Bumi
gonjang-ganjing..trekk..trekk..trekk..
Ya,
sekilas Aku dengar suara Ki Bagus, Dalang yang namaya termansyur di desaku
Matesih, kabupaten Karangnyar. Dengan cekatan tangannya mengoyang-goyangkan
bilah-bilah wayang yang aku sendiri tak hapal siapa saja nama tokohnya. Sorot
lampu dari balik kain putih menjadi hiasan yang maha dahsyat bagai panggung
heboh sekelas grup band peterpen. Ki bagus mulai mengambil satu lagi wayang
dengan tangannya, kali ini pilihannya jatuh pada wayang bernama Yudhistira. Komat-kamit mulut si Dalang merangkai cerita
laksana kereta pada jalur terbaiknya, lancar, runtut, dan mulus. Dari kisahnya
si wayang Yudhistira, aku terpana, aku tergoda, aku terbayang sosok Yudhistira
pada dunia nyata.
“Cah Ayu, ayo pulang dulu. Wis bengi nduk”, teriak Ibu dari tribun
penonton paling belakang. Seperti induk
ayam mencari anaknya, dia terobos kerumunan penonton lain, maju tanpa ada yang
bisa menghalangi, menarik anak perawannya pulang ke kandang. “Ahh..Ibu ini,
mengganggu khayalku saja”, batinku sambil memoncongkan bibir.
“iya
Ibu, iya, Vita juga mau pulang ini, ndak
usah diteriaki begitu, Vita malu”.
“halah,
kowe iki, ayo gek ndang bali mulih, wis sore cah ayu”
Tangan
lembut Ibu menarik tanganku. Mengandeng aku pulang dan meninggalkan Ki Bagus,
Dalang idaman. Tentu juga meninggalkan khayalku tentang Yudhistira, sosok
lelaki yang pendiam, adil, sabar, jujur dan pasrah, namun sayang seribu sayang
hanya wayang, iya wa-ya-ng.
***
Tumpukan
kertas menggunung tak karuan di atas meja belajar. Disampingnya laptop menyala,
menampakkan gelembung-gelembung yang bertebaran di layar, pertanda beberapa
saat tak disentuh penggunanya. Itu pekerjaanku ketika hari senin sampai jumat,
mengerjakan laporan dan tugas kuliah yang kadang membuat muka ini tampak
seperti kertas berjalan. Muka pucat karena begadang semalaman.
“Vit,
kamu pulang ke rumah hari ini?,” Tanya Kak Tria, kakak kos yang selama ini
setia menunggu oleh-olehku dari rumah.
“iya
mbak, Novita pulang nanti agak sorean,
biar gak kepanasan dijalan,” timpalku.
Motor supra melaju dengan
kencangnya. Menerobos para pengendara yang lambat menggelindingkan roda. Asap
jalanan mengepul, membuat tenggorokan serasa tercekat dan hidung tak ingin
menhirup kotoran-kotoran terbang. Entah apa yang dipikirkan para penunggu
angkot, penumpang bis atau peminta-minta yang sibuk melirik kesini dan kesana.
Yang jelas, di dalam pikiranku adalah kepulan aroma masakan Ibu tercinta, telur
ceplok ditambah irisan bawang merah aduhai rasanya. Satu lagi, Ki Bagus, Dalang
desa itu juga ada di kepalaku. Tak sabar rasanya ingin melanjutkan kisah
Yudhistira, wayang idola, pujaan jiwa.
Ciiittttt…
Jantung
seakan jadi ballerina. Lompat-lompat, naik-turun. Ujung-ujung jari bergetar, hasil
antara kaku dan kaget. Di depan motorku seorang Bapak Tua mau di ciumnya. Oh
Tuhan, ini peringatan darimu agar aku tak membayangkan hal-hal itu, telur
ceplok butan ibu dan wayang itu. “Ma..ma..maaf pak, saya tidak lihat tadi”, aku
terbata mengucap. Kami berdua minggir ke kanan jalan. Rasa bersalah yang tak
mau hilang membuatku tergerak untuk mengantarkan Pak Tua itu pulang.
“Ndak usah, saya bisa pulang sendiri”,
katanya pelan dengan nada khas laki-laki lanjut usia.
“Tapi
pak, apa tidak apa-apa? Kalau begitu ini saya ada sedikit rezeki untuk naik
angkot pulang,” ucapku seraya merogoh saku dan menyelipkan uang dua puluh ribu
ke telapak tangan Pak Tua.
“apa
ini? saya bukan pengemis mbak”.
Aku
terlonjak. Bingung mau aku taruh mana muka yang terlanjur malu dan merah padam.
“Sukur Vit, mampus lu, salah orang”,
muncul suara dari dalam hati.
***
Weekend
kembali menyapa setelah beberapa hari bertarung di penatnya dunia perkuliahan.
Bayang-bayang telur ceplok melingkar-lingkar diatas kepala, sudah saatnya aku
menjemputnya di meja makan rumah tercinta.
Menikmati kelokan demi kelokan jalan
raya dengan jalur yang tak pernah berubah membuatku jenuh menatap. Satu-satunya
hiburan yang bisa mengobati adalah membayangkan hal-hal yang bisa membuatku
bahagia, apalagi kalau buka telur ceplok dan kisahnya Yudhistira. Tiba di
kelokan terakhir, ingatanku mengarah pada sosok Pak Tua yang dulu aku kira
pengemis dan hampir tertabrak oleh motorku. Aku amati lebih teliti, sosok itu
masih ada, hanya saja kini ia duduk di pinggir jalan raya.
Minggu
berikutnya ketika aku perjalanan pulang menuju rumah dia tetap ada. Dan lagi,
minggu ke empat setelah pertemuanku dengannya ia masih ada. Minggu kelima aku
benar-benar dibuat penasaran olehnya. Minggu ke enam menjelang, hati ini
mengatakan, temui dia. Beberapa minggu ini bayangan telur ceplok dan wayang
yudhistira tergantikan oleh sosok Pak Tua. Dikelokan terakhir aku berhenti.
Mengamati setiap sosok yang lalu lalang dan mencari sosok yang biasanya duduk
sendirian.
“Permisi
Bu, Pak Tua yang biasanya duduk disini ada dimana ya?”, tanyaku pada seorang Ibu
penjual kembang eceran.
“Oh,
Pak Dahlan ya mbak? Kurang tahu, biasanya jam segini sudah nangkring disitu sih
mbak, tunggu saja. Lah mbak ini siapanya?”
Aku tak menjawab, hanya
senyum-senyum saja ketika ditanyai. Lamat-lamat sosok Pak Tua itu muncul dari
seberang jalan, aku mengucap permisi dan ngacir pergi menghampirinya. “Pak,
masih ingat dengan saya? Yang tempo hari hampir menabrak bapak?”. Pak Tua itu
diam kemudian berujar “Iya”. Ahh.. jawaban yang tak di harapkan, satu kata dan
tak berarti banyak. Pembicaraan hari itu hanya sebatas kata ya dan tidak.
Baiklah, aku memaklumi perilakunya, siapa aku yang tiba-tiba datang dan seperti
polisi mau mengintrogasi. Tentu saja dia
hanya menjawab sekenanya.
***
Strategi kedua aku rancang karena
rasa penasaranku sudah memuncak. Aku nekat ngintil
dari belakang ketika Pak Dahlan berjalan pergi. Ternyata dia benar-benar
pulang, bukan ke rumah seperti yang aku bayangkan, namun pulang ke sebuah
bangunan yang bertuliskan panti jompo “Sari Asih”. Rasa penasaranku terjawab,
baru beberapa, belum semuanya. Aku beranikan diri masuk lebih dalam, ke dalam
panti jompo dan ke dalam kehidupan Pak Dahlan.
***
“Permisi
Bu, saya Novita dari Universitas X ingin mengadakan penelitian kecil-kecilan di
panti jompo ini, apakah di perbolehkan?”, kataku bohong. Dalam hati aku memohon
ampun kepada Tuhan agar kelakuanku ini diampuni-Nya.
“Silahkan mbak, saya senang-senang
saja kalau ada yang mau penelitian disini,” kata Ibu penjaga Panti. Pembicaraan
serius itu dimulai. Semuanya terungkap seperti mendung yang bergeser menyibak
mentari. Pak Dahlan yang selama ini aku temukan duduk di pinggir jalan itu
ternyata benar salah satu penghuni panti. Kepenatannya dia obati dengan duduk
menikmati udara jalan raya dan melihat orang-orang berkendara. Aku diajak
berkeliling mengitari panti jompo, orang-orang tua duduk melamun di depan kamar
tanda kesepian. Hanya beberapa yang aku lihat sedang mengobrol atau sedang
sibuk bersama perawat yang ada di panti itu.
“Bu, apa tidak kasihan melihat
mereka kesepian seperti ini?”, tanyaku pada Ibu penjaga panti.
“Kalau ditanya begitu saya pun
kasihan mbak, tapi kalau harus diajak keluar panti kami yang kesulitan. Perawat
disini hanya beberapa, kalau pun ingin di ajak pergi ke suatu tempat yang bisa
kami kunjungi pun tak ada”.
“Seandainya saya yang membawa tempat
itu kesini gimana, Bu?”
“Ha..Maksud mbak Novita?”
Aku
jelaskan panjang lebar rencanaku membawa suatu hiburan bagi para orang lansia ini.
Sepi yang mengelayut dalam jiwa mereka harus segera diobati. Bila tidak dapat
membawa mereka keluar untuk mencari hiburan maka membawa hiburan itu masuk
kesini adalah solusinya.
***
“Tolonglah pak, saya harap bapak
mengerti kondisi mereka”. Rengekku pada Ki Bagus.
“Ehh nduk, aku ngerti.
Masalahnya bapak jadi dalang juga butuh penghasilan. Emang kamu yang tinggal minta orang tua. Lihat tuh anak saya butuh makan, sekolah, apalagi ini mau lebaran. Jasa
dalang sudah mulai di tinggalkan, orang-orang pada sukanya dangdut oplosan. Sudah,
kamu cari orang lain saja,” jelas Dalang desa itu mrengut. Ia menolak tawaranku untuk manggung di panti karena alasan
ekonomi. Aku pulang dengan tangan hampa tanpa hasil. Celengan satu-satunya yang
aku miliki sudah ludes untuk membeli handphone
baru bulan lalu karena yang lama sudah tak bisa di pakai lagi. Uang dari mana
untuk bisa membawa dalang itu ke panti jompo. Aku tak memiliki relasi lain
selain Ki Bagus.
“Kenapa to nduk? Katanya mau ke rumah pak dalang?”.
“Sudah Bu, nihil. Beliau tidak mau
karena Vita maunya gratisan”.
Aku
mulai putus asa. Terngiang-ngiang janjiku pada Ibu penjaga. Kalau sampai aku
gagal, betapa banyak dosa yang harus aku tanggung. Sudah berbohong ingkar pula.
Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali bohong, dua tiga dosa
mengikuti. Ini tidak lucu.
“Bu, kalau cincin dan kalung Vita
digadaikan saja bagaimana? Vita ikhlas, toh itu jarang dipakai,” ujarku memelas
pada ibu.
“Kamu yakin? Itu warisan eyang buyutmu
loh”. Berat. Berat sekali rasanya dihadapkan pada dua pilihan ini.
Pagi-pagi
ketika ayam jago sudah berhenti berkokok. Jam di dinding tak berhenti berdetak.
Jarumnya mengarah pada pukul 08.04 WIB. Dengan cincin dan kalung warisan di
genggaman, jalanku menuju pegadaian.
Di
depan meja registrasi. Hatiku berat namun tekadku kuat. Emas ini tak sebanding
dengan kebahagiaan puluhan lansia yang ada di panti jompo itu. Senyum mereka
mahal, bahagia mereka tak ada yang jual. Cincin dan kalung kini berpindah
tangan, selamat tinggal. Kalau pun bisa di tebus, mungkin aku harus berpikir
dua kali untuk mencari uang pengganti.
Uang
tiga ratus ribu itu aku bawa ke rumah Pak Dalang. Berharap hatinya terbuka dan
mau menerima tawaran manggung di panti jompo. “Ini pak, saya ada sedikit uang.
Vita harap Pak Dalang berkenan menerimanya dan mau manggung disana”.
“Tiga ratus ya, baiklah. Kamu mau
saya cerita tentang apa?”
Tak
usah berpikir lama, mulutku mengatakan jawaban atas pertanyaannya. “Ceritakan
tentang wayang Yudhistira yang tempo hari pernah Ki Bagus ceritakan di acara
balai desa, itu bagus Ki”.
Siang
itu juga berbagai persiapan dilakukan di panti jompo. Ada yang menata kursi,
mencari batang pohon pisang, memasang lampu dan beberapa perlengkapan
pewayangan lainnya. Lansia-lansia sempat bingung, baru kali ini gedung
bertembok tinggi itu riuh dengan orang –orang baru. Biasanya hanya tampak
beberapa orang yang tengah menjenguk nenek, kakek atau saudaranya yang tinggal
di panti jompo.
Yudhistira
kembali berlaga. Kisahnya tak jua membuat aku jenuh karenanya. Tak hanya aku,
para lansia itu tersenyum bahagia di tengah riuhnya panggung sandiwara. Aku
bahagia melihat tawa yang tak aku temukan ketika pertama kali aku memasuki
gedung ini. Ibarat warna, abu-abu yang tadinya menyelimuti setiap petak wilayah
ini berubah menjadi warna-warni karena pementasan Ki Dalang yang cakap dan
piawai. Tak rugi aku korbankan warisan eyang.
Malam
menjadi saksi bisu sebuah perhelatan. Ia tak diam. Sorot kerlap-kerlip bintang
menjadi hiasan yang mahal dan tak bisa dibeli.
Waktu menunjukkan pukul dua belas kurang seperempat, sang Yudhistira
telah kembali pada dunianya. Ki bagus lantas bersiap-siap pulang, membereskan
barang-barang dan memasukkannya ke kotak perlengkapan. Wayang-wayangnya adalah
harta yang tak ternilai, dari situ peseran uang ia dapat untuk menghidupi anak
istrinya di rumah. Dengan lembut ia tata para wayang di dalam kotak khusus agar
terjaga kualitasnya. “ Ki, terima kasih atas pementasannya tadi. Entah kenapa
Vita selalu terpukau dengan tampilan wayang Ki Bagus,” sapaku pada Ki Dalang
yang tengan membereskan wayang.
“Iya,
nduk. Jadilah seperti Yudhistira,
tirulah wataknya yang sabar, jujur, adil, dan pasrah dalam menghadapi hidup.
Teruslah berbuat kebaikan seperti yang kamu lakukan saat ini, saya percaya
bahwa kebaikannmu pasti ada balasan setimpalnya dari Yang Maha Kuasa.”
Pak
Dalang itu tiba-tiba menjadi begitu berbeda. Tadi pagi aku lihat Ki Bagus yang
mata duitan dan tidak pedulian, namun kini berubah menjadi dalang yang begitu
bijaksana tindak tanduknya. Mungkin
uang hanyalah menjadi alasan baginya. Agar terus hidup dan terus menyebarkan
ilmu kepada manusia melalui panggung dan wayangnya. Seperti saat ini, dengan uang tiga ratus ribu
ia ajarkan karakter Yudhistira yang tak bisa aku lupa.
Waktu
yang larut membuatku memutuskan untuk tidur semalam di panti jompo. Pertama
kalinya aku merebahkan diri bersama para lansia yang menyimpan banyak kisah di
masa mudanya. Sebelum tidur aku berniat untuk mencuci tangan dan kaki ke kamar
mandi. Sendiri aku susuri lorong demi lorong hingga langkahku berhenti pada
sosok yang tak asing. Sumber dari rasa penasaranku sampai saat ini, Pak dahlan.
“Permisi
Pak Dahlan, kenapa belum tidur, ini sudah malam sekali, wayangnya juga sudah
selesai,” sapaku. Pak Dahlan menoleh, tersenyum tipis menatapku.
“Kemarilah
anakku,” tanganya mengisyaratkan aku untuk duduk tepat disamping duduknya. Aku manut.
“Dulu
bapak pernah seumuran kamu, hari-hari bapak habiskan untuk bersenang-senang dan
balapan di jalan. Skripsi yang harusnya bapak selesaikan bapak tinggal begitu
saja karena tak mau susah. Pada akhirnya bapak hanya dibuang keluarga karena
kehadiran bapak menambah beban mereka. Mungkin jika dahulu bapak benar-benar
memanfaatkan masa muda, bapak bisa jadi pegawai negeri, bukan hidup seperti
ini”.
Aku
melongo. Melihat sosok yang dahulu hampir aku tambrak raganya itu adalah mantan
pembalap. Mungkin karena itu, untuk melepas kepenatannya di dalam panti jompo
ia habiskan waktu duduk di pinggir jalan menikmati manusia lalu lalang dengan
kendaraan.
“Terima
kasih ya nduk, wayangnya bagus sekali
tadi,” katanya lagi.
“Iya
pak Dahlan, sama-sama,” jawabku singkat. Aku pamit pergi karena rasa kantuk
sudah benar-benar akut menjalari.
Diatas
dipan kutatap langit-langit kamar. Betapa menyedihkan para orang tua yang
hidupnya di kubangan. Terisolir dalam ruangan dan sanak saudara pun jauh tak
bisa jumpa. Mereka bukan orang buangan. Mereka seonggok daging bernyawa yang
terkadang kurang perhatian dan kasih sayang dari sekitarnya. Sulit memang,
mengurus mereka layaknya mengurus balita. Kini ketika hidup hanya tinggal
menunggu mati, mereka tak pantas disakiti. Perumpamaan kereta yang mau
berjalan, sudah sepantasnya diisi dengan penumpang yang sesuai tujuan supaya
ketika kereta itu berangkat tak ada kesia-siaan. Ketika para lansia itu tengah
menunggu hari-hari terakhirnya, maka isi dengan hiruk pikuk bahagia bukan
nestapa dengan kurungan duka. “kesambet apa aku ini tiba-tiba jadi filosofis
begini”, batinku sambil ketawa ketiwi. Selimut aku sibakkan. Dinginnya ruangan
mulai menjalar.
Ada
rasa bahagia, ada raga puas dan ada rasa bangga. Aku kembali pulang. Siap menjalani
aktivitasku sebagai mahasiswa seperti semula. Beberapa waktu ini pikiranku
terkoyak terus oleh sosok tua yang aku kira peminta-minta. Sekarang sudah lega.
Semua sudah terjawab.
Pintu jati ruang tamu aku sibak, mengucap
salam dan melangkah pasti menuju meja makan. Perut ini keroncongan karena sejak
kemarin siang sesuap nasi tak sempat aku masukkan. Bau telor ceplok bawang
merah ibu sudah menari-nari dihidungku. Ketika aku buka kurungan makanan, ada
benda yang tak asing dimataku. Menyilaukan. Cincin dan kalung warisan itu kembali.
Membawa semua kenangan masa lalu bersama eyang. Ada secarik kertas
disampingnya, aku baca: Ini dari Ibumu
tercinta untuk anak perawan yang begitu mengidolakan Yudhistira. Aku
meringis, malu-malu pada Ibu. “Sejak kapan ibu tahu?”, tanyaku.












