Kamis, 05 Februari 2015

Siomay



            Seperti biasa udara Matesih begitu dingin menyulam sekujur tubuh. Peristiwa yang membuatku menghela napas panjang namun selalu terulang ada dipandanganku sekarang. Adik- adikku sedang jumpalitan mau berangkat ke sekolah. Adik pertama yang kini ada di bangku kelas 2 SMP terpaku didepan pintu menyodorkan muka manyun menatap adikku yang nomer dua. Adik nomer dua dengan santai pura-pura tak tahu dengan pandangan sinis kakaknya. “ayo maaa..!,” begitulah kiranya teriakan si kakak ke adiknya bernama Salma. Beda lagi dengan adikku yang ketika, terakhir dan laki-laki sendiri. Baginya pagi seperti mitos belaka. Disaaat kakak-kakaknya sudah siap mau berangkat, dia masih belajar membuka mata. Kriyip-kriyip matanya aku lihat. Ia berjalan sempoyongan diiringi teriakan ibu dari belakang rumah memanggil-manggil nama anak terakhirnya. Duh, kalau sudah begini rasa-rasanya rumah kayak lahan parkir, teriakan disana-sini. Si bapak  dengan tenangnya duduk diatas kursi sambil memegang uang SPP laki-lakinya. Intonasi suaranya berubah tinggi ketika melihat 3 kolom dalam secarik kertas ditangannya masih kosong. “wealah, 3 wulan durung bayar,” katanya. Peristiwa ini selalu terjadi juga karena si Rizki rajin untuk lupa memberikan tagihan SPP kepada bapak.
            Lalu, apa yang aku lakukan? Hehe..tentunya jadi penonton (tanpa bayaran). Suasana beginilah yang membuat tidak betah dikosan. Pengen buru-buru pulang ke Matesih. Tugasku akan datang pasca ini, jadi tukang ojek antar jemput ketiga adikku ke tiga sekolah yang berbeda terus lamjut ke pasar Matesih untuk belanja. Sekolah pertama adalah SDIT, sekolah kedua SD Negeri dan terakhir adalah SMP. Untung ketiga sekolah ini satu jalur. Satu kali antar aku dibayar dengan satu roti seribuan. Lumayan bisa dibawa buat cemilan di kos haha..ibuku sukanya nyogok anak-anaknya. Diiming-imingi sesuatu biar kemauannya dipenuhi. Bukan masalah ikhlas gak ikhlas, lebih ke mencari keasyikan didalam keluarga. Belajar bekerja meski bayarannya Cuma satu bungkus roti seribuan yang rasanya boleh aku pilih sendiri nanti pas belanja di pasar.
            Pagi ini aku berdendang melihat matahari bersinar cerah dan lawu yang pamer kemolekannya.
            Selamat pagi semua kunantikan dirimu. Ku gendong tas blanjaku ke pasar…
            Berhubung lupa lirik dan nadanya jadi ya satu kalimat itu aku ulang-ulang terus sampai tiba di pasar Matesih. Ibuku pintar juga, pasca sakit beliau tida mau lagi pergi pasar. Padahal dulu sebelum jatuh sakit dan badannya masih bugar, pasar seakan-akan menjadi kantor bagi beliau. Jadwal aku pulang adalah jadwal belanja ke pasar. Kalau aku baru pulang setelah dua minggu disolo, bisa di bayangkan betapa banyaknya barang belanjaan yang aku beli. I am lonely. Dari satu pedagang ke pedagang lain..bla..bla..bla..akhirnya selesai juga. Yeaayy. Prok..prok..prok.. pulaaangggg deh…
            Aku susuri jalan pulang. Dari kejauhan mataku menangkap sosok yang lama sekali tak aku lihat. Lama aku berpikir sampai motorku kebablasan. Setelah paham dengan siapa aku berjumpa, motor aku putar balik susah payah. Pelan-pelan. Belanjaan yang berat di stang motor membuatku sulit membelokkan motor hondaku. Akhirnya alam mempertemukanku dengan tukang siomay yang sering aku beli sejak masih duduk di bangku TK dulu. Rasa siomay yang khas tiada duanya tak pernah bisa membuatku lupa. Semenjak aku masih pakai rok selutut sampai sekarang pakai rok semata kaki penampilan bapak ini tak ada yang berubah sama sekali. Beliau istiqomah ternyata haha. Dua kotak berwarna biru yang ia panggul masih sama seperti 17 tahun yang lalu. Tak ada yang berubah. Beliau masih saja membawa klakson tangannya. Senyumnya juga masih ramah seperti dahulu. 
ilustrasi

            Bisa dibilang beliau adalah penjual siomay yang cukup sukses. Dagangannya selalu habis karena cita rasa yang unik dan enak. Tak jarang banyak yang rela menunggu di depan rumah untuk menanti kedatangannya. Tak jarang juga yang harus menelan ludah kecewa karena kehabisan siomay, termasuk juga saya. Pernah dulu sekali aku sengaja wira-wiri ke daerah yang berkemungkinan untuk beliau lewati dalam menjajakan siomaynya. Eh, setelah beliau datang ternyata sudah habis dari siang. Nah, dari situ aku tahu sakitnya luka menunggu (korban iklan -_-“) haha. Herannya kenapa sampai sekarang beliau tidak beralih memakai sepeda motor atau paling tidak sepeda ontel untuk menjajakan dagangannya. Beliau masih saja berkeliling dengan kedua kakinya ke seantero Matesih. Padahal Matesih itu kecamatan yang memiliki banyak kelurahan, hampir sepuluhan. Pokonya Matesih itu luas pake banget.
            “Pak, tumbas siomay tigang ewu ngih”, pintaku.
            Tanganya yang legam menusuk-tusuk siomay seukuran kelereng tanggung dengan sedikit gemetar. Ini bapaknya grogi ketemu aku apa gimana ya? Batinku aja sih haha. Mungkin itu karena efek tubuhnya yang mulai merenta. Memang sudah tidak muda lagi. Umurnya kisaran 70 tahunan. Satu kalimat tanya berputar-putar dikepalaku. Ingin sekali aku bertanya alasan kenapa sampai saat ini beliau masih tetap jalan kaki. Aduh, tapi ada perasaan takut menyinggung perasaan beliau. Sampai akhirnya dengan pelan dan agak kesulitan beliau mengikat plastik siomay pesananku. “monggo mbak,” ujar beliau. Aku membalasnya dengan ucapan terima kasih. Gagal deh tanyanya.   
            Aku menuju motor yang terparkir tak jauh dari pak siomay. Melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan dua tas belanjaan di stang. Oiya, plus seplastik siomay masa lalu yang sampai sekarang masih terus ditunggu-tunggu. Ahh, pastinya si bapak punya alasan tetap begitu. Namun, didalam hati ini jujur ada rasa kasihan. Diusianya yang segitu masih harus memanggul siomay keliling dari desa satu ke desa yang lainnya.
            Ambillah pelajaran dari setiap tragedi yang kau temukan.  (anonim)
            Kalau didramatisir sedikit (dalam imajinasiku) si bapak ini akan berlari menghadang  motorku sambil melambaikan serbet kotak-kotak yang biasa beliau taruh di bahu kanannya.
“Nak, apapun yang terjadi jadilah dirimu sendiri. Harta hanya sementara, tapi identitas berlaku selamanya” katanya. Lalu dengan slow motion aku akan turun dari motor dan berlari kearah beliau dengan mata berkaca-kaca bilang, “iya pak. Terima kasih banyak. Siomay bapak enak banget. Manis seperti saya. Besok siomaynya gratis ya pak hehe,”. Bapaknya pergi membuang serbet ke jalan. Selesai..

0 komentar:

Posting Komentar