Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Minggu, 11 September 2016

WISUDA ATAU WIS UDAH?

                                                                      BAB I
                                                        WISUDA atau WIS UDAH

Ciee yang kemarin habis wisuda. Bagaimana? Bahagia banget kan ya. Sudah dandan cantik, di gandeng orang tua, dikelilingi sahabat-sahabat tercinta, plus di hujani hadiah dan doa yang tak terhitung besarannya. Sebagai seorang yang menyandang status mahasiswa, wisuda adalah perhelatan akbar yang paling ditunggu-tunggu bahkan sejak semester satu. Melihat kakak tingkat memakai toga ingin sekali rasanya mempercepat waktu agar kita dapat lekas ikut memakainya juga. Apalagi dengan tambahan selendang “cumlaude” yang banyak mahasiswa mengincarnya. Tidak semua mahasiswa mengimpikannya sih, sebagian mahasiswa ada juga kok yang menomorduakan selempang kebesaran itu. Tergantung cara pandang pribadi masing-masing. Cumlaude atau tidak selepas wisuda, akan menjadi sama bagi semua mantan mahasiswa. Sama-sama pencari kerja, pemburu beasiswa, dan pemburu jodoh juga tentunya. Pembeda dari masing-masing mantan mahasiswa hanyalah satu yaitu tekad dalam menggapai mimpi-mimpi mereka. 
Ciee yang jadi mantan, mantan mahasiswa.
Mantan mahasiswa yang bernilai baik pun jika tak memiliki tekad baja berlapis tembaga akan kalah dengan mantan mahasiswa yang nilainya pas-pasan tapi tahan banting di segala rintangan. Kehidupan pascawisuda bukan lagi kehidupan yang remeh-temeh. Deretan para mantan (red: mantan mahasiswa) satu persatu akan menyadari bahwa masa kuliah adalah masa yang paling indah. Mantan mahasiswa yang bisa berlanjut ke S2 mungkin bisa sedikit lega karena mengulang masa kuliah mereka kembali. Jangan dikira gampang, semakin tinggi tingkat pendidikan, tantangan dan kesulitannya pasti makin sulit loh ya. Itu sudah menjadi rahasia umum. Nah bagi para mantan yang pada akhirnya terjerumus pada lubang kumpulan pencari kerja, mereka harus bersaing demi satu pekerjaan. Mereka yang memiliki kualitas skill bagus  akan lolos, sedangkan yang kurang sudah dipastikan harus lebih giat lagi mencari pekerjaan lain. Tidak jarang banyak lulusan univerisitas yang mau tidak mau harus bekerja di bidang yang berbeda dari jurusannya kuliah dahulu. Salah satunya bisa karena kalah saing, meski faktornya tidak hanya itu. Ada sebagaian mantan yang memang ingin mencari pengalaman lain, ada juga yang memang sudah memiliki koneksi di suatu lembaga tertentu, dan sederet alasan yang membuat mereka rela bekerja di lintas bidang.
Terus, bagaimana nasib para mantan yang memilih alternatif ketiga? Alternatif ketiga dari pembahasan buku ini yaitu menikah. Adakah yang tidak ingin menikah? Pasti semua ingin menyempurnakan separu agama bukan? Yang kemarin masih bingung cari pendamping wisuda, pascawisuda sudah bisa tuh masukin proposal ke murabbi-nya. Menikah ketika masih menyandang status mahasiswa tentu adalah keputusan yang bisa dibilang sulit pakai banget. Baik pihak laki-lai maupun perempuan, dua-duanya akan memberikan dampak yang besar. Beberapa teman kuliah saya memang ada yang menikah ketika masih kuliah, dan saya bangga dengan mereka. Berarti mereka adalah pasangan yang berani mengambil langkah konkrit dan komitmen yang selangit. Tidak banyak orang loh yang mampu seperti mereka. Jika mau mengikuti jejak mereka, lihat dahulu apakah kita mampu atau tidak. Apakah kita sudah pantas? Bagaimana pendapat orang tua? Banyak deh yang harus dipertimbangkan. Apalagi jika dibarengi dengan menyusun skripsi. Iya sih ada yang nemenin, tapi bukankah lebih baik diselesaikan satu per satu dahulu. Tundukkan hawa nafsu dengan perbanyak puasa dan ibadah. Cara itu akan membuat kita semakin dekat dengan Sang Pencipta dan semakin terasa ujian hati yang harus di lalui demi mencapai kebahagiaan. Yakin deh pas menikah nanti bahagiamu akan dua kali lipat. Allah menimpakah ujian beserta kenikmatan. Menurunkan kesedihan beserta kegembiraan. Kemiskinan beserta kekayaan. Melahirkan kita dengan jodoh yang merupakan cerminan. Sah? Saaahhhh. 
Nikah juga pilihan hlo
Nah tiga tema dasar sudah saya bocorkan di pembahasan di atas. Teman-teman yang beberapa waktu lalu sudah puas merasakan moment wisuda saatnya mulai berpikir tentang tahap lanjutan pascawisuda. Apakah ingin merasakah wisuda yang selanjutnya atau memilih untuk mengakhiri sampai di sini saja alias “wis udah”? jawaban itu hanya bisa di jawab oleh teman-teman pembaca sendiri.
Buku ini hadir untuk membekali teman-teman dan memberikan gambaran kepada teman-teman mengenai perbedaan tiga tema besar yang diusung. Masing-masing tema besar akan ada sub tema lain yang akan membantu teman-teman untuk meyakinkan diri terhadap keputusan yang akan diambil. Ingat, kesempatan yang sama tidak pernah datang dua kali. Waktu yang tersisa usai wisuda bukan lagi waktu untuk bersantai-santai ria seperti ketika kita selesai ujian UAS ya. Pasca wisuda adalah moment penting yang akan menentukan masa depan teman-teman.  Apakah memilih bangkit, berhenti sejenak, atau malah berhenti total alias menjadi pengangguran. 
Lempar toga. Dulu iya juga gak?
Pilihan manapun yang akan teman-teman ambil dari ketiga pilihan diatas: kuliah, kerja, nikah, ketiganya adalah pilihan yang sama-sama baik. Lebih baik lagi ketika pilihan yang diambil dapat membahagiakan banyak orang. Misalkan memilih jadi penulis lepas karena tidak suka dengan rutinitas kerja ala karyawan. It is oke. Jika itu adalah pilihan yang menurut teman-teman baik dan sudah dipikirkan matang-matang, bukan masalah. Masa depan adalah kita yang tentukan, bukan orang tua, keluarga, apalagi tetangga. Jika masih ada mantan mahasiswa yang masih berada di zona nyamannya dan enggan untuk bangkit, ingatkan. Mungkin ia lupa dengan makna Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dulu pernah di semayamkan dalam diri. So, yuk tentukan pilihanmu wahai para mantan.

BELAJAR MEMBUAT MATRIKS BUKU

SPESIFIKASI
JUDUL BUKU          : Ya Allah Aku Galau
PENULIS                 : Haniah
KELOMPOK            : Mahasiswa dan fresh graduate
JENIS BUKU            : Buku bacaan dewasa muda
TARGET PEMBACA:

  • Pendidikan: mahasiswa tingkat akhir, fresh graduate 
  •  Wilayah: Kota-kota dengan universitas yang padat 
  • Usia: pembaca dewasa 20-27 tahun

FISIK BUKU

  •  Halaman naskah: 150 halaman 
  • Ukuran buku: 15 cm x 20 cm 
  • Sampul: soft cover berwarna 
  • Perkiraan halaman buku: 160 
  • Pembatas buku: 5 cm x 10 cm yang dapat ditulisi jalan hidup pilihan 
  • Perkiraan harga jual: 40-50 ribu



LATAR BELAKANG
KONSEP
    Pada jumlah pengangguran di Indonesia masih tergolong tinggi. Mirisnya salah satu bagian yang mengisi blok pengangguran beasal dari orang-orang yang notabene telah selesai menempuh pendidikan tinggi. Buku Ya Allah Aku Galau adalah sebuah karya yang ingin membantu para mahasiswa dan mantan mahasiswa agar segera menentukan pilihan hidupnya dan tak terlalu lama menyandang status pengangguran.
DESAIN
    Disertai kutipan-kutipan motivasi dari tokoh-tokoh yang mengguggah dari berbagai bidang seperti, Bob Sadino, Sapardi Djoko Damono, Anis Baswedan, SBY, dan lain sebagainya. Setiap bab memiliki kisah nyata yang dapat diteladani dan dijadikan pelajaran oleh pembaca.
TEMA
Menentukan pilihan hidup setelah lulus kuliah dan anti menganggur
MANFAAT BAGI PEMBACA (KELEBIHAN)

  • Memberi pencerahan dari tiap jalan yang dipilih usai wisuda 
  • Mendapat informasi beasiswa yang dapat digunakan sebagai biaya kuliah 
  • Mengetahui kadar kesiapan menikah 
  • Membantu mengetahui tujuan hidup ke depan

FAKTOR LAIN (KEKURANGAN)

  • Pembaca kurang berminat membaca karya penulis baru 
  • Harga terlalu tinggi untuk kalangan mahasiswa 
  • Pembaca sudah memiliki pilihan sendiri 

Sabtu, 03 September 2016

HAI KAMU LAKI-LAKI BERAGAMA BAIK

Cinta sejati seharusnya tak membuat kita ragu. Tak membuat kita gundah. Cinta sejati itu menguatkan, bukan malah melemahkan. Kalau belum jadi apa-apa saja sudah sering mengajak  maksiat. Bagaimana dia bisa membimbing menuju surga Allah dengan cara yang tepat?

Saya sedang banyak berpikir tentang cinta akhir-akhir ini. Sindrom pascawisuda benar-benar sudah menjangkiti terlalu dalam hingga ubun-ubun. Saban hari pikiran sibuk mencacah setiap pertanyaan yang masuk lewat telinga. Hei kapan nikah? Kapan nyusul? Kapan punya momongan? Teman-temanmu sudah banyak yang punya gandengan hloo. Hei kamu, iya kamu yang sering tanya kayak gitu. Nikah itu bukan perkara bim salabim. Minta langsung ada. Pengen langsung jatuh dari langit. Nikah tak seremeh itu gaes. Harap mengerti situasi. Harap sabar dengan segala kondisi. Harap menanti status single berubah jadi sang istri.

“Selamat atasmu karena kesabaranmu. Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-rad: 24)

Saya sendiri sebenarnya tak begitu ambil pusing (awalnya), tapi kalau ditanyain terus lama-lama pusing beneran. Jadi mikir juga. Jadi baper juga. Kapan ya saya nikahnya? Masih lama? Sama siapa ya kira-kira? Ahh pertanyaan itu sepertinya terlalu sederhana tapi jawabannya sulit kayak soal matematika sama fisika. Oke, cukup galau-galauannya. Saya sedang tak ingin membahas itu, melainkan lebih dalam dari itu haha. Di kesempatan ini, saya ingin berbagi tentang satu hal yang amat penting dan pasti sangat membantu buat para ukhti-ukhti yang sedang mempersiapkan diri. Cuma share saja, barangkali ada yang sedang galau dan belum nemu obatnya.
Are you a good man?
 Mengenai seorang laki-laki yang beragama baik. Hampir semua buku-buku ranah dewasa (red: buku pernikahan) pasti mencantumkan satu hadist yang isinya kurang lebih sebagai berikut:

“Apabila datang laki-laki untuk meminang yang kamu ridhoi agamanya dan akhlaknya maka kawinkanlah dia, dan bila tidak kamu lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Tuh, serem amat. Kalau ada laki-laki baik agama dan akhlaknya datang meminang harus diterima. Kalau tidak akan merusak muka bumi. Bumi yang segede ini bisa rusak gara-gara ada satu hati yang patah hati tuh. Keren ya orang jatuh cinta itu haha. Hadist di atas diperkuat dengan satu hadist fenomenal yang hampir tiap remaja dewasa pasti pernah baca. Habis baca ini pasti tambah yakin ya milih pasangan yang sholeh itu wajib hukumnya. Agama sangat menekankan dan menganjurkan setiap muda-mudi yang sudah terkena malarindu untuk menikah dengan muslim/ muslimah yang baik agamanya.

“Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta, karena kedudukan, karena kecantikan dan karena agamanya. Hendaklah pilih yang beragama agar berkah kedua tanganmu.” (HR. Muslim)

Hadist tentang keutamaan memberatkan pilihan pada sisi agama dan akhlak tentu tidak hanya berlaku untuk wanita saja. Di posisikan untuk laki-laki juga bisa. Sudah bukan gossip lagi kalau perempuan juga bisa memilih siapa laki-laki yang ia inginkan untuk jadi pasangan dunia akhirat bukan. Bahkah Bunda Khadijah menawarkan dirinya untuk dipersunting oleh Rasulullah. Kalau tidak sesuai ya tolak, kalau sesuai ya diam. Kan katanya tanda seorang perempuan setuju itu ada pada diamnya haha. Malu-malu tapi mau gitu deh.
Ya, kembali ke topik yang saya janjikan di awal. Tentang laki-laki yang harus  diprioritaskan untuk dijadikan pendamping hidup. Tak lain dan tak bukan adalah laki-laki yang baik agamanya. Kalau agamanya baik, akhlaknya pasti juga baik karena dua komponen itu saling bertautan. Kalau kata film yang saya pernah lihat di youtube berjudul “Bicara Cinta” (silakan download sendiri), agama itu ibarat angka satu. Ketampanan, kekayaan, kedudukan adalah angka nol. Jadi kalau agama ditempatkan paling depan dan segi lain ditempatkan setelahnya, maka kita akan mendapat kebaikan sebanyak 1000. Kalau agama ditempatkan di paling belakang, maka yang kita dapatkan 0001. Nah, lebih mudah dicerna bukan?
Bicara Cinta on Youtube
Agama yang baik pada seorang laki-laki memang gampang-gampang sulit untuk dilihat dengan mata telanjang. Tenang, Allah memberikan mata hati yang bisa melihat luar dalam kok. Jadi kalau seorang laki-laki agamanya baik pasti kelihatan dari inner handsome-nya. Begitupun untuk perempuan yang bisa memancarkan inner beauty yang khas. Mati hati bisa bekerja kalau hati bersih dari noda loh ya. Semakin banyak dosa yang sudah kita lakukan, maka mata hati pun lama kelamaan akan melemah fungsinya. Hati-hati nanti hatinya mati.
Saya pernah mengajukan pertanyaan dalam sebuah diskusi ringan. Diskusi itu beranggotakan ukhti-ukhti yang saya pandang memiliki kualitas agama yang baik bahkan menurut saya sudah level tinggi. Saya bertanya mengenai “seperti apa laki-laki yang agamanya baik?” karena menurut buku-buku yang pernah saya lahap sebelumnya, belum pernah dijelaskan tentang kriteria riil terkait hal tersebut. Kebanyakan ya cuma mengatakan “pilihlah yang baik agamanya” padahal saya butuh yang lebih konkrit. Apa yang rajin baca quran atau yang sudah bisa qurban pakai uang sendiri atau yang cukup sholat lima waktunya baik gitu. Intinya saya sedang bertanya-tanya tentang standar laki-laki yang bisa dikatakan beragama baik dengan contoh yang lebih bisa diterima logika.
Salah satu teman saya akhirnya berkomentar. Ia menjelaskan kriteria laki-laki beragama baik versi dia. Meski dari versi dia sendiri, saya sangat setuju. Bahkan kagum dan langsung mengalami AHA moment, “ini dia jawaban yang aku butuhkan.” Nah berikut ini intisari dari jawaban teman-teman saya dalam diskusi ringan untuk galau yang positif haha.
Jadi laki-laki yang dikatakan baik agamanya itu adalah laki-laki yang bisa mengamalkan perintah agama dengan maksimal dan sebaik-baiknya. Tidak hanya dilihat dari hubungannya dengan Allah, melainkan juga hubungannya dengan sesama manusia seperti orang tua, saudara, tetangga, dan teman. Hubungan dengan Allah itu disebut hubungan secara vertical, sedangkan hubungan dengan sesama umat manusia atau mahkluk hidup lain disebut hubungan horizontal. Dua-duanya harus diperhatikan. Contoh dari hubungan verikal atau hubungan dengan Allah itu ya laki-laki yang tepat waktu melaksanakan sholat (lebih baik lagi yang sudah terbiasa mengamalkan sholat sunah), kemudian berjamaah (lebih-lebih di masjid), dan kegiatan-kegiatan dakwah fii sabilillah apa saja yang ia kerjakan sebagai suatu bentuk amalan dunia akhirat.
Hubungan horizontal bisa dilihat dari baktinya kepada orang tua, suka membangkang atau tidak, kemudian kasih sayangnya terhadap kakak/ adik/ saudara lain hingga teman-teman di lingkungannya. Bukan perkara laki-laki itu dihormati atau tidak, melainkan kebermanfaatan laki-laki tersebut untuk sesamanya. Orang yang memiliki manfaat pasti menebar energi positif yang banyak membuatnya dekat dan hangat dengan orang-orang meskipun tidak memiliki posisi strategis dalam lingkungan bergaulnya. 
Jodoh Cerminan Dirimu
 Sebenarnya penjelasan di atas juga dapat dijadikan patokan atau minimal informasi mengenai perempuan yang beragama baik. Kata lainnya tidak hanya berlaku bagi kaum adam saja. Bagaimana pun kriteria tadi tidak bisa dijadikan patokan wajib bagi semua individu. Semua tergantung kualitas masing-masing karena jodoh adalah cerminan diri kita sendiri. Kalau mau jodoh yang baik ya jangan malas memperbaiki diri, meningkatkan kualitas pribadi. Kalau ternyata kita merasa beragama baik tapi mendapat jodoh yang kualitas agamanya kurang, mungkin hati kitalah yang dipenuhi sifat takabur. Harus segera dihilangkan tuh, bahaya. Perbanyak dzikir karena mengingat Allah hati jadi tenang. Sering mengingat Allah maka hati  akan bersih.
Ya sekian corat-coret di kesempatan kali ini. Semoga ada manfaatnya ya. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih pada teman-teman yang telah menyempatkan waktu untuk berbagi. Sejatinya galau itu pasti datang, tinggal kita saja yang harus tahu bagaimana mengkondisikan.  Galau itu bisa berdampak negatif, tapi juga bisa bermanfaat kalau kita pintar mengelolanya. Kalau saya dan teman-teman saya tidak galau, mungkin tidak akan ada pula diskusi tentang hal-hal seperti ini. Meski banyak orang tabu dan malu memperbincangkan, saya dan teman-teman saya tetap berpikir bahwa ilmu apapun itu penting. Apalagi ilmu-ilmu tentang masa depan. Banyak yang ngomporin nikah muda, tapi masih sedikit yang mau belajar persiapannya sejak muda. Kebanyakan main berani saja kan. Padahal pernikahan, jodoh, rumah tangga itu keputusan yang kompleks pakai banget. Dan menyebarkan ilmu itu wajib hukumnya loh bagi setiap muslim dan muslimah. Yang menyembunyikan ilmu saja disiksa nanti di neraka sana.
“Man su’ila ‘an ‘ilmin fakatamahu uljima yaumal qiyaamati bilijaamin minnaarin”
Artinya:
Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dicambuk dengan cambuk dari neraka.

Cinta itu qadho dari yang Kuasa. Bertemu dengan yang membuatmu jatuh cinta itu adalah mukhoyyar, pilihan kita sendiri. Yang akan kita pertanggungjawabkan nanti saat bertemu Illahi.
(Bicara Cinta The Short Movie)


DAFTAR ISI
Tentukan Masa Depanmu
 PILIHAN I YUK KULIAH
Mengapa harus kuliah lagi?
Tepat Mengambil Jurusan Kuliah Lanjutan
Cerdas mencari Pembiayaan Kuliah
Tips dan Trik Berburu Beasiswa
Memilih Beasiswa yang Tepat

PILIHAN II YUK KERJA
Menguatkan Alasan Bekerja
Fresh Graduate in Action
Menyambut Pekerjaan Idaman
Tahapan Melamar Kerja
Tips dan Trik Diterima Seleksi Kerja
Gerakan Menabung Sejak Dini
Sedekah dan Zakat Pembuka Rezeki

PILIHAN III YUK NIKAH
Menentukan Visi dan Misi Pernikahan
Mengukur Kesiapan Menikah
Pantaskan Diri Ya Akhi
Pantaskan Diri Ya Ukhti
Mengenal Gerbang Menuju Pernikahan Islami
Pedoman Taaruf
Kiat Menentukan Calon dengan Tepat