Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Jumat, 20 Januari 2017

I AM SORRY, EVERYTHING IS MY FALSE

Kalimat- kalimat itu masih sangat terasa menyakitkannya. Di suatu pagi selepas mengantar adik berangkat sekolah, seorang laki-laki datang menghampiri. Laki-laki yang sudah berumur itu adalah tetangga ketika ibu dan bapak masih mengontrak di salah satu desa. Orangnya baik, sering datang ke rumah. Setidaknya menyapa ibu yang sedang masak, atau ayah yang sedang beraktivitas dengan kambing-kambingnya.
Well, sejauh itu saya anggap dia orang baik. Tetapi semuanya sedikit berbeda ketika pagi itu ia bertandang ke rumah seperti biasa. Tidak untuk mencari ibu atau ayah, tapi menemui saya yang tengah sibuk mengecek kondisi sepeda motor sebelum digunakan untuk bekerja. Maklum sekolah tempat saya mengajar berada di lereng gunung, jalannya cukup menanjak dan butuh sepeda motor yang kondisinya prima.
Lelaki itu datang dengan muka biasa saja, tapi saya salah. Kata-kata yang keluar dari mulutnya ternyata berbau tak sedap. Bukan karena dia jarang gosok gigi, tapi menurut saya ada aroma kebencian atau apalah itu yang membuatnya terasa tak enak didengar. Entahlah, saya bukan Tuhan yang mampu menerjemahkan isi hati seseorang. Setidaknya, dengan mendengar dan mencerna setiap kata yang terucap saya cukup paham apa maksudnya bagaimana.
“Han..” panggilnya. Laki-laki itu memanggil saya dengan nama secara langsung. Sudah terbiasa sejak kecil. Sejak saya TK kami adalah tetangga dekat sekali, bahkan bisa dibilang rumah kami berhimpitan.
“Yang kamu cari itu apa? Yang kamu kejar itu apa? Sudah lulus kok sekolah lagi”
“..” saya hanya diam karena masih terlalu syok dengan kalimat pertama yang keluar. Nadanya tak enak. Sulit mendeskripsikannya dengan kata-kata.
“Anakku cuma sarjana. Sudah bisa kerja di Jakarta. Tiap tahun kirim uang banyak. Kemarin pulang malah sudah bawa cewek.”
“..” saya masih tetap diam. Lebih tepatnya menahan rasa sakit yang semakin berlipat.
Uwislah, jangan nyusahin bapakmu terus. Kasihan itu hlo banting tulang buat kamu. Adik-adikmu juga butuh sekolah to.”
“ya..” saya jawab sekenanya. Sesungguhnya ingin rasanya berlari ke dalam dan menangis sesenggukan.
“Bapakmu kalau sama aku jujur. Tidak ada yang ditutup-tutupi.”
“nggih”
Kemudian saya masuk. Mengambil tas di kamar. Sempat merenung sejenak untuk menguatkan hati agar tidak menangis sekarang, “Ya Allah..sabar..”
Ketika rasa sedih itu sudah terbendung, saya keluar lagi hendak berangkat. Laki-laki itu masih juga di sana, belum berpindah. “Eh, aku bilang begini bukan untuk membanggakan anakku-anakku sing wis kerja loh ya. Mereka itu manut-manut kabeh. Kamu harus seperti mereka.”
“..” saya diam dan menyalakan mesin sepeda motor. “Monggo, Pak.”
Percakapan menyakitkan itu berhenti. Tetapi luka dihati tak juga berhenti. Hari demi hari sepertinya membuat luka itu semakin abadi. Beberapa orang yang mengetahui perubahan muka saya cukup curiga hari itu, tapi mereka tak perlu saya libatkan dengan masalah pribadi ini. Cukup jalan-jalan desa ini yang mengetahui. 

Menyusahkan orang tua? Ya, saya salah karena selalu menyusahkan bapak. Bahkan ketika di hari H pembayaran daftar ulang pascasarjana yang merengek meminta saya untuk segera membayar adalah orang tua juga. Saya salah ketika saat itu bersikeras untuk tidak perlu membayarnya karena sudah terlanjur diterima kerja. Saya salah ketika dengan waktu yang sudah mulai habis nekat memenuhi permintaan orang tua untuk segera pergi ke bank terdekat dan mendaftar ulang.
Mengambil studi lanjut? Ya, itu salah saya juga. Tidak akan ada gunanya menjelaskan meski mulut ini sampai berbusa bercerita bagaimana kronologi saya bisa masuk S2. Ada campur tangan Allah di sana, tapi orang-orang selalu menganggap bahwa saya adalah penyebabnya. Bahkan, ketika saya bermimpi memiliki pekerjaan yang baik dan kemudian mengambil tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, semua juga salah saya. Saya salah ketika memiliki niat ingin mengantikan peran orang tua untuk menyekolahkan adik-adik saya minimal sampai sarjana nantinya.
 Orang-orang hanya peduli dengan mimpi kecil yang bisa mereka lihat sesegera mungkin. Lulus, kerja, menikah, punya anak. Sependek itu. Mereka tak pernah melibatkan saya sebagai pelaku utama yang seharusnya ditanyakan apa maksudnya berjalan di jalan seperti itu. Ini salah saya lagi. Saya salah karena tidak pernah membeberkan bagaimana mimpi dan harapan besar yang sudah saya bangun jauh-jauh hari untuk keluarga saya ini. Bermimpi besar ternyata juga sebuah kesalahan yang saya lakukan. Iya itu salah saya lagi.
Pun salah saya juga ketika kemungkinan terburuk dari keluarga ini sudah saya persiapkan. Saya salah ketika saya sudah menyadari bahwa umur manusia tak ada yang tahu. Saya juga salah ketika mengetahui bahwa profesi bapak bukanlah profesi yang bisa selamanya menghasilkan. Saya salah ketika memiliki seorang ayah yang semakin tua umurnya maka penglihatannya semakin kabur dan tak akan lagi bisa bekerja untuk kami semua. Saya salah juga ketika memiliki ibu yang tak bekerja dan menganggur di rumah karena ada beberapa kondisi yang tak memberinya kesempatan untuk bisa bekerja seperti ibu rumah tangga lainnya.
Sampai saat ini saya belum membawa seorang laki-laki? Iya, benar itu salah saya lagi karena tak segera membawa “calon” ke hadapan orang tua. Saya salah karena belajar agama yang menerangkan bahwa “seorang perempuan tidak boleh bersama dengan seorang laki-laki yang bukan mahromnya.” Saya salah ketika menerapkan itu. Kenyataannya yang benar adalah saya seorang muslimah yang tahu agama dan harusnya membawa laki-laki yang belum sah menjadi siapa-siapa ke dalam rumah dan berkata, “Pak, Bu, ini pacarku!” Saya salah karena mengambil keputusan hanya memilih laki-laki yang paham bagaimana cara meminang seorang perempuan dalam agama Islam. Saya salah ketika memiliki landasan hidup bahwa hanya laki-laki yang sudah memiliki “tanggal” pasti yang akan saya izinkan datang untuk mengantar sebagian mahar.
Sudah lulus tapi tidak bekerja? Oke, salah saya lagi. Dalam semua hal di hidup ini memang saya selalu menjadi objek yang disalahkan. Mengapa? Karena ini hidup saya. Mereka yang berada di sekitar saya adalah pihak-pihak yang selalu benar. Saya salah ketika sudah bergelar sarjana tapi tidak bekerja. Saya salah karena pihak yayasan yang saat itu memberi kesempatan bekerja memutuskan untuk menghentikan kerja samanya dengan saya karena tidak bisa menerima guru yang nyambi di pascasarjana. Saya yang saat itu sudah sekuat tenaga melobi pihak tertinggi yayasan sampai pihak terendah yayasan agar tetap diizinkan bekerja juga merupakan kesalahan. Pada akhirnya hasilnya ‘resign” juga. Saya juga salah telah meminta bantuan kepada banyak rekan untuk mencarikan pekerjaan. Saya salah lagi ketika tiap malam meminta petunjuk untuk dimudahkan dalam mendapat pekerjaan dan membayar SPP pascasarjana saya sendiri. Saya juga salah ketika saya sudah bekerja tapi tidak memberi tahu status “guru aktif” saya kepada khalayak ramai sehingga mereka menganggap saya pengangguran yang luntang luntung di rumah, membebani orang tua, dan menjadi anak yang tak berguna. 
Salah, salah, dan salah, ketika semua usaha saya mengarahkan ke jalan yang seperti demikian apa tetap salah? Bukankah manusia hanya bisa berencana sedang yang memutuskan tetaplah Allah semata? Jadi yang salah saya atau Allah-nya? Ah, semua salah saya. Ditambah lagi saya menuliskan ini untuk sedikit membuka mata bahwa disekitar kita semakin banyak orang yang mulutnya sibuk mengomentari hidup orang lain dan lupa tabayyun dulu. Satu lagi, sampai saat ini bapak tetap orang baik karena telah turut serta menjadi teman main saya waktu kecil. Terima kasih ya pak sudah menjadi pelecut motivasi saya untuk bisa lulus pascasarjana. Beberapa tahun lagi saya ingin bisa tetap berjumpa dengan bapak untuk berkata, “Pak, ini undangan syukuran adik-adik saya. Alhamdulillah mereka sudah jadi sarjana semua. ” Terima kasih lagi karena membuat hati saya semakin kokoh, semakin menjadi 

perempuan bermental pria.

 Karanganyar, 20 Januari 2017