Jumat, 06 Maret 2015

Saat Syukuran

Orang-orang sedang riweh menyantap hidangan makan siang. Beberapa terlihat bingung memilih lauk. Om Egar, adik bapak yang bertubuh tambun selesai mengambil dua centong nasi dari bakul. Telur balado dan ayam goreng ia curi dari meja makan.  Disusul pakde dan budhe serta keponakan-keponakan yang sedari tadi berlari-lari riang. Mereka tampak kelaparan. Aku termenung. Duduk dipinggir pendhapa  yang lantainya  20 cm lebih tinggi. Perasaanku bilang masih ada yang kurang. Sayangnya, aku tak tahu itu apa. Acara syukuran wisudaku ini sudah lebih dari cukup untuk dikatakan meriah. Lalu, apa yang kurang?

Hidangan? enak. Saudara? Lengkap. Meriah? banget.  Ayah dan ibu juga terlihat sangat antusias dengan acara ini. Tetap saja, masih ada yang mengganjal, tapi apa. Entahlah. Aku kembali fokus pada tamu yang sudah mulai menyantap hidangan.  Handphone-ku bergetar. Ada sms masuk dari sahabat kentalku, Anjani, katanya ia tak bisa datang hari ini. Oh, mungkin ini yang membuat hatiku terasa berat. Anjani sudah datang ketika wisudaku di universitas kemarin. Hari ini dia pasti tak ingin izin kerja lagi untuk sekadar datang kesini. Temanku itu benar-benar ingin menjadi wanita karir yang sukses. Aku bangga dengannya.
Lamat-lamat  kudengar derum mesin sepeda motor didepan rumah. Aku hanya celingukan, memberi  tanda bahwa ada tamu tambahan.  Aku berdiri ketika tamu baru menyembul dari pintu. Ternyata tetangga yang rumahnya diujung desa juga turut hadir. Senang sekali melihat para tamu yang saling berbincang satu sama lain. Tak ada ikatan darah, namun semua bisa saling beramah-tamah. Aku duduk kembali.  “Masih ada yang mengganjal, tapi apa?” aku bertanya pada diriku sendiri. Kuhirup napas dalam-dalam lalu aku hembuskan cepat.  Tiba-tiba seseorang berdiri dihadapanku. Aku mendongkak. Melihat  dari kaki ,naik dan naik hingga wajah itu membuatku sedikit linglung. 

Give me a smile,” ujarmu sambil tersenyum. Kemarin  kau bilang tak akan datang. Kau terlihat begitu tinggi dengan posisi begini. Aku tetap duduk. Tak beranjak sedikit pun. Senyumku mengembang. Aku paham apa yang tadi kurasa ada yang kurang. “Makanlah dahulu,” kataku menutupi rasa malu.

0 komentar:

Posting Komentar