Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Sabtu, 28 Maret 2015

Kisahmu Sepanjang Masa, Aqin.

“kenapa Allah begitu baik?”
Ya, satu pertanyaan itu yang melayang-layang dikepalaku selama semalaman. Siapa sangka, agenda yang tidak terencana ini berbuah kesadaran.
Awan mendung terlukis dilangit  Solo. Perjalanan dari Solopos menuju kentingan terasa begitu cepat karena dibarengi rasa cemas jikalau hujan turun sebelum kami tiba. Hari itu, 28 Maret 2017 adalah jadwalku diskusi jurnalistik bersama salah satu forum kepenulisan milik Afifah Afra yang berdomisili di kota solo. Beberapa adik tingkat yang memiliki hobi serupa aku ajak untuk menemani sekaligus jalan-jalan melepas penatnya tugas kuliah. Setelah diskusi selesai, kami sepakat  untuk makan bersama. Cacing-cacing didalam perut harus segera diselamatkan.
Heran, ada jalan yang lebih cepat menuju kampus. Namun, adik-adik ini malah mengambil jalan paling jauh. “mereka butuh jalan-jalan mbk,” kata Maul, adik tingkat yang aku boncengkan dibelakang.  Aku mengiyakan saja. Mungkin inilah saatnya aku leren memikirkan masa kuliah tingkat tua. Cukup mengikuti bagaimana pola hidup adik-adik selama seharian ini.
Menerobos rintikan air yang kian besar butirannya. Keptusan mau makan dimana aku serahkan sepenuhnya kepada adik-adik. Sampailah kami di tempat makan Gudeg Jogja daerah ngoresan.  Apalah ini, jauh-jauh dari Manahan ternyata makannya hanya di samping kosan. Beberapa meter dari tempat makan itu kosku bertengger. Elah dik…
Memesan makan, membahas apa saja, tertawa, bercanda, ya itulah jadinya aku ketika bersama mereka. Rasanya menjadi Haniah yang lebih muda dua tahun. Mendadak lupa bahwa sudah semester tua. Senangnya, rasanya tak memiliki beban apapun. Prosesi makan selesai. Ibu pemilik tempat makan menawarkan untuk “tambah” bila belum kenyang. Menawarkan es cuma-cuma bila masih haus. Baik sekali.
Sang ibu merapat pada tempat duduk kami. Lesehan bersama kumpulan mahasiswa yang sedang “lari dari kenyataan.”  Haha . Siapa kira, sang ibu adalah tante dari Aqin, salah satu mahasiswa UNS yang terlebih dahulu dipanggil Allah karena penyakit GBS. Aku ingat betul ketika mahasiswa UNS secara serentak mengumpulkan dana untuk membantu pengobatan Aqin yang biayanya ratusan juta rupiah. Aku juga kembali ingat dua tahun lalu aku sempat menjengu Aqin. Masih tampak jelas kondisinya. Beberapa selang panjang menghiasi alat pernapasannya. Ia terbaring lemah di ruang ICU Dr. Oen. Rumah sekaligus tempat makan itu mungil. Terletak di gang awan 1, samping kuburan cina. Ternyata, rumah makan itu adalah obat kesepian dari sang ibu. Perses seperti nama Aqin, tempat makan itu dinamai.
kondisi Aqin
“biar banyak mahasiswa yang main, jadi ibu tidak kesepian. Pokoknya semua yang kesini sudah ibu anggap anak sendiri,” kata sang ibu.
Aku melongo. Adik-adik lebih melongo karena mereka belum masuk universitas ketika Aqin masih ada. Melalui raut wajah sang ibu, bisa kulihat bekas-bekas kehilangan yang mungkin tak pernah bisa hilang. Bunda (ibu kandung Aqin) masuk ke kamar dan mengambil sebuah handphone yang terpasang foto Aqin. “Ibu ndak akan pernah hapus foto ini, tidak akan pernah mbk.” Oke fix. Sisi melankolisku bergejolak.
Bunda bercerita betapa baik dan cantik anaknya. Penurut dengan orang tua dan sregep. Hanya saja, ada satu hal yang disayangkan katanya. Dia begitu malas untuk makan bila sudah kelelahan, memilih tidur saja. Aktif di organisasi kampus pula.  Berawal dari  sakit maag yang kemudian berujung pada maut, itu kesimpulan yang bisa aku ambil dari pemaparan panjang bunda. Maag yang kronis membuat sistem kekebalan tubuh Aqin  terganggu, sehingga banyak penyakit yang bisa menyerang dia kapan pun. GBS menjalari Aqin selama 44 hari sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir. “sesibuk atau secapek apapun jangan lupa makan. Sehat itu nikmat. Minimal bawa roti dan air minum kemana-mana. Ibu sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan anak,” ujar sang ibu menasihati.
Aku tertampar. Ingat kebiasaanku yang jarang makan. Sehari sekali, bisa dua kali saja sudah Alhamdulillah. Ketika pulang ke matesih ibu selalu marah-marah dan menjudment aku cacingan. “Tidak ibu, aku baik-baik saja,” itulah yang aku ungkapkan dalam bahasa jawa. Bukan karena pengiritan, hanya saja kau tak bisa makan sendirian. Aku juga tak suka makan dengan buru-buru. Lebih baik tak makan sekalian bila waktu dan agenda sedang tak bisa menunggu. Sungguh kebiasaan tak makan itu merusak diri sendiri. Entah bagaimana cara Allah mengingatkan setiap umatnya. Aku rasa hari inilah Allah bermaksud membuka mataku. Persoalan tak makan ini harusnya bukan lagi masalah diusiaku yang ke 21 ini. Beberapa memori di kepalaku muncul lagi, “bagaimana mau mengurus anak orang kalau ngurus diri sendiri saja belum bisa.” Ya. Itu nasihat dari seseorang yang aku lupa siapa. Sebut saja dia anonim.
Adik-adik yang ikut nimbrung ternyata antusias juga dengan cerita sang ibu dan bunda. Berbincangan kami ditutup dengan sholat jamaah magrib. Hujan masih belum berdamai. Makin lama-makin deras saja. rasanya tak ingin pulang. Muhksin tertidur pulas. Lutfi, Agung dan maul berbaring santai sambil menonton film. Aku? Pikiranku masih berlari-lari,“Besok aku harus beli sarapan!”. Sungguh makan ditempat ini serasa di rumah sendiri, kami benar-benar tak ingin pulang. Semoga Allah menempatkanmu disisi terbaiknya Aqin.  

Sabtu, 07 Maret 2015

(Lagi-lagi) Jarak

Kita sedang berjauhan
Bukan untuk memupuk rindu
Namun untuk saling melupakan
Kepada jarak yang sudah sengaja aku ciptakan
Entah kau sadar ataupun terabaikan
Semoga dengan cara ini
Kita tak lagi saling menyakiti
Alasan tak lagi berpemilik
Dalam diamku, diammu dan keabu-abuan
Bersama kita tutup lembaran dengan "cukup sekian"

Jumat, 06 Maret 2015

Kamu dan Tulisanku

Sebelumnya mungkin aku harus meminta maaf terlebih dahulu. Maaf, aku belum meminta izin untuk menjadikanmu bahan tulisan-tulisanku.

Sepatu by Tulus


Saat Syukuran

Orang-orang sedang riweh menyantap hidangan makan siang. Beberapa terlihat bingung memilih lauk. Om Egar, adik bapak yang bertubuh tambun selesai mengambil dua centong nasi dari bakul. Telur balado dan ayam goreng ia curi dari meja makan.  Disusul pakde dan budhe serta keponakan-keponakan yang sedari tadi berlari-lari riang. Mereka tampak kelaparan. Aku termenung. Duduk dipinggir pendhapa  yang lantainya  20 cm lebih tinggi. Perasaanku bilang masih ada yang kurang. Sayangnya, aku tak tahu itu apa. Acara syukuran wisudaku ini sudah lebih dari cukup untuk dikatakan meriah. Lalu, apa yang kurang?
Hidangan? enak. Saudara? Lengkap. Meriah? banget.  Ayah dan ibu juga terlihat sangat antusias dengan acara ini. Tetap saja, masih ada yang mengganjal, tapi apa. Entahlah. Aku kembali fokus pada tamu yang sudah mulai menyantap hidangan.  Handphone-ku bergetar. Ada sms masuk dari sahabat kentalku, Anjani, katanya ia tak bisa datang hari ini. Oh, mungkin ini yang membuat hatiku terasa berat. Anjani sudah datang ketika wisudaku di universitas kemarin. Hari ini dia pasti tak ingin izin kerja lagi untuk sekadar datang kesini. Temanku itu benar-benar ingin menjadi wanita karir yang sukses. Aku bangga dengannya.
Lamat-lamat  kudengar derum mesin sepeda motor didepan rumah. Aku hanya celingukan, memberi  tanda bahwa ada tamu tambahan.  Aku berdiri ketika tamu baru menyembul dari pintu. Ternyata tetangga yang rumahnya diujung desa juga turut hadir. Senang sekali melihat para tamu yang saling berbincang satu sama lain. Tak ada ikatan darah, namun semua bisa saling beramah-tamah. Aku duduk kembali.  “Masih ada yang mengganjal, tapi apa?” aku bertanya pada diriku sendiri. Kuhirup napas dalam-dalam lalu aku hembuskan cepat.  Tiba-tiba seseorang berdiri dihadapanku. Aku mendongkak. Melihat  dari kaki ,naik dan naik hingga wajah itu membuatku sedikit linglung. 

Give me a smile,” ujarmu sambil tersenyum. Kemarin  kau bilang tak akan datang. Kau terlihat begitu tinggi dengan posisi begini. Aku tetap duduk. Tak beranjak sedikit pun. Senyumku mengembang. Aku paham apa yang tadi kurasa ada yang kurang. “Makanlah dahulu,” kataku menutupi rasa malu.

Kamis, 05 Maret 2015

Diam-Diam Peduli

Aku tidak harus menunjukkan kepedulianku terhadapmu pada semua orang bukan? 
Aku kepadamu adalah seseorang dengan orang lain yang bukan siapa-siapa. Jika aku peduli kepadamu, itu semata karena aku tidak tahu tentang bagiamana cara mengatasi perasaan. Setidaknya aku mampu menahannya dengan cukup mendoakan.
 Aku menahannya untuk tidak lebih dari itu.
~ Kurniawan Gunadi~

Senin, 02 Maret 2015

Ini Cara Tuhan Memperlakukan Kita

Aku memang tak pernah bisa mengerti bagaimana jalan pikiran seorang laki-laki. Ketika ia pergi apakah berarti ia tak sanggup lagi? atau mungkin ia sedang menjaga hati? atau masih adakah kemungkinan lain yang masih belum aku mengerti?
Apalah yang sedang kau lakukan, aku berdoa agar Tuhan selalu memberi kemudahan. Biarlah aku pupuk rindu ini sendirian. Sampai batas waktu yang entah kapan masih ada kekuatan. Aku percaya, Tuhan punya cara. Mengijabah doa atau menutup luka dengan nikmat yang lebih indah dan tak aku kira sebelumnya.
Tuhan Maha Romantis
Selamat menunaikan mimpimu :"
Aku adalah perempuan yang senantiasa mendukungmu.
Aku juga percaya Tuhan punya cara-Nya sendiri dalam memperlakukan kita.