Minggu, 18 Desember 2016

Ada Apa dengan Perempuan?

“Kau tahu puteriku sayang? Laki- laki adalah layang- layang dan perempuan adalah benang. Tanpa perempuan, laki- laki tak akan menjadi apa- apa. Di balik ketinggian (kesuksesan), ada perempuan dibaliknya. Puteriku, jadilah benang dengan kualitas terbaik. Buatlah layang- layangmu kelak terbang  setinggi- tingginya. Karena setinggi apapun ia terbang, ia selalu terkait denganmu dan bergantung padamu. Jagalah dia agar tak putus atau hilang arah. Ingatlah bahwa layang- layang selalu ingin terbang tinggi.” 


Saya awali tulisan ini dengan kalimat ampuh Kurniawan Gunadi. Seorang aktivis mahasiswa di Institut Teknologi Bandung. Langkahnya sudah tak mampu dibendung, buku- bukunya laris manis bak jagung “godog” kala hujan meradang. Dikepalanya, tersemat mahkota pemimpin dari sebuah forum pemuda (ke-XVI) yang tenar di jagad kampus seluruh Indonesia. Bukan kesuksesannya yang ingin saya bahas disini. Namun, tentang caranya memandang keistimewaan seorang perempuan.
Bagaimana pun, kita tak lagi punya kesempatan untuk mengelak tentang pentingnya peran perempuan dari zaman ke zaman. Bila tak banyak yang tahu mengenai seorang Kurniawan Gunadi, bagaimana dengan yang satu ini? Tentunya sosok B. J. Habibie tidak akan pernah terusir dari ingatan masyarakat Indoneisa. Perjuangannya menciptakan pesawat terbang mengalir dari generasi ke generasi. Menjadi pil semangat bagi generasi muda untuk senantiasa berprestasi di bidangnya. Adalah rahasia umum bahwa, dibalik kehebatan beliau, ada Ibu Ainun yang menyertai setiap langkahnya. Kisahnya diadaptasi dalam film berjudul Habibie dan Ainun yang telah banyak ditayangkan pula di berbagai negara tetangga. “Saya dan Ainun adalah dua raga yang berada dalam satu jiwa,” begitulah Bapak Habibie memuliakan perempuan yang selalu ada di sampingnya. Air matanya selalu menetes ketika berbicara mengenai istri yang telah meninggalkannya terlebih dahulu ke hadapan- Nya.
            Mari kita tutup sejenak cerita mengenai Habibie dan Ainun. Sebagai generasi muda, terutama perempuan- perempuan muda yang mungkin adalah anda yang sedang membaca ini, apakah harus menjadi Ainun untuk bisa dikatakan perempuan hebat? Pelaut ulung adalah teman ombak besar. Proses yang ia lalui tak akan pernah menghianati hasil. Bila ingin menjadi bernilai, berarti harus rela ditempa. Menjadi perempuan yang bernilai lebih, berarti harus ada usaha.
Dalam Islam, Khadijah r.a istri Rasulullah adalah sosok yang luar biasa. Bahasa anak muda sekarang ini adalah Alpha female. Alpha female adalah peremuan yang memiliki berperan dalam kelompoknya. Para perempuan yang menginspirasi, memimpin, menggerakkan orang- orang sekitarnya, dan membawa perubahan. Sampai sekarang pun, banyak muslimah yang mengidolakan dan mencontoh beliau. Mencontoh tindak tanduknya, cara berbisnisnya, hingga cara beliau memuliakan nabi Muhammad SAW. Alpha female mencerminkan hubungan perempuan dengan lingkungan sekitarnya. Bagi saya, menjadi alpha female pada zaman ini bukan berarti harus menjadi ketua RT, bupati, gubernur, walikota, atau presiden. Alpha female lebih mengarah kepada peran untuk berbagi kepada sesama, terutama sesama perempuan. Bukan hanya berbagi harta, namun berbagi ilmu baik ilmu agama yang dipahami maupun ilmu kehidupan yang berasal dari pengalaman- pengalaman. Perlu digaris bawahi bahwa menyembunyikan ilmu adalah sebuah larangan dalam islam. Dalam sebuah hadist berbunyi:

Man su’ila ‘an ‘ilmin fakatamahu uljima yaumal qiyaamati bilijaamin minnaarin

(Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dicambuk dengan cambuk neraka)
Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, setiap perempuan wajib berpendidikan tinggi karena mereka akan menjadi seorang ibu. Ibu- ibu yang cerdas akan melahirkan anak- anak yang cerdas. Tentunya, ibu adalah perempuan yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak- anaknya. Membagikan ilmu yang ia miliki kepada anak- anaknya. Apa yang akan terjadi bila kita menjadi perempuan yang malas belajar? Tentu semua sudah mengetahui jawabannya. 
Tentu kita semua sepakat dengan kalimat “Perempuan terdidik akan menghasilkan generasi yang terdidik.” Entah siapa pun yang mencetuskan ungkapan itu pertama kali yang jelas begitu tenar kini. Generasi yang terdidik adalah generasi yang mampu membangun zaman, tidak hanya numpang tidur dan makan (hedonis). Generasi Hedonisme adalah genarasi yang sudah tertutup mata hatinya oleh kepentingan dan kesenangan dunia. Selalu mengutamakan “mata’un qalil” atau kesenangan yang semu saja. Bila seorang ibu melahirkan seorang anak, maka ia membangun dunia satu generasi. Apalagi bila melahirkan anak yang dibekali ilmu agama yang baik, maka ia sedang membangun satu generasi beserta kejayaannya esok hari.
Kita memang tidak memiliki pilihan untuk menjadi laki- laki atau perempuan. Pun tidak memiliki kesempatan untuk hidup di beberapa zaman. Namun, kita punya pilihan untuk menjadi perempuan pembangun peradaban. Besarnya peran seorang perempuan dalam membangun generasi, tak boleh hanya dipandang sebelah mata apalagi diacuhkan begitu saja. Perlu adanya usaha untuk turut serta membangun bangsa dan menghidupkan islam dalam setiap dekadenya. Khadijah, Maryam, Aisyah, Ainun dan sosok- sosok hebat lain adalah sekian dari puluhan ribu perempuan yang dapat memberikan teladan bagi kita semua.
(Telah termuat di majalah Cahaya Hati)

0 komentar:

Posting Komentar