Minggu, 11 September 2016

WISUDA ATAU WIS UDAH?

                                                                      BAB I

                                                        WISUDA atau WIS UDAH

Ciee yang kemarin habis wisuda. Bagaimana? Bahagia banget kan ya. Sudah dandan cantik, di gandeng orang tua, dikelilingi sahabat-sahabat tercinta, plus di hujani hadiah dan doa yang tak terhitung besarannya. Sebagai seorang yang menyandang status mahasiswa, wisuda adalah perhelatan akbar yang paling ditunggu-tunggu bahkan sejak semester satu. Melihat kakak tingkat memakai toga ingin sekali rasanya mempercepat waktu agar kita dapat lekas ikut memakainya juga. Apalagi dengan tambahan selendang “cumlaude” yang banyak mahasiswa mengincarnya. Tidak semua mahasiswa mengimpikannya sih, sebagian mahasiswa ada juga kok yang menomorduakan selempang kebesaran itu. Tergantung cara pandang pribadi masing-masing. Cumlaude atau tidak selepas wisuda, akan menjadi sama bagi semua mantan mahasiswa. Sama-sama pencari kerja, pemburu beasiswa, dan pemburu jodoh juga tentunya. Pembeda dari masing-masing mantan mahasiswa hanyalah satu yaitu tekad dalam menggapai mimpi-mimpi mereka. 
Ciee yang jadi mantan, mantan mahasiswa.
Mantan mahasiswa yang bernilai baik pun jika tak memiliki tekad baja berlapis tembaga akan kalah dengan mantan mahasiswa yang nilainya pas-pasan tapi tahan banting di segala rintangan. Kehidupan pascawisuda bukan lagi kehidupan yang remeh-temeh. Deretan para mantan (red: mantan mahasiswa) satu persatu akan menyadari bahwa masa kuliah adalah masa yang paling indah. Mantan mahasiswa yang bisa berlanjut ke S2 mungkin bisa sedikit lega karena mengulang masa kuliah mereka kembali. Jangan dikira gampang, semakin tinggi tingkat pendidikan, tantangan dan kesulitannya pasti makin sulit loh ya. Itu sudah menjadi rahasia umum. Nah bagi para mantan yang pada akhirnya terjerumus pada lubang kumpulan pencari kerja, mereka harus bersaing demi satu pekerjaan. Mereka yang memiliki kualitas skill bagus  akan lolos, sedangkan yang kurang sudah dipastikan harus lebih giat lagi mencari pekerjaan lain. Tidak jarang banyak lulusan univerisitas yang mau tidak mau harus bekerja di bidang yang berbeda dari jurusannya kuliah dahulu. Salah satunya bisa karena kalah saing, meski faktornya tidak hanya itu. Ada sebagaian mantan yang memang ingin mencari pengalaman lain, ada juga yang memang sudah memiliki koneksi di suatu lembaga tertentu, dan sederet alasan yang membuat mereka rela bekerja di lintas bidang.
Terus, bagaimana nasib para mantan yang memilih alternatif ketiga? Alternatif ketiga dari pembahasan buku ini yaitu menikah. Adakah yang tidak ingin menikah? Pasti semua ingin menyempurnakan separu agama bukan? Yang kemarin masih bingung cari pendamping wisuda, pascawisuda sudah bisa tuh masukin proposal ke murabbi-nya. Menikah ketika masih menyandang status mahasiswa tentu adalah keputusan yang bisa dibilang sulit pakai banget. Baik pihak laki-lai maupun perempuan, dua-duanya akan memberikan dampak yang besar. Beberapa teman kuliah saya memang ada yang menikah ketika masih kuliah, dan saya bangga dengan mereka. Berarti mereka adalah pasangan yang berani mengambil langkah konkrit dan komitmen yang selangit. Tidak banyak orang loh yang mampu seperti mereka. Jika mau mengikuti jejak mereka, lihat dahulu apakah kita mampu atau tidak. Apakah kita sudah pantas? Bagaimana pendapat orang tua? Banyak deh yang harus dipertimbangkan. Apalagi jika dibarengi dengan menyusun skripsi. Iya sih ada yang nemenin, tapi bukankah lebih baik diselesaikan satu per satu dahulu. Tundukkan hawa nafsu dengan perbanyak puasa dan ibadah. Cara itu akan membuat kita semakin dekat dengan Sang Pencipta dan semakin terasa ujian hati yang harus di lalui demi mencapai kebahagiaan. Yakin deh pas menikah nanti bahagiamu akan dua kali lipat. Allah menimpakah ujian beserta kenikmatan. Menurunkan kesedihan beserta kegembiraan. Kemiskinan beserta kekayaan. Melahirkan kita dengan jodoh yang merupakan cerminan. Sah? Saaahhhh. 
Nikah juga pilihan hlo
Nah tiga tema dasar sudah saya bocorkan di pembahasan di atas. Teman-teman yang beberapa waktu lalu sudah puas merasakan moment wisuda saatnya mulai berpikir tentang tahap lanjutan pascawisuda. Apakah ingin merasakah wisuda yang selanjutnya atau memilih untuk mengakhiri sampai di sini saja alias “wis udah”? jawaban itu hanya bisa di jawab oleh teman-teman pembaca sendiri.
Buku ini hadir untuk membekali teman-teman dan memberikan gambaran kepada teman-teman mengenai perbedaan tiga tema besar yang diusung. Masing-masing tema besar akan ada sub tema lain yang akan membantu teman-teman untuk meyakinkan diri terhadap keputusan yang akan diambil. Ingat, kesempatan yang sama tidak pernah datang dua kali. Waktu yang tersisa usai wisuda bukan lagi waktu untuk bersantai-santai ria seperti ketika kita selesai ujian UAS ya. Pasca wisuda adalah moment penting yang akan menentukan masa depan teman-teman.  Apakah memilih bangkit, berhenti sejenak, atau malah berhenti total alias menjadi pengangguran. 
Lempar toga. Dulu iya juga gak?
Pilihan manapun yang akan teman-teman ambil dari ketiga pilihan diatas: kuliah, kerja, nikah, ketiganya adalah pilihan yang sama-sama baik. Lebih baik lagi ketika pilihan yang diambil dapat membahagiakan banyak orang. Misalkan memilih jadi penulis lepas karena tidak suka dengan rutinitas kerja ala karyawan. It is oke. Jika itu adalah pilihan yang menurut teman-teman baik dan sudah dipikirkan matang-matang, bukan masalah. Masa depan adalah kita yang tentukan, bukan orang tua, keluarga, apalagi tetangga. Jika masih ada mantan mahasiswa yang masih berada di zona nyamannya dan enggan untuk bangkit, ingatkan. Mungkin ia lupa dengan makna Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dulu pernah di semayamkan dalam diri. So, yuk tentukan pilihanmu wahai para mantan.

0 komentar:

Posting Komentar