Seperti biasa udara Matesih begitu dingin menyulam
sekujur tubuh. Peristiwa yang membuatku menghela napas panjang namun selalu
terulang ada dipandanganku sekarang. Adik- adikku sedang jumpalitan mau
berangkat ke sekolah. Adik pertama yang kini ada di bangku kelas 2 SMP terpaku
didepan pintu menyodorkan muka manyun menatap adikku yang nomer dua. Adik nomer
dua dengan santai pura-pura tak tahu dengan pandangan sinis kakaknya. “ayo
maaa..!,” begitulah kiranya teriakan si kakak ke adiknya bernama Salma. Beda
lagi dengan adikku yang ketika, terakhir dan laki-laki sendiri. Baginya pagi
seperti mitos belaka. Disaaat kakak-kakaknya sudah siap mau berangkat, dia
masih belajar membuka mata. Kriyip-kriyip matanya aku lihat. Ia berjalan
sempoyongan diiringi teriakan ibu dari belakang rumah memanggil-manggil nama
anak terakhirnya. Duh, kalau sudah begini rasa-rasanya rumah kayak lahan
parkir, teriakan disana-sini. Si bapak
dengan tenangnya duduk diatas kursi sambil memegang uang SPP
laki-lakinya. Intonasi suaranya berubah tinggi ketika melihat 3 kolom dalam
secarik kertas ditangannya masih kosong. “wealah, 3 wulan durung bayar,” katanya. Peristiwa ini selalu terjadi juga
karena si Rizki rajin untuk lupa memberikan tagihan SPP kepada bapak.
Lalu, apa yang aku lakukan? Hehe..tentunya jadi penonton
(tanpa bayaran). Suasana beginilah yang membuat tidak betah dikosan. Pengen
buru-buru pulang ke Matesih. Tugasku akan datang pasca ini, jadi tukang ojek
antar jemput ketiga adikku ke tiga sekolah yang berbeda terus lamjut ke pasar
Matesih untuk belanja. Sekolah pertama adalah SDIT, sekolah kedua SD Negeri dan
terakhir adalah SMP. Untung ketiga sekolah ini satu jalur. Satu kali antar aku
dibayar dengan satu roti seribuan. Lumayan bisa dibawa buat cemilan di kos haha..ibuku
sukanya nyogok anak-anaknya.
Diiming-imingi sesuatu biar kemauannya dipenuhi. Bukan masalah ikhlas gak
ikhlas, lebih ke mencari keasyikan didalam keluarga. Belajar bekerja meski
bayarannya Cuma satu bungkus roti seribuan yang rasanya boleh aku pilih sendiri
nanti pas belanja di pasar.
Pagi ini aku berdendang melihat matahari bersinar cerah
dan lawu yang pamer kemolekannya.
Selamat pagi semua
kunantikan dirimu. Ku gendong tas blanjaku ke pasar…
Berhubung lupa lirik dan nadanya jadi ya satu kalimat itu
aku ulang-ulang terus sampai tiba di pasar Matesih. Ibuku pintar juga, pasca
sakit beliau tida mau lagi pergi pasar. Padahal dulu sebelum jatuh sakit dan
badannya masih bugar, pasar seakan-akan menjadi kantor bagi beliau. Jadwal aku
pulang adalah jadwal belanja ke pasar. Kalau aku baru pulang setelah dua minggu
disolo, bisa di bayangkan betapa banyaknya barang belanjaan yang aku beli. I am lonely. Dari satu pedagang ke
pedagang lain..bla..bla..bla..akhirnya selesai juga. Yeaayy. Prok..prok..prok.. pulaaangggg deh…
Aku susuri jalan pulang. Dari kejauhan mataku menangkap
sosok yang lama sekali tak aku lihat. Lama aku berpikir sampai motorku kebablasan.
Setelah paham dengan siapa aku berjumpa, motor aku putar balik susah payah.
Pelan-pelan. Belanjaan yang berat di stang motor membuatku sulit membelokkan
motor hondaku. Akhirnya alam mempertemukanku dengan tukang siomay yang sering
aku beli sejak masih duduk di bangku TK dulu. Rasa siomay yang khas tiada
duanya tak pernah bisa membuatku lupa. Semenjak aku masih pakai rok selutut
sampai sekarang pakai rok semata kaki penampilan bapak ini tak ada yang berubah
sama sekali. Beliau istiqomah ternyata haha. Dua kotak berwarna biru yang ia
panggul masih sama seperti 17 tahun yang lalu. Tak ada yang berubah. Beliau masih
saja membawa klakson tangannya. Senyumnya juga masih ramah seperti dahulu.
| ilustrasi |
Bisa dibilang beliau adalah penjual siomay yang cukup
sukses. Dagangannya selalu habis karena cita rasa yang unik dan enak. Tak
jarang banyak yang rela menunggu di depan rumah untuk menanti kedatangannya.
Tak jarang juga yang harus menelan ludah kecewa karena kehabisan siomay,
termasuk juga saya. Pernah dulu sekali aku sengaja wira-wiri ke daerah yang
berkemungkinan untuk beliau lewati dalam menjajakan siomaynya. Eh, setelah beliau
datang ternyata sudah habis dari siang. Nah, dari situ aku tahu sakitnya luka
menunggu (korban iklan -_-“) haha. Herannya kenapa sampai sekarang beliau tidak
beralih memakai sepeda motor atau paling tidak sepeda ontel untuk menjajakan
dagangannya. Beliau masih saja berkeliling dengan kedua kakinya ke seantero Matesih.
Padahal Matesih itu kecamatan yang memiliki banyak kelurahan, hampir sepuluhan.
Pokonya Matesih itu luas pake banget.
“Pak, tumbas siomay
tigang ewu ngih”, pintaku.
Tanganya yang legam menusuk-tusuk siomay seukuran
kelereng tanggung dengan sedikit gemetar. Ini bapaknya grogi ketemu aku apa
gimana ya? Batinku aja sih haha. Mungkin itu karena efek tubuhnya yang mulai
merenta. Memang sudah tidak muda lagi. Umurnya kisaran 70 tahunan. Satu kalimat
tanya berputar-putar dikepalaku. Ingin sekali aku bertanya alasan kenapa sampai
saat ini beliau masih tetap jalan kaki. Aduh, tapi ada perasaan takut
menyinggung perasaan beliau. Sampai akhirnya dengan pelan dan agak kesulitan
beliau mengikat plastik siomay pesananku. “monggo
mbak,” ujar beliau. Aku membalasnya dengan ucapan terima kasih. Gagal deh
tanyanya.
Aku menuju motor yang terparkir tak jauh dari pak siomay.
Melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan dua tas belanjaan di stang. Oiya,
plus seplastik siomay masa lalu yang sampai sekarang masih terus
ditunggu-tunggu. Ahh, pastinya si bapak punya alasan tetap begitu. Namun,
didalam hati ini jujur ada rasa kasihan. Diusianya yang segitu masih harus
memanggul siomay keliling dari desa satu ke desa yang lainnya.
Ambillah pelajaran
dari setiap tragedi yang kau temukan.
(anonim)
Kalau didramatisir sedikit (dalam imajinasiku) si bapak
ini akan berlari menghadang motorku
sambil melambaikan serbet kotak-kotak yang biasa beliau taruh di bahu kanannya.
“Nak, apapun yang
terjadi jadilah dirimu sendiri. Harta hanya sementara, tapi identitas berlaku
selamanya” katanya. Lalu dengan slow
motion aku akan turun dari motor dan berlari kearah beliau dengan mata
berkaca-kaca bilang, “iya pak. Terima kasih banyak. Siomay bapak enak banget.
Manis seperti saya. Besok siomaynya gratis ya pak hehe,”. Bapaknya pergi
membuang serbet ke jalan. Selesai..







0 komentar:
Posting Komentar