Sabtu, 03 September 2016

HAI KAMU LAKI-LAKI BERAGAMA BAIK

Cinta sejati seharusnya tak membuat kita ragu. Tak membuat kita gundah. Cinta sejati itu menguatkan, bukan malah melemahkan. Kalau belum jadi apa-apa saja sudah sering mengajak  maksiat. Bagaimana dia bisa membimbing menuju surga Allah dengan cara yang tepat?

Saya sedang banyak berpikir tentang cinta akhir-akhir ini. Sindrom pascawisuda benar-benar sudah menjangkiti terlalu dalam hingga ubun-ubun. Saban hari pikiran sibuk mencacah setiap pertanyaan yang masuk lewat telinga. Hei kapan nikah? Kapan nyusul? Kapan punya momongan? Teman-temanmu sudah banyak yang punya gandengan hloo. Hei kamu, iya kamu yang sering tanya kayak gitu. Nikah itu bukan perkara bim salabim. Minta langsung ada. Pengen langsung jatuh dari langit. Nikah tak seremeh itu gaes. Harap mengerti situasi. Harap sabar dengan segala kondisi. Harap menanti status single berubah jadi sang istri.

“Selamat atasmu karena kesabaranmu. Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-rad: 24)

Saya sendiri sebenarnya tak begitu ambil pusing (awalnya), tapi kalau ditanyain terus lama-lama pusing beneran. Jadi mikir juga. Jadi baper juga. Kapan ya saya nikahnya? Masih lama? Sama siapa ya kira-kira? Ahh pertanyaan itu sepertinya terlalu sederhana tapi jawabannya sulit kayak soal matematika sama fisika. Oke, cukup galau-galauannya. Saya sedang tak ingin membahas itu, melainkan lebih dalam dari itu haha. Di kesempatan ini, saya ingin berbagi tentang satu hal yang amat penting dan pasti sangat membantu buat para ukhti-ukhti yang sedang mempersiapkan diri. Cuma share saja, barangkali ada yang sedang galau dan belum nemu obatnya.
Are you a good man?
 Mengenai seorang laki-laki yang beragama baik. Hampir semua buku-buku ranah dewasa (red: buku pernikahan) pasti mencantumkan satu hadist yang isinya kurang lebih sebagai berikut:

“Apabila datang laki-laki untuk meminang yang kamu ridhoi agamanya dan akhlaknya maka kawinkanlah dia, dan bila tidak kamu lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Tuh, serem amat. Kalau ada laki-laki baik agama dan akhlaknya datang meminang harus diterima. Kalau tidak akan merusak muka bumi. Bumi yang segede ini bisa rusak gara-gara ada satu hati yang patah hati tuh. Keren ya orang jatuh cinta itu haha. Hadist di atas diperkuat dengan satu hadist fenomenal yang hampir tiap remaja dewasa pasti pernah baca. Habis baca ini pasti tambah yakin ya milih pasangan yang sholeh itu wajib hukumnya. Agama sangat menekankan dan menganjurkan setiap muda-mudi yang sudah terkena malarindu untuk menikah dengan muslim/ muslimah yang baik agamanya.

“Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta, karena kedudukan, karena kecantikan dan karena agamanya. Hendaklah pilih yang beragama agar berkah kedua tanganmu.” (HR. Muslim)

Hadist tentang keutamaan memberatkan pilihan pada sisi agama dan akhlak tentu tidak hanya berlaku untuk wanita saja. Di posisikan untuk laki-laki juga bisa. Sudah bukan gossip lagi kalau perempuan juga bisa memilih siapa laki-laki yang ia inginkan untuk jadi pasangan dunia akhirat bukan. Bahkah Bunda Khadijah menawarkan dirinya untuk dipersunting oleh Rasulullah. Kalau tidak sesuai ya tolak, kalau sesuai ya diam. Kan katanya tanda seorang perempuan setuju itu ada pada diamnya haha. Malu-malu tapi mau gitu deh.
Ya, kembali ke topik yang saya janjikan di awal. Tentang laki-laki yang harus  diprioritaskan untuk dijadikan pendamping hidup. Tak lain dan tak bukan adalah laki-laki yang baik agamanya. Kalau agamanya baik, akhlaknya pasti juga baik karena dua komponen itu saling bertautan. Kalau kata film yang saya pernah lihat di youtube berjudul “Bicara Cinta” (silakan download sendiri), agama itu ibarat angka satu. Ketampanan, kekayaan, kedudukan adalah angka nol. Jadi kalau agama ditempatkan paling depan dan segi lain ditempatkan setelahnya, maka kita akan mendapat kebaikan sebanyak 1000. Kalau agama ditempatkan di paling belakang, maka yang kita dapatkan 0001. Nah, lebih mudah dicerna bukan?
Bicara Cinta on Youtube
Agama yang baik pada seorang laki-laki memang gampang-gampang sulit untuk dilihat dengan mata telanjang. Tenang, Allah memberikan mata hati yang bisa melihat luar dalam kok. Jadi kalau seorang laki-laki agamanya baik pasti kelihatan dari inner handsome-nya. Begitupun untuk perempuan yang bisa memancarkan inner beauty yang khas. Mati hati bisa bekerja kalau hati bersih dari noda loh ya. Semakin banyak dosa yang sudah kita lakukan, maka mata hati pun lama kelamaan akan melemah fungsinya. Hati-hati nanti hatinya mati.
Saya pernah mengajukan pertanyaan dalam sebuah diskusi ringan. Diskusi itu beranggotakan ukhti-ukhti yang saya pandang memiliki kualitas agama yang baik bahkan menurut saya sudah level tinggi. Saya bertanya mengenai “seperti apa laki-laki yang agamanya baik?” karena menurut buku-buku yang pernah saya lahap sebelumnya, belum pernah dijelaskan tentang kriteria riil terkait hal tersebut. Kebanyakan ya cuma mengatakan “pilihlah yang baik agamanya” padahal saya butuh yang lebih konkrit. Apa yang rajin baca quran atau yang sudah bisa qurban pakai uang sendiri atau yang cukup sholat lima waktunya baik gitu. Intinya saya sedang bertanya-tanya tentang standar laki-laki yang bisa dikatakan beragama baik dengan contoh yang lebih bisa diterima logika.
Salah satu teman saya akhirnya berkomentar. Ia menjelaskan kriteria laki-laki beragama baik versi dia. Meski dari versi dia sendiri, saya sangat setuju. Bahkan kagum dan langsung mengalami AHA moment, “ini dia jawaban yang aku butuhkan.” Nah berikut ini intisari dari jawaban teman-teman saya dalam diskusi ringan untuk galau yang positif haha.
Jadi laki-laki yang dikatakan baik agamanya itu adalah laki-laki yang bisa mengamalkan perintah agama dengan maksimal dan sebaik-baiknya. Tidak hanya dilihat dari hubungannya dengan Allah, melainkan juga hubungannya dengan sesama manusia seperti orang tua, saudara, tetangga, dan teman. Hubungan dengan Allah itu disebut hubungan secara vertical, sedangkan hubungan dengan sesama umat manusia atau mahkluk hidup lain disebut hubungan horizontal. Dua-duanya harus diperhatikan. Contoh dari hubungan verikal atau hubungan dengan Allah itu ya laki-laki yang tepat waktu melaksanakan sholat (lebih baik lagi yang sudah terbiasa mengamalkan sholat sunah), kemudian berjamaah (lebih-lebih di masjid), dan kegiatan-kegiatan dakwah fii sabilillah apa saja yang ia kerjakan sebagai suatu bentuk amalan dunia akhirat.
Hubungan horizontal bisa dilihat dari baktinya kepada orang tua, suka membangkang atau tidak, kemudian kasih sayangnya terhadap kakak/ adik/ saudara lain hingga teman-teman di lingkungannya. Bukan perkara laki-laki itu dihormati atau tidak, melainkan kebermanfaatan laki-laki tersebut untuk sesamanya. Orang yang memiliki manfaat pasti menebar energi positif yang banyak membuatnya dekat dan hangat dengan orang-orang meskipun tidak memiliki posisi strategis dalam lingkungan bergaulnya. 
Jodoh Cerminan Dirimu
 Sebenarnya penjelasan di atas juga dapat dijadikan patokan atau minimal informasi mengenai perempuan yang beragama baik. Kata lainnya tidak hanya berlaku bagi kaum adam saja. Bagaimana pun kriteria tadi tidak bisa dijadikan patokan wajib bagi semua individu. Semua tergantung kualitas masing-masing karena jodoh adalah cerminan diri kita sendiri. Kalau mau jodoh yang baik ya jangan malas memperbaiki diri, meningkatkan kualitas pribadi. Kalau ternyata kita merasa beragama baik tapi mendapat jodoh yang kualitas agamanya kurang, mungkin hati kitalah yang dipenuhi sifat takabur. Harus segera dihilangkan tuh, bahaya. Perbanyak dzikir karena mengingat Allah hati jadi tenang. Sering mengingat Allah maka hati  akan bersih.
Ya sekian corat-coret di kesempatan kali ini. Semoga ada manfaatnya ya. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih pada teman-teman yang telah menyempatkan waktu untuk berbagi. Sejatinya galau itu pasti datang, tinggal kita saja yang harus tahu bagaimana mengkondisikan.  Galau itu bisa berdampak negatif, tapi juga bisa bermanfaat kalau kita pintar mengelolanya. Kalau saya dan teman-teman saya tidak galau, mungkin tidak akan ada pula diskusi tentang hal-hal seperti ini. Meski banyak orang tabu dan malu memperbincangkan, saya dan teman-teman saya tetap berpikir bahwa ilmu apapun itu penting. Apalagi ilmu-ilmu tentang masa depan. Banyak yang ngomporin nikah muda, tapi masih sedikit yang mau belajar persiapannya sejak muda. Kebanyakan main berani saja kan. Padahal pernikahan, jodoh, rumah tangga itu keputusan yang kompleks pakai banget. Dan menyebarkan ilmu itu wajib hukumnya loh bagi setiap muslim dan muslimah. Yang menyembunyikan ilmu saja disiksa nanti di neraka sana.
“Man su’ila ‘an ‘ilmin fakatamahu uljima yaumal qiyaamati bilijaamin minnaarin”
Artinya:
Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dicambuk dengan cambuk dari neraka.

Cinta itu qadho dari yang Kuasa. Bertemu dengan yang membuatmu jatuh cinta itu adalah mukhoyyar, pilihan kita sendiri. Yang akan kita pertanggungjawabkan nanti saat bertemu Illahi.
(Bicara Cinta The Short Movie)


0 komentar:

Posting Komentar