Kenapa kebanyakan
manusia mengutuk yang namanya masalah?? Kenapa kata “terima kasih” sangat
jarang dilontarkan oleh orang-orang yang ketiban masalah??
Orang bilang hidup tanpa
masalah itu bukan hidup, karena berawal dari sebuah masalah maka disitulah kamu
belajar mendewasakan diri dan didewasakan oleh keadaan. Kita mungkin pernah
berpikir untuk rehat dari segala aktivitas yang sering menimbulkan masalah bagi
keberjalanan hidup ini. Apa mungkin? Kamu yakin? Saya katakan “tidak mungkin”
bisa. Kenapa? Karena masalah itulah yang akan selalu melekat pada diri manusia
mengiringi tiap jengkal kehidupan dan langkah kakinya.
Contoh konkrit dan
sederhana dimana sebuah masalah akan membawa kita bergerak kearah yang lebih
positif adalah ketika kita berencana pergi makan, tapi masih bingung mau makan
dimana. Ini masalah! Kemudian salah satu dari kita menawarkan sebuah tempat
makan. Ada yang menolak ada juga yang langsung mengiyakan. Ini masalah juga,
bagaimana cara kita menyamakan tujuan dan persepsi, meski dalam hal ini hanya sebatas
mengenyangkan perut yang keroncongan karena lapar. Berbedakan kalau tidak ada
masalah, dalam artian ketika kita ingin makan ditempat yang terjadwal. Hari ini
disini, besok disana dan minggu depan giliran sini lagi. Ahh…itu membosankan,
yang ada adalah kita memperbudak diri kita sendiri. Terkadang munculnya masalah itu sangat penting untuk
menjadi pemantik ide-ide cemerlang. Ide
yang “pure” atau murni dari hasil pemikiran dan analisis keadaan bukan
meng-copas ide orang lain. Aku jamin bila ada UUD tentang plagiatisme ide dan
itu benar-benar dijalankan dengan baik, penjara akan lebih penuh sesak
bercampur dengan koloni-koloni koruptor dan para mafia dari segala bidang.
Flash back kebelakang tentang masalah makan
tadi, pelajaran apa yang bisa kita ambil? Yups..kita belajar lobbying dan
negosiasi secara tersirat karena saking sederhananya dan kita tak sadar akan
itu. Kita belajar menyakinkan bahwa tempat yang kita pilih adalah tempat makan
yang paling tepat untuk dikunjungi. Kalau boleh julukan kerennya sih agent of
change versi makan-makan hehe.. Posisi ini menjadikan kita sebagai “penggerak”,
bukan “follower” yang menjadi bibit-bibit penggerak untuk situasi-situasi yang
lebih kompleks kedepaannya.
Satu lagi contoh kecil
masalah. Akhir-akhir ini listrik didaerah kosan sering mati, malah hampir
seharian. Ini masalah! Hape lobet, laptop mati, gelap-gelapan dan banyak sekali
keluhan yang keluar dari fans-fans-nya PLN. Dari segudang masalah yang timbul dari
mati listrik ada hikmah yang bisa kita petik: kerjakan tugas jauh-jauh hari
bagi yang laptopnya mati, jangan sms-an dan telponan terus bagi yang hapenya
lobet dan rasa syukur kepada Allah yang masih memberikan nikmat penglihatan
sampai sekarang. Satu lagi yang harus dicamkan adalah “kita terlalu bergantung
pada teknologi” dan dari seabrek masalah yang muncul itu kita bisa mulai
berfikir tentang keadaan terburuk yang pasti akan menimpa kita juga dan
bersyukur kepada apa yang sudah diberikan pada kita oleh Yang Maha Kuasa.
Masih takut dengan
masalah??
Ungkapan “kenapa harus
takut dengan masalah, toh dia tidak akan pergi begitu saja dari kita kalau
tidak diselesaikan dan dicari solusinya”. Kenapa kita harus gelisah kalau
disekeliling kita ada sosok-sosok luar biasa yang siap membagi ilmunya, siap
mendengarkan keluh kesah dan siap digandeng dan membersamai menuju titik solusi
itu. Hidup itu tak sendiri karena Tuhan tak menciptakan diri kita sendiri.
Salah satu cara berterima kasih pada-Nya adalah dengan memperbanyak teman dan
menjalin silaturahmi antar makluk dimuka bumi (red: manusia).
Dengan masalah itu pula
pertanda bahwa Allah sayang pada kita, toh “Dia tidak akan menguji hamba-Nya
melebihi kemampuannya” itu jelas termaktub dalam Al qur’an. Kesimpulan
sederhana yang bisa dipetik dari tulisan sederhana ini adalah “masalah itu
bukan untuk dihindari apalagi ditakuti, karena percuma mau bagaimanapun masalah
pasti akan hinggap dalam diri kita. Masalah bukan untuk diratapi tapi dicari
solusi untuk pembelajaran dan pendewasaan diri”
Yaa… inilah sedikit
curahan yang tiba-tiba muncrat dari diri saya pagi ini (Minggu, 20 Oktober
2013). Terima kasih sudah membaca tulisan sederhana ini, meskipun tidak banyak
ilmu yang kamu dapat dari sini tapi setidaknya setelah kamu membaca saya harap
muncul tulisan kecil tentang apapun yang akan menjadi awal dari tulisan-tulisan
besar untuk merubah dunia. Kita budayakan aktivitas menulis, ya meskipun
tulisan saya juga masih ecek-ecek tapi ini lebih baik daripada orang yang
dianugerahi bakat bakat menulis tapi tidak menulis. Menulis itu tak butuh bakat
sebenarnya, hanya butuh kemauan dan kedisiplinan. Salam sastra, hidup
mahasiswa!!








