Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Selasa, 28 Maret 2017

KARYA SASTRA UNTUK KARAKTER MANUSIA


          Karya sastra merupakan hasil kreativitas manusia yang patut diberi apresiasi tinggi. Sastra adalah hasil refleksi kehidupan nyata yang kemudian diubah ke dalam dunia tulis-menulis dan jadilah sebuah cerita dengan segala kreativitasnya. Rudi Cahyono, founder Indonesia Bercerita (indonesiabercerita.org) mengungkapkan bahwa, “ bercerita itu dapat merubah dari hati tanpa menyakiti, efek lembut tanpa melukai”. Bercerita adalah aktualisasi dari karya sastra, hal tersebut menunjukkan bahwa kekuatan karya sastra bisa membentuk karakter seseorang dengan tanpa disadari karena sifatnya memberi pelajaran tanpa melukai perasaan. Berbeda dengan pembentukan karakter yang pada umumnya diterapkan secara verbal langsung atau tindakan nyata (biasanya diberikan melalui training). Seseorang terbentuk karakternya namun harus memalui cara-cara yang cukup menyakitkan untuk mengubah mindset lamanya yaitu karakter yang kurang baik yang mulai dibangun. 
  
     Sebagaimana diungkapkan oleh Mujiyanto,  Yant dan Amir Fuady (2010: 13). Dari karya sastra yang dihayati secara mendalam, anak akan memperoleh khazanah kata dan ungkapan-ungkapan puitis, santapan ruhani, renungan filsafat, perbendaharaan pengalaman hidup, penghayatan humanitas dan religiositas, kepedulian sosial, dan seterusnya. Dari sana, anak pun bisa berangkat lebih arif, lebih halus jiwanya, lebih peka perasaannya, lebih manusiawi. Beberapa aspek yang disajikan oleh karya sastra adalah ketuhanan, etika dan moral, romantisme dan banyak lainnya. Misalnya saja karya sastra Bumi Cinta karangan Habibburahman yang bernuansa religius dan menbangun jiwa. Dalam buku tersebut dapat ditangkap penanaman karakter penguatan iman, ketabahan serta keiklasan dalam menghadapi segala ujian dari Tuhan. Sastra adalah cerita yang bukan sekadar cerita namun deretan kata-kata memiliki kedalaman makna.
 Karya sastra tidak hanya menghibur namun juga bersifat mengajarkan melalui amanat-amanat yang disampaikan dari alur ceritanya. Contoh lain adalah novel Bekisar Merah yang menonjolkan sisi etika dan moral. Bekisar Merah menceritakan bagaimana kehidupan seorang bekisar (pelacur) yang hina dan menjijikkan. Dari novel tersebut dapat diambil pelajaran bahwa moral seorang pelacur itu buruk sehingga jangan sampai menjadi seperti itu. Hal itu hanya dialami oleh orang-orang tertentu, namun melalui karya sastra Bekisar Merah masyarakat menjadi tahu bagaimana kondisi lain dunia dan belajar untuk menghindarinya. Penguatan juga disampaikan oleh Mohammad Kanzunnudin (2012: 203), karya sastra yang melukiskan dan mengisahkan berbagai tipe karakter tokoh, dapat dijadikan media pendidikan karakter bagi peserta didik (manusia), yakni memberikan teladan kualitas tingkatan watak atau kepribadian yang harus ditiru.
Sastra diyakini dapat menjadi sarana dalam menanam dan memupuk, mengembangkan bahkan melestarikan nilai-nilai yang diyakini baik dan berharga oleh keluarga, masyarakat dan bangsa (Nurgiyantoro, Burhan: 2004: 122). Didalam sastra terdapat pembelajaran kehidupan tanpa orang tersebut harus melaluinya sendiri, sehingga watak dan karakter yang terbentuk akan menjadi benteng pencegah dan sumber pengalaman hidup. Karya sastra memang bersifat fiktif atau khayalan belaka, namun patut kita ingat bahwa sefiksi apapun sebuah cerita pasti ada pesan yang disampaikan.
Membaca karya sastra maupun membuat karya sastra terbukti mampu menjadi pengendali emosi. Beberapa penelitian sudah dilakukan dan hasilnya adalah menulis dapat menjadi media penurun stress yang lumayan efektif. Hal ini mengambarkan penanaman karakter sabar dan tenang dalam menghadapi suatu persoalan. Seperti kata Helvy Tiana Rosa, “Sastra bisa menampung semua gejolak dalam diri, mengurangi derita serta membuatmu lebih peka serta berdaya.”