Tanah
airku Indonesia. Negeri elok amat kucinta. Tanah tumpah darahku yang mulia.Yang
kupuja sepanjang masa.Tanah airku aman dan makmur. Pulau kelapa yang amat
subur. Pulau melati pujaan bangsa. Sejak dulu kala. Melambai-lambai.Nyiur di
pantai.Berbisik-bisik. Raja kelana. Memuja pulau. Nan Indah permai. Tanah
airku. Indonesia.
(Rayuan Pulau Kelapa, Ismail Marzuki).
Betapa Indahnya lagu nasional ciptaan Ismail Marzuki diatas. Liriknya
menggambarkan betapa elok kepulauan Indonesia. Begitu pula yang ada dalam benak
masyarakat Indonesia maupun asing ketika mendengar “Wakatobi”. Nama
Wakatobi akan membuat benak kita penasaran. Bertanya- tanya dimanakah letak
wilayah tersebut. Wakatobi hadir atas pemekaran Kabupaten Buton, Provinsi
Sulawesi Tenggara. Wakatobi merupakan akronim dari empat pulau besar yaitu
Wangi- wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Keempat pulau tersebut senelumnya
disebut kepualauan tukang besi atau Liwutu
Pasi (Pulau Karang).
| KKN UNS Wakatobi 2015 |
Kabupaten Wakatobi merupakan kabupaten baru yang terbentuk
berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 29 Tahun 2003 dan merupakan
hasil pemekaran dari Kabupaten Buton. Kabupaten tersebut terletak di Kepulauan Jazirah Tenggara Pulau
Sulawesi Tenggara, secara geografis terletak dibagian selatan garis
khatulistiwa, memanjang dari utara ke selatan diantara 5.000-6.250
LS (sepanjang ± 160 km) dan membentang dari barat ke timur diantara 123.340-124,640
BT (sepanjang ± 120 km).
Kabupaten Wakatobi sangat tersohor dengan wisata bawah laut dan pantainya yang
menawan. Kepopuleran
Wakatobi menyeruak setelah mekar pada tanggal 18 Desember 2003. Selama 400
tahun lamanya, kepulauan ini masuk dalam wilayah Kesultanan Buton. Baru 50
tahun terakhir ini masuk menjadi wilayah Kabupaten Buton. Wakatobi era sekarang
sangat termansyur dengan julukan Segitiga Karang Dunia (coral tri-angle center). Coral
Tri-angle Center meliputi 6 (enam) negara, yakni
Indonesia, Malaysia, Philipines, Papua New Guine, Solomon Island, dan Timor
Leste. Sebelum
mendapat julukan tersebut, Kepulauan Buton sendiri pernah mendapat gelar pusat bumi atau (puanufuta).
Berbicara
mengenai sejarah Wakatobi tentu tak akan pernah bisa lepas dari Buton. Buton adalah salah satu dari sejumlah
negeri yang disebutkan oleh Empu Prapanca dalam Kitab Negara Kertagama (1364). Jika
tahun 1364 dijadikan tahun pijakan maka, buton dapat dikatakan telah mencapai
usia 6, 5 abad 9650 tahun).
Istilah
Buton bila ditinjau dari segi geografis merupakan sebuah wilayah yang terletak
di kepulauan sebelah tenggara pulau Sulawesi. Dari segi istilah penyebut
kerajaan Buton dikenal sebagai salah satu kerajaan dan kesultanan Buton yang
menyusul dengan dilantiknya Raja Buton VI Lakilaponto menjadi Sultan Buton I
bergelar Sultan Murhum Qaimuddin Khalifatul Khamis. Kemudian Buton sebagai
suatu bangsa adalah suku-suku bangsa yang menyatu dalam sebuah ikatan politik
yaitu kerajaan dan kesultanan Buton.
Wilyah
kekuasaan kerajaan Buton memiliki batas- batas secara tradisional yang meliputi
batas utara yaitu kerajaan Luwuk dan Laiwoi, ditimur hingga laut Banda, dibarat
hingga selat Bone, dan diselatan hingga laut Flores. Pusat kerajaannya terletak
di kota Bau- bau, Wangi- wangi.
Sedikit
beralih ke topik lain yaitu pulau Kaledupa, sebagai lokasi KKN UNS Wakatobi
2015. Sebagai salah satu bagian dari kerajaan Buton, Kaledupa awalnya adalah
kerajaan lokal yang asal- usul masyarakatnya belum diketahui secara pasti. Eksistensi
Kaledupa teruak setelah adanya penetapan Martabat Tujuh sebagai pengganti UUD
kesultanan Buton pada tahun 1610 tepatnya ketika masa kepemimpinan Raja Buton
IV. Dalam UUN Martabat Tujuh disebutkan bahwa wilayah kesultanan Buton terdiri
dari 72 kadie dan 4 barata. Salah satu barata yang disebutkan tersbut adalah
Kaledupa. Barata merupakan daerah- daerah otonom dalam sistem pemerintahan
Buton.
Wilayah
kesultanan Buton terdiri dari gugusan pulau- pulau yang terletak sangat
strategis dalam jalur pelayaran dan perdangan laut dikawasan timur Nusantara. Terintegrasinya
Kaledupa dalam wilayah kesultanan Buton yang disusul Wangi-wangi, Tomia dan
Binongko secara tidak langsung maupun secara langsung menetapkan komunitas maritim
dalam wilayah tersebut sebagai penjaga pertahanan laut diwilayah timur
kesultanan.
Bagaimana
pun sejarah Wakatobi, kita sebagai pemiliki Nusantara pantasnya harus belajar
banyak dan banyak belajar mengenai wawasan kenusantaraan meskipun bukan
penduduk asli suatu wilayah. Tentu sangat disayangkan sekali terkait sejarah
Wakatobi yang menarik ini harus terkikis oleh waktu dan ketidaktahuan. Sebagai bangsa
yang besar, pantaslah kita mencintai negeri ini bagaimana pun caranya. Pantaslah
kita sebagai anak muda pandai mengenai sejarah, karena sejarah bukan hanya
milik orang tua. Sejarah memang lahir dari orang tua, namun ia akan bersemi
bila dicintai oleh orang- orang muda.
Daftar Pustaka:Asrif dan La Ode Usra.2015. GAU SATOTO: Kearifan Lokal Orang Wakatobi. Yogyakarta: Framepublishing







0 komentar:
Posting Komentar