Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Senin, 23 November 2015

WAKATOBI DALAM KACAMATA SEJARAH

Tanah airku Indonesia. Negeri elok amat kucinta. Tanah tumpah darahku yang mulia.Yang kupuja sepanjang masa.Tanah airku aman dan makmur. Pulau kelapa yang amat subur. Pulau melati pujaan bangsa. Sejak dulu kala. Melambai-lambai.Nyiur di pantai.Berbisik-bisik. Raja kelana. Memuja pulau. Nan Indah permai. Tanah airku. Indonesia.
(Rayuan Pulau Kelapa, Ismail Marzuki).
Betapa Indahnya lagu nasional ciptaan Ismail Marzuki diatas. Liriknya menggambarkan betapa elok kepulauan Indonesia. Begitu pula yang ada dalam benak masyarakat Indonesia maupun asing ketika mendengar “Wakatobi”. Nama Wakatobi akan membuat benak kita penasaran. Bertanya- tanya dimanakah letak wilayah tersebut. Wakatobi hadir atas pemekaran Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Wakatobi merupakan akronim dari empat pulau besar yaitu Wangi- wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Keempat pulau tersebut senelumnya disebut kepualauan tukang besi atau Liwutu Pasi (Pulau Karang). 
KKN UNS Wakatobi 2015
Kabupaten Wakatobi merupakan kabupaten baru yang terbentuk berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 29 Tahun 2003 dan merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Buton. Kabupaten tersebut terletak di Kepulauan Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi Tenggara, secara geografis terletak dibagian selatan garis khatulistiwa, memanjang dari utara ke selatan diantara 5.000-6.250 LS (sepanjang ± 160 km) dan membentang dari barat ke timur diantara 123.340-124,640 BT (sepanjang ± 120 km).
Kabupaten Wakatobi sangat tersohor  dengan wisata bawah laut dan pantainya yang menawan. Kepopuleran Wakatobi menyeruak setelah mekar pada tanggal 18 Desember 2003. Selama 400 tahun lamanya, kepulauan ini masuk dalam wilayah Kesultanan Buton. Baru 50 tahun terakhir ini masuk menjadi wilayah Kabupaten Buton. Wakatobi era sekarang sangat termansyur dengan julukan Segitiga Karang Dunia (coral tri-angle center). Coral Tri-angle Center meliputi 6 (enam) negara, yakni Indonesia, Malaysia, Philipines, Papua New Guine, Solomon Island, dan Timor Leste. Sebelum mendapat julukan tersebut, Kepulauan Buton sendiri  pernah mendapat gelar pusat bumi atau (puanufuta).
Berbicara mengenai sejarah Wakatobi tentu tak akan pernah bisa lepas dari  Buton. Buton adalah salah satu dari sejumlah negeri yang disebutkan oleh Empu Prapanca dalam Kitab Negara Kertagama (1364). Jika tahun 1364 dijadikan tahun pijakan maka, buton dapat dikatakan telah mencapai usia 6, 5 abad 9650 tahun).
Istilah Buton bila ditinjau dari segi geografis merupakan sebuah wilayah yang terletak di kepulauan sebelah tenggara pulau Sulawesi. Dari segi istilah penyebut kerajaan Buton dikenal sebagai salah satu kerajaan dan kesultanan Buton yang menyusul dengan dilantiknya Raja Buton VI Lakilaponto menjadi Sultan Buton I bergelar Sultan Murhum Qaimuddin Khalifatul Khamis. Kemudian Buton sebagai suatu bangsa adalah suku-suku bangsa yang menyatu dalam sebuah ikatan politik yaitu kerajaan dan kesultanan Buton.
Wilyah kekuasaan kerajaan Buton memiliki batas- batas secara tradisional yang meliputi batas utara yaitu kerajaan Luwuk dan Laiwoi, ditimur hingga laut Banda, dibarat hingga selat Bone, dan diselatan hingga laut Flores. Pusat kerajaannya terletak di kota Bau- bau, Wangi- wangi.  
Sedikit beralih ke topik lain yaitu pulau Kaledupa, sebagai lokasi KKN UNS Wakatobi 2015. Sebagai salah satu bagian dari kerajaan Buton, Kaledupa awalnya adalah kerajaan lokal yang asal- usul masyarakatnya belum diketahui secara pasti. Eksistensi Kaledupa teruak setelah adanya penetapan Martabat Tujuh sebagai pengganti UUD kesultanan Buton pada tahun 1610 tepatnya ketika masa kepemimpinan Raja Buton IV. Dalam UUN Martabat Tujuh disebutkan bahwa wilayah kesultanan Buton terdiri dari 72 kadie dan 4 barata. Salah satu barata yang disebutkan tersbut adalah Kaledupa. Barata merupakan daerah- daerah otonom dalam sistem pemerintahan Buton.
Wilayah kesultanan Buton terdiri dari gugusan pulau- pulau yang terletak sangat strategis dalam jalur pelayaran dan perdangan laut dikawasan timur Nusantara. Terintegrasinya Kaledupa dalam wilayah kesultanan Buton yang disusul Wangi-wangi, Tomia dan Binongko secara tidak langsung maupun secara langsung menetapkan komunitas maritim dalam wilayah tersebut sebagai penjaga pertahanan laut diwilayah timur kesultanan.  
Bagaimana pun sejarah Wakatobi, kita sebagai pemiliki Nusantara pantasnya harus belajar banyak dan banyak belajar mengenai wawasan kenusantaraan meskipun bukan penduduk asli suatu wilayah. Tentu sangat disayangkan sekali terkait sejarah Wakatobi yang menarik ini harus terkikis oleh waktu dan ketidaktahuan. Sebagai bangsa yang besar, pantaslah kita mencintai negeri ini bagaimana pun caranya. Pantaslah kita sebagai anak muda pandai mengenai sejarah, karena sejarah bukan hanya milik orang tua. Sejarah memang lahir dari orang tua, namun ia akan bersemi bila dicintai oleh orang- orang muda.
Daftar Pustaka:
Asrif dan La Ode Usra.2015. GAU SATOTO: Kearifan Lokal Orang Wakatobi. Yogyakarta: Framepublishing 

Selasa, 23 Juni 2015

Perkara dan Sendal Jepitnya





Hari masih buta. Pagi masih dua jam lagi. Namun, orang –orang sudah terlihat sibuk menyiapkan diri mereka. Ada yang sedang bersiap mandi. -Gayung ditangan dengan beberapa batang sikat gigi dan handuk bertengger sekenanya dipundak-. Ada yang tenang menggosok pakaian dengan setrika. Meja setrika di seberang kamarku itu begitu lebar. Diatasnya tepat ada lampu neon putih yang amat terang. Sorotnya selalu menembus jendela kamarku. Kulihat dilantai satu teman-temanku sedang asik mengobrol, berbincang bersama Tuhannya. Sujud di sepertiga malam akhir-akhir ini sangat laris. Bangunan yang tidak sampai setahun aku tempati ini seperti ceruk. Dari lantai dua aku bisa melinguk ke lantai satu. Aula yang biasanya digunakan untuk aktivitas keagamaan seperti qiraah, sholat jamaah, pengisian, dan terkadang untuk makan akbar. Suasana seperti ini hampir selesai aku jalani. Iya, ini salah satu potret hidup yang entah sudah Allah takdirkan untukku.
Hari ini adalah hari penting. Bisa dibilang adalah hari terakhirku mengenyam status anak SMA. Hari terakhir aku menginjakkan kaki di penjara suci. Begitulah orang-orang itu menyebutnya. Orang-orang yang sering aku sebutkan tadi adalah teman-teman sejawatku. Teman seasrama, sekamar, sekelas, senasib dan seperjuangan. Penjara suci, nama yang aneh bukan? Iya haha. Terkadang aku juga ingin tertawa mendengarnya, meskipun lebih sering menitikkan air mata. Bahasa halus penjara suci itu adalah ASRAMA. Bangunan besar yang digunakan untuk menampung para pencari ilmu nun jauh dari kampung halaman, termasuk aku.
Aku berdiri didepan asrama. Menatapnya agak lama. “sebentar lagi aku pergi, hari yang aku tunggu-tunggu hampir tiga tahun ini sudah tiba,” ucapku pada diriku sendiri. Tak ada yang mendengar. Hanya aku. Kaki panjangku mulai melangkah meninggalkan bangunan (tak begitu megah) itu menuju sekolah. Jaraknya tak begitu jauh. Sekitar sepuluh menitan dengan berjalan kaki. teman-teman kentalku sudah menunggu. Berlari kecil. Menyusul meraka.
Pelepasan siswa. Kursi-kursi dan panggung sudah tertata rapi. Sekolahku Nampak berbeda dibeberapa sisinya. Acara tahunan ini sudah dipersiapkan dengan matang. Sejak sebulan setelah hasil kelulusan muncul para guru sudah sibuk merancang acara ini. Tanaman-tanaman yang biasanya berada dihalaman berpindah dikanan-kiri panggung. Asri. Hijau dan segar ketika mata memandang.
Sosok-sosok yang berlapis kerinduan mulai bermunculan. Mereka datang membawa kemenangan dan rasa bangga luar biasa. Anak-anak mereka sudah mencapai ujung tombak perjuangan. Hari ini aku dan kawan seangkatanku akan melaksanakan acara purna tugas sebagai anak SMA. Iya, sudah selesai.
Aku duduk di deretan kiri bersama teman-teman dekatku. Zona puteri. Sekolahku menetapkan syariah agama yang begitu kuat. Laki-laki dan perempuan tak bisa di satukan disini. Sejak aku masuk hingga saat ini, selalu ada batas antara kami, putera dan puteri. Kulihat ke beberapa sudut, para orang tua sedang asik bercakap dengan guru dan anak-anaknya. Celingukan. Aku belum melihat ayahku. Padahal beberapa hari lalu aku sudah menelpon untuk mengingatkan undangan acara pelepasan ini. Diujung telepon saat itu ayah mengiyakan.
Disini, disekolahku yang bisa dibilang unik ini. Telepon adalah barang mahal. Ada jam-jam tertentu untuk menghubungi orang-orang tercinta diluar asrama. Apalagi posisiku sekarang berada di pelataran sekolah, sedangkan telepon yang disediakan yayasan berada di gedung asrama. Sekitar satu kilometer dari gedung ini. Aku menghela napas. Berharap ayah tidak lupa dengan janjinya. Tak mungkin aku kembali ke asrama. Acara segera dimulai. Aku benarkan posisi duduk tepat menghadap ke panggung acara. Berharap-harap cemas untuk segera bisa menangkap raut wajah ayah yang makin menua menurutku.
Acara dimulai. Tirau terbuka lebar. Beberapa pertunjukkan seni tergelar dengan apik. Sambutan-sambutan yang disampaikan pun mengharu biru. Semua menyiratkan rasa bangga karena kami lulus 100 %. Tidak ada yang tertinggal satu pun diantara kami. Tibalah pada prosesi pemberian penghargaan. Kepala sekolah menaiki mimbar dengan membawa map batik ditangan kanannya. Perlahan beliau membuka dan membacakan nama-nama yang berhasil menorehkan nilai terbaik untuk ujian nasional tahun ini. Tiga orang puteri dan tiga orang putera. Satu per satu nama terpanggil mulai dari dari peringkat 3. Satu diantara nama-nama itu adalah namaku. Aku gembira bukan kepalang. Ucap syukur saat itu juga. Menangkupkan wajahku pada kedua telapak tangan, “Alhamdulillah”. Teman-teman yang duduk didekatku memeluk dan mengucapkan selamat atas keberhasilanku. Aku melangkah maju. Mengikuti teman-temanku yang sudah terlebih dahulu dipanggil. Kepala sekolah yang masih berada di mimbar kembali bersuara.
“Silakan bagi wali murid – murid di depan untuk maju dan berfoto bersama”, perintah bapak kepala sekolah. Dengan senyum bangga ibu dan bapak wali murid berjalan mendekat ke arah anak kebanggaan mereka. Kemudia aku, tak ada satu pun yang mendekat ke arahku. Tak ada ayahku, apalagi ibuku. Dimanakah gerangan keduanya? Semudah inikah melupakan hari penting ini. Aku meneteskan air mata didepan puluhan hadirin. Menunduk. Menyembunyikan kesedihanku seorang diri. Cepat-cepat aku hapus menggunakan punggung tangan kiriku. Percuma. Sia-sia benar usahaku tiga tahun ini. Usaha yang aku upayakan dengan keras tak membuahkan apa-apa. Tak ubahnya hanya angin lalu. Kado ini tak seindah yang aku bayangkan beberapa tahun lalu. Janjiku ketika pertama kali kakiku memasuki pelataran ini untuk pertama kali. Nilai terbaik yang aku persembahkan tak sampai pada pemiliknya.
 Ingin rasanya aku berlari meninggalkan panggung, menerobos para hadirin yang dengan seenak hati menepuktangani aku. Apa-apaan, aku sedang berduka. “Mengapa mereka bisa tersenyum begitu lebarnya”. Batinku memberi perlawanan. Pembawa acara mempersilakan kami kembali menuju kursi duduk. Aku tersedu sejadinya. Menanggalkan suara tepuk tangan yang semakin keras berirama. Pundak seorang teman menjadi sasaran kesedihanku. Bajunya basah teraliri air mataku yang terus saja menjadi. Teman yang mulai melihatku iba membawaku ke belakang sekolah. Tempat yang cukup sepi untuk meluapkan kesedihan ini. kepalaku masih menunduk. Map bergambar logo almamater sekolahku menjadi tameng paling mujarap untuk menutupi muka sembabku.
Teman perempuanku memelukku erat, “ Sudah mbak, sudah. Bapakmu pasti tetap bangga kok” katanya menenangkan.
“Bukan itu masalahnya mbak. Hari sepenting ini bapakku bisa lupa. Kenapa begitu tega mbak. Apa aku tidak penting lagi untuk mereka,”
Ya begitulah amarah yang keluar tanpa aku minta. Tak ingat lagi apa itu makna anak durhaka. Marah. Aku marah dengan caraku. Kucuci muka dengan air. Beberapa saat aku pandang wajah sembabku di kaca kamar mandi. Begitu memelasnya diriku. Aku mengasihani diriku sendiri. Otakku seperti mlompong. Hanya ingin melamun dan menangis. Itu saja, tak lebih. Air mata pun keluar tanpa intruksi. Sesak bila mengingat kejadian beberapa menit lalu.
Dari kamar mandi aku mendengarkan moment-moment akhir acara. Dirasa hampir selesai, teman sebayaku mengajakku kembali ke pelataran untuk mengikuti prosesi penutupan. Rasanya ingin ku tolak ajakan itu. Tempat ini sepertinya menjadi tempat paling nyaman kali ini. Apa daya, aku tetap kembali dengan gontai. Paksaan seperti ini yang aku benci.
Saat aku berjalan menuju kursiku, teman-teman yang lain memandangku iba. Apa yang sedang mereka pikirkan terhadapku? Sampai-sampai mereka melihatku tanpa kedip seperti itu. Aku bukan narapidana yang mau dihukum mati. Sampailah tubuh ini ke kursi. Pembawa acara mengakhiri prosesi dengan salam yang sangat bersemangat. Semangat karena setelah ini kami akan menjalani kehidupan baru. Tidak lagi terkurung di SMA apalagi asrama. Lepas. Bebas melakukan aktivitas seperti orang pada umumnya. Pikiran-pikiran itu tak berpengaruh padaku. Aku masih terpaku. Diam seribu bahasa menatap map berlogo SMA.
Teman yang mengantarku ke belakang sekolah tadi menggandeng jemariku. Menarikku ke halaman parkir yang letaknya berseberangan dengan pelataran sekolah. Temanku menunjuk ke salah satu sudut. Kelopak mataku melebar. Menangkap sosok yang tak asing.
“Bapak..” desisku pelan.
Aku berjalan lunglai mendekatinya. Membawa sejuta kecewa yang tak bisa kuterima. Mencium tangannya.
“Pulang sekarang?”, Beliau bertanya. Aku mengangguk. Melihat posisi sepeda motor yang sedikit menjorok ke dalam, tak mungkin bila beliau datang terlambat tadi. Lalu kenapa beliau tak muncul ketika momen sakralku?
Tangis bisuku mengudara bersama terik senja. Beberapa kali air mataku hendak meluncur, lagi-lagi aku hapus secepat kilat. Aku mendongakkan kepala ke langit agar lebih kuasa menahannya. Isakku yang pelan beradu dengan suara derum motor yang salip-salipan. Hanya punggung ayah yang menjadi saksiku. Beliau tidak, fokus pada rute jalan pulang. Aku yang dibonceng dibelakang egois pada jalan. Larut dalam kekecewaan. Rumah yang hampir 18 tahun aku huni bersama keluargaku sudah didepan mata. Mesin motor diistirahatkan
Assalammualaikum”, ujarku seraya membuka pintu. Di ruang tengah kulihat ibu dan adik-adikku sudah menunggu. Aku mencium tangan ibu kemudian duduk lesehan tepat disebelah kanannya. Perjalanan yang cukup memakan waktu tadi berhasil membuat badanku pegal. Begitu pun dengan bapak. Beliau ikut duduk bersama kami.
“Bagimana hasilnya?,” begitulah pertanyaan yang dilontarkan ibu padaku.
Alhamdulillah. Tadi dapat hadiah, Bu dari sekolahan. Tapi Bapak mboten wonten pas mau difoto kaliyan bapak ibu guru.” Curhatku pada ibu. Tenggorokan rasanya mendadak kering. Serak. Mata mulai memanas. “Tidak..tidak..aku harus menahannya. Jangan menangis didepan mereka. Aku sudah besar. Tidak”, batinku melawan kekecewaan.
“Lha kenapa tho pak? Mboten telat tho?”, tanya ibu pada bapak yang sedang terbaring. Kedua tangannya disatukan untuk bantalan kepala sambil menghadap langit-langit rumah. Ibu tahu apa mauku, jawaban.
“Bapak tadi pakai sandal jepit, nduk. Padahal yang lain pakai sepatu klimis-klimis. Tapi hadiahnya lak  tetep dikasih tho?”.
Aku tertawa. Jawaban bapak membuat urat tawaku bereaksi. Tawa pertama semenjak pagi buta. Aku menagkap jawaban bapak yang dilontarkan dalam bentuk candaan. Hanya seberkas alasan sesederhana itu. Aku kalut dengan kekecewaan yang aku buat sendiri. Bergulat dengan amarah dan kesedihan yang juga aku bentuk sendiri.
“Masihkah pantas kau sebut aku anakmu? Bapak ibu. Ini secuil baktiku”, ucapku dalam hati. Kusodorkan hadiah dari kepala sekolah dan map berlogo sekolahku pada kedua orang tuaku. Bapak ibu, kalian selalu punya cara untuk mencintai aku.


Rabu, 03 Juni 2015

Bubur Beras Merah on The Story

Jarum pendek jam menodongkan ujungnya pada angka 4 dan jarum panjang ke angka 12. Hari sudah sore. Panas suda sedikit mereda dibandingkan siang tadi. Usai membersihkan badan, meluruhkan segala lelah dengan air aku meluncur ke tempat yang untuk beberapa kali ini menjadi sumber rezeki. Aku dan blacki –sebutan untuk motor kesayanganku- menyusuri pedaringan, pasar jebres, STIE AUB dan pada akhirnya sampai di kecamatan Kadipiro, Solo.
Gang-gang kecil aku lalui, sesekali bersenandung menyambut rezeki. Blacki berhenti. Helm merah hasil pinjaman teman kos aku lepas dari batok kepala. Beberapa waktu ini aku mengandalkan helm pinjaman, helm kesayanganku yang harganya tak seberapa hilang. Heran sama malingnya, helm murahan diembat juga.
Aku masuk ke pelataran. Tak mengucap salam seperti biasa yang aku lakukan ketika memasuki rumah. Keluarga kecil ini berbeda Tuhan. Si gadis kecil muncul menyambutku. “mbak hani datang..mbak hani datang…,” begitulah kiranya perayaan selamat datang untukku. Gigi gadis kecil itu “gigis”, mungkin kebanyakan makan permen. Rambutnya model salah satu kartun di televisi. Sebahu namun lurus kecoklatan. Namanya Melinda. Melinda Patricia, si anak kecil yang selalu menyebut dirinya adalah putrid elsa di film Frozen. Lucu sekali ketawanya ketika berceletuk, “aku putri Elsa yang di Frozen itu loh mbak. Jadi panggil aku Melinda Elsa ya..” Aku iyakan saja. Toh, dengan anggukan sederhana akan membuatnya tersenyum bahagia dan dia akan menurut untuk aku ajari membaca.
Ya beginilah caraku (berusaha) menikmati hidup. Menberikan les privat untuk salah satu anak TK. Berharap kegiatan ini mampu menjadi menambal penatku dengan dunia kuliah. Menjadi sumber penghasilan tambahan juga (semoga~). Pertama kali mengajar..buset deh, nih badan serasa loggkrak alias capek banget. Ngajar satu anak kecil sama dengan ngajari 10 anak SMA. Susah banget, dikit-dikit minta main. Baru baca satu huruf minta main. Al hasil ngelesiku didominasi dengan main-main haha. Seperti tujuan awalku, menghilangkan penat. Aku sukses! Jangan dikira gampang, penat hilang lelah yang datang. Bosen sedikit si Melinda ngambek. Yang makan dulu lah, ke kamar mandi dulu lah, main skoter dululah. “Hemm..pengen tak borgol juga nih anak lama-lama,” pikir jahatku. Sama-sama kerja dua jam capeknya tiga kali lipat dari kerjaku jadi front office. Kaki tangan pegal semua. Sampai kos bisa aku pastikan langsung tidur memeluk guling.
Secapek apapun mengajar, tetap saja aku bahagia. Bersama Melinda dan tingkah polahnya aku belajar mengasuh anak, atau lebih tepatnya adik yang masih sangat aktif, belum bisa dikontrol secara penuh. Secara, dulu ketika masa adik-adikku masih seumurannya melinda aku masih di taraf umur anak yang labil (SD). Pokoknya yang penting adikku diam, gimana pun itu caranya. Menguak kenangan sebentar #eaaa.. Sering sekali sama ibu diminta untuk nyuapin adikku bubur Sun. Aku masih ingat sekali bubur itu punya varian rasa yang beragam, salah satunya adalah beras merah. Yummy. Aku lebih senang rasa pisang sebenarnya. Kalau jatahku beli bubur, meskipun ibu minta beli yang rasa beras merah tetap akan aku belikan yang rasa pisang haha. Atau kalau enggak suruh beli tiga bungkus, dua bungkus rasa beras merah satu bungkus rasa pisng. Anggap saja ini upah anak solehah. Memulai aktivitas tiap sore, “ndulang” adik. Aku suapkan satu sendok ke mulut adikku. Dia makan pelan sekali. Kemudian aku suapkan ke mulutku sendiri dua kali dengan sigap biar ibu tak tahu kelakuanku. Makanku cepat sekali. Secara, itu bubur tak perlu dikunyah, gigiku sudah tumbuh dan adikku masih ompong aja. Kalau sudah habis dan adik masih rewel, aku akan kembali ke dapur. 
Bilang sama ibu, “bu, adik masih lapar. Tak buatkan bubur lagi ya”. Begitulah kalimatku beberapa kali hingga tak kusangka buburnya sudah habis, baik di mangkuk maupun dibungkus. Begitu seterusnya untuk tiga generasi. Ibuku akan ngomel begini, “loh, kok habis buburnya. Yang makan kamu apa adik ini?”, dengan tampang tanpa dosa aku berdalih, “adik tadi lapar banget bu, jadi makannya rada banyakan hehe..” Ibu menimpali lagi,” lha sing lemu kok malah koe udu adimu?” begitulah percakapanku, silahkan dialih bahasakan ke Bahasa Jawa sendiri ya. 
anaknya kurang satu -_-
Ya begitulah tingkahku “ngemong” tiga adikku. Masih sangat tak mutu. Berbeda dengan sekarang. Meskipun Melinda bukan adik kandungku, tapi dengan dia aku banyak belajar bagaimana cara memperlakukan anak kecil secara manusiawi. Tidak lagi dengan mengambil jatah bubur beras maerah, tapi memberikan apa yang dimiliki dan dibutuhkan. Menjadi lebih sabar, mengajari pelan-pelan dan berusaha mengerti apa yang sebenarnya dia butuhkan. Dahulu bodo amat adik mau dapat nilai berapa, sekarang pokoknya anak ini harus bisa. Searching banyak metode belajar biar ini anak jauh dari nilai jelek. Ikut deg-degkan ketika penerimaan rapor. Wah, merasa bersalah aku dengan adik-adikku. Tiga generasi bubur beras merah mereka aku korupsi semua. Andai mbak dulu sudah ngerti cara memperlakukan kalian…

Sekali Ini Saja

Bersamamu kulewati
Lebih dari seribu malam
Bersamamu yang kumau
Namun kenyataannya tak sejalan
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Izinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup sekali ini saja
Tak sanggup bila harus jujur
Hidup tanpa hembusan napasnya
Tuhan bila waktu dapat kuputar kembali
Sekali lagi untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini, biarkan cinta ini
Hidup untuk sekali ini saja 
(Glend Fredly)

Kamis, 28 Mei 2015

DUA SATU

Bukankah kita bertemu untuk mengubah dua menjadi satu. 

Rabu, 22 April 2015

Petuah Perempuan

Ada sebuah tayangan televisi yang khusus membahas mengenai persoalan perempuan. Tampaknya kalimat "Karena wanita ingin dimengerti" menjadi salah satu latar belakang produser untuk membuat  talkshow ini. Terlepas dari drama atau nyata, tanyangan ini cukup inspiratif bagi kaum hawa. Tak heran bila stasiun TV yang menayangkannya dengan bangga menyematkan talkshow tersebut pada jajaran "Program paling menarik".
Tidak sengaja pagi ini sebelum berangkat ke kampus saya melihat tayangan tersebut. Ada seorang perempuan muda yang merasa selalu disakiti oleh pacarnya atau laki-lakinya. Peristiwa itu berkembang menjadi penyakit traumatis. Bayangkan, usianya baru 19 tahun namun sudah memiliki gangguan emosi. Masa depan yang masih bengitu panjang berada pada ambang kehancuran bila si perempuan muda tersebut tidak berhasil mengentaskan diri dari traumatiknya.
Setelah menjalani sesi curhat yang cukup panjang, salah satu host dalam acara tersebut berujar:
Bila 1, 2, 3 laki-laki sudah menyakitimu, percayalah, didunia ini masih ada ribuan lelaki baik yang salah satunya akan menghapirimu.
Begitulah petuah sang host muslimah. Perempuan muda tadi menggelengkan kepala dengan mata yang sudah sembab karena menangis. Nah, kisah tersebut harusnya menjadi pelajaran untuk kita semua, terutama kaum perempuan. Bila memang belum saatnya menjalin asmara, tundalah dahulu sampai sudah tiba waktu yang tepat.
True love is waiting to talking
Ibu saya pun bilang demikian.
"Berani suka berarti berani sakit"
Bisa dibilang menjadi sakit itu adalah konsekuensi paling nyata pasti akan dialami. Untuk menghindari sakit itu, hendaklah kita kaum perempuan (yang lebih banyak mendapat mudharat) agar menjaga diri dan senantiasa menjaga kehormatan. Mulai dari hal-hal yang tampaknya kecil padahal besar, contohnya adalah menjaga pandangan mata.
Tidak sedikit ayat-ayat Allah SWT yang bisa kita jadikan dasar dalam menjaga pandangan mata.
Kita perempuan,
mahkluk Tuhan yang tanpa hiasan pun sudah CANTIK. 
Haruslah lebih dapat menjaga diri karena dari ujung rambut hingga kaki kita adalah mahkota yang tidak memiliki ganti. Tidak seperti onderdil sepeda motor yang banyak dijual eceran di pinggir jalan. Kalau dasarnya perempuan baik maka akan dihampiri pula oleh lelaki yang baik. Itu hukum alam yang tidak dapat dipatahkan.Tema ini memang menjadi tema saya yang tak pernah mati, mengingat umur sudah berkepala dua. kata ibu saya, itu wajar kok. Daripada dilampiaskan dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, yuk disebarluaskan dengan cara menuliskan. Sekian cerita saya hari ini, semoga bermanfaat sahabat.
Be better, everytime


Selasa, 14 April 2015

Melayang Aku Sampai Kota Daeng, Makassar

Setiap orang memiliki kadar keberuntungannya masing-masing. yap, begitu juga dengan aku hehe. Kalau dibilang beruntung ya “beruntung banget” bisa berangkat ke Makassar bersama teman-teman seperjuangan. Siapa sangka mimpi ini menjadi nyata. Mimpi anak sederhana yang aku cetuskan beberapa tahun lalu. Orang boleh menertawakan mimpi itu, tapi aku terima saja dengan lapang dada. Saat ini mereka boleh tertawa, lain waktu aku yang akan membuat mereka terdiam lama menatap mimpiku yang sudah menjadi nyata.
Aku pengen naik pesawat

Aku percaya Allah itu Maha Adil. Ia akan membayar semuanya dengan harga pas. Rasa-rasanya forum nasional inilah bayaran yang paling mahal bila mengingat setahun belakangan. Cukup tahu saja, nanti ndak dikira pamer.
Hari Rabu, 8 April 2015 aku berangkat ke Surabaya menuju Bandara Juanda. Bersama lima kawan lain yang sama-sama baru pertama kali ke luar jawa. Kata adik tingkat saat itu dia sempat bingung gimana cara pesan tiket pesawat haha. Setengah hari kita lalui di jalanan. Sekitar pukul 19.30 WIB rombongan UNS ini sampai di bandara. Take off masih pukul 11.00 WIB. Sambil nenteng koper layaknya mau liburan,  muter-muter bentar sambil foto-foto, lumayanlah buat bahan cerita di rumah. Beberapa jam kami nikmati di pelataran bandara sambil menikmati suasananya. Ada rasa takut dan deg-degan melihat pesawat yang berlalu lalang hehe.. 

Tibalah saatnya cek in. kita masuk di ruang keberangkatan. Semua barang bawaan dicek. Memastikan tidak ada barang-barang berbahaya yang dibawa penumpang. setelah pemeriksaan selesai saatnya memasuki cabin pesawat. Cukup terkesima karena baru pertama kalinya haha. Tiba-tiba jadi ingat cita-cita waktu kecil ingin jadi pramugrari. Pas pesawat sudah mau melangit rasanya tuh serem, badan kayak ditarik secara paksa gitu. Enak sih, seru juga. Dari atas pesawat aku lihat lampu-lampu bertaburan. Indah benget. Seperti pecahan emas yang berserakan. Seremnya naik pesawat Cuma pas naik dan mau turun saja sih kalau ambil penerbangan malam. Selebihnya hanya goyang-goyang kecil yang tidak terlalu keras. Alhamdulillah selamat sampai landing di bandara Sultan Hassanudin Makassar. 
Kira-kira pukul 01.30 WITA aku sampai di Makassar dan dijemput sama panitia dari Universitas Hassanudin. Namanya Muhammad Widianto. Nyatanya dia bukan panitia inti, dia delegasi UNHAS yang merangkap. LO sebenarnya buat UNS adalah Erwin. Anak UNHAS asli. Kalau si Widi tadi orang Sragen yang tinggal di Makassar. heleehh.. 
Beberapa hari di UNHAS agenda utamanya adalah sidang dan musyawarah membahas AD, ART, GBHO dan proker untuk Persatuan Mahasiswa Bidikmisi Nasional selama setahun ke depan. 
 Dari seekia banyak moment penting entah kenapa yang paling berkesan adalah ketika aku dipertemukan dengan kakak-kakak yang sebenarnya sudah lulus namun masih diberi amanah untuk membangun bidikmisi, Sebut saja mereka tim formatur. Mereka adalah orang-orang keren yang dikumpulan jdi satu oleh DIKTI. latar belakang mereka sama, sama-sama berasal dari keluarga sederhana. Sama-sama orang beruntung bisa mendapat bidikmisi untuk kuliah hingga lulus. Mereka ada yang seorang presma, mawapres, duta wisata, duta perawat nasional dan segenap prestasi-prestasi cemerlang sudah mereka kantongi. Sungguh, bertemu mereka seakan-akan mendapat cahaya semangat baru untuk melanjutkan hidup ahaha..
Tim Formatur
Anehnya, sekeren-kerenya orang mereka semua punya sisi aneh yang membuat orang geleng-geleng kepala. huahahahah
Drama pengemis
Setelah banyaknya omongan buruk tentang eksklusifitas anak-anak bidikmisi, akhirnya terbentuk juga forum nasional yang bisa menaungi seluruh penerima bidikmisi dan alumninya. Semoga dengan ini generasi emas Indonesia akan lahir untuk kemajuan bangsa dan negara. Aku pikir memang ini penting dan harus ada. Biar keberadaan bidikmisi lebih maksimal dan tak lekang oleh waktu eaaa... 
Bersyukur..bersyukur dan bersyukur..itulah kata kerja yang tak boleh kami lupa. Teman-teman bidikmisi se-Indonesia yang aku cinta. 
Delegasi Bidikmisi se-Indonesia
Daan..berakhirlah pada waktu untuk mengucapkan selamat tinggal. Membawa hasil musyawarah dan program-program yang harus segera ditargetkan. Cuaca begitu buruk ketika perjalanan kembali ke kampung halaman. Hujan deras menyapa, pesawat jadi delay agak lama.

 Ketika di pesawat, awan-awan tebal begitu ramai. Mendung membuat jendela blur. Namun, ketika cerahnya hari sudah menyapa, sungguh tak bisa aku pungkiri indahnya kepulauan Indonesia. Dari atas sana seperti serpihan surga. Pabtas saja Indonesia banyak diincar oleh negara tetangga. Hamparan pulau hijau dan birunya lauu membuat mata tak mempu berkedip. Semua adalah lukisan Tuhan. Subhanallah..
Meskipun sempat hampir jantungan karena cuaca buruk ketika terbang, alhamdulillah Allah masih memberi keselamatan. Sekitar pukul 17.00 WIB rombongan UNS sampai di Bandara Adi Sucipto. 
Alhamdulillah
Bandara Adi Sucipto
oiya sebelum pulang kami sempat mampir ke warung makan Coto Makassar, makanan khas daerah sana. Rasanya agak asam. Isinya daging sapi dengan kuah keruh. Katanya sih air rempah-rempah yang membuat keruh. Harganya 10 ribu per mangkok. Sudah termasuk dua buah ketupat dan segelas air putih dingin. 
Coto Makassar
begitulah perjalanan sederhanaku. Meski sederhana begitu banyak hikmah yang aku dapat. Yang jelas mimpi untuk naik pesawat sudah terkabul. Terima kasih ya Allah, sunguh Engkau Dzat Yang Maha Besar.
Pinjam ya hehe..Jateng-DIY memang oke
Tempat oleh-oleh

Sajak untuk Purnama

Aku dan kamu mengukir cerita tentang kita
Kau adalah tinta sedang aku ujung besinya
Begitu perihnya tubuhku ditekan untuk bisa kau keluar
Namun kenapa hanya aku yang kena getah sakitnya
Hey, aku sedang bertanya padamu
...

Kau adalah doa-doaku

Kau bahan dari cerita-cerita yang aku tulis

Kau adalah alur yang selalu menjadi muaraku

Kau adalah semua dan segalanya
Kau tiada duanya

...
Lalu,
Kabar duka itu datang
Seolah meruntuhkan
Menyisakan luka dan sia-sia
Kau tak pernah peka atau tak mau peka
Hey aku sedang bertanya
...
Bila benar adanya selama ini hanya kebohongan
Kenapa aku harus menjadi orang yang kau sasar
Tak adakah yang lain saja
Setidaknya dia yang hatinya lebih kuat dari aku
Yang memiliki air mata lebih sedikit untuk diteteskan hanya untukmu
...
Bukan aku,
Perempuan lemah yang sudah terlalu lama menunggu
Pada akhirnya beginikah jawaban untukku
Aku tak pandai bermain kasih
Aku tak pintar menolak rayuan
Aku tak cerdas memilah mana benar mana gombalan

Sungguh,
Aku tak meminta kau memberiku laba
Cukup terima aku dan kita akan jalani suka duka bersama
Sesederhana itu..

Tuhan tolonglah aku
Kembalikan dia ke dalam pelukku
Karena aku tak bisa mengganti dirinya 
(Pasto- jujur aku tak sanggup)


Bila kau pergi karena merasa aku tak ada lagi
Inilah satu jawaban yang akan aku utarakan
dari seribu pertanyaanmu
...

Aku hanya pergi tuk sementara

Bukan tuk meninggalkanmu selamanya

Ku pastikan kembali pada dirimu 
(Pasto- Aku Pasti Kembali)


Senin, 06 April 2015

Terima kasih untuk satu Tahun Ini, Pioner

Kita tak memiliki apa-apa; harta, wibawa, maupun kuasa. Kita hanya punya satu jiwa dan satu rasa bernama "tekad" yang luar biasa.
Musyawarah Regional Jateng- DIY
Masih ingat kah kawan? Dimana kita berada pada ambang pilihan yang sulit. Diam bersama cacian atau maju membawa perubahan. Akhirnya, dengan secuil modal yang kita punya langkah ini menjadi lebar mengalahkan keadaan.
Aku masih ingat betul dimana kita bersama menyusun apa-apa hingga malam tiba. Di tempat yang tak  pernah tentu. Asal kosong, pakai saja!! Rumah saat itu menjadi barang mahal. Namun,
semakin kesini ternyata aku sadar, asal bersama kalian apapun bisa kita kerjakan meski serba kekurangan. 
Dering HP tak pernah sunyi untuk menyapa. Selalu ada kata "bagaimana?" di setiap pesan elektronik kita. Bikin malas buka  HP sejujurnya hehe, maap yak. Bukan HPnya yang bikin pening, isinya itu hloo. Kita mulai langkah ini dari tiada menjadi ada. Dari suka menjadi tangis. Dari cinta menjadi sangaaaaaat cintaaaaaa... hingga kita bilang, "kapan ya kita bahagia?" haha. Sungguh, aku benci kata-kata itu.
Benar kata orang, semakin tinggi pohon semakin garang angin menerjang. Goyah itu ada, tapi kuat itu selamanya. Mulai ada pihak-pihak yang tak suka, mencerca, apalagi ingin menjatuhkan kita. Sedih rasanya, kita salah apa?? tapi itulah yang menjadi pengobar tekad dan pemberi asupan semangat paling besar. Tanpa bakat motivator pun kita dituntut menjadi motivator ulung untuk diri sendiri.
Kita harus bertahan. Bagaimanapun caranya, bagaimana pun keadaannya. Tak ada kata sia-sia untuk apa yang sedang kita lakukan saat ini. Tunggu saja waktu jayanya. Pasti akan tiba!
Aku ingatkan kembali satu tahun perjalanan kita kemrin. Hanya melalui ini, iya sekadar foto ini yang bisa aku beri. Hanya beberapa yang lainnya aku tak punya.
Dusun Binaan SEMESTA KOMADIKSI
Diskusi SNSD
Monitoring dan Evaluasi Bidikmisi
Bakti Sosial Bidikmisi
Menggali Inspirasi Bersama Bidikmisi UNNES
Studi Banding ke Bidikmisi UNY
Ciyeee Dina sama Arif
Studi Banding ke Bidikmisi UGM
Buku Pertama. Silahkan Order :)
Masih banyak yang ingin aku ingatkan, sayang tak semua bisa terabadikan dalam bidikan kamera. HP kita dulu kan masih sejenis alat telpon dan sms. Belum ada istilah selfie dengan kamera resolusi canggih untuk berbagai gaya. Melalui tulisan ini, semoga kisah kita abadi. Suatu saat ketika kita membaca ini lagi, sengaja maupun tidak, kita akan ingat kembali apa itu perjuangan dan dedikasi. Sampai kapanpun perjalanan ini tak akan sirna meski ditelan waktu dan jumpa. Kita generasi tua, akan tiba waktunya untuk hadir pada jayanya KOMADIKSI beberapa tahun lagi. Pada saat itu dibalik senyum kita akan terlukis bahwa, "ini hasil apa yang kita bangun dahulu". Sesederhana itu. Kalau boleh meminta lebih, aku ingin silaturahmi kita terjaga hingga entah kapan usainya. Thanks regards..kalian generasi pioner :*



Sabtu, 28 Maret 2015

Kisahmu Sepanjang Masa, Aqin.

“kenapa Allah begitu baik?”
Ya, satu pertanyaan itu yang melayang-layang dikepalaku selama semalaman. Siapa sangka, agenda yang tidak terencana ini berbuah kesadaran.
Awan mendung terlukis dilangit  Solo. Perjalanan dari Solopos menuju kentingan terasa begitu cepat karena dibarengi rasa cemas jikalau hujan turun sebelum kami tiba. Hari itu, 28 Maret 2017 adalah jadwalku diskusi jurnalistik bersama salah satu forum kepenulisan milik Afifah Afra yang berdomisili di kota solo. Beberapa adik tingkat yang memiliki hobi serupa aku ajak untuk menemani sekaligus jalan-jalan melepas penatnya tugas kuliah. Setelah diskusi selesai, kami sepakat  untuk makan bersama. Cacing-cacing didalam perut harus segera diselamatkan.
Heran, ada jalan yang lebih cepat menuju kampus. Namun, adik-adik ini malah mengambil jalan paling jauh. “mereka butuh jalan-jalan mbk,” kata Maul, adik tingkat yang aku boncengkan dibelakang.  Aku mengiyakan saja. Mungkin inilah saatnya aku leren memikirkan masa kuliah tingkat tua. Cukup mengikuti bagaimana pola hidup adik-adik selama seharian ini.
Menerobos rintikan air yang kian besar butirannya. Keptusan mau makan dimana aku serahkan sepenuhnya kepada adik-adik. Sampailah kami di tempat makan Gudeg Jogja daerah ngoresan.  Apalah ini, jauh-jauh dari Manahan ternyata makannya hanya di samping kosan. Beberapa meter dari tempat makan itu kosku bertengger. Elah dik…
Memesan makan, membahas apa saja, tertawa, bercanda, ya itulah jadinya aku ketika bersama mereka. Rasanya menjadi Haniah yang lebih muda dua tahun. Mendadak lupa bahwa sudah semester tua. Senangnya, rasanya tak memiliki beban apapun. Prosesi makan selesai. Ibu pemilik tempat makan menawarkan untuk “tambah” bila belum kenyang. Menawarkan es cuma-cuma bila masih haus. Baik sekali.
Sang ibu merapat pada tempat duduk kami. Lesehan bersama kumpulan mahasiswa yang sedang “lari dari kenyataan.”  Haha . Siapa kira, sang ibu adalah tante dari Aqin, salah satu mahasiswa UNS yang terlebih dahulu dipanggil Allah karena penyakit GBS. Aku ingat betul ketika mahasiswa UNS secara serentak mengumpulkan dana untuk membantu pengobatan Aqin yang biayanya ratusan juta rupiah. Aku juga kembali ingat dua tahun lalu aku sempat menjengu Aqin. Masih tampak jelas kondisinya. Beberapa selang panjang menghiasi alat pernapasannya. Ia terbaring lemah di ruang ICU Dr. Oen. Rumah sekaligus tempat makan itu mungil. Terletak di gang awan 1, samping kuburan cina. Ternyata, rumah makan itu adalah obat kesepian dari sang ibu. Perses seperti nama Aqin, tempat makan itu dinamai.
kondisi Aqin
“biar banyak mahasiswa yang main, jadi ibu tidak kesepian. Pokoknya semua yang kesini sudah ibu anggap anak sendiri,” kata sang ibu.
Aku melongo. Adik-adik lebih melongo karena mereka belum masuk universitas ketika Aqin masih ada. Melalui raut wajah sang ibu, bisa kulihat bekas-bekas kehilangan yang mungkin tak pernah bisa hilang. Bunda (ibu kandung Aqin) masuk ke kamar dan mengambil sebuah handphone yang terpasang foto Aqin. “Ibu ndak akan pernah hapus foto ini, tidak akan pernah mbk.” Oke fix. Sisi melankolisku bergejolak.
Bunda bercerita betapa baik dan cantik anaknya. Penurut dengan orang tua dan sregep. Hanya saja, ada satu hal yang disayangkan katanya. Dia begitu malas untuk makan bila sudah kelelahan, memilih tidur saja. Aktif di organisasi kampus pula.  Berawal dari  sakit maag yang kemudian berujung pada maut, itu kesimpulan yang bisa aku ambil dari pemaparan panjang bunda. Maag yang kronis membuat sistem kekebalan tubuh Aqin  terganggu, sehingga banyak penyakit yang bisa menyerang dia kapan pun. GBS menjalari Aqin selama 44 hari sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir. “sesibuk atau secapek apapun jangan lupa makan. Sehat itu nikmat. Minimal bawa roti dan air minum kemana-mana. Ibu sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan anak,” ujar sang ibu menasihati.
Aku tertampar. Ingat kebiasaanku yang jarang makan. Sehari sekali, bisa dua kali saja sudah Alhamdulillah. Ketika pulang ke matesih ibu selalu marah-marah dan menjudment aku cacingan. “Tidak ibu, aku baik-baik saja,” itulah yang aku ungkapkan dalam bahasa jawa. Bukan karena pengiritan, hanya saja kau tak bisa makan sendirian. Aku juga tak suka makan dengan buru-buru. Lebih baik tak makan sekalian bila waktu dan agenda sedang tak bisa menunggu. Sungguh kebiasaan tak makan itu merusak diri sendiri. Entah bagaimana cara Allah mengingatkan setiap umatnya. Aku rasa hari inilah Allah bermaksud membuka mataku. Persoalan tak makan ini harusnya bukan lagi masalah diusiaku yang ke 21 ini. Beberapa memori di kepalaku muncul lagi, “bagaimana mau mengurus anak orang kalau ngurus diri sendiri saja belum bisa.” Ya. Itu nasihat dari seseorang yang aku lupa siapa. Sebut saja dia anonim.
Adik-adik yang ikut nimbrung ternyata antusias juga dengan cerita sang ibu dan bunda. Berbincangan kami ditutup dengan sholat jamaah magrib. Hujan masih belum berdamai. Makin lama-makin deras saja. rasanya tak ingin pulang. Muhksin tertidur pulas. Lutfi, Agung dan maul berbaring santai sambil menonton film. Aku? Pikiranku masih berlari-lari,“Besok aku harus beli sarapan!”. Sungguh makan ditempat ini serasa di rumah sendiri, kami benar-benar tak ingin pulang. Semoga Allah menempatkanmu disisi terbaiknya Aqin.  

Sabtu, 07 Maret 2015

(Lagi-lagi) Jarak

Kita sedang berjauhan
Bukan untuk memupuk rindu
Namun untuk saling melupakan
Kepada jarak yang sudah sengaja aku ciptakan
Entah kau sadar ataupun terabaikan
Semoga dengan cara ini
Kita tak lagi saling menyakiti
Alasan tak lagi berpemilik
Dalam diamku, diammu dan keabu-abuan
Bersama kita tutup lembaran dengan "cukup sekian"

Jumat, 06 Maret 2015

Kamu dan Tulisanku

Sebelumnya mungkin aku harus meminta maaf terlebih dahulu. Maaf, aku belum meminta izin untuk menjadikanmu bahan tulisan-tulisanku.

Sepatu by Tulus


Saat Syukuran

Orang-orang sedang riweh menyantap hidangan makan siang. Beberapa terlihat bingung memilih lauk. Om Egar, adik bapak yang bertubuh tambun selesai mengambil dua centong nasi dari bakul. Telur balado dan ayam goreng ia curi dari meja makan.  Disusul pakde dan budhe serta keponakan-keponakan yang sedari tadi berlari-lari riang. Mereka tampak kelaparan. Aku termenung. Duduk dipinggir pendhapa  yang lantainya  20 cm lebih tinggi. Perasaanku bilang masih ada yang kurang. Sayangnya, aku tak tahu itu apa. Acara syukuran wisudaku ini sudah lebih dari cukup untuk dikatakan meriah. Lalu, apa yang kurang?
Hidangan? enak. Saudara? Lengkap. Meriah? banget.  Ayah dan ibu juga terlihat sangat antusias dengan acara ini. Tetap saja, masih ada yang mengganjal, tapi apa. Entahlah. Aku kembali fokus pada tamu yang sudah mulai menyantap hidangan.  Handphone-ku bergetar. Ada sms masuk dari sahabat kentalku, Anjani, katanya ia tak bisa datang hari ini. Oh, mungkin ini yang membuat hatiku terasa berat. Anjani sudah datang ketika wisudaku di universitas kemarin. Hari ini dia pasti tak ingin izin kerja lagi untuk sekadar datang kesini. Temanku itu benar-benar ingin menjadi wanita karir yang sukses. Aku bangga dengannya.
Lamat-lamat  kudengar derum mesin sepeda motor didepan rumah. Aku hanya celingukan, memberi  tanda bahwa ada tamu tambahan.  Aku berdiri ketika tamu baru menyembul dari pintu. Ternyata tetangga yang rumahnya diujung desa juga turut hadir. Senang sekali melihat para tamu yang saling berbincang satu sama lain. Tak ada ikatan darah, namun semua bisa saling beramah-tamah. Aku duduk kembali.  “Masih ada yang mengganjal, tapi apa?” aku bertanya pada diriku sendiri. Kuhirup napas dalam-dalam lalu aku hembuskan cepat.  Tiba-tiba seseorang berdiri dihadapanku. Aku mendongkak. Melihat  dari kaki ,naik dan naik hingga wajah itu membuatku sedikit linglung. 

Give me a smile,” ujarmu sambil tersenyum. Kemarin  kau bilang tak akan datang. Kau terlihat begitu tinggi dengan posisi begini. Aku tetap duduk. Tak beranjak sedikit pun. Senyumku mengembang. Aku paham apa yang tadi kurasa ada yang kurang. “Makanlah dahulu,” kataku menutupi rasa malu.

Kamis, 05 Maret 2015

Diam-Diam Peduli

Aku tidak harus menunjukkan kepedulianku terhadapmu pada semua orang bukan? 
Aku kepadamu adalah seseorang dengan orang lain yang bukan siapa-siapa. Jika aku peduli kepadamu, itu semata karena aku tidak tahu tentang bagiamana cara mengatasi perasaan. Setidaknya aku mampu menahannya dengan cukup mendoakan.
 Aku menahannya untuk tidak lebih dari itu.
~ Kurniawan Gunadi~

Senin, 02 Maret 2015

Ini Cara Tuhan Memperlakukan Kita

Aku memang tak pernah bisa mengerti bagaimana jalan pikiran seorang laki-laki. Ketika ia pergi apakah berarti ia tak sanggup lagi? atau mungkin ia sedang menjaga hati? atau masih adakah kemungkinan lain yang masih belum aku mengerti?
Apalah yang sedang kau lakukan, aku berdoa agar Tuhan selalu memberi kemudahan. Biarlah aku pupuk rindu ini sendirian. Sampai batas waktu yang entah kapan masih ada kekuatan. Aku percaya, Tuhan punya cara. Mengijabah doa atau menutup luka dengan nikmat yang lebih indah dan tak aku kira sebelumnya.
Tuhan Maha Romantis
Selamat menunaikan mimpimu :"
Aku adalah perempuan yang senantiasa mendukungmu.
Aku juga percaya Tuhan punya cara-Nya sendiri dalam memperlakukan kita.

Kamis, 26 Februari 2015

Selorohmu

Pagi ini aku patut bersyukur. Tanpa aku sangka ada raut wajah yang menyembul dari balik kaca. Ada senyum yang membuat aku mengernyitkan mata. Memastikan. Apakah benar kau atau orang yang menjadi korban ilusiku tiba-tiba.
Ternyata benar. kau datang tanpa aku undang. Selorohmu meruntuhkan.
Ada yang tak lagi sama. Jantung ini tak lagi bergemuruh seketika. Aku tak lagi salah tingkah bila berdiri dihadapanmu. Inikah yang disebut rela?
ah, ibu selalu memberikan aku materi tentang cinta. Beginilah aku jadinya. Aku sedang belajar untuk rela. Rela tak bertemu, rela tak kau sapa, rela melihat kau bersama yang lainnya dan rela-rela yang banyak sekali bentuknya.
Kemudian tibalah pagi ini. Dimana aku sedang menyusun alasan bahwa kita memang tak pantas untuk bersama.
Selorohmu menentramkan.
Tak lagi aku temukan ketakutan melihat kedua bola matamu yang tajam. Inikah bukti kedua aku rela?
Sungguh, ibu berhasil membantuku.

kuharap ini adalah kabar baik. Dimana garis finish sudah ada didepan mata. Kemudian kita akan berjalan ke arah yang berbeda dan menjemput kebahagiaan kita yang tak lagi bersama.
Kata ibu, "untuk apa mencintai dengan luka"
Memang, kalimat itu benar adanya.

Rabu, 25 Februari 2015

Lomba Cerpen Nasional "Kilau Pena Sriwijaya"

Pengumpulan Berkas Cerpen & Puisi :
16 Februari –06 Marret 2015.
Biaya Pendaftaran kirim ke BNI 0202983343 (konfirmasi ke No HP Wahyu)
Kirim naskah dengan format:
Nama_Asal Universitas_Alamat_Kategori (Puisi/Cerpen) dan kirim bukti pembayaran,
ke Pesan FB FLP Ogan Ilir
Pengumuman Pemenang:
13 Maret 2015
GSG FKIP UNSRI Indralaya

Selasa, 24 Februari 2015

Aku dan Apa Adanya

Banyak orang bahagia memiliki harta bejibun jumlahnya, wanita begitu cantiknya dan tahta nan tingginya. Sayang sekali, bagi saya bahagia adalah ketika kedaulatan masih berada di jemari tangan dan kaki. Harta, wanita dan tahta adalah sepiring nasi yang tinggal menunggu basi. Kemudian, menjadi diri sendiri adalah sebuah keabadian yang tiada orang lain berkuasa atasnya.

Senin, 23 Februari 2015

Bahasa Pinggir Jalan yang Terpinggirkan

Gambar buaya didalam koran
Koran usang lalu dibuang,
Ini bahasa orang pinggiran
Asal terpasang dapat uang

Kita mahasiswa, akademisi bahkan pemerhati bahasa terkadang terlalu terpaku pada penggunaan atau pembenaran bahasa di lingkungan-lingkungan formal seperti EYD dalam undang-undang, jurnal, majalah, koran dan lain sebagainya. Keberadaan bahasa pinggiran, bahasa yang digunakan oleh orang-orang pinggiran atau lebih tepatnya orang-orang yang dipinggir jalan terkadang luput dari jangkauan. Secara nalar dan fakta mengatakan notabene pendidikan mereka adalah SD, SMP dan SMA. Kalau pun ada yang dulunya sempat mengenyam perguruan tinggi tentu sedikit jumlahnya dan sedikit pula yang lulusan kebahasaan. Pemakluman ini tentu dibenar oleh kebanyakan orang, namun sampai kapan? Jika dibiarkan terus menerus hal ini akan berdampak pada penggunaan bahasa lisan juga. Bila sudah menginfeksi bahasa lisan maka penyebarannya tentu akan lebih cepat.
Bahasa pinggir jalan memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan dan publikasi bahasa. Bisa dibayangkan berapa banyak pasang mata yang membaca pamflet dipinggir jalan dibandingkan pembaca jurnal ilmiah atau koran yang sudah melewati tahap editing ketatabahasaan. Kemudian kata-kata yang terpampang di depan pertokoan sebagai tanda pengenal toko tentu tidak akan berubah, sehingga lama-lama masyarakat menjadi hapal. Sedangkan jurnal dan koran memiliki topik yang berbeda di setiap edisinya ditambah jumlah kata yang dipakai sangat banyak dalam satu edisi. Sedangkan pamflet atau papan nama hanya terdiri dari satu atau dua kata saja dan tentu lebih mudah diingat. Masyarakat yang terbiasa melihat kemudian hapal tapi tidak mengetahui kebenaran kosa kata yang ia temui dipinggir jalan akan mempengaruhi bahasa lisannya.
Banyak sekali fenomena sehari-hari yang menggambarkan bagaimana kondisi bahasa pinggiran yang memerlukan perhatian. kita pasti sering melihat spanduk iklan yang bertuliskan "Strom Aki". Kata “Strom” seharusnya ditulis “Setrum” yang memiliki arti aliran listrik. Kesalahan penulisan ini dimungkinkan karena pengaruh lafal bahasa jawa yakni vocal /U/ menjadi vocal /O/. jadi masyarakat jawa selalu melafalkan kata setrum menjadi setrom. Kemudian kata “Aki” merupakan unsur serapan dari bahasa inggris yakni “Accu”. Kaidah ejaan “cc” didepan atau dimuka “o” dan “u” berubah menjadi “k” sehingga menjadi “Aki”. Kemudian vocal “u” yang terletak setelah “cc” menjadi vocal “i”. Jadi penulisan pada kalimat diatas kata Aki sudah benar.
Bila tidak dibenarkan maka masyarakat akan terbiasa dengan kata setrom daripada setrum. Hal ini berakibat pada perkembangan bahasa kedepan. Karena terbiasa dengan pelafalan kata setrom kemungkinan besar ketika diminta menuliskan maka akan menuliskan kata yang sama yakni setrom bukan setrum. Padahal ketika di cari di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata setrom itu tidak ditemukan. Hal inilah dampak yang mengawatirkan perkembangan bahasa yang baik dan benar. Untuk itu dibutuhkan perhatian khusus bagi bahasa pinggiran agar tidak terpinggirkan. Masyarakat, pemuda dan semua elemen bertanggungjawab atas hal ini. Sudah saatnya rakyat Indonesia berpikir kritis dan peka terhadap bahasa nasionalnya agar tidak menjadi orang-orang pinggiran dan terpinggirkan dirumahnya sendiri.

Adakah Suara Cemara

Ati

Adakah suara cemara
Mendesing menderu padamu
Adakah melintas sepintas
Gemersik daunan lepas

Deretan bukit-bukit biru
Menyeru lagu itu
Gugusan mega
Ialah hiasan kencana

Adakah suara cemara
Mendesing menderu padamu
Adakah lautan ladang jagung
Mengombakkan suara itu.

1972

Karya: Gonawan Mohamad