Senin, 23 November 2015

WAKATOBI DALAM KACAMATA SEJARAH

Tanah airku Indonesia. Negeri elok amat kucinta. Tanah tumpah darahku yang mulia.Yang kupuja sepanjang masa.Tanah airku aman dan makmur. Pulau kelapa yang amat subur. Pulau melati pujaan bangsa. Sejak dulu kala. Melambai-lambai.Nyiur di pantai.Berbisik-bisik. Raja kelana. Memuja pulau. Nan Indah permai. Tanah airku. Indonesia.
(Rayuan Pulau Kelapa, Ismail Marzuki).
Betapa Indahnya lagu nasional ciptaan Ismail Marzuki diatas. Liriknya menggambarkan betapa elok kepulauan Indonesia. Begitu pula yang ada dalam benak masyarakat Indonesia maupun asing ketika mendengar “Wakatobi”. Nama Wakatobi akan membuat benak kita penasaran. Bertanya- tanya dimanakah letak wilayah tersebut. Wakatobi hadir atas pemekaran Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Wakatobi merupakan akronim dari empat pulau besar yaitu Wangi- wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Keempat pulau tersebut senelumnya disebut kepualauan tukang besi atau Liwutu Pasi (Pulau Karang). 
KKN UNS Wakatobi 2015
Kabupaten Wakatobi merupakan kabupaten baru yang terbentuk berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 29 Tahun 2003 dan merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Buton. Kabupaten tersebut terletak di Kepulauan Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi Tenggara, secara geografis terletak dibagian selatan garis khatulistiwa, memanjang dari utara ke selatan diantara 5.000-6.250 LS (sepanjang ± 160 km) dan membentang dari barat ke timur diantara 123.340-124,640 BT (sepanjang ± 120 km).
Kabupaten Wakatobi sangat tersohor  dengan wisata bawah laut dan pantainya yang menawan. Kepopuleran Wakatobi menyeruak setelah mekar pada tanggal 18 Desember 2003. Selama 400 tahun lamanya, kepulauan ini masuk dalam wilayah Kesultanan Buton. Baru 50 tahun terakhir ini masuk menjadi wilayah Kabupaten Buton. Wakatobi era sekarang sangat termansyur dengan julukan Segitiga Karang Dunia (coral tri-angle center). Coral Tri-angle Center meliputi 6 (enam) negara, yakni Indonesia, Malaysia, Philipines, Papua New Guine, Solomon Island, dan Timor Leste. Sebelum mendapat julukan tersebut, Kepulauan Buton sendiri  pernah mendapat gelar pusat bumi atau (puanufuta).
Berbicara mengenai sejarah Wakatobi tentu tak akan pernah bisa lepas dari  Buton. Buton adalah salah satu dari sejumlah negeri yang disebutkan oleh Empu Prapanca dalam Kitab Negara Kertagama (1364). Jika tahun 1364 dijadikan tahun pijakan maka, buton dapat dikatakan telah mencapai usia 6, 5 abad 9650 tahun).
Istilah Buton bila ditinjau dari segi geografis merupakan sebuah wilayah yang terletak di kepulauan sebelah tenggara pulau Sulawesi. Dari segi istilah penyebut kerajaan Buton dikenal sebagai salah satu kerajaan dan kesultanan Buton yang menyusul dengan dilantiknya Raja Buton VI Lakilaponto menjadi Sultan Buton I bergelar Sultan Murhum Qaimuddin Khalifatul Khamis. Kemudian Buton sebagai suatu bangsa adalah suku-suku bangsa yang menyatu dalam sebuah ikatan politik yaitu kerajaan dan kesultanan Buton.
Wilyah kekuasaan kerajaan Buton memiliki batas- batas secara tradisional yang meliputi batas utara yaitu kerajaan Luwuk dan Laiwoi, ditimur hingga laut Banda, dibarat hingga selat Bone, dan diselatan hingga laut Flores. Pusat kerajaannya terletak di kota Bau- bau, Wangi- wangi.  
Sedikit beralih ke topik lain yaitu pulau Kaledupa, sebagai lokasi KKN UNS Wakatobi 2015. Sebagai salah satu bagian dari kerajaan Buton, Kaledupa awalnya adalah kerajaan lokal yang asal- usul masyarakatnya belum diketahui secara pasti. Eksistensi Kaledupa teruak setelah adanya penetapan Martabat Tujuh sebagai pengganti UUD kesultanan Buton pada tahun 1610 tepatnya ketika masa kepemimpinan Raja Buton IV. Dalam UUN Martabat Tujuh disebutkan bahwa wilayah kesultanan Buton terdiri dari 72 kadie dan 4 barata. Salah satu barata yang disebutkan tersbut adalah Kaledupa. Barata merupakan daerah- daerah otonom dalam sistem pemerintahan Buton.
Wilayah kesultanan Buton terdiri dari gugusan pulau- pulau yang terletak sangat strategis dalam jalur pelayaran dan perdangan laut dikawasan timur Nusantara. Terintegrasinya Kaledupa dalam wilayah kesultanan Buton yang disusul Wangi-wangi, Tomia dan Binongko secara tidak langsung maupun secara langsung menetapkan komunitas maritim dalam wilayah tersebut sebagai penjaga pertahanan laut diwilayah timur kesultanan.  
Bagaimana pun sejarah Wakatobi, kita sebagai pemiliki Nusantara pantasnya harus belajar banyak dan banyak belajar mengenai wawasan kenusantaraan meskipun bukan penduduk asli suatu wilayah. Tentu sangat disayangkan sekali terkait sejarah Wakatobi yang menarik ini harus terkikis oleh waktu dan ketidaktahuan. Sebagai bangsa yang besar, pantaslah kita mencintai negeri ini bagaimana pun caranya. Pantaslah kita sebagai anak muda pandai mengenai sejarah, karena sejarah bukan hanya milik orang tua. Sejarah memang lahir dari orang tua, namun ia akan bersemi bila dicintai oleh orang- orang muda.
Daftar Pustaka:
Asrif dan La Ode Usra.2015. GAU SATOTO: Kearifan Lokal Orang Wakatobi. Yogyakarta: Framepublishing 

0 komentar:

Posting Komentar