Gayung. Benda usang itu menjadi saksi sebuah kebaruan.
Kebaruan yang memancar dari dalam rumah mungil di desa, Waru nama desa itu.
Hei..diamlah sebentar, ada suara tangis bayi yang terdengar. Diamlah..aku
mohon. Suara bayi itu mulai senyap. Heii..kenapa dia? Apa yang terjadi dengannya?
Orang-orang tak menyangka perempuan itu sedang berbadan dua.
Tubuhnya terlalu kurus bila ingin disebut mengandung. Perempuan muda, usianya
hampir kepala dua. Wajahnya lesu, ia sedang tak napsu makan. Ia tersiksa? Tidak
katanya. “ini bayiku yang minta, aku rela”.
Delapan bulan lamanya ia berlagak seperti kangguru. Perutnya
buncit. Kemudia di hari yang katanya membuat bulu kuduk berdiri, bayi merah itu
mampir. Jumat kliwon, hari angker, “siapa yang bisa meminta ingin melahirkan
hari apa”, kata ibu muda.
![]() |
| Ibu dan Anak Perempuannya |
Hei..pelankan suaramu, bayinya tak menangis lagi. Apakah dia
sakit saat ini? Ahh..syukurlah dia tak apa. Kemarilah, ibu dan ayah bersamamu.
“bayiku, bayi gayung”. Ibu muda meninabobokan buah hatinya.
Ohh dia tidak menangis seharian ini, terlelap menikmati
detak jantung bahagia milik ibu bapaknya. Siapa sangka, suara gayung jatuh itu
membawa kebaruan. Kebaruan tentang hadirnya keluarga baru. Si jabang bayi yang
harusnya masih punya jatah satu bulan lagi “angkrem” di kandungan.
Mungkin, bayimu dulu tak sabar menunggu. Tak kuat menahan
rindu. Masa bodoh, wajahnya membuat hati kami teduh.
Seorang tetangga datang menyapa, ia bertanya, “siapa nama
bayimu?”
“bayi merah ini aku namai Haniah (Kebahagiaan), biar dia
bahagia dimasa depannya dan bisa membahagiakan orang lain pula”.








0 komentar:
Posting Komentar