Mama, ada apa dengan Indonesia mama..
Ia sedang tersedu sayang, pilu merasakan cobaan dirinya
Kapan ia berhenti menangis mama?
Entahlah anakku, mungkin ketika semua rakyatnya saling membahu
Mama, aku ingin membantu tapi aku masih terlalu kecil untuk itu
Sayang, ia tak melihat umur, pangkat, golongan maupun besar kecilnya yang diberikan
Lalu apa yang ia minta mama?
Ia minta keilkhlasan dan kepedulian sayang..
-Haniah (6 Februari 2014)-
Seorang anak kecil merengek memeluk ibunya ketika ia melihat tayangan televisi. Di layar kotak itu memancarkan cahaya yang silau namun suara yang ia haturkan bernada risau. Ketika aku menulis ini, Indonesiaku, Negara yang telah memberikan ruang bagi kelahiran dan kehidupanku tengah dilanda rintihan bencana. Dimana-mana ada teriakan meminta, merajuk dan memelas tak berdaya. Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan keadaan siaga. Hal-hal yang menyangkut perpindahan bantuan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara secepatnya.
Bhineka Tunggal Ika, Meski berbeda tapi tetap satu jua. Disana ada bencana yang lainnya tetap makan enak dengan lahapnya. Masihkah kita bangga dengan semboyan yang ada dibawah garuda dengan lencana gagahnya. Sinabung mengepul panas, ibu kota mendadak naas penuh air tanpa tumbas (red: beli). Bukan kesengsaraan yang kita munculkan, namun kebersamaan berlandas kepedulian yang harus dikedepankan.
Ayah, esok ketika sudah dewasa aku tak mau jadi pejabat yah..
Kenapa putraku? Kamu bisa punya segalanya, harta, tahta, bahkan wanita
Aku tak sanggup ayah, hidupku adalah tanggung jawabku
Lalu, kamu jadi apa anakku?
Aku mau jadi relawan seperti mereka itu
Apa kamu bercanda?
Tidak ayah, hidupku hanya sekali, maka dari itu akan aku buat berarti tapi tak hanya untuk diri sendiri
Pejabat juga bisa jadi relawan anakku
Iya ayah, tapi aku tak mau. Biarlah alasannya aku simpan dalam kepalaku
Boleh ayah tahu satu saja anakku
Karena relawan tak ambil pusing dengan bayaran, sedang pejabat tak minta uang tapi membangun pencitraan
Terserah kau anakku, gapailah impianmu, sayangi negerimu, pedulilah terhadap saudaramu
-Haniah (6 Februari 2014)-
Kenapa dalam setiap tulisanku ada kata peduli dan kepedulian. Karena memang itulah pangkal dari sebuah solusi. Peduli adalah solusi, itu kata salah seorang mahasiswa UNS yang aku lupa namanya. Ketika kamu bingung bersama siapa peduli itu ingin kamu realisasikan maka tengoklah kebelakang, samping dan hadap kedepan. Disekitarmu banyak orang-orang yang mungkin tak kamu kenal namun memiliki satu tujuan dan kepedulian. Bisa jadi idemu yang luar biasa itu tak terpikirkan oleh kami yang ada disini, katakana, jangan malu apalagi takut. Katakana pada dunia bahwa kamu ada da punya ide sederhana namun sanggup mengubah keadaan yang hampa menjadi bermakna dan suka cita.
Tak ada ejekan, yang ada adalah ajakan dalam kebaikan. Banyak cara untuk mengekspreksikan kepedulian ini. Ayo bersama-sama kita himpun para pemuda yang peduli dengan nasib saudaranya, yang peduli dengan tanah airnya dan minimal peduli bahwa hidupnya adalah tanggungjawabnya.









0 komentar:
Posting Komentar