menyandang status mahasiswa, wisuda adalah perhelatan akbar yang paling ditunggu-tunggu bahkan sejak semester satu. Melihat kakak tingkat memakai toga ingin sekali rasanya mempercepat waktu agar kita dapat lekas ikut memakainya juga. Apalagi dengan tambahan selendang “cumlaude” yang banyak mahasiswa mengincarnya. Tidak semua mahasiswa mengimpikannya sih, sebagian mahasiswa ada juga kok yang menomorduakan selempang kebesaran itu. Tergantung cara pandang pribadi masing-masing. Cumlaude atau tidak selepas wisuda, akan menjadi sama bagi semua mantan mahasiswa. Sama-sama pencari kerja, pemburu beasiswa, dan pemburu jodoh juga tentunya. Pembeda dari masing-masing mantan mahasiswa hanyalah satu yaitu tekad dalam menggapai mimpi-mimpi mereka. 
Ciee yang jadi mantan, mantan mahasiswa.
Mantan mahasiswa yang bernilai baik pun jika tak memiliki tekad baja berlapis tembaga akan kalah dengan mantan mahasiswa yang nilainya pas-pasan tapi tahan banting di segala rintangan. Kehidupan pascawisuda bukan lagi kehidupan yang remeh-temeh. Deretan para mantan (red: mantan mahasiswa) satu persatu akan menyadari bahwa masa kuliah adalah masa yang paling indah. Mantan mahasiswa yang bisa berlanjut ke S2 mungkin bisa sedikit lega karena mengulang masa kuliah mereka kembali. Jangan dikira gampang, semakin tinggi tingkat pendidikan, tantangan dan kesulitannya pasti makin sulit loh ya. Itu sudah menjadi rahasia umum. Nah bagi para mantan yang pada akhirnya terjerumus pada lubang kumpulan pencari kerja, mereka harus bersaing demi satu pekerjaan. Mereka yang memiliki kualitas skill bagus  akan lolos, sedangkan yang kurang sudah dipastikan harus lebih giat lagi mencari pekerjaan lain. Tidak jarang banyak lulusan univerisitas yang mau tidak mau harus bekerja di bidang yang berbeda dari jurusannya kuliah dahulu. Salah satunya bisa karena kalah saing, meski faktornya tidak hanya itu. Ada sebagaian mantan yang memang ingin mencari pengalaman lain, ada juga yang memang sudah memiliki koneksi di suatu lembaga tertentu, dan sederet alasan yang membuat mereka rela bekerja di lintas bidang.
Terus, bagaimana nasib para mantan yang memilih alternatif ketiga? Alternatif ketiga dari pembahasan buku ini yaitu menikah. Adakah yang tidak ingin menikah? Pasti semua ingin menyempurnakan separu agama bukan? Yang kemarin masih bingung cari pendamping wisuda, pascawisuda sudah bisa tuh masukin proposal ke murabbi-nya. Menikah ketika masih menyandang status mahasiswa tentu adalah keputusan yang bisa dibilang sulit pakai banget. Baik pihak laki-lai maupun perempuan, dua-duanya akan memberikan dampak yang besar. Beberapa teman kuliah saya memang ada yang menikah ketika masih kuliah, dan saya bangga dengan mereka. Berarti mereka adalah pasangan yang berani mengambil langkah konkrit dan komitmen yang selangit. Tidak banyak orang loh yang mampu seperti mereka. Jika mau mengikuti jejak mereka, lihat dahulu apakah kita mampu atau tidak. Apakah kita sudah pantas? Bagaimana pendapat orang tua? Banyak deh yang harus dipertimbangkan. Apalagi jika dibarengi dengan menyusun skripsi. Iya sih ada yang nemenin, tapi bukankah lebih baik diselesaikan satu per satu dahulu. Tundukkan hawa nafsu dengan perbanyak puasa dan ibadah. Cara itu akan membuat kita semakin dekat dengan Sang Pencipta dan semakin terasa ujian hati yang harus di lalui demi mencapai kebahagiaan. Yakin deh pas menikah nanti bahagiamu akan dua kali lipat. Allah menimpakah ujian beserta kenikmatan. Menurunkan kesedihan beserta kegembiraan. Kemiskinan beserta kekayaan. Melahirkan kita dengan jodoh yang merupakan cerminan. Sah? Saaahhhh. 
Nikah juga pilihan hlo
Nah tiga tema dasar sudah saya bocorkan di pembahasan di atas. Teman-teman yang beberapa waktu lalu sudah puas merasakan moment wisuda saatnya mulai berpikir tentang tahap lanjutan pascawisuda. Apakah ingin merasakah wisuda yang selanjutnya atau memilih untuk mengakhiri sampai di sini saja alias “wis udah”? jawaban itu hanya bisa di jawab oleh teman-teman pembaca sendiri.
Buku ini hadir untuk membekali teman-teman dan memberikan gambaran kepada teman-teman mengenai perbedaan tiga tema besar yang diusung. Masing-masing tema besar akan ada sub tema lain yang akan membantu teman-teman untuk meyakinkan diri terhadap keputusan yang akan diambil. Ingat, kesempatan yang sama tidak pernah datang dua kali. Waktu yang tersisa usai wisuda bukan lagi waktu untuk bersantai-santai ria seperti ketika kita selesai ujian UAS ya. Pasca wisuda adalah moment penting yang akan menentukan masa depan teman-teman.  Apakah memilih bangkit, berhenti sejenak, atau malah berhenti total alias menjadi pengangguran. 
Lempar toga. Dulu iya juga gak?
Pilihan manapun yang akan teman-teman ambil dari ketiga pilihan diatas: kuliah, kerja, nikah, ketiganya adalah pilihan yang sama-sama baik. Lebih baik lagi ketika pilihan yang diambil dapat membahagiakan banyak orang. Misalkan memilih jadi penulis lepas karena tidak suka dengan rutinitas kerja ala karyawan. It is oke. Jika itu adalah pilihan yang menurut teman-teman baik dan sudah dipikirkan matang-matang, bukan masalah. Masa depan adalah kita yang tentukan, bukan orang tua, keluarga, apalagi tetangga. Jika masih ada mantan mahasiswa yang masih berada di zona nyamannya dan enggan untuk bangkit, ingatkan. Mungkin ia lupa dengan makna Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dulu pernah di semayamkan dalam diri. So, yuk tentukan pilihanmu wahai para mantan.

BELAJAR MEMBUAT MATRIKS BUKU

SPESIFIKASI
JUDUL BUKU          : Ya Allah Aku Galau
PENULIS                 : Haniah
KELOMPOK            : Mahasiswa dan fresh graduate
JENIS BUKU            : Buku bacaan dewasa muda
TARGET PEMBACA:

  • Pendidikan: mahasiswa tingkat akhir, fresh graduate 
  •  Wilayah: Kota-kota dengan universitas yang padat 
  • Usia: pembaca dewasa 20-27 tahun

FISIK BUKU

  •  Halaman naskah: 150 halaman 
  • Ukuran buku: 15 cm x 20 cm 
  • Sampul: soft cover berwarna 
  • Perkiraan halaman buku: 160 
  • Pembatas buku: 5 cm x 10 cm yang dapat ditulisi jalan hidup pilihan 
  • Perkiraan harga jual: 40-50 ribu



LATAR BELAKANG
KONSEP
    Pada jumlah pengangguran di Indonesia masih tergolong tinggi. Mirisnya salah satu bagian yang mengisi blok pengangguran beasal dari orang-orang yang notabene telah selesai menempuh pendidikan tinggi. Buku Ya Allah Aku Galau adalah sebuah karya yang ingin membantu para mahasiswa dan mantan mahasiswa agar segera menentukan pilihan hidupnya dan tak terlalu lama menyandang status pengangguran.
DESAIN
    Disertai kutipan-kutipan motivasi dari tokoh-tokoh yang mengguggah dari berbagai bidang seperti, Bob Sadino, Sapardi Djoko Damono, Anis Baswedan, SBY, dan lain sebagainya. Setiap bab memiliki kisah nyata yang dapat diteladani dan dijadikan pelajaran oleh pembaca.
TEMA
Menentukan pilihan hidup setelah lulus kuliah dan anti menganggur
MANFAAT BAGI PEMBACA (KELEBIHAN)

  • Memberi pencerahan dari tiap jalan yang dipilih usai wisuda 
  • Mendapat informasi beasiswa yang dapat digunakan sebagai biaya kuliah 
  • Mengetahui kadar kesiapan menikah 
  • Membantu mengetahui tujuan hidup ke depan

FAKTOR LAIN (KEKURANGAN)

  • Pembaca kurang berminat membaca karya penulis baru 
  • Harga terlalu tinggi untuk kalangan mahasiswa 
  • Pembaca sudah memiliki pilihan sendiri 

Sabtu, 03 September 2016

HAI KAMU LAKI-LAKI BERAGAMA BAIK

Cinta sejati seharusnya tak membuat kita ragu. Tak membuat kita gundah. Cinta sejati itu menguatkan, bukan malah melemahkan. Kalau belum jadi apa-apa saja sudah sering mengajak  maksiat. Bagaimana dia bisa membimbing menuju surga Allah dengan cara yang tepat?

Saya sedang banyak berpikir tentang cinta akhir-akhir ini. Sindrom pascawisuda benar-benar sudah menjangkiti terlalu dalam hingga ubun-ubun. Saban hari pikiran sibuk mencacah setiap pertanyaan yang masuk lewat telinga. Hei kapan nikah? Kapan nyusul? Kapan punya momongan? Teman-temanmu sudah banyak yang punya gandengan hloo. Hei kamu, iya kamu yang sering tanya kayak gitu. Nikah itu bukan perkara bim salabim. Minta langsung ada. Pengen langsung jatuh dari langit. Nikah tak seremeh itu gaes. Harap mengerti situasi. Harap sabar dengan segala kondisi. Harap menanti status single berubah jadi sang istri.

“Selamat atasmu karena kesabaranmu. Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-rad: 24)

Saya sendiri sebenarnya tak begitu ambil pusing (awalnya), tapi kalau ditanyain terus lama-lama pusing beneran. Jadi mikir juga. Jadi baper juga. Kapan ya saya nikahnya? Masih lama? Sama siapa ya kira-kira? Ahh pertanyaan itu sepertinya terlalu sederhana tapi jawabannya sulit kayak soal matematika sama fisika. Oke, cukup galau-galauannya. Saya sedang tak ingin membahas itu, melainkan lebih dalam dari itu haha. Di kesempatan ini, saya ingin berbagi tentang satu hal yang amat penting dan pasti sangat membantu buat para ukhti-ukhti yang sedang mempersiapkan diri. Cuma share saja, barangkali ada yang sedang galau dan belum nemu obatnya.
Are you a good man?
 Mengenai seorang laki-laki yang beragama baik. Hampir semua buku-buku ranah dewasa (red: buku pernikahan) pasti mencantumkan satu hadist yang isinya kurang lebih sebagai berikut:

“Apabila datang laki-laki untuk meminang yang kamu ridhoi agamanya dan akhlaknya maka kawinkanlah dia, dan bila tidak kamu lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Tuh, serem amat. Kalau ada laki-laki baik agama dan akhlaknya datang meminang harus diterima. Kalau tidak akan merusak muka bumi. Bumi yang segede ini bisa rusak gara-gara ada satu hati yang patah hati tuh. Keren ya orang jatuh cinta itu haha. Hadist di atas diperkuat dengan satu hadist fenomenal yang hampir tiap remaja dewasa pasti pernah baca. Habis baca ini pasti tambah yakin ya milih pasangan yang sholeh itu wajib hukumnya. Agama sangat menekankan dan menganjurkan setiap muda-mudi yang sudah terkena malarindu untuk menikah dengan muslim/ muslimah yang baik agamanya.

“Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta, karena kedudukan, karena kecantikan dan karena agamanya. Hendaklah pilih yang beragama agar berkah kedua tanganmu.” (HR. Muslim)

Hadist tentang keutamaan memberatkan pilihan pada sisi agama dan akhlak tentu tidak hanya berlaku untuk wanita saja. Di posisikan untuk laki-laki juga bisa. Sudah bukan gossip lagi kalau perempuan juga bisa memilih siapa laki-laki yang ia inginkan untuk jadi pasangan dunia akhirat bukan. Bahkah Bunda Khadijah menawarkan dirinya untuk dipersunting oleh Rasulullah. Kalau tidak sesuai ya tolak, kalau sesuai ya diam. Kan katanya tanda seorang perempuan setuju itu ada pada diamnya haha. Malu-malu tapi mau gitu deh.
Ya, kembali ke topik yang saya janjikan di awal. Tentang laki-laki yang harus  diprioritaskan untuk dijadikan pendamping hidup. Tak lain dan tak bukan adalah laki-laki yang baik agamanya. Kalau agamanya baik, akhlaknya pasti juga baik karena dua komponen itu saling bertautan. Kalau kata film yang saya pernah lihat di youtube berjudul “Bicara Cinta” (silakan download sendiri), agama itu ibarat angka satu. Ketampanan, kekayaan, kedudukan adalah angka nol. Jadi kalau agama ditempatkan paling depan dan segi lain ditempatkan setelahnya, maka kita akan mendapat kebaikan sebanyak 1000. Kalau agama ditempatkan di paling belakang, maka yang kita dapatkan 0001. Nah, lebih mudah dicerna bukan?
Bicara Cinta on Youtube
Agama yang baik pada seorang laki-laki memang gampang-gampang sulit untuk dilihat dengan mata telanjang. Tenang, Allah memberikan mata hati yang bisa melihat luar dalam kok. Jadi kalau seorang laki-laki agamanya baik pasti kelihatan dari inner handsome-nya. Begitupun untuk perempuan yang bisa memancarkan inner beauty yang khas. Mati hati bisa bekerja kalau hati bersih dari noda loh ya. Semakin banyak dosa yang sudah kita lakukan, maka mata hati pun lama kelamaan akan melemah fungsinya. Hati-hati nanti hatinya mati.
Saya pernah mengajukan pertanyaan dalam sebuah diskusi ringan. Diskusi itu beranggotakan ukhti-ukhti yang saya pandang memiliki kualitas agama yang baik bahkan menurut saya sudah level tinggi. Saya bertanya mengenai “seperti apa laki-laki yang agamanya baik?” karena menurut buku-buku yang pernah saya lahap sebelumnya, belum pernah dijelaskan tentang kriteria riil terkait hal tersebut. Kebanyakan ya cuma mengatakan “pilihlah yang baik agamanya” padahal saya butuh yang lebih konkrit. Apa yang rajin baca quran atau yang sudah bisa qurban pakai uang sendiri atau yang cukup sholat lima waktunya baik gitu. Intinya saya sedang bertanya-tanya tentang standar laki-laki yang bisa dikatakan beragama baik dengan contoh yang lebih bisa diterima logika.
Salah satu teman saya akhirnya berkomentar. Ia menjelaskan kriteria laki-laki beragama baik versi dia. Meski dari versi dia sendiri, saya sangat setuju. Bahkan kagum dan langsung mengalami AHA moment, “ini dia jawaban yang aku butuhkan.” Nah berikut ini intisari dari jawaban teman-teman saya dalam diskusi ringan untuk galau yang positif haha.
Jadi laki-laki yang dikatakan baik agamanya itu adalah laki-laki yang bisa mengamalkan perintah agama dengan maksimal dan sebaik-baiknya. Tidak hanya dilihat dari hubungannya dengan Allah, melainkan juga hubungannya dengan sesama manusia seperti orang tua, saudara, tetangga, dan teman. Hubungan dengan Allah itu disebut hubungan secara vertical, sedangkan hubungan dengan sesama umat manusia atau mahkluk hidup lain disebut hubungan horizontal. Dua-duanya harus diperhatikan. Contoh dari hubungan verikal atau hubungan dengan Allah itu ya laki-laki yang tepat waktu melaksanakan sholat (lebih baik lagi yang sudah terbiasa mengamalkan sholat sunah), kemudian berjamaah (lebih-lebih di masjid), dan kegiatan-kegiatan dakwah fii sabilillah apa saja yang ia kerjakan sebagai suatu bentuk amalan dunia akhirat.
Hubungan horizontal bisa dilihat dari baktinya kepada orang tua, suka membangkang atau tidak, kemudian kasih sayangnya terhadap kakak/ adik/ saudara lain hingga teman-teman di lingkungannya. Bukan perkara laki-laki itu dihormati atau tidak, melainkan kebermanfaatan laki-laki tersebut untuk sesamanya. Orang yang memiliki manfaat pasti menebar energi positif yang banyak membuatnya dekat dan hangat dengan orang-orang meskipun tidak memiliki posisi strategis dalam lingkungan bergaulnya. 
Jodoh Cerminan Dirimu
 Sebenarnya penjelasan di atas juga dapat dijadikan patokan atau minimal informasi mengenai perempuan yang beragama baik. Kata lainnya tidak hanya berlaku bagi kaum adam saja. Bagaimana pun kriteria tadi tidak bisa dijadikan patokan wajib bagi semua individu. Semua tergantung kualitas masing-masing karena jodoh adalah cerminan diri kita sendiri. Kalau mau jodoh yang baik ya jangan malas memperbaiki diri, meningkatkan kualitas pribadi. Kalau ternyata kita merasa beragama baik tapi mendapat jodoh yang kualitas agamanya kurang, mungkin hati kitalah yang dipenuhi sifat takabur. Harus segera dihilangkan tuh, bahaya. Perbanyak dzikir karena mengingat Allah hati jadi tenang. Sering mengingat Allah maka hati  akan bersih.
Ya sekian corat-coret di kesempatan kali ini. Semoga ada manfaatnya ya. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih pada teman-teman yang telah menyempatkan waktu untuk berbagi. Sejatinya galau itu pasti datang, tinggal kita saja yang harus tahu bagaimana mengkondisikan.  Galau itu bisa berdampak negatif, tapi juga bisa bermanfaat kalau kita pintar mengelolanya. Kalau saya dan teman-teman saya tidak galau, mungkin tidak akan ada pula diskusi tentang hal-hal seperti ini. Meski banyak orang tabu dan malu memperbincangkan, saya dan teman-teman saya tetap berpikir bahwa ilmu apapun itu penting. Apalagi ilmu-ilmu tentang masa depan. Banyak yang ngomporin nikah muda, tapi masih sedikit yang mau belajar persiapannya sejak muda. Kebanyakan main berani saja kan. Padahal pernikahan, jodoh, rumah tangga itu keputusan yang kompleks pakai banget. Dan menyebarkan ilmu itu wajib hukumnya loh bagi setiap muslim dan muslimah. Yang menyembunyikan ilmu saja disiksa nanti di neraka sana.
“Man su’ila ‘an ‘ilmin fakatamahu uljima yaumal qiyaamati bilijaamin minnaarin”
Artinya:
Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dicambuk dengan cambuk dari neraka.

Cinta itu qadho dari yang Kuasa. Bertemu dengan yang membuatmu jatuh cinta itu adalah mukhoyyar, pilihan kita sendiri. Yang akan kita pertanggungjawabkan nanti saat bertemu Illahi.
(Bicara Cinta The Short Movie)


DAFTAR ISI
Tentukan Masa Depanmu
 PILIHAN I YUK KULIAH
Mengapa harus kuliah lagi?
Tepat Mengambil Jurusan Kuliah Lanjutan
Cerdas mencari Pembiayaan Kuliah
Tips dan Trik Berburu Beasiswa
Memilih Beasiswa yang Tepat

PILIHAN II YUK KERJA
Menguatkan Alasan Bekerja
Fresh Graduate in Action
Menyambut Pekerjaan Idaman
Tahapan Melamar Kerja
Tips dan Trik Diterima Seleksi Kerja
Gerakan Menabung Sejak Dini
Sedekah dan Zakat Pembuka Rezeki

PILIHAN III YUK NIKAH
Menentukan Visi dan Misi Pernikahan
Mengukur Kesiapan Menikah
Pantaskan Diri Ya Akhi
Pantaskan Diri Ya Ukhti
Mengenal Gerbang Menuju Pernikahan Islami
Pedoman Taaruf
Kiat Menentukan Calon dengan Tepat

Selasa, 30 Agustus 2016

PASCASARJANA

Sebagai manusia kita hanya mampu berencana, sedang Allah tetap hakim utama yang memutuskan setiap perkara dalam hidup.

Pascasarjana
       Siang itu seperti biasa aku mengajar dari kelas satu ke kelas yang lainnya. Tepat di hari jumat, panggilan sholat jumat pun tiba. Semua murid, guru, dan karyawan berkumpul menunaikannya dengan khidmat. Usai menjalankan sholat jumat berjamaah aku turun ke ruang guru untuk mengambil berkas biodata karyawan yang baru kemarin diberikan petugas TU sekolah. Membaca judul berkas itu rasanya senang sekali. Aku yang sebulan lalu masih dipanggil mahasiswa, kini sudah benar-benar menjadi guru yang harus bisa memberikan teladan pada siswa.
            Sepeti biasa, Jumat siang jam terakhir setelah shalat jumat adalah waktu longgar untukku. Jadwal mengajarku sudah habis. Berkas biodata karyawan yang harusnya disertai ijazah ternyata lupa aku bawa. Niat untuk pulang pun muncul. Mengingat pegawai TU memintaku untuk mengumpulkan berkas hari itu juga.
            Jarak rumah dan sekolah yang sangat dekat membuatku cepat sampai. Cukup dua menit sepeda motor sudah terparkir cantik di halaman rumah.
“Assalammualaikum,” kataku mengucap salam.
Ibu yang berada di ruang tamu menjawab salam.
“Opo kroso tak tunggu-tunggu to?” kata ibu waktu itu. Aku hanya tersenyum merasa digombali.
“Berkasku ketinggalan, Bu,” jawabku sambil mengobrak-abrik berkas wisuda mencari selembar fotokopian ijazah yang tersimpan di dalam satu map.
Dari luar kamar ibu bersuara lagi, “Mbok ya, dijupuk wae S2-ne. Mesakne bapak ndak gelo.” Masih sangat terasa betapa suara ibu memohon padaku. Sepertinya baru kali itu ibu meminta sesuatu dariku dengan sangat. Aku trenyuh beberapa waktu, tapi keputusanku bulat. Tidak. Aku memilih bekerja karena dengan begitu aku benar-benar bisa mengurangi beban keluarga.
“Emoh, Bu. Hani pengen kerja. Ben bisa beli apa-apa dewe. Eman-eman tujuh juta, Bu. Tahun depan Hani daftar malih nek bapak ibu pengen Hani S2.”
“Iyo, tapi kae hlo mesakne bapakmu. Wis dijilihne duit. Mosok ra sido. Kan ibu ora nglarang kerja to.”
Berulang kali aku mengutarakan penolakan. Dari alasan sudah terlanjur kerja, tidak disetujui nyambi S2, SPP yang mahal, beasiswa yang sulit, hingga waktu menikah yang bisa-bisa makin lama. Semua meluncur begitu saja. Ibu masih kokoh.
Kemudian muncullah sosok yang paling gagah di rumah. Bapak pulang dari salah satu rumah kerabat untuk meminta masukan. Juga menemui salah satu sahabatnya yang seorang kepala sekolah. Bahkan dari situ aku jadi tahu bahwa niat bapak sangat besar untuk memberikan pendidikan terbaik buatku. Salah satu sahabatnya itu berjanji akan memberikan uang pinjaman demi kelancaran studi S2-ku. Aku bersyukur, tapi juga kahawatir kalau-kalau di masa depan malah menimbulkan masalah baru.
            Luluh. Satu kata itu yang bisa aku gambarkan di jumat siang kala itu. “Nggih sampun, terserah bapak ibu pripun. Hani nyarah” ujarku. Kepala rasanya pusing sekali. Antara pilihanku dan pilihan kedua orang tuaku. Keduanya sama-sama berat. Ikhlas gak ikhlas harus ikhlas. Kata-kata bahwa ridho Allah berada di ridho orang tua selalu berhasil membuatku mengiyakan setiap keinginan bapak dan ibu.
Aku bergegas kembali ke sekolah untuk mengambil tas dan dompet yang tadi tidak aku bawa pulang. Hari itu seharusnya aku pulang sore karena jadwal jaga menunggu anak-anak semua pulang. Semua kutinggal. Aku meminta izin untuk pulang duluan. Salah satu guru yang melihat ketergesa-gesaanku curiga. “Bu hani kok kesusu. Mau kemana to?”
“Saya mau pergi ke tempat yang penting Bu. Izin sebentar ya Bu.”
Dan laju motorku seperti orang kesetanan. Bank tempat membayar registrasi S2 tutup pukul 13.00 WIB. Aku masih harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk sampai di bank terdekat. Aku pasrah. Semua aku serahkan pada Allah. Bagaimana pun keputusannya yang penting sudah kuusahakan menunaikan keinginan orang tua.
            Pukul 14.40 WIB. Aku sampai di bank dengan napas ngos-ngosan karena berlari dari tempat parkir. Ternyata antriannya cukup panjang, sekitar depalan orang. Mataku tak lepas dari jam dinding di ruang antrian. Waktu terus berjalan. Hingga jam menunjukkan pukul 14. 50 WIB tibalah antrianku di depan teller.
“Mas, mau bayar S2 UNS” kusudorkan selembar kertas transaksi yang sudah kutulis waktu awal tadi.
“Nomor pesertanya berapa mbak?” tanya mas teller.
“Nomor peserta mas? Emang pakai ya? Saya lupa bawa,” jawabku dengan wajah panik dan jantung yang memompa lebih cepat.
“Wah maaf mbak, ndak bisa. Satu-satunya cara log in pembayaran ya cuma pakai itu.” Mas teller mengembalikan kertas transaksi padaku.
“Lha gimana mas? Masak ndak bisa? Ini sudah hari terakhir bayar.” Ku akui suaraku mulai berat. Mengingat  permohonan ibu sebelum berangkat tadi.
“Itu masih ada waktu sedikit, telpon bapak atau ibu saja.” kata mas teller memberi solusi. Entah saking panik atau lelahnya, otak seakan-akan tak bisa bekerja. Aku mundur ke belakang dan berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
Ku keluarkan handphone yang baterainya sudah merah. Ku cari kontak bapak secepat yang aku bisa. Ku coba menelepon, tapi suara dari seberang mengabarkan bahwa pulsa tidak mencukupi. Aku lupa. Pulsa adalah hal yang paling jarang aku beli. Lebih sering menggunakan internet untuk berkomunikasi, sedang orang tua hanya bisa dihubungi via SMS ataupun telepon. Aku berlari melihat kanan-kiri bank, berharap ada konter atau setidaknya tukang jual pulsa di sekitar sana. Nihil. Kepanikan bertambah. Jam masih terus bergulir. Ku hampiri tukang parkir yang sedang duduk di depan toko sebelah kiri bank.
“Pak, maaf. Sebelah sini yang jual pulsa di mana ya pak?” kataku dengan napas memburu.
Tukang parkir lantas menunjuk arah di mana konter berada. Aku berlari lagi. Tidak beduli dengan jalan yang rusak karena penggalian pipa PDAM atau apalah itu.
‘Mbak, beli pulsa. 10 ribu. Cepat ya mbak, penting!” pintaku pada penjaga konter
Mbak-mbak penjaga konter langsung mengirimkan pulsa dengan HP kecil di tangannya. Uang dua belas ribu kusodorkan. “Cepat mbak. Waktunya mepet. Penting banget ini.” aku cerewet.
“Sudah kok mbak, ini SMS sukses.”
Mbak-mbak konter menunjukkan SMS pengiriman pulsa ke nomor handponeku yang memang telah terkirim.
“Kok belum masuk mbak? Lama banget? Udah jam tiga ini.” kaki dan tanganku tak tenang. Usrek. Berulang kali aku mengecek handphone tapi pulsa sepuluh ribu itu tak kunjung sampai juga. Jengkel. Hingga akhirnya baterai makin sekarat. “Mbak, HP saya lobet ini. lama sekali.” Mbak-mbak yang mungkin sama-sama jengkel kemudian mengulurkan kabel putih, “Charger pakai ini dulu mbak.”
Ku raih kemudian aku colokkan. Handphone benar-benar tak bisa diajak kompromi waktu itu.
“Mbak pinjam HP mbak aja, berapa pun pulsanya saya bayar,” kataku sok punya uang padahal cuma bawa uang 20 ribu.
Mbak-mbak konter akhirnya mengalah dan meminjamkan HP-nya. Waktu itu jam sudah menujukkan pukul 15.02 WIB. Waktu benar-benar sudah habis. Aku menelepon dengan sisa-sisa harapan. Berharap ada pertolongan dari Allah lewat siapapun dan dari manapun. Meski dalam hati rasa putus asa sudah merajai, apa daya ketika telepon sudah tersambung dengan orang rumah. Tidak mungkin aku tutup, mengabarkan bahwa waktu pembayaran sudah habis dan aku gagal. Sama saja aku melukai mereka setelah harapan besar mereka berkobar-kobar.
Kuminta ibu yang sedang di seberang telepon untuk mencari kertas ujian itu. Seingatku nomor peserta ada di kartu peserta ujian warna biru. Tak ada. Ibu tak menemukannya. Harapanku mulai pupus berlahan.
“Ono ne pink, kartu peserta ujian,” kata ibu yang sama-sama panik.
Aku baru menyadari ditambah lupa-lupa ingat dengan kertas ujian S2. Entah biru atau pink sebenarnya. “Ya ya ya. Pokoke kui, Bu!” kuminta ibu membacakan nomor peserta sekaligus nomor ujian yang tertera di kartu. Entah benar atau salah yang penting sudah ada nomornya, pikirku waktu itu.
            Selesai menelepon, ku bayar pulsa dan kukembalikan HP pinjamannya kemudian berlari lagi menuju bank. Napas ngos-ngosan lagi. Mataku terbelalak ketika pintu besi bank sudah tertutup setengah. Tulisan ‘TUTUP” juga sudah terpampang jelas sekali. Kepanikanku meningkat sepuluh kali lipat. Kupercepat menghampiri pintu kaca yang masih tersisa. Melompat-lompat berusaha mencari tahu siapa yang sedang berada di dalam,” Pak..pak..pak..” teriakku cukup keras. Entah aku memanggil bapaknya siapa saat itu. Harapanku cuma satu, ada seseorang yang baik hatinya dan mau memberikan kesempatan terakhir.
Seorang satpam yang badannya tak terlalu tinggi muncul. “Kenapa mbak? Sudah tutup ini.” muka pak satpam itu garang sekali. Perpaduan antara marah dan capek sangat jelas terlihat.
“Pak, saya mau bayar S2 UNS, Pak,” kataku memohon.
“Ini sudah tutup mbak, ndak bisa. Besok pagi saja. Pagi-pagi sekali ke sini lagi.”
“Ndak bisa Pak, ini hari terakhir. Kalau hari ini saya tidak bayar besok sudah tidak bisa lagi Pak.” Suaraku serak hampir menangis. Tak peduli lagi dengan umur. Rasa malu itu seperti hilang entah kemana.
Mukaku yang melas plus kasihan membuat pak satpam beranjak masuk ke dalam. Tak sampai satu menit satpam keluar lagi, “Tadi sudah ngantri ya? Ini harusnya ndak bisa ya. Sudah tutup. Besuk jangan kayak gini lagi!” Pak satpam sedikit membentak dengan muka marahnya. Aku tak peduli. Menerobos masuk menuju teller yang tadi sudah melayaniku. “Mbak yang mau bayar S2 tadi kan?” tanya mas teller. Aku mengangguk, tak berani menjawab karena takut katahuan hampir menagis.
Kulirik jam sudah di angka 15.08 WIB. Sekitar lima menit transaksi selesai. Aku berlari lagi menuju pintu keluar hingga hampir terpeleset di lantai yang licin. Tak lupa kuteriakkan ucapan terima kasih pada satpam yang mukanya garang tapi hatinya bagai hello kitty tadi. Di tempat parkir, susah payah ku tarik motor yang sedikit terperosok. Ujian keduaku hari itu adalah mengumpulkan berkas yang sama sekali belum aku input datanya dan belum pula aku print out  hasilnya.
 Motorku kembali ngebut di jalanan Karanganyar-Solo. Aku yang sempat kerja partime di salah satu birokrasi kampus paham betul bahwa jam kerja kampus di hari jumat selesai pukul 15.30 WIB. Ku tambah kecepatan agar segera sampai di gedung pascasarjana. Sampai di bagian pengumpulan berkas, aku kembali memohon pada petugas yang masih cukup muda,” Mas, saya mau ngumpulin berkas. Tapi saya belum print mas. Tungguin bisa mas? Sebentar kok, Cuma lima menit,” kataku. Mas-mas TU itu mengangguk. Aku bergegas menuju tempat FC di belakang kampus.
            Kuulangi memasukkan nomor peserta dan kode akses hingga beberapa kali tapi gagal. Di percobaan ke lima aku baru berhasil log in. Mengisi data-data dengan kecepatan kilat. Sampailah di kolom yang menanyakan tahun kelahiran orang tua. Blenk. Aku lupa. Berkas apapun tak ada yang aku bawa. Telepon sudah tak lagi bisa. Aku harus gimana? The power of kepepet bertindak. Kubuka aplikasi kalkulator, ku kira-kira umur ibu dan bapak kemudian kuhitung selisihnya dengan tahun ini. Dan tadaaa..muncullah sebuah tahun yang sebenarnya aku tak yakin itu tahun lahir bapak dan ibu. Tak apalah, yang penting bisa registrasi dulu haha..
Selesai mencetak foto, langsung ku bawa semua berkas ke ruang TU pascasarjana. Ternyata benar, petugas-petugas masih duduk di kursi kerjanya. Betapa bersyukurnya aku dengan hari yang melelahkan itu, Jumat yang penuh barokah. Kita tak pernah tahu dengan rencana Allah. Beberapa jam lalu aku masih keukeuh tak ingin mengambil S2, tapi Allah berkata lain. Beberapa jam kemudian aku sah sebagai mahasiswa pascasarjana. Selesai mengurus berkas badanku lemas di atas motor. Masih tidak percaya dengan apa yang aku lakukan dua jam terakhir. Menginat-ingat  polahku yang lari-larian seperti anak TK.

Sejak saat itu aku percaya bahwa ketika berlari, aku tak hanya membawa diri sendiri, tapi membawa mimpi bapak dan ibu yang harus bisa terlunasi.



Sampai jumpa di wisuda Hani yang kedua Pak, Bu. Maret 2018.Amiin