Kalimat-
kalimat itu masih sangat terasa menyakitkannya. Di suatu pagi selepas mengantar
adik berangkat sekolah, seorang laki-laki datang menghampiri. Laki-laki yang
sudah berumur itu adalah tetangga ketika ibu dan bapak masih mengontrak di
salah satu desa. Orangnya baik, sering datang ke rumah. Setidaknya menyapa ibu
yang sedang masak, atau ayah yang sedang beraktivitas dengan
kambing-kambingnya.
Well,
sejauh itu saya anggap dia orang baik. Tetapi semuanya sedikit berbeda ketika
pagi itu ia bertandang ke rumah seperti biasa. Tidak untuk mencari ibu atau
ayah, tapi menemui saya yang tengah sibuk mengecek kondisi sepeda motor sebelum
digunakan untuk bekerja. Maklum sekolah tempat saya mengajar berada di lereng
gunung, jalannya cukup menanjak dan butuh sepeda motor yang kondisinya prima.
Lelaki
itu datang dengan muka biasa saja, tapi saya salah. Kata-kata yang keluar dari
mulutnya ternyata berbau tak sedap. Bukan karena dia jarang gosok gigi, tapi
menurut saya ada aroma kebencian atau apalah itu yang membuatnya terasa tak
enak didengar. Entahlah, saya bukan Tuhan yang mampu menerjemahkan isi hati
seseorang. Setidaknya, dengan mendengar dan mencerna setiap kata yang terucap
saya cukup paham apa maksudnya bagaimana.
“Han..”
panggilnya. Laki-laki itu memanggil saya dengan nama secara langsung. Sudah terbiasa
sejak kecil. Sejak saya TK kami adalah tetangga dekat sekali, bahkan bisa
dibilang rumah kami berhimpitan.
“Yang
kamu cari itu apa? Yang kamu kejar itu apa? Sudah lulus kok sekolah lagi”
“..”
saya hanya diam karena masih terlalu syok dengan kalimat pertama yang keluar. Nadanya
tak enak. Sulit mendeskripsikannya dengan kata-kata.
“Anakku
cuma sarjana. Sudah bisa kerja di Jakarta. Tiap tahun kirim uang banyak. Kemarin
pulang malah sudah bawa cewek.”
“..”
saya masih tetap diam. Lebih tepatnya menahan rasa sakit yang semakin berlipat.
“Uwislah,
jangan nyusahin bapakmu terus. Kasihan itu hlo banting tulang buat kamu. Adik-adikmu
juga butuh sekolah to.”
“ya..”
saya jawab sekenanya. Sesungguhnya ingin rasanya berlari ke dalam dan menangis
sesenggukan.
“Bapakmu
kalau sama aku jujur. Tidak ada yang ditutup-tutupi.”
“nggih”
Kemudian
saya masuk. Mengambil tas di kamar. Sempat merenung sejenak untuk menguatkan
hati agar tidak menangis sekarang, “Ya Allah..sabar..”
Ketika
rasa sedih itu sudah terbendung, saya keluar lagi hendak berangkat. Laki-laki
itu masih juga di sana, belum berpindah. “Eh, aku bilang begini bukan untuk
membanggakan anakku-anakku sing wis kerja loh ya. Mereka itu manut-manut kabeh.
Kamu harus seperti mereka.”
“..”
saya diam dan menyalakan mesin sepeda motor. “Monggo, Pak.”
Percakapan
menyakitkan itu berhenti. Tetapi luka dihati tak juga berhenti. Hari demi hari
sepertinya membuat luka itu semakin abadi. Beberapa orang yang mengetahui
perubahan muka saya cukup curiga hari itu, tapi mereka tak perlu saya libatkan
dengan masalah pribadi ini. Cukup jalan-jalan desa ini yang mengetahui.
Menyusahkan
orang tua? Ya, saya salah karena selalu menyusahkan bapak. Bahkan ketika di
hari H pembayaran daftar ulang pascasarjana yang merengek meminta saya untuk
segera membayar adalah orang tua juga. Saya salah ketika saat itu bersikeras
untuk tidak perlu membayarnya karena sudah terlanjur diterima kerja. Saya salah
ketika dengan waktu yang sudah mulai habis nekat memenuhi permintaan orang tua
untuk segera pergi ke bank terdekat dan mendaftar ulang.
Mengambil studi lanjut? Ya, itu salah saya juga. Tidak akan ada gunanya menjelaskan
meski mulut ini sampai berbusa bercerita bagaimana kronologi saya bisa masuk
S2. Ada campur tangan Allah di sana, tapi orang-orang selalu menganggap bahwa
saya adalah penyebabnya. Bahkan, ketika saya bermimpi memiliki pekerjaan yang
baik dan kemudian mengambil tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, semua
juga salah saya. Saya salah ketika memiliki niat ingin mengantikan peran orang
tua untuk menyekolahkan adik-adik saya minimal sampai sarjana nantinya.
Orang-orang hanya peduli dengan mimpi kecil
yang bisa mereka lihat sesegera mungkin. Lulus, kerja, menikah, punya anak. Sependek
itu. Mereka tak pernah melibatkan saya sebagai pelaku utama yang seharusnya
ditanyakan apa maksudnya berjalan di jalan seperti itu. Ini salah saya lagi. Saya
salah karena tidak pernah membeberkan bagaimana mimpi dan harapan besar yang
sudah saya bangun jauh-jauh hari untuk keluarga saya ini. Bermimpi besar ternyata
juga sebuah kesalahan yang saya lakukan. Iya itu salah saya lagi.
Pun
salah saya juga ketika kemungkinan terburuk dari keluarga ini sudah saya
persiapkan. Saya salah ketika saya sudah menyadari bahwa umur manusia tak ada
yang tahu. Saya juga salah ketika mengetahui bahwa profesi bapak bukanlah
profesi yang bisa selamanya menghasilkan. Saya salah ketika memiliki seorang
ayah yang semakin tua umurnya maka penglihatannya semakin kabur dan tak akan
lagi bisa bekerja untuk kami semua. Saya salah juga ketika memiliki ibu yang
tak bekerja dan menganggur di rumah karena ada beberapa kondisi yang tak
memberinya kesempatan untuk bisa bekerja seperti ibu rumah tangga lainnya.
Sampai
saat ini saya belum membawa seorang laki-laki? Iya, benar itu salah saya lagi
karena tak segera membawa “calon” ke hadapan orang tua. Saya salah karena
belajar agama yang menerangkan bahwa “seorang perempuan tidak boleh bersama
dengan seorang laki-laki yang bukan mahromnya.” Saya salah ketika menerapkan
itu. Kenyataannya yang benar adalah saya seorang muslimah yang tahu agama dan
harusnya membawa laki-laki yang belum sah menjadi siapa-siapa ke dalam rumah
dan berkata, “Pak, Bu, ini pacarku!” Saya salah karena mengambil keputusan hanya
memilih laki-laki yang paham bagaimana cara meminang seorang perempuan dalam
agama Islam. Saya salah ketika memiliki landasan hidup bahwa hanya laki-laki
yang sudah memiliki “tanggal” pasti yang akan saya izinkan datang untuk
mengantar sebagian mahar.
Sudah
lulus tapi tidak bekerja? Oke, salah saya lagi. Dalam semua hal di hidup ini
memang saya selalu menjadi objek yang disalahkan. Mengapa? Karena ini hidup
saya. Mereka yang berada di sekitar saya adalah pihak-pihak yang selalu benar. Saya
salah ketika sudah bergelar sarjana tapi tidak bekerja. Saya salah karena pihak
yayasan yang saat itu memberi kesempatan bekerja memutuskan untuk menghentikan
kerja samanya dengan saya karena tidak bisa menerima guru yang nyambi di
pascasarjana. Saya yang saat itu sudah sekuat tenaga melobi pihak tertinggi
yayasan sampai pihak terendah yayasan agar tetap diizinkan bekerja juga merupakan
kesalahan. Pada akhirnya hasilnya ‘resign” juga. Saya juga salah telah meminta
bantuan kepada banyak rekan untuk mencarikan pekerjaan. Saya salah lagi ketika
tiap malam meminta petunjuk untuk dimudahkan dalam mendapat pekerjaan dan membayar
SPP pascasarjana saya sendiri. Saya juga salah ketika saya sudah bekerja tapi
tidak memberi tahu status “guru aktif” saya kepada khalayak ramai sehingga mereka
menganggap saya pengangguran yang luntang luntung di rumah, membebani orang
tua, dan menjadi anak yang tak berguna.
Salah,
salah, dan salah, ketika semua usaha saya mengarahkan ke jalan yang seperti
demikian apa tetap salah? Bukankah manusia hanya bisa berencana sedang yang
memutuskan tetaplah Allah semata? Jadi yang salah saya atau Allah-nya? Ah,
semua salah saya. Ditambah lagi saya menuliskan ini untuk sedikit membuka mata
bahwa disekitar kita semakin banyak orang yang mulutnya sibuk mengomentari hidup
orang lain dan lupa tabayyun dulu. Satu lagi, sampai saat ini bapak tetap orang
baik karena telah turut serta menjadi teman main saya waktu kecil. Terima kasih
ya pak sudah menjadi pelecut motivasi saya untuk bisa lulus pascasarjana.
Beberapa tahun lagi saya ingin bisa tetap berjumpa dengan bapak untuk berkata, “Pak,
ini undangan syukuran adik-adik saya. Alhamdulillah mereka sudah jadi sarjana
semua. ” Terima kasih lagi karena membuat hati saya semakin kokoh, semakin
menjadi
perempuan bermental pria.
Karanganyar, 20 Januari 2017











0 komentar:
Posting Komentar