BAB
I
WISUDA
atau WIS UDAH
Ciee
yang kemarin habis wisuda. Bagaimana? Bahagia banget kan ya. Sudah dandan
cantik, di gandeng orang tua, dikelilingi sahabat-sahabat tercinta, plus di
hujani hadiah dan doa yang tak terhitung besarannya. Sebagai seorang yang
menyandang status mahasiswa, wisuda adalah perhelatan akbar yang paling
ditunggu-tunggu bahkan sejak semester satu. Melihat kakak tingkat memakai toga
ingin sekali rasanya mempercepat waktu agar kita dapat lekas ikut memakainya
juga. Apalagi dengan tambahan selendang “cumlaude” yang banyak mahasiswa
mengincarnya. Tidak semua mahasiswa mengimpikannya sih, sebagian mahasiswa ada
juga kok yang menomorduakan selempang kebesaran itu. Tergantung cara pandang pribadi
masing-masing. Cumlaude atau tidak selepas wisuda, akan menjadi sama bagi semua
mantan mahasiswa. Sama-sama pencari kerja, pemburu beasiswa, dan pemburu jodoh juga
tentunya. Pembeda dari masing-masing mantan mahasiswa hanyalah satu yaitu tekad
dalam menggapai mimpi-mimpi mereka.
![]() |
| Ciee yang jadi mantan, mantan mahasiswa. |
Mantan
mahasiswa yang bernilai baik pun jika tak memiliki tekad baja berlapis tembaga
akan kalah dengan mantan mahasiswa yang nilainya pas-pasan tapi tahan banting
di segala rintangan. Kehidupan pascawisuda bukan lagi kehidupan yang remeh-temeh.
Deretan para mantan (red: mantan mahasiswa) satu persatu akan menyadari bahwa
masa kuliah adalah masa yang paling indah. Mantan mahasiswa yang bisa berlanjut
ke S2 mungkin bisa sedikit lega karena mengulang masa kuliah mereka kembali. Jangan
dikira gampang, semakin tinggi tingkat pendidikan, tantangan dan kesulitannya
pasti makin sulit loh ya. Itu sudah menjadi rahasia umum. Nah bagi para mantan
yang pada akhirnya terjerumus pada lubang kumpulan pencari kerja, mereka harus
bersaing demi satu pekerjaan. Mereka yang memiliki kualitas skill bagus akan lolos, sedangkan yang kurang sudah
dipastikan harus lebih giat lagi mencari pekerjaan lain. Tidak jarang banyak
lulusan univerisitas yang mau tidak mau harus bekerja di bidang yang berbeda dari
jurusannya kuliah dahulu. Salah satunya bisa karena kalah saing, meski
faktornya tidak hanya itu. Ada sebagaian mantan yang memang ingin mencari pengalaman
lain, ada juga yang memang sudah memiliki koneksi di suatu lembaga tertentu,
dan sederet alasan yang membuat mereka rela bekerja di lintas bidang.
Terus,
bagaimana nasib para mantan yang memilih alternatif ketiga? Alternatif ketiga
dari pembahasan buku ini yaitu menikah. Adakah yang tidak ingin menikah? Pasti
semua ingin menyempurnakan separu agama bukan? Yang kemarin masih bingung cari
pendamping wisuda, pascawisuda sudah bisa tuh masukin proposal ke murabbi-nya.
Menikah ketika masih menyandang status mahasiswa tentu adalah keputusan yang
bisa dibilang sulit pakai banget. Baik pihak laki-lai maupun perempuan,
dua-duanya akan memberikan dampak yang besar. Beberapa teman kuliah saya memang
ada yang menikah ketika masih kuliah, dan saya bangga dengan mereka. Berarti
mereka adalah pasangan yang berani mengambil langkah konkrit dan komitmen yang
selangit. Tidak banyak orang loh yang mampu seperti mereka. Jika mau mengikuti
jejak mereka, lihat dahulu apakah kita mampu atau tidak. Apakah kita sudah
pantas? Bagaimana pendapat orang tua? Banyak deh yang harus dipertimbangkan.
Apalagi jika dibarengi dengan menyusun skripsi. Iya sih ada yang nemenin, tapi
bukankah lebih baik diselesaikan satu per satu dahulu. Tundukkan hawa nafsu
dengan perbanyak puasa dan ibadah. Cara itu akan membuat kita semakin dekat
dengan Sang Pencipta dan semakin terasa ujian hati yang harus di lalui demi
mencapai kebahagiaan. Yakin deh pas menikah nanti bahagiamu akan dua kali
lipat. Allah menimpakah ujian beserta kenikmatan. Menurunkan kesedihan beserta
kegembiraan. Kemiskinan beserta kekayaan. Melahirkan kita dengan jodoh yang
merupakan cerminan. Sah? Saaahhhh.
![]() |
| Nikah juga pilihan hlo |
Nah
tiga tema dasar sudah saya bocorkan di pembahasan di atas. Teman-teman yang
beberapa waktu lalu sudah puas merasakan moment wisuda saatnya mulai berpikir
tentang tahap lanjutan pascawisuda. Apakah ingin merasakah wisuda yang
selanjutnya atau memilih untuk mengakhiri sampai di sini saja alias “wis udah”?
jawaban itu hanya bisa di jawab oleh teman-teman pembaca sendiri.
Buku
ini hadir untuk membekali teman-teman dan memberikan gambaran kepada teman-teman
mengenai perbedaan tiga tema besar yang diusung. Masing-masing tema besar akan ada
sub tema lain yang akan membantu teman-teman untuk meyakinkan diri terhadap
keputusan yang akan diambil. Ingat, kesempatan yang sama tidak pernah datang
dua kali. Waktu yang tersisa usai wisuda bukan lagi waktu untuk
bersantai-santai ria seperti ketika kita selesai ujian UAS ya. Pasca wisuda
adalah moment penting yang akan menentukan masa depan teman-teman. Apakah memilih bangkit, berhenti sejenak, atau
malah berhenti total alias menjadi pengangguran.
![]() |
| Lempar toga. Dulu iya juga gak? |
Pilihan
manapun yang akan teman-teman ambil dari ketiga pilihan diatas: kuliah, kerja,
nikah, ketiganya adalah pilihan yang sama-sama baik. Lebih baik lagi ketika
pilihan yang diambil dapat membahagiakan banyak orang. Misalkan memilih jadi
penulis lepas karena tidak suka dengan rutinitas kerja ala karyawan. It is oke. Jika itu adalah pilihan yang
menurut teman-teman baik dan sudah dipikirkan matang-matang, bukan masalah.
Masa depan adalah kita yang tentukan, bukan orang tua, keluarga, apalagi
tetangga. Jika masih ada mantan mahasiswa yang masih berada di zona nyamannya
dan enggan untuk bangkit, ingatkan. Mungkin ia lupa dengan makna Tri Dharma
Perguruan Tinggi yang dulu pernah di semayamkan dalam diri. So, yuk tentukan
pilihanmu wahai para mantan.










0 komentar:
Posting Komentar