Cinta sejati seharusnya tak membuat kita ragu. Tak
membuat kita gundah. Cinta sejati itu menguatkan, bukan malah melemahkan. Kalau
belum jadi apa-apa saja sudah sering mengajak maksiat. Bagaimana dia bisa membimbing menuju surga
Allah dengan cara yang tepat?
Saya
sedang banyak berpikir tentang cinta akhir-akhir ini. Sindrom pascawisuda
benar-benar sudah menjangkiti terlalu dalam hingga ubun-ubun. Saban hari
pikiran sibuk mencacah setiap pertanyaan yang masuk lewat telinga. Hei kapan
nikah? Kapan nyusul? Kapan punya momongan? Teman-temanmu sudah banyak yang punya
gandengan hloo. Hei kamu, iya kamu yang sering tanya kayak gitu. Nikah itu
bukan perkara bim salabim. Minta langsung ada. Pengen langsung jatuh dari
langit. Nikah tak seremeh itu gaes. Harap mengerti situasi. Harap sabar dengan
segala kondisi. Harap menanti status single berubah jadi sang istri.
“Selamat atasmu karena kesabaranmu. Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-rad: 24)
Saya
sendiri sebenarnya tak begitu ambil pusing (awalnya), tapi kalau ditanyain
terus lama-lama pusing beneran. Jadi mikir juga. Jadi baper juga. Kapan ya saya
nikahnya? Masih lama? Sama siapa ya kira-kira? Ahh pertanyaan itu sepertinya
terlalu sederhana tapi jawabannya sulit kayak soal matematika sama fisika. Oke,
cukup galau-galauannya. Saya sedang tak ingin membahas itu, melainkan lebih
dalam dari itu haha. Di kesempatan ini, saya ingin berbagi tentang satu hal
yang amat penting dan pasti sangat membantu buat para ukhti-ukhti yang sedang
mempersiapkan diri. Cuma share saja, barangkali ada yang sedang galau dan belum
nemu obatnya.
![]() |
| Are you a good man? |
Mengenai
seorang laki-laki yang beragama baik. Hampir semua buku-buku ranah dewasa (red:
buku pernikahan) pasti mencantumkan satu hadist yang isinya kurang lebih
sebagai berikut:
“Apabila datang laki-laki untuk meminang yang kamu ridhoi agamanya dan akhlaknya maka kawinkanlah dia, dan bila tidak kamu lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Tuh,
serem amat. Kalau ada laki-laki baik agama dan akhlaknya datang meminang harus
diterima. Kalau tidak akan merusak muka bumi. Bumi yang segede ini bisa rusak
gara-gara ada satu hati yang patah hati tuh. Keren ya orang jatuh cinta itu
haha. Hadist di atas diperkuat dengan satu hadist fenomenal yang hampir tiap
remaja dewasa pasti pernah baca. Habis baca ini pasti tambah yakin ya milih
pasangan yang sholeh itu wajib hukumnya. Agama sangat menekankan dan
menganjurkan setiap muda-mudi yang sudah terkena malarindu untuk menikah dengan
muslim/ muslimah yang baik agamanya.
“Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta, karena kedudukan, karena kecantikan dan karena agamanya. Hendaklah pilih yang beragama agar berkah kedua tanganmu.” (HR. Muslim)
Hadist
tentang keutamaan memberatkan pilihan pada sisi agama dan akhlak tentu tidak
hanya berlaku untuk wanita saja. Di posisikan untuk laki-laki juga bisa. Sudah
bukan gossip lagi kalau perempuan juga bisa memilih siapa laki-laki yang ia
inginkan untuk jadi pasangan dunia akhirat bukan. Bahkah Bunda Khadijah menawarkan
dirinya untuk dipersunting oleh Rasulullah. Kalau tidak sesuai ya tolak, kalau
sesuai ya diam. Kan katanya tanda seorang perempuan setuju itu ada pada diamnya
haha. Malu-malu tapi mau gitu deh.
Ya,
kembali ke topik yang saya janjikan di awal. Tentang laki-laki yang harus diprioritaskan untuk dijadikan pendamping
hidup. Tak lain dan tak bukan adalah laki-laki yang baik agamanya. Kalau agamanya
baik, akhlaknya pasti juga baik karena dua komponen itu saling bertautan. Kalau
kata film yang saya pernah lihat di youtube
berjudul “Bicara Cinta” (silakan download sendiri), agama itu ibarat angka
satu. Ketampanan, kekayaan, kedudukan adalah angka nol. Jadi kalau agama ditempatkan
paling depan dan segi lain ditempatkan setelahnya, maka kita akan mendapat
kebaikan sebanyak 1000. Kalau agama ditempatkan di paling belakang, maka yang
kita dapatkan 0001. Nah, lebih mudah dicerna bukan?
![]() |
| Bicara Cinta on Youtube |
Agama
yang baik pada seorang laki-laki memang gampang-gampang sulit untuk dilihat
dengan mata telanjang. Tenang, Allah memberikan mata hati yang bisa melihat
luar dalam kok. Jadi kalau seorang laki-laki agamanya baik pasti kelihatan dari
inner handsome-nya. Begitupun untuk
perempuan yang bisa memancarkan inner
beauty yang khas. Mati hati bisa bekerja kalau hati bersih dari noda loh ya.
Semakin banyak dosa yang sudah kita lakukan, maka mata hati pun lama kelamaan akan
melemah fungsinya. Hati-hati nanti hatinya mati.
Saya
pernah mengajukan pertanyaan dalam sebuah diskusi ringan. Diskusi itu
beranggotakan ukhti-ukhti yang saya pandang memiliki kualitas agama yang baik
bahkan menurut saya sudah level tinggi. Saya bertanya mengenai “seperti apa laki-laki
yang agamanya baik?” karena menurut buku-buku yang pernah saya lahap sebelumnya,
belum pernah dijelaskan tentang kriteria riil terkait hal tersebut. Kebanyakan
ya cuma mengatakan “pilihlah yang baik agamanya” padahal saya butuh yang lebih
konkrit. Apa yang rajin baca quran atau yang sudah bisa qurban pakai uang
sendiri atau yang cukup sholat lima waktunya baik gitu. Intinya saya sedang
bertanya-tanya tentang standar laki-laki yang bisa dikatakan beragama baik
dengan contoh yang lebih bisa diterima logika.
Salah
satu teman saya akhirnya berkomentar. Ia menjelaskan kriteria laki-laki beragama
baik versi dia. Meski dari versi dia sendiri, saya sangat setuju. Bahkan kagum
dan langsung mengalami AHA moment, “ini dia jawaban yang aku butuhkan.” Nah berikut
ini intisari dari jawaban teman-teman saya dalam diskusi ringan untuk galau
yang positif haha.
Jadi
laki-laki yang dikatakan baik agamanya itu adalah laki-laki yang bisa
mengamalkan perintah agama dengan maksimal dan sebaik-baiknya. Tidak hanya
dilihat dari hubungannya dengan Allah, melainkan juga hubungannya dengan sesama
manusia seperti orang tua, saudara, tetangga, dan teman. Hubungan dengan Allah
itu disebut hubungan secara vertical, sedangkan hubungan dengan sesama umat
manusia atau mahkluk hidup lain disebut hubungan horizontal. Dua-duanya harus
diperhatikan. Contoh dari hubungan verikal atau hubungan dengan Allah itu ya
laki-laki yang tepat waktu melaksanakan sholat (lebih baik lagi yang sudah
terbiasa mengamalkan sholat sunah), kemudian berjamaah (lebih-lebih di masjid),
dan kegiatan-kegiatan dakwah fii
sabilillah apa saja yang ia kerjakan sebagai suatu bentuk amalan dunia
akhirat.
Hubungan
horizontal bisa dilihat dari baktinya kepada orang tua, suka membangkang atau
tidak, kemudian kasih sayangnya terhadap kakak/ adik/ saudara lain hingga
teman-teman di lingkungannya. Bukan perkara laki-laki itu dihormati atau tidak,
melainkan kebermanfaatan laki-laki tersebut untuk sesamanya. Orang yang
memiliki manfaat pasti menebar energi positif yang banyak membuatnya dekat dan
hangat dengan orang-orang meskipun tidak memiliki posisi strategis dalam
lingkungan bergaulnya.
![]() |
| Jodoh Cerminan Dirimu |
Sebenarnya
penjelasan di atas juga dapat dijadikan patokan atau minimal informasi mengenai
perempuan yang beragama baik. Kata lainnya tidak hanya berlaku bagi kaum adam
saja. Bagaimana pun kriteria tadi tidak bisa dijadikan patokan wajib bagi
semua individu. Semua tergantung kualitas masing-masing karena jodoh adalah
cerminan diri kita sendiri. Kalau mau jodoh yang baik ya jangan malas
memperbaiki diri, meningkatkan kualitas pribadi. Kalau ternyata kita merasa
beragama baik tapi mendapat jodoh yang kualitas agamanya kurang, mungkin hati
kitalah yang dipenuhi sifat takabur. Harus segera dihilangkan tuh, bahaya. Perbanyak
dzikir karena mengingat Allah hati jadi tenang. Sering mengingat Allah maka
hati akan bersih.
Ya
sekian corat-coret di kesempatan kali ini. Semoga ada manfaatnya ya. Tidak lupa
saya mengucapkan terima kasih pada teman-teman yang telah menyempatkan waktu
untuk berbagi. Sejatinya galau itu pasti datang, tinggal kita saja yang harus
tahu bagaimana mengkondisikan. Galau itu
bisa berdampak negatif, tapi juga bisa bermanfaat kalau kita pintar
mengelolanya. Kalau saya dan teman-teman saya tidak galau, mungkin tidak akan ada
pula diskusi tentang hal-hal seperti ini. Meski banyak orang tabu dan malu
memperbincangkan, saya dan teman-teman saya tetap berpikir bahwa ilmu apapun
itu penting. Apalagi ilmu-ilmu tentang masa depan. Banyak yang ngomporin nikah
muda, tapi masih sedikit yang mau belajar persiapannya sejak muda. Kebanyakan
main berani saja kan. Padahal pernikahan, jodoh, rumah tangga itu keputusan
yang kompleks pakai banget. Dan menyebarkan ilmu itu wajib hukumnya loh bagi
setiap muslim dan muslimah. Yang menyembunyikan ilmu saja disiksa nanti di neraka
sana.
“Man su’ila ‘an ‘ilmin fakatamahu
uljima yaumal qiyaamati bilijaamin minnaarin”
Artinya:
Barangsiapa
ditanya tentang suatu ilmu kemudian ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat
ia akan dicambuk dengan cambuk dari neraka.
Cinta itu qadho dari yang Kuasa. Bertemu dengan yang membuatmu jatuh cinta itu adalah mukhoyyar, pilihan kita sendiri. Yang akan kita pertanggungjawabkan nanti saat bertemu Illahi.
(Bicara Cinta The Short Movie)










0 komentar:
Posting Komentar