Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Selasa, 20 Januari 2015

Yudhistira



Bumi gonjang-ganjing..trekk..trekk..trekk..
Ya, sekilas Aku dengar suara Ki Bagus, Dalang yang namaya termansyur di desaku Matesih, kabupaten Karangnyar. Dengan cekatan tangannya mengoyang-goyangkan bilah-bilah wayang yang aku sendiri tak hapal siapa saja nama tokohnya. Sorot lampu dari balik kain putih menjadi hiasan yang maha dahsyat bagai panggung heboh sekelas grup band peterpen. Ki bagus mulai mengambil satu lagi wayang dengan tangannya, kali ini pilihannya jatuh pada wayang bernama Yudhistira.  Komat-kamit mulut si Dalang merangkai cerita laksana kereta pada jalur terbaiknya, lancar, runtut, dan mulus. Dari kisahnya si wayang Yudhistira, aku terpana, aku tergoda, aku terbayang sosok Yudhistira pada dunia nyata.
Cah Ayu, ayo pulang dulu. Wis bengi nduk”, teriak Ibu dari tribun penonton paling belakang. Seperti induk ayam mencari anaknya, dia terobos kerumunan penonton lain, maju tanpa ada yang bisa menghalangi, menarik anak perawannya pulang ke kandang. “Ahh..Ibu ini, mengganggu khayalku saja”, batinku sambil memoncongkan bibir.
“iya Ibu, iya, Vita juga mau pulang ini, ndak usah diteriaki begitu, Vita malu”.
“halah, kowe iki, ayo gek ndang bali mulih, wis sore cah ayu”
Tangan lembut Ibu menarik tanganku. Mengandeng aku pulang dan meninggalkan Ki Bagus, Dalang idaman. Tentu juga meninggalkan khayalku tentang Yudhistira, sosok lelaki yang pendiam, adil, sabar, jujur dan pasrah, namun sayang seribu sayang hanya wayang, iya wa-ya-ng. 

***
Tumpukan kertas menggunung tak karuan di atas meja belajar. Disampingnya laptop menyala, menampakkan gelembung-gelembung yang bertebaran di layar, pertanda beberapa saat tak disentuh penggunanya. Itu pekerjaanku ketika hari senin sampai jumat, mengerjakan laporan dan tugas kuliah yang kadang membuat muka ini tampak seperti kertas berjalan. Muka pucat karena begadang semalaman.  
“Vit, kamu pulang ke rumah hari ini?,” Tanya Kak Tria, kakak kos yang selama ini setia menunggu oleh-olehku dari rumah.
“iya mbak, Novita pulang nanti agak sorean, biar gak kepanasan dijalan,” timpalku.
            Motor supra melaju dengan kencangnya. Menerobos para pengendara yang lambat menggelindingkan roda. Asap jalanan mengepul, membuat tenggorokan serasa tercekat dan hidung tak ingin menhirup kotoran-kotoran terbang. Entah apa yang dipikirkan para penunggu angkot, penumpang bis atau peminta-minta yang sibuk melirik kesini dan kesana. Yang jelas, di dalam pikiranku adalah kepulan aroma masakan Ibu tercinta, telur ceplok ditambah irisan bawang merah aduhai rasanya. Satu lagi, Ki Bagus, Dalang desa itu juga ada di kepalaku. Tak sabar rasanya ingin melanjutkan kisah Yudhistira, wayang idola, pujaan jiwa.
Ciiittttt…
Jantung seakan jadi ballerina. Lompat-lompat, naik-turun. Ujung-ujung jari bergetar, hasil antara kaku dan kaget. Di depan motorku seorang Bapak Tua mau di ciumnya. Oh Tuhan, ini peringatan darimu agar aku tak membayangkan hal-hal itu, telur ceplok butan ibu dan wayang itu. “Ma..ma..maaf pak, saya tidak lihat tadi”, aku terbata mengucap. Kami berdua minggir ke kanan jalan. Rasa bersalah yang tak mau hilang membuatku tergerak untuk mengantarkan Pak Tua itu pulang.
Ndak usah, saya bisa pulang sendiri”, katanya pelan dengan nada khas laki-laki lanjut usia.
“Tapi pak, apa tidak apa-apa? Kalau begitu ini saya ada sedikit rezeki untuk naik angkot pulang,” ucapku seraya merogoh saku dan menyelipkan uang dua puluh ribu ke telapak tangan Pak Tua.
“apa ini? saya bukan pengemis mbak”.
Aku terlonjak. Bingung mau aku taruh mana muka yang terlanjur malu dan merah padam. “Sukur Vit, mampus lu, salah orang”, muncul suara dari dalam hati.
***
Weekend kembali menyapa setelah beberapa hari bertarung di penatnya dunia perkuliahan. Bayang-bayang telur ceplok melingkar-lingkar diatas kepala, sudah saatnya aku menjemputnya di meja makan rumah tercinta.
            Menikmati kelokan demi kelokan jalan raya dengan jalur yang tak pernah berubah membuatku jenuh menatap. Satu-satunya hiburan yang bisa mengobati adalah membayangkan hal-hal yang bisa membuatku bahagia, apalagi kalau buka telur ceplok dan kisahnya Yudhistira. Tiba di kelokan terakhir, ingatanku mengarah pada sosok Pak Tua yang dulu aku kira pengemis dan hampir tertabrak oleh motorku. Aku amati lebih teliti, sosok itu masih ada, hanya saja kini ia duduk di pinggir jalan raya.
Minggu berikutnya ketika aku perjalanan pulang menuju rumah dia tetap ada. Dan lagi, minggu ke empat setelah pertemuanku dengannya ia masih ada. Minggu kelima aku benar-benar dibuat penasaran olehnya. Minggu ke enam menjelang, hati ini mengatakan, temui dia. Beberapa minggu ini bayangan telur ceplok dan wayang yudhistira tergantikan oleh sosok Pak Tua. Dikelokan terakhir aku berhenti. Mengamati setiap sosok yang lalu lalang dan mencari sosok yang biasanya duduk sendirian.
“Permisi Bu, Pak Tua yang biasanya duduk disini ada dimana ya?”, tanyaku pada seorang Ibu penjual kembang eceran.
“Oh, Pak Dahlan ya mbak? Kurang tahu, biasanya jam segini sudah nangkring disitu sih mbak, tunggu saja. Lah mbak ini siapanya?”
            Aku tak menjawab, hanya senyum-senyum saja ketika ditanyai. Lamat-lamat sosok Pak Tua itu muncul dari seberang jalan, aku mengucap permisi dan ngacir pergi menghampirinya. “Pak, masih ingat dengan saya? Yang tempo hari hampir menabrak bapak?”. Pak Tua itu diam kemudian berujar “Iya”. Ahh.. jawaban yang tak di harapkan, satu kata dan tak berarti banyak. Pembicaraan hari itu hanya sebatas kata ya dan tidak. Baiklah, aku memaklumi perilakunya, siapa aku yang tiba-tiba datang dan seperti polisi  mau mengintrogasi. Tentu saja dia hanya menjawab sekenanya.
***
            Strategi kedua aku rancang karena rasa penasaranku sudah memuncak. Aku nekat ngintil dari belakang ketika Pak Dahlan berjalan pergi. Ternyata dia benar-benar pulang, bukan ke rumah seperti yang aku bayangkan, namun pulang ke sebuah bangunan yang bertuliskan panti jompo “Sari Asih”. Rasa penasaranku terjawab, baru beberapa, belum semuanya. Aku beranikan diri masuk lebih dalam, ke dalam panti jompo dan ke dalam kehidupan Pak Dahlan.

***
“Permisi Bu, saya Novita dari Universitas X ingin mengadakan penelitian kecil-kecilan di panti jompo ini, apakah di perbolehkan?”, kataku bohong. Dalam hati aku memohon ampun kepada Tuhan agar kelakuanku ini diampuni-Nya.
            “Silahkan mbak, saya senang-senang saja kalau ada yang mau penelitian disini,” kata Ibu penjaga Panti. Pembicaraan serius itu dimulai. Semuanya terungkap seperti mendung yang bergeser menyibak mentari. Pak Dahlan yang selama ini aku temukan duduk di pinggir jalan itu ternyata benar salah satu penghuni panti. Kepenatannya dia obati dengan duduk menikmati udara jalan raya dan melihat orang-orang berkendara. Aku diajak berkeliling mengitari panti jompo, orang-orang tua duduk melamun di depan kamar tanda kesepian. Hanya beberapa yang aku lihat sedang mengobrol atau sedang sibuk bersama perawat yang ada di panti itu.
            “Bu, apa tidak kasihan melihat mereka kesepian seperti ini?”, tanyaku pada Ibu penjaga panti.
            “Kalau ditanya begitu saya pun kasihan mbak, tapi kalau harus diajak keluar panti kami yang kesulitan. Perawat disini hanya beberapa, kalau pun ingin di ajak pergi ke suatu tempat yang bisa kami kunjungi pun tak ada”.
            “Seandainya saya yang membawa tempat itu kesini gimana, Bu?”
            “Ha..Maksud mbak Novita?”
Aku jelaskan panjang lebar rencanaku membawa suatu hiburan bagi para orang lansia ini. Sepi yang mengelayut dalam jiwa mereka harus segera diobati. Bila tidak dapat membawa mereka keluar untuk mencari hiburan maka membawa hiburan itu masuk kesini adalah solusinya.
***
            “Tolonglah pak, saya harap bapak mengerti kondisi mereka”. Rengekku pada Ki Bagus.
            “Ehh nduk, aku ngerti. Masalahnya bapak jadi dalang juga butuh penghasilan. Emang kamu yang tinggal minta orang tua. Lihat tuh anak saya butuh makan, sekolah, apalagi ini mau lebaran. Jasa dalang sudah mulai di tinggalkan, orang-orang pada sukanya dangdut oplosan. Sudah, kamu cari orang lain saja,” jelas Dalang desa itu mrengut. Ia menolak tawaranku untuk manggung di panti karena alasan ekonomi. Aku pulang dengan tangan hampa tanpa hasil. Celengan satu-satunya yang aku miliki sudah ludes untuk membeli handphone baru bulan lalu karena yang lama sudah tak bisa di pakai lagi. Uang dari mana untuk bisa membawa dalang itu ke panti jompo. Aku tak memiliki relasi lain selain Ki Bagus.
            “Kenapa to nduk? Katanya mau ke rumah pak dalang?”.
            “Sudah Bu, nihil. Beliau tidak mau karena Vita maunya gratisan”.
Aku mulai putus asa. Terngiang-ngiang janjiku pada Ibu penjaga. Kalau sampai aku gagal, betapa banyak dosa yang harus aku tanggung. Sudah berbohong ingkar pula. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali bohong, dua tiga dosa mengikuti. Ini tidak lucu.
            “Bu, kalau cincin dan kalung Vita digadaikan saja bagaimana? Vita ikhlas, toh itu jarang dipakai,” ujarku memelas pada ibu.
            “Kamu yakin? Itu warisan eyang buyutmu loh”. Berat. Berat sekali rasanya dihadapkan pada dua pilihan ini.
Pagi-pagi ketika ayam jago sudah berhenti berkokok. Jam di dinding tak berhenti berdetak. Jarumnya mengarah pada pukul 08.04 WIB. Dengan cincin dan kalung warisan di genggaman, jalanku menuju pegadaian.
Di depan meja registrasi. Hatiku berat namun tekadku kuat. Emas ini tak sebanding dengan kebahagiaan puluhan lansia yang ada di panti jompo itu. Senyum mereka mahal, bahagia mereka tak ada yang jual. Cincin dan kalung kini berpindah tangan, selamat tinggal. Kalau pun bisa di tebus, mungkin aku harus berpikir dua kali untuk mencari uang pengganti.
Uang tiga ratus ribu itu aku bawa ke rumah Pak Dalang. Berharap hatinya terbuka dan mau menerima tawaran manggung di panti jompo. “Ini pak, saya ada sedikit uang. Vita harap Pak Dalang berkenan menerimanya dan mau manggung disana”.
            “Tiga ratus ya, baiklah. Kamu mau saya cerita tentang apa?”
Tak usah berpikir lama, mulutku mengatakan jawaban atas pertanyaannya. “Ceritakan tentang wayang Yudhistira yang tempo hari pernah Ki Bagus ceritakan di acara balai desa, itu bagus Ki”.
Siang itu juga berbagai persiapan dilakukan di panti jompo. Ada yang menata kursi, mencari batang pohon pisang, memasang lampu dan beberapa perlengkapan pewayangan lainnya. Lansia-lansia sempat bingung, baru kali ini gedung bertembok tinggi itu riuh dengan orang –orang baru. Biasanya hanya tampak beberapa orang yang tengah menjenguk nenek, kakek atau saudaranya yang tinggal di panti jompo.
Yudhistira kembali berlaga. Kisahnya tak jua membuat aku jenuh karenanya. Tak hanya aku, para lansia itu tersenyum bahagia di tengah riuhnya panggung sandiwara. Aku bahagia melihat tawa yang tak aku temukan ketika pertama kali aku memasuki gedung ini. Ibarat warna, abu-abu yang tadinya menyelimuti setiap petak wilayah ini berubah menjadi warna-warni karena pementasan Ki Dalang yang cakap dan piawai. Tak rugi aku korbankan warisan eyang.
Malam menjadi saksi bisu sebuah perhelatan. Ia tak diam. Sorot kerlap-kerlip bintang menjadi hiasan yang mahal dan tak bisa dibeli.  Waktu menunjukkan pukul dua belas kurang seperempat, sang Yudhistira telah kembali pada dunianya. Ki bagus lantas bersiap-siap pulang, membereskan barang-barang dan memasukkannya ke kotak perlengkapan. Wayang-wayangnya adalah harta yang tak ternilai, dari situ peseran uang ia dapat untuk menghidupi anak istrinya di rumah. Dengan lembut ia tata para wayang di dalam kotak khusus agar terjaga kualitasnya. “ Ki, terima kasih atas pementasannya tadi. Entah kenapa Vita selalu terpukau dengan tampilan wayang Ki Bagus,” sapaku pada Ki Dalang yang tengan membereskan wayang.
“Iya, nduk. Jadilah seperti Yudhistira, tirulah wataknya yang sabar, jujur, adil, dan pasrah dalam menghadapi hidup. Teruslah berbuat kebaikan seperti yang kamu lakukan saat ini, saya percaya bahwa kebaikannmu pasti ada balasan setimpalnya dari Yang Maha Kuasa.”
Pak Dalang itu tiba-tiba menjadi begitu berbeda. Tadi pagi aku lihat Ki Bagus yang mata duitan dan tidak pedulian, namun kini berubah menjadi dalang yang begitu bijaksana tindak tanduknya. Mungkin uang hanyalah menjadi alasan baginya. Agar terus hidup dan terus menyebarkan ilmu kepada manusia melalui panggung dan wayangnya.  Seperti saat ini, dengan uang tiga ratus ribu ia ajarkan karakter Yudhistira yang tak bisa aku lupa.
Waktu yang larut membuatku memutuskan untuk tidur semalam di panti jompo. Pertama kalinya aku merebahkan diri bersama para lansia yang menyimpan banyak kisah di masa mudanya. Sebelum tidur aku berniat untuk mencuci tangan dan kaki ke kamar mandi. Sendiri aku susuri lorong demi lorong hingga langkahku berhenti pada sosok yang tak asing. Sumber dari rasa penasaranku sampai saat ini, Pak dahlan.
“Permisi Pak Dahlan, kenapa belum tidur, ini sudah malam sekali, wayangnya juga sudah selesai,” sapaku. Pak Dahlan menoleh, tersenyum tipis menatapku.
“Kemarilah anakku,” tanganya mengisyaratkan aku untuk duduk tepat disamping duduknya. Aku manut.
“Dulu bapak pernah seumuran kamu, hari-hari bapak habiskan untuk bersenang-senang dan balapan di jalan. Skripsi yang harusnya bapak selesaikan bapak tinggal begitu saja karena tak mau susah. Pada akhirnya bapak hanya dibuang keluarga karena kehadiran bapak menambah beban mereka. Mungkin jika dahulu bapak benar-benar memanfaatkan masa muda, bapak bisa jadi pegawai negeri, bukan hidup seperti ini”.
Aku melongo. Melihat sosok yang dahulu hampir aku tambrak raganya itu adalah mantan pembalap. Mungkin karena itu, untuk melepas kepenatannya di dalam panti jompo ia habiskan waktu duduk di pinggir jalan menikmati manusia lalu lalang dengan kendaraan.
“Terima kasih ya nduk, wayangnya bagus sekali tadi,” katanya lagi.
“Iya pak Dahlan, sama-sama,” jawabku singkat. Aku pamit pergi karena rasa kantuk sudah benar-benar akut menjalari.
Diatas dipan kutatap langit-langit kamar. Betapa menyedihkan para orang tua yang hidupnya di kubangan. Terisolir dalam ruangan dan sanak saudara pun jauh tak bisa jumpa. Mereka bukan orang buangan. Mereka seonggok daging bernyawa yang terkadang kurang perhatian dan kasih sayang dari sekitarnya. Sulit memang, mengurus mereka layaknya mengurus balita. Kini ketika hidup hanya tinggal menunggu mati, mereka tak pantas disakiti. Perumpamaan kereta yang mau berjalan, sudah sepantasnya diisi dengan penumpang yang sesuai tujuan supaya ketika kereta itu berangkat tak ada kesia-siaan. Ketika para lansia itu tengah menunggu hari-hari terakhirnya, maka isi dengan hiruk pikuk bahagia bukan nestapa dengan kurungan duka. “kesambet apa aku ini tiba-tiba jadi filosofis begini”, batinku sambil ketawa ketiwi. Selimut aku sibakkan. Dinginnya ruangan mulai menjalar.
Ada rasa bahagia, ada raga puas dan ada rasa bangga. Aku kembali pulang. Siap menjalani aktivitasku sebagai mahasiswa seperti semula. Beberapa waktu ini pikiranku terkoyak terus oleh sosok tua yang aku kira peminta-minta. Sekarang sudah lega. Semua sudah terjawab.
 Pintu jati ruang tamu aku sibak, mengucap salam dan melangkah pasti menuju meja makan. Perut ini keroncongan karena sejak kemarin siang sesuap nasi tak sempat aku masukkan. Bau telor ceplok bawang merah ibu sudah menari-nari dihidungku. Ketika aku buka kurungan makanan, ada benda yang tak asing dimataku. Menyilaukan. Cincin dan kalung warisan itu kembali. Membawa semua kenangan masa lalu bersama eyang. Ada secarik kertas disampingnya, aku baca: Ini dari Ibumu tercinta untuk anak perawan yang begitu mengidolakan Yudhistira. Aku meringis, malu-malu pada Ibu. “Sejak kapan ibu tahu?”, tanyaku.






Minggu, 18 Januari 2015

Nikahan, PD Aja Kali

Beberapa perempuanmuda khususnya kaum remaja terkadang sangat tidak nyaman bila diminta memakai kebaya atau kain broklat. Bagi para remaja, fashion tersebut adalah gaya berpakaian untuk ibu-ibu kondangan yang tentunya bukan menggambarkan mereka. Kebaya dan broklat seakan-akan musuh yang harus dihindari. Dan saking sebelnya terkadang para remaja datang dengan pakaian seadanya dan jreeng..layaknya "salah kostum". Mereka mempermalukan diri mereka sendiri. jangan khawatir, sekarang sudah banyak para desainer muda yang merancang berbagai jenis dan model kebaya serta kreativitas kain broklat. Para remaja tak perlu risau lagi untuk datang ke acara nikahan saudaranya. Mereka akan tampil anggun dan yang jelas tidak lagi dijuluki si salah kostum. Berikut ini beberapa model baju yang dapat dipakai oleh para remaja:

Diatas adalah jenis dress yang sangat menawan namun sederhana. Sangat cocok bagi remaja tanggung yang ingin terlihat kalem. bagian atas yang berwarna putih adalah kain broklat yang dikombinasikan dengan dress polos.

Sedangkan ini adalah kebaya yang bawahannya dilapisi kain brolat dan atasannya kain polos. Agar nyaman dipakai, untuk baju berbentuk dress sebaiknya kita menjahit sendiri alias tidak beli jadi di toko. Dress memiliki kemungkinan besar kependekan ketika dipakai. Sedangkan bila membuat sendiri, panjang pendeknya bisa kita sesuaikan dengan kenyamanan kita. Saya saat ini sedang merancang kebaya yang nyaman untuk anak muda atau remaja tanggung. Dimana ketika mereka pergi ke tempat nikahan tidak terlihat lebih tua sepuluh tahun dari umur aslinya. Kebaya dan broklat yang dapat memancarkan usia muda mereka yang energik tapi tetap elegan. Saya ingin mengkombinasikan desain nomer dua dengan rompi polos yang warnanya senada.
Kurang lebih ukuran rompinya adalah seperti gambar ketiga. Hanya saja komposisi di gambar ketiga dibalik. Dress dilapisi broklat sedangkan rompinya polos. Sebagai masyarakat yang awam dengan fashion, saya merasakan dengan model yang saya rancang ini akan sangat nyaman dipakai. Membuat pemakainya nampak anggun namun tidak ketuaan. Sekian tips dari saya. Bila ada yang berkenan membuatkan desain yang sudah saya bicarakan tadi silahkan kontak saya hehe..

Sabtu, 17 Januari 2015

Guruku, Ibu

Aku heran dengan sikap kedua orang tuaku. Terkadang begitu menjengkelkan dengan sikap posesifnya yang terlalu berlebihan. Namun, terkadang kebijaksanaan sangat lekat pada tubuh mereka. Apalagi ibuku, seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda. Banyak wejangan-wejangan yang beliau sisipkan ke telingaku. Salah satunya adalah di siang hari ini.
Hari ini aku belajar tentang tentang kesederhanaan dan keiklasan. Dimana aku memang dilahirka dikeluarga yang sederhana. Harus berbagi dengan banyak saudaraku yang lainnya. Ibu bilang, hiduplah dengan apa yang kamu punya bukan apa yang kamu mau. Kalau aku terjemahkan dalam bahasaku sendiri adalah begini:
 Kalau kita memang cuma punya topi lusuh ya jangan ngoyo pada diri sendiri untuk pakai mahkota.
pakailah apa yang kamu punya dan usahalah semampu yang kamu bisa.
Ibu, bersama wejangan-wejanganmu aku tumbuh dewasa. Entah apa yang bisa aku berikan padamu untuk melunasi hutang-hutangku. Aku pun tahu, hutangku tak akan lunas meski aku bayar dengan nyawaku.

Fenomena Pemerolehan Bahasa pada Anak-anak



Makalah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Psikolinguistik


Dosen pengampu:
Prof. Dr. Andayani, M. Pd.

Disusun oleh:
Haniah
K1212035

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Bahasa adalah suatu obyek yang perkembangannya tidak dapat dihentikan. Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupan (Legowo, 2009: 23). Bahasa juga sebuah nikmat Tuhan yang hanya dimiliki manusia sejak bayi hingga mati. Siapa sangka pemerolehan bahasa tidak hanya menunggu seorang bayi tumbuh dewasa dan bisa berkata-kata, namun bayi yang belum bisa mengucapkan satu huruf saja sebenarnya sudah melakukan aktivitas berbahasa.
 Fakta tersebut diperkuat oleh Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali, M. Pd dalam pidato pengukuhan guru besarnya pada 12 Desember 2012. Beliau menjelaskan: Setidak-tidaknya ada tiga fakta tentang belajar bahasa yang tidak bisa kita  tolak  kebenarannya,  Pertama.  semua  anak  bayi  yang  dilahirkan normal  akan menguasai  bahasa  yang  dipergunakan  oleh  lingkungannya. Ini  terjadi  tanpa  melihat  di  mana  bayi  itu  dilahirkan,  siapa  yang melahirkan,  bagaimana  ia  dilahirkan.  Kenyataan  ini  terjadi  secara universal, sehingga hal tersebut menolak anggapan bahwa bahasa adalah warisan  sosial.  Pemerolehan  bahasa  ini  tumbuh  secara  bertahap,  yaitu mulai dari penguasaan bunyi-bunyi prabahasa, kemudian muncul 'kalimat satu  kata'  (one  word  sentence).  Selanjutnya  muncul  'kalimat  dua  kata', kalimat sederhana, dan kemudian kalimat-kalimat yang strukturnya  lebih kompleks.
Fakta  kedua  adalah  bahwa waktu  yang  dipergunakan  oleh  seorang anak untuk menguasai kaidah bahasa yang sangat kompleks terjadi pada waktu  yang  relatif  singkat  dan  sangat  menakjubkan,  karena  peristiwa belajar bahasa itu seakan-akan dialami oleh anak tanpa kesulitan apa pun. Fakta  Iain  yang  membuat  peneliti  perkembangan  bahasa  anak tercengang  adalah  kemampuan  anak  menyimpulkan  kaidah,  membuat kategorisasi kata, memilah morfem-morfem penanda kala, jenis kelamin-jumlah,  dan  sebagainya.  Pada  hal,  dalam  kenyataan,  kita melihat  bahwa masukan  bahasa  (input)  yang  diterima  oleh  anak  ketika  anak  belajar bahasa  sangatlah  bervariasi.  Di  dalam  masukan  bahasa  itu  pun  tidak pernah ada pemilahan bahwa  ini kalimat yang salah dan  ini kalimat yang betul menurut  kaidah,  ini  kalimat  yang  diucapkan  tidak  secara  lengkap karena  penuturnya menganggap  hal  itu  tidak  perlu  diungkapkan  secara lengkap.  Namun,  fakta  menyatakan  bahwa  urutan  pemerolehan  bahasa pada  tahap  awal  seakan-akan  ditetapkan  waktunya. Ketiga fakta tersebut tentu menjadi  salah satu sumber belajar yang  mengusik penulis untuk mengetahui fenomena pemerolehan bahasa apa saja yang terjadi pada usia anak-anak.
Penting juga mengetahui jenis atau ragam pemerolehan bahasa. Banyaknya jenis atau tipe, beragamnya umur, latar belakang dan faktor-faktor lain tentu membuat fenomena pemerolehan bahasa semakin berkembang.  Dengan mengetahui jenisnya maka aka nada kemudahan untuk menganalisis lebih lanjut.

B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Bagaimana ragam pemerolehan bahasa itu?
b.      Bagaimana fenomena pemerolehan bahasa pada anak-anak?

C.    MANFAAT PENULISAN
a.       Mengetahui ragam pemerolehan bahasa
b.      Mengetahui fenomena pemerolehan bahasa pada anak-anak



BAB II
KAJIAN TEORI

A.    PENGERTIAN PEMEROLEHAN BAHASA
Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Kapasitas ini melibatkan berbagai kemampuan seperti sintaksis, fonetik, dan kosakata yang luas. Bahasa yang diperoleh bisa berupa vokal seperti pada bahasa lisan atau manual seperti pada bahasa isyarat. Pemerolehan bahasa biasanya merujuk pada pemerolehan bahasa pertama yang mengkaji pemerolehan anak terhadap bahasa ibu mereka dan bukan pemerolehan bahasa kedua yang mengkaji pemerolehan bahasa tambahan oleh anak-anak atau orang dewasa (Wikipedia.org).
Mengenai pemerolehan bahasa ini terdapat beberapa pengertian. Pengertian yang satu mengatakan bahwa pemerolehan bahasa mempunyai suatu permulaan yang tiba-tiba, mendadak. Kemerdekaan bahasa mulai sekitar usia satu tahun di saat anak-anak mulai menggunakan kata-kata lepas atau kata-kata terpisah dari sandi linguistik untuk mencapai tujuan sosial mereka. Pengertian lain mengatakan bahwa pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi kognitif pra-linguistik.

Chaer (2003: 167) menjelaskam bahwa pemerolehan bahasa merupakan proses yang berlangsung didalam otak seseorang kanak-kanan ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya dengan cara meniru ucapan-ucapan yang didengarnya. Dengan demikian anak tersebut meniru ucapan-ucapan yang ia dengar melalui rangsanagan dan tanggapan yang dilalui panca inderanya maka seorang anak akan mencapai tahap kemampuan menghasilkan bahasa seperti model-model bahasa orang dewasa yang ia dengar.
Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa pertama (B1) anak terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Maksudnya adalah dalam mengutarakan sesuatu berfungsi untuk menyampaikan maksud atau keinginan tertentu. Pemerolehan bahasa anak-anak  dapat dikatakan memiliki ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit. (Yogatama, 2011: 69)
Maryati, dkk (2011: 4) mengutip pendapat Tarigan (1998) yang menjelaskan  Pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan, dan kemampuan untuk memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan dengan hal tersebut, maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman ataupun pengungkapan secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal.
Fromkin dan Rodman (dalam Yogatama, 2011: 69) menyebutkan ada beberapa hal yang dilakukan dan tidak dilakukan seorang anak ketika belajar atau memperoleh bahasa:
1.      Anak tidak belajar bahasa dengan cara menyimpan semua kata dan kalimat dalam sebuah kamus mental raksasa. Daftar kata-kata itu terbatas, tetapi tidak ada kamus yang bisa mencakup semua kalimat yang idak terbatas jumlahnya.
2.      Anak-anak dapat belajar menyusun kalimat, kebanyakan berupa kalimat yang belum pernah mereka hasilkan sebelumnya.
3.      Anak-anak belajar memahami kalimat yang belum pernah mereka dengar.




BAB III
PEMBAHASAN

A.    RAGAM PEMEROLEHAN BAHASA
Pemerolehan bahasa diklasifikasikan kedalam berbagai jenis. Maryati, dkk (2011: 10)  mengambil banyak sumber untuk menjelaskan ragam tersebut. Ragam atau jenis pemerolehan bahasa dapat kita tinjau dari berbagai sudut pandang, yaitu :
1.      Berdasarkan bentuk
Ditinjau dari segi bentuk, ragam pemerolehan bahasa anak meliputi :
a.       Pemerolehan bahasa pertama atau  first language acquisition 
b.      Pemerolehan bahasa kedua atau  second language acquisition
c.       Pemerolehan berulang-ulang atau  re-acquestion (klein, 1986 ; 3)
2.      Berdasarkan urutan
Ditinjau dari segi urutan, ragam pemerolehan anak meliputi :
a.       Pemerolehan bahasa pertama atau  first language acquisition
b.      Pemerolehan bahasa kedua atau  secong language acquisition (Winitiz, 1981 ; Stevens, 1984)
3.      Berdasarkan jumlah
Ditinjau dari segi jumlah, ragam pemerolehan anak meliputi :
a.       Pemerolehan satu bahasa atau monolingual acquestion
b.      Pemerolehan dua bahasa atau  bilingual acquestion ( Gracia, 1983).
4.      Berdasarkan media
Ditinjau dari segi media, ragam pemerolehan anak meliputi :
a.       Pemerolehan lisan atau oral language acquestion
b.      Pemerolehan bahasa tulis atau  written language acquestion (Freedman, 1985)
5.      Berdasarkan keaslian
Ditinjau dari segi keaslian atau keasingan, ragam pemerolehan anak meliputi :
a.       Pemerolehan bahasa asli atau native language acquestion
b.      Pemerolehan bahasa asing atau  foreign language acquestion (Winitz, 1981)


B.     PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK-ANAK
Banyak fenomena pemerolehan bahasa yang bisa ditemukan pada anak-anak. Macam-macam fenomena yang terjadi tergantung pada tingkatan umur anak-anak. Berikut ini hasil pembahasannya:
Pemerolehan bahasa tidak hanya berbentuk ujaran, namun juga bisa berbentuk isyarat. Bayi yang belum bisa mengeja huruf maupun melafalkan kata cenderung melakukan fenomena dibawah ini sebagai salah satu kegiatan pemerolehan bahasa pada masanya.

Isyarat
Artinya
·         Mengeluarkan makanan dari mulut
·         Mendorong putting susu dari mulut dengan lidah
·         Menolehkan kepala dari putting susu
Kenyang atau tidak lapar
·         Mencabik (pout)
Tidak senang
·         Mendorong benda jauh-jauh
Tidak menginginkannya
·         Menjangkau benda
Ingin memilikinya
·         Menjangkau seseorang
·         Tersenyum dan mengacungkan jari
Ingin ditimang atau digendong
·         Mengecapkan bibir atau mengeluarkan lidah
Lapar
        Bersin berlebihan
       Bergeliat
Dingin
         Bergeliat, meronta dan menangis selama berpakaian dan mandi
Tidak suka adanya pembatasan kegiatan

Beralih ke anak-anak dengan usia yang lebih tinggi. Berikut ini hasil sebuah penelitian  dalam suatu kelompok mengenai pemerolehan bahasa pada anak usia 3-5 tahun.
Anak  usia  3  tahun  memperoleh  jumlah kosakata  lebih  sedikit  dari  anak  usia  4  tahun  dan  5  tahun,  sedangkan  anak  usia  4 tahun memperoleh jumlah kosakata lebih banyak dari anak usia 5 tahun, namun disini selisih yang diperoleh anak usia 4 tahun dan 5 tahun tidak terlalu jauh, rata-rata anak usia  4  tahun  dan  5  tahun  telah  memperoleh  1000  kosakata  lebih.  Dengan  adanya perbedaan  individual dalam  jumlah pemerolehan kosakata mungkin  terjadi. Semakin bertambahnya  usia  memang  membuat  pemerolehan  kosakata  seorang  anak  akan semakin  bertambah.  Namun,  tetapi  karena  masing-masing  anak  mempunyai karakteristik  dan  keunikan  tersendiri  dari  pribadinya  yang  membuat  adanya perbedaan  individual  jumlah  kosakata  yang  diperoleh  seorang  anak  dari  usia  3    5 tahun. Dengan demikian dapat diketahui bahwa anak-anak memiliki karakteristik dan keunikan  tersendiri  dari  pribadinya.  Selain  itu  jenis  kata  terbanyak  yang  diperoleh anak usia 3 – 5  tahun  tidak mempunyai perbandingan yang  terlalu menonjol karena rata-rata anak usia 3 – 5  tahun menguasai  jenis kata benda yang menduduki urutan pertama. Kemudia kata kerja, kata sifat, dan kata lainnya.
Ada pula fenomena pemerolehan bahasa yang ditinjau dari perkembangan pra sekolah dan masa sekolah. Anak-anak prasekolah berupaya mengumpulkan nama-nama benda dan orang didunia namun hanya satu kata. Kemudian seiring bertambahnya umur mereka dapat menguasai beberapa kata sekaligus. Pada masa ini anak-anak mulai dapat menjawab pertanyaan sederhana dengan jawaban “ya”, “tidak”, jawaban yang menuntut informasi. Anak-anak mulai menciptakan lambang bunyi dan menggabungkan kalimat, klausa dan lain sebagainya. Pada perkembangan masa sekolah pertumbuhan sistem semantik dan sintaksis anak terus berkembang diiringi pengalaman yang semakin luas. Pada masa ini anak-anak mulai mengenal struktur dan kemampuan metalinguistik yang teus berkembang.
Selain fenomena positif, anak-anak juga mengalami masa pemerolehan bahsa yang mengarah pada perilaku negative atau disebut penyampaian yang tidak sosial. Pertama adalah melebih-lebihkan, hal ini terjadi pada anak usia 5 dan 7 tahun, merea berada pada posisi imajinasi yang melebihi penalaran. Secara sadar maupun tidak sadar mereka mengungkapkan hal-hal yang berlebihan. Kedua yakni membual, bualan paling banyak dilakukan pada anak usia 8-12 tahun. Hal ini terjadi karena pada umur itu mereka mengalami kecemasan terhadap kedudukan di dalam kelompok bermain. Ketiga adalah sebutan, umumnya terjadi pada bagian akhir masa anak-anak. Sebutan yang digunakan cenderung negatif, seperti bloon atau gendut agar nilai penting anak lain turun sedangkan keunggulan yang mereka miliki terlihat. Keempat yakni komentar hinaan. Anak-anak mulai mengeluarkan komentar hinaan dari usia 3 tahun untuk memaksa ego, menyalurkan perasaan, tersinggung, memberitahu pendapatnya tentang oramg lain.

 

BAB IV
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Kesimpulan pertama yang langsung terlihat adalah pemerolehan bahasa diklasifikasikan menjadi beberapa jenis sesuai dengan hal yang mendasari. Hal ini akan mempermudah para peneliti atau pengembang bahasa selanjutnya untuk mengembangkan penelitian tersebut.
Kesimpulan kedua yang dapat diambil adalah pemerolehan bahasa tidak hanya dapat dicerminkan melalui ujaran berupa kalimat saja namun juga syarat seperti yang terjadi pada bayi. Kemudian untuk anak-anak usia prasekolah dan usia sekolah sudah mulai berbahasa dengan baik. Berikut ini beberapa fenomena pemerolah bahasa pada anak-anak:
·       Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal
·       Anak sudah mamou membandingkan, missal besar dan kecil
·      Anak banyak bertanya, baik tentang benda , nama, tempat, dimana dan darimana
·      Anak-anak sudah banyak menggunakan kata-kata yang berawalan dan berakhiran

B.     SARAN
Banyak penelitian mengenai pemerolehan bahasa pada anak-anak. Hal tersebut dapat dijadikan referensi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan fenomena kebahasaan yang salah satunya adalah pemerolehan bahasa.





DAFTAR PUSTAKA
Azizah, Fathia Noor. Tanpa tahun. Pemerolehan Kosakata Anak Usia 3-5 Tahun di PAUD Kelompok Bermain Inklusif Anak Ceria Universitas Airlangga. Skriptorium, Vol. 1, No. 3
Yogatama, Adiprana. 2011. Pemerolehan Bahasa pada Anak Usia 3 Tahun Ditinjau dari Sudut Pandang Morfosintaksis. Jurnal LENSA, Vol. 1, No. 1
Hurlock, Elizabeth B. 1991. Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Chaer, Abdul. 2003. Psikolingiuistik: Kajian Teoritik. Jakarta: PT Rineka Cipta
Ghazali, Syukur. 2012. Mewujudkan Pemerolehan Bahasa dalam Pembelajaran di dalam Kelas. Pidato pengukuhan guru besar Universitas Negeri malang. 12 Desember 2012
Legowo, Edi, dkk. 2009. Perkembangan Peserta Didik. Surakarta: Yuma Pustaka
            www.wikipedia.org. diakses pada 20 November 2014 pukul 05.00 WIB