Jumat, 21 Oktober 2016

Ar Rahman

Tuk. Secangkir teh panas mendarat cantik di atas meja ruang tamu. Tepat di depan ayah duduk. Aku  baru saja selesai membaca surat ar- rahman dan tiba-tiba ayah memanggilku minta dibuatkan minum.

“Ini, Yah,” kataku.
Selesai menunaikan tugas, aku hendak kembali ke kamar. “Mbak Lala..” panggilan ayah menahanku, Badanku berbalik. Menatap ayah yang menepuk-nepuk kursi. Ya, aku paham bahwa itu kode untukku agar duduk di sampingnya.
Nampan plastik yang tadi kugunakan sebagai alas cangkir masih tergenggam. Genggamanku semakin erat ketika ayah menjelaskan duduk persoalan yang membuat adanya pembicaraan ayah dan anak perempuan ini.
            “Mbak Lala benar-benar sudah siap menikah?”
Dalam keluargaku, istilah “mbak” dan “Dik” adalah kata sapaan yang wajib disandingkan sebelum menyebut nama anak-anak ibu dan ayah. Termasuk aku yang merupakan anak tertua. Aku tertegun. Pertanyaan ayah cukup membuat jantungku berdegup-degup seperti mau maju lomba pidato.
            “Insyaallah. Ada apa, Yah?” Aku berbalik melempar kata tanya.
            “Teman ayah punya anak laki-laki yang siap menikah. Sarjana pertanian. Sudah kerja juga. Mbak Lala mau ya taaruf sama dia?”
Aku sedikit kaget, tapi juga girang. Akhirnya penantian panjang tentang pangeran berkuda hitam mulai muncul ke permukaan. Niatku sudah bulat. Hanya jalan ini yang bisa menjagaku dan melipatgandakan ibadahku. Ayah dan ibu sudah terlalu lama aku repotkan. Dua puluh tiga tahun lamanya mereka membesarkanku penuh cinta. Kini tiba saatnya ada laki-laki baik hati yang bisa menggantikan tanggung jawab mereka.
            “Emm boleh, Yah. Siapa tahu dia benar-benar jodoh Lala yang lama tersimpan hehe”
Kulihat senyum  Ayah mengembang. Aku membalas senyum itu disertai muka yang memerah malu-malu. Pikiranku melayang ke sosok yang ditawarkan ayah sebagai calon penggenap agamaku. Bismillah, jika berjodoh pasti dimudahkan. Bila bukan jodoh pasti segera diganti dengan yang lebih menjanjikan.
            Dua minggu selang pembicaraanku dengan ayah, momentum penting itu berlangsung. Karpet-karpet yang biasanya hanya berdiri di gudang akhirnya dikeluarkan untuk menyambut tamu istimewa. Kue-kue kering dan basah beraneka warna juga tersedia. Rumahku yang biasanya sepi mendadak mirip arisan keluarga.
            “Bu, kok banyak banget sih makanannya. Kan baru taaruf, belum lamaran.” Kataku protes. Tanganku sibuk menata kue di piring saji.
“Memuliakan tamu itu wajib hukumnya.” Ibu mengelak, tapi benar.
Melihat makanan sebanyak itu membuatku sedikit grogi. Pertanyaan-pertanyaan aneh mulai kubuat-buat sendiri. Berapa orang yang akan datang? Kan malu taaruf ditemani banyak orang. Seperti apa orang yang akan taaruf denganku? Jangan-jangan tua banget? Atau lebih muda dariku? Bagaimana agamanya? Sering ke masjid enggak ya? Lamunanku rontok ketika ibu menepuk pundakku dan memberitahu  rombongan sudah datang.
Kudengar dari dapur ayah menjawab salam dengan hangat dan mempersilakan duduk. Beberapa suara yang asing membuat radar telingaku lebih sensitif menguping topic  yang sedang mereka bicarakan. “Sana siap-siap,” kata ibu pelan sekali sambil merapikan jilbab yang sebenarnya tidak berantakan. Jantungku berdegup lagi. lebih kencang dibanding ketika ayah menawari proses taaruf ini.
Strategi sudah disusun sejak kemarin. Malam ini adalah eksekusinya dan aku sebagai aktor utama. Aku keluar dengan anggun. Bukan pencitraan. Sudah keseharianku memakai gamis dan jilbab panjang. Di tanganku ada nampan berisi empat gelas teh manis hangat yang harus aku taruh di depan tempat duduk calon suamiku, ayahnya, ibunya, dan adikknya. Keberaniannya membawa seluruh anggota keluarga dalam proses awal pernikaan ini sudah membuatku memberikan nilai plus padanya. Langkahku hampir tersandung karena gugup, atau lebih tepatnya sedikit malu.
Segelas teh manis pertama aku taruh di depan teman ayah. Kedua di depan anak kecil yang berumur sekitar  9 tahun. Ketiga di depan ibu-ibu berjilbab lebar dengan gamis berwarna coklat gelap. Terakhir aku meletakkan gelas tepat di hadapan seorang laki-laki yang berparas bersih. Ada sedikit senyum yang kucoba sembunyikan tapi tak berhasil. Tiga detik  lamanya tatapan laki-laki itu mengarah padaku, sebelum akhirnya berakhir karena sama-sama malu.
Ayah memulai pertemuan keluarga. Ah sudah pantaskah ini disebut pertemuan keluarga? Aku dan dia baru akan menuju tahap “berkeluarga.” Selesai sesi perkenalan secara umum, ayah mempersilahkan Mas Damar untuk duduk di kursi meja makan. Ya, calon suamiku itu bernama Damar, Damar Putra Wibawa. Ibu juga memberikan intruksi kepadaku untuk menyusul Mas Damar. Aku kikuk. Antara ingin cepat pergi atau tetap duduk di posisi. Kakiku rasanya lemas sekali. Maunya langsung duduk di kursi sana tanpa harus jalan meski hanya beberapa langkah saja menuju meja makan. Ibu yang paham anak perempuannya sedang salah tingkah segera memberi pertolongan bak pahlawan. Pahlawan dadakan itu berdalih ingin mengambil air putih ke dapur, padahal sebenarnya hendak mengantarku menuju meja makan.
“Mas Damar, rotinya jangan lupa dicoba ya.” Kata ibu basa-basi pada Mas Damar yang sudah duduk duluan. Aku merapatkan tubuh ke kursi meja makan. Ibu pergi setelah yakin anaknya dalam posisi PW (puwenak). “Aduh, ibu temani anakmu,” batinku mengiba.
Satu kursi kosong menjadi jarak diantara kami. Ruang tamu dan ruang makan bersebelahan tanpa sekat. Dari meja makan aku masih bisa melihat dua keluarga itu saling mengobrol seru sekali. Mas Damar berdehem dan memulai pembicaraan. Jantungku mulai kerja berlebihan lagi.
“Dik Kumala kenapa ingin menikah?”
“Panggil Lala saja Mas.”
“Oh, iya. Silakan Lala jawab pertanyaan saya tadi.”
Mas Damar juga sama-sama kikuk. Ku dengar proses taaruf ini juga proses pertamanya, sama juga denganku.
“Seperti semua muslim di dunia ini yang jelas Lala ingin menggenapi setengah agama, menjalankan sunnah rasul dan memenuhi kebutuhan hidup, Mas.”
Mas Damar sempat hampir tertawa mendengar poin ketiga alasanku menikah. Bukankah menikah juga kebutuhan hidup baik laki-laki maupun perempuan? Ada yang salah? Aku menambahkan lagi. “Tapi, sebenarnya alasan terkuat Lala adalah menjaga kesucian. Menjauhkan diri dari zina. Baik itu zina mata, hati maupun pikiran, Mas. Itu yang paling membuat Lala ingin segera memiliki pendamping hidup.” Mas Damar mengangguk. Dia tampak paham dengan apa yang baru saja aku jelaskan.
“Baik. Sekarang Dik Lala mau tanya apa?”
Deg. Jantungku sedikit sakit. Sakit karena berusaha mengumpulkan keberanian. Aliran darahku pasti berdesir-desir deras sekali di dalam sana.
“Mas Damar hafal surat Ar-Rahman?” tanyaku.
“Tentu.”
“Lala boleh mendengarnya, Mas?”
Mas Damar mengangguk dan memulai murajaahnya. Ayat demi ayat ia lantunkan. Benar, Mas Damar sudah hafal di luar kepala. Satu poin plus bertambah lagi. Aku menyunggingkan senyum entah berapa senti. Bahagia.
“Artinya?”
Muka Mas Damar kaget ketika aku memintanya menyuarakan arti dari ayat-ayat surat ar-rahman. Sejak tadi tangan Mas Damar diletakkan di atas meja, jadi dapat kulihat jari-jarinya saling mengait lebih erat. “Maaf, mas tidak hafal kalau artinya.” 
 Bagaimanakah nasib Lala selanjutnya? Tunggu di part kedua ya :) kalau di aploud haha..kalau enggak ya silakan lanjutkan dan tebak sendiri endingnya.

0 komentar:

Posting Komentar