Kepada:
Sang Purnama
Assalamualaikum
Lama nian kita tak jumpa di bumi milik penguasa semesta. Kita hanya bisa saling bertatap lewat sosial media. Kita? Patutkah aku sebut kau dan aku dengan kata "Kita". Apakah "Kita" hanya menjadi subyek buatanku semata. Atau diam-diam kau juga berharap "kita" diantara kau dan aku adanya.
Aku mulai tak nyaman dengan situasi ini. Rasa-rasa ingin pergi itu kembali. Goyah. Sepertinya kita, ah..aku menyebut "kita" lagi dalam tulisanku. Maafkan aku bila memang kau tak berkenan. Aku sedang mengikuti alur hatiku, percayalah.
Kita diciptakan dalam dua dunia yang berbeda. Tentunya. Ada beberapa sikapmu yang begitu berbalik denganku. Aku mulai berpikir untuk menghapus apapun yang sempat aku lukis dalam kanvas masa depanku, KAMU.
Kembali, aku mengingat pada janji kita. Atau lebih tepatnya janji yang aku ikrarkan pada diriku sendiri atas nama dirimu. Entah kau masih ingat atau tidak, tapi sepertinya kau lupa. Ah, kau memang pelupa dari dulu.
Baiklah, aku akan mengingatkanmu atau lebih tepatnya memberitahumu. Terserahlah bagaimana kita menyebutnya.
Bukankah kita (atau aku) akan menyudahi semuanya pasca kontrak kita usai.Sepertinya Tuhan belum mengizinkan garis finish untuk hal ini. Bisakah kita mendahului Tuhan saja? bolehkah? ah sayang sekali, dalam hal ini:
Tuhan membekali manusia dengan nyawa dan jalan hidupnya.Jalan hidup sudah diatur oleh-Nya. Tentu, dengan kata lain kita tak bisa mendahului garis taksir ini. Masih seberapa jauhkan Tuhan memeberi jarak antara kita dan garis finish? Bantulah aku berdoa untuk mendapat jawaban dari-Nya.
Sedikitnya waktu yang kita miliki membuatku kesulitan untuk mengutarakan isi hati. Haha..aku terlalu PD saat ini. Kalau pun dipertemukan, pasti aku tak bisa menyampaikan. Sudah aku bilang, aku tak kuasa menatap bola matamu yang tajam itu.
Melalui surat ini aku ingin sampaikan dua hal padamu, wahai sang purnama.
Pertama,
Ambillah semua kesempatan yang kau miliki. Jangan kau hiraukan perempuan yang sedang menulis surat ini. Karena aku, kebebasanmu bisa tertawan. Karena aku, mimpi-mimpimu bisa tertahan. Lupakan saja kau pernah meminta saran padaku untuk mimpi-mimpimu. Aku sempat tak memberimu izin dulu, sungguh tak ada maksud membatasi ruang hidupmu. Aku hanya khawatir dengan posisimu saat itu. Tidak lebih dari itu. Lalu kini aku menyesal dengan keputusanku. Betapa bodohnya aku. Betapa jahatnya aku.
Kedua,
Aku memang tak tahu apakah kau akan memilihku atau tidak. Namun, sebagai bentuk antisipasi agar masa depanmu lebih berarti, maka jangan pilih aku. Pilihlah perempuan yang bisa menjadi pendamping hidupmu dan sahabat terdekatmu hingga mau menyapamu. Lebih cantik, menawan, sholihah, cerdas dan tentunya akan sanggup menemanimu dalam meraih semua mimpi mudamu. Tidak seperti aku yang senantiasa khawatir dengan berlebihan terhadapmu.
Kepala kita terlalu sulit untuk disandingkan. Cara berpikir kita juga saling berseberangan. Banyak orang bilang hal ini adalah sebuah keuntungan, namun bagiku ini adalah ancaman masa depan. Aku tak terbiasa dengan konflik. Aku membenci konflik. Kau adalah pejuang konflik.
Lalu, lihatlah lingkungan kita. Tumbuh sampai dewasa dengan adat yang berbeda jauhnya.
Kau biasa dimanja, sepertinya. Sedangkan aku perempuan yang harus bisa menjadi tulang punggung keluarga. Bagiku, masa depanku adalah masa depan keluargaku. Tak ada kata egois untuk hal ini. Kebahagianku adalah kebahagiaan mereka. Bagaimana bisa aku bahagia bila mereka belum bahagia. Sedangkan kau? tahulah..kau pasti lebih mengenal dirimu sendiri.
Heran, mantera apa yang sudah menggelapkan mataku hingga seperti ini. Terlalu banyak yang sulit dijelaskan. Beruntunglah bagi perempuan yang kau pilih dan memilikimu.
Sungguh, beritahu aku bila kau sudah menemukan perempuan pilihanmu.Dengan begitu aku akan lebih tenang menjalani masa depanku. Aku tak akan khawatir lagi dengan masa depanmu. Bukankah ini sederhana? tentu. Kita anggap saja hal ini sederhana. Sudahlah, waktunya istirahat. Aku sedang butuh istirahat untuk mengkhawatirkanmu. Apapun nanti kejutan yang kita hadapi, ah lagi-lagi aku menyebut dengan "kita" maaf. Semoga yang terbaik adalah apa yang aku dan kamu pilih.
Wassalammualaikum









0 komentar:
Posting Komentar