Senin, 23 Februari 2015

Bayi Gayung

Gayung. Benda usang itu menjadi saksi sebuah kebaruan. Kebaruan yang memancar dari dalam rumah mungil di desa, Waru nama desa itu. Hei..diamlah sebentar, ada suara tangis bayi yang terdengar. Diamlah..aku mohon. Suara bayi itu mulai senyap. Heii..kenapa dia? Apa yang terjadi dengannya?

Orang-orang tak menyangka perempuan itu sedang berbadan dua. Tubuhnya terlalu kurus bila ingin disebut mengandung. Perempuan muda, usianya hampir kepala dua. Wajahnya lesu, ia sedang tak napsu makan. Ia tersiksa? Tidak katanya. “ini bayiku yang minta, aku rela”.
Delapan bulan lamanya ia berlagak seperti kangguru. Perutnya buncit. Kemudia di hari yang katanya membuat bulu kuduk berdiri, bayi merah itu mampir. Jumat kliwon, hari angker, “siapa yang bisa meminta ingin melahirkan hari apa”, kata ibu muda.
Ibu dan Anak Perempuannya
Hei..pelankan suaramu, bayinya tak menangis lagi. Apakah dia sakit saat ini? Ahh..syukurlah dia tak apa. Kemarilah, ibu dan ayah bersamamu.
“bayiku, bayi gayung”. Ibu muda meninabobokan buah hatinya.
Ohh dia tidak menangis seharian ini, terlelap menikmati detak jantung bahagia milik ibu bapaknya. Siapa sangka, suara gayung jatuh itu membawa kebaruan. Kebaruan tentang hadirnya keluarga baru. Si jabang bayi yang harusnya masih punya jatah satu bulan lagi “angkrem” di kandungan.
Mungkin, bayimu dulu tak sabar menunggu. Tak kuat menahan rindu. Masa bodoh, wajahnya membuat hati kami teduh.
Seorang tetangga datang menyapa, ia bertanya, “siapa nama bayimu?”
“bayi merah ini aku namai Haniah (Kebahagiaan), biar dia bahagia dimasa depannya dan bisa membahagiakan orang lain pula”.



0 komentar:

Posting Komentar