Karya
sastra merupakan hasil kreativitas manusia yang patut diberi apresiasi tinggi. Sastra
adalah hasil refleksi kehidupan nyata yang kemudian diubah ke dalam dunia
tulis-menulis dan jadilah sebuah cerita dengan segala kreativitasnya. Rudi
Cahyono, founder Indonesia Bercerita
(indonesiabercerita.org) mengungkapkan bahwa, “ bercerita itu dapat merubah
dari hati tanpa menyakiti, efek lembut tanpa melukai”. Bercerita adalah
aktualisasi dari karya sastra, hal tersebut menunjukkan bahwa kekuatan karya
sastra bisa membentuk karakter seseorang dengan tanpa disadari karena sifatnya
memberi pelajaran tanpa melukai perasaan. Berbeda dengan pembentukan karakter
yang pada umumnya diterapkan secara verbal langsung atau tindakan nyata (biasanya
diberikan melalui training). Seseorang terbentuk karakternya namun harus
memalui cara-cara yang cukup menyakitkan untuk mengubah mindset lamanya yaitu karakter yang kurang baik yang mulai
dibangun.
Sebagaimana diungkapkan oleh Mujiyanto,
Yant dan Amir Fuady (2010: 13). Dari karya sastra yang dihayati secara
mendalam, anak akan memperoleh khazanah kata dan ungkapan-ungkapan puitis,
santapan ruhani, renungan filsafat, perbendaharaan pengalaman hidup,
penghayatan humanitas dan religiositas, kepedulian sosial, dan seterusnya. Dari
sana, anak pun bisa berangkat lebih arif, lebih halus jiwanya, lebih peka
perasaannya, lebih manusiawi. Beberapa aspek yang disajikan oleh karya sastra
adalah ketuhanan, etika dan moral, romantisme dan banyak lainnya. Misalnya saja
karya sastra Bumi Cinta karangan Habibburahman yang bernuansa religius dan
menbangun jiwa. Dalam buku tersebut dapat ditangkap penanaman karakter
penguatan iman, ketabahan serta keiklasan dalam menghadapi segala ujian dari
Tuhan. Sastra adalah cerita yang bukan sekadar cerita namun deretan kata-kata memiliki
kedalaman makna.
Karya sastra tidak hanya menghibur namun juga bersifat mengajarkan melalui amanat-amanat yang disampaikan dari alur ceritanya. Contoh lain adalah novel Bekisar Merah yang menonjolkan sisi etika dan moral. Bekisar Merah menceritakan bagaimana kehidupan seorang bekisar (pelacur) yang hina dan menjijikkan. Dari novel tersebut dapat diambil pelajaran bahwa moral seorang pelacur itu buruk sehingga jangan sampai menjadi seperti itu. Hal itu hanya dialami oleh orang-orang tertentu, namun melalui karya sastra Bekisar Merah masyarakat menjadi tahu bagaimana kondisi lain dunia dan belajar untuk menghindarinya. Penguatan juga disampaikan oleh Mohammad Kanzunnudin (2012: 203), karya sastra yang melukiskan dan mengisahkan berbagai tipe karakter tokoh, dapat dijadikan media pendidikan karakter bagi peserta didik (manusia), yakni memberikan teladan kualitas tingkatan watak atau kepribadian yang harus ditiru.
Sastra
diyakini dapat menjadi sarana dalam menanam dan memupuk, mengembangkan bahkan
melestarikan nilai-nilai yang diyakini baik dan berharga oleh keluarga,
masyarakat dan bangsa (Nurgiyantoro, Burhan: 2004: 122). Didalam sastra
terdapat pembelajaran kehidupan tanpa orang tersebut harus melaluinya sendiri,
sehingga watak dan karakter yang terbentuk akan menjadi benteng pencegah dan
sumber pengalaman hidup. Karya sastra memang bersifat fiktif atau khayalan
belaka, namun patut kita ingat bahwa sefiksi apapun sebuah cerita pasti ada
pesan yang disampaikan.








0 komentar:
Posting Komentar