Sadar tidak kita sedang memintal luka yang sama. Luka yang kita pelihara sekian lama dan pada akhirnya semakin menganga. Sakitnya dari waktu ke waktu menggiring kita pada objek bernama pelampiasan. Objek yang kita harapkan mampu menjadi penawar sakit yang diam- diam menggerogoti perasaan. Ketika objek itu di depan mata, kita hanya bisa diam. Melihatnya lamat- lamat dan menyadari bahwa bukan itu penyembuh lukanya. Kemudian kita akan kembali ke belakang. Merasakan sakit yang sama atau bahkan lebih sakit lagi rasanya. Kemudian kita mencari pelarian yang lagi- lagi menuntun kita pada masa lalu. Begitu seterusnya hingga kita merasa jenuh dan ingin sekali mencaci takdir yang serasa tak adil.








0 komentar:
Posting Komentar