Tuk.
Secangkir teh panas mendarat cantik di atas meja ruang tamu. Tepat di depan
ayah duduk. Aku baru saja selesai
membaca surat ar- rahman dan tiba-tiba ayah memanggilku minta dibuatkan minum.
Bagaimanakah nasib Lala selanjutnya? Tunggu di part kedua ya :) kalau di aploud haha..kalau enggak ya silakan lanjutkan dan tebak sendiri endingnya.
“Ini,
Yah,” kataku.
Selesai
menunaikan tugas, aku hendak kembali ke kamar. “Mbak Lala..” panggilan ayah
menahanku, Badanku berbalik. Menatap ayah yang menepuk-nepuk kursi. Ya, aku
paham bahwa itu kode untukku agar duduk di sampingnya.
Nampan
plastik yang tadi kugunakan sebagai alas cangkir masih tergenggam. Genggamanku
semakin erat ketika ayah menjelaskan duduk persoalan yang membuat adanya
pembicaraan ayah dan anak perempuan ini.
“Mbak Lala benar-benar sudah siap menikah?”
Dalam keluargaku,
istilah “mbak” dan “Dik” adalah kata sapaan yang wajib disandingkan sebelum
menyebut nama anak-anak ibu dan ayah. Termasuk aku yang merupakan anak tertua.
Aku tertegun. Pertanyaan ayah cukup membuat jantungku berdegup-degup seperti
mau maju lomba pidato.
“Insyaallah. Ada apa, Yah?” Aku berbalik melempar kata
tanya.
“Teman ayah punya anak laki-laki yang siap menikah.
Sarjana pertanian. Sudah kerja juga. Mbak Lala mau ya taaruf sama dia?”
Aku
sedikit kaget, tapi juga girang. Akhirnya penantian panjang tentang pangeran
berkuda hitam mulai muncul ke permukaan. Niatku sudah bulat. Hanya jalan ini
yang bisa menjagaku dan melipatgandakan ibadahku. Ayah dan ibu sudah terlalu
lama aku repotkan. Dua puluh tiga tahun lamanya mereka membesarkanku penuh
cinta. Kini tiba saatnya ada laki-laki baik hati yang bisa menggantikan
tanggung jawab mereka.
“Emm boleh, Yah. Siapa tahu dia benar-benar jodoh Lala
yang lama tersimpan hehe”
Kulihat
senyum Ayah mengembang. Aku membalas
senyum itu disertai muka yang memerah malu-malu. Pikiranku melayang ke sosok
yang ditawarkan ayah sebagai calon penggenap agamaku. Bismillah, jika berjodoh
pasti dimudahkan. Bila bukan jodoh pasti segera diganti dengan yang lebih
menjanjikan.
Dua minggu selang pembicaraanku dengan ayah, momentum
penting itu berlangsung. Karpet-karpet yang biasanya hanya berdiri di gudang
akhirnya dikeluarkan untuk menyambut tamu istimewa. Kue-kue kering dan basah
beraneka warna juga tersedia. Rumahku yang biasanya sepi mendadak mirip arisan
keluarga.
“Bu, kok banyak banget sih makanannya. Kan baru taaruf,
belum lamaran.” Kataku protes. Tanganku sibuk menata kue di piring saji.
“Memuliakan
tamu itu wajib hukumnya.” Ibu mengelak, tapi benar.
Melihat
makanan sebanyak itu membuatku sedikit grogi. Pertanyaan-pertanyaan aneh mulai
kubuat-buat sendiri. Berapa orang yang akan datang? Kan malu taaruf ditemani
banyak orang. Seperti apa orang yang akan taaruf denganku? Jangan-jangan tua
banget? Atau lebih muda dariku? Bagaimana agamanya? Sering ke masjid enggak ya?
Lamunanku rontok ketika ibu menepuk pundakku dan memberitahu rombongan sudah datang.
Kudengar
dari dapur ayah menjawab salam dengan hangat dan mempersilakan duduk. Beberapa
suara yang asing membuat radar telingaku lebih sensitif menguping topic yang sedang mereka bicarakan. “Sana
siap-siap,” kata ibu pelan sekali sambil merapikan jilbab yang sebenarnya tidak
berantakan. Jantungku berdegup lagi. lebih kencang dibanding ketika ayah
menawari proses taaruf ini.
Strategi
sudah disusun sejak kemarin. Malam ini adalah eksekusinya dan aku sebagai aktor
utama. Aku keluar dengan anggun. Bukan pencitraan. Sudah keseharianku memakai
gamis dan jilbab panjang. Di tanganku ada nampan berisi empat gelas teh manis
hangat yang harus aku taruh di depan tempat duduk calon suamiku, ayahnya,
ibunya, dan adikknya. Keberaniannya membawa seluruh anggota keluarga dalam
proses awal pernikaan ini sudah membuatku memberikan nilai plus padanya. Langkahku hampir tersandung karena gugup, atau lebih
tepatnya sedikit malu.
Segelas
teh manis pertama aku taruh di depan teman ayah. Kedua di depan anak kecil yang
berumur sekitar 9 tahun. Ketiga di depan
ibu-ibu berjilbab lebar dengan gamis berwarna coklat gelap. Terakhir aku
meletakkan gelas tepat di hadapan seorang laki-laki yang berparas bersih. Ada
sedikit senyum yang kucoba sembunyikan tapi tak berhasil. Tiga detik lamanya tatapan laki-laki itu mengarah
padaku, sebelum akhirnya berakhir karena sama-sama malu.
Ayah
memulai pertemuan keluarga. Ah sudah pantaskah ini disebut pertemuan keluarga?
Aku dan dia baru akan menuju tahap “berkeluarga.” Selesai sesi perkenalan
secara umum, ayah mempersilahkan Mas Damar untuk duduk di kursi meja makan. Ya,
calon suamiku itu bernama Damar, Damar Putra Wibawa. Ibu juga memberikan intruksi
kepadaku untuk menyusul Mas Damar. Aku kikuk. Antara ingin cepat pergi atau
tetap duduk di posisi. Kakiku rasanya lemas sekali. Maunya langsung duduk di
kursi sana tanpa harus jalan meski hanya beberapa langkah saja menuju meja
makan. Ibu yang paham anak perempuannya sedang salah tingkah segera memberi pertolongan
bak pahlawan. Pahlawan dadakan itu berdalih ingin mengambil air putih ke dapur,
padahal sebenarnya hendak mengantarku menuju meja makan.
“Mas
Damar, rotinya jangan lupa dicoba ya.” Kata ibu basa-basi pada Mas Damar yang
sudah duduk duluan. Aku merapatkan tubuh ke kursi meja makan. Ibu pergi setelah
yakin anaknya dalam posisi PW (puwenak). “Aduh, ibu temani anakmu,” batinku
mengiba.
Satu
kursi kosong menjadi jarak diantara kami. Ruang tamu dan ruang makan
bersebelahan tanpa sekat. Dari meja makan aku masih bisa melihat dua keluarga
itu saling mengobrol seru sekali. Mas Damar berdehem dan memulai pembicaraan.
Jantungku mulai kerja berlebihan lagi.
“Dik
Kumala kenapa ingin menikah?”
“Panggil
Lala saja Mas.”
“Oh,
iya. Silakan Lala jawab pertanyaan saya tadi.”
Mas
Damar juga sama-sama kikuk. Ku dengar proses taaruf ini juga proses pertamanya,
sama juga denganku.
“Seperti
semua muslim di dunia ini yang jelas Lala ingin menggenapi setengah agama,
menjalankan sunnah rasul dan memenuhi kebutuhan hidup, Mas.”
Mas
Damar sempat hampir tertawa mendengar poin ketiga alasanku menikah. Bukankah
menikah juga kebutuhan hidup baik laki-laki maupun perempuan? Ada yang salah? Aku
menambahkan lagi. “Tapi, sebenarnya alasan terkuat Lala adalah menjaga kesucian.
Menjauhkan diri dari zina. Baik itu zina mata, hati maupun pikiran, Mas. Itu
yang paling membuat Lala ingin segera memiliki pendamping hidup.” Mas Damar
mengangguk. Dia tampak paham dengan apa yang baru saja aku jelaskan.
“Baik.
Sekarang Dik Lala mau tanya apa?”
Deg.
Jantungku sedikit sakit. Sakit karena berusaha mengumpulkan keberanian. Aliran
darahku pasti berdesir-desir deras sekali di dalam sana.
“Mas
Damar hafal surat Ar-Rahman?” tanyaku.
“Tentu.”
“Lala
boleh mendengarnya, Mas?”
Mas
Damar mengangguk dan memulai murajaahnya. Ayat demi ayat ia lantunkan. Benar,
Mas Damar sudah hafal di luar kepala. Satu poin plus bertambah lagi. Aku
menyunggingkan senyum entah berapa senti. Bahagia.
“Artinya?”
Muka Mas Damar kaget
ketika aku memintanya menyuarakan arti dari ayat-ayat surat ar-rahman. Sejak
tadi tangan Mas Damar diletakkan di atas meja, jadi dapat kulihat jari-jarinya
saling mengait lebih erat. “Maaf, mas tidak hafal kalau artinya.” 







