“Kau
tahu puteriku sayang? Laki- laki adalah layang- layang dan perempuan adalah
benang. Tanpa perempuan, laki- laki tak akan menjadi apa- apa. Di balik
ketinggian (kesuksesan), ada perempuan dibaliknya. Puteriku, jadilah benang
dengan kualitas terbaik. Buatlah layang- layangmu kelak terbang setinggi- tingginya. Karena setinggi apapun
ia terbang, ia selalu terkait denganmu dan bergantung padamu. Jagalah dia agar
tak putus atau hilang arah. Ingatlah bahwa layang- layang selalu ingin terbang
tinggi.”
Saya
awali tulisan ini dengan kalimat ampuh Kurniawan Gunadi. Seorang aktivis
mahasiswa di Institut Teknologi Bandung. Langkahnya sudah tak mampu dibendung,
buku- bukunya laris manis bak jagung “godog” kala hujan meradang. Dikepalanya,
tersemat mahkota pemimpin dari sebuah forum pemuda (ke-XVI) yang tenar di jagad
kampus seluruh Indonesia. Bukan kesuksesannya yang ingin saya bahas disini.
Namun, tentang caranya memandang keistimewaan seorang perempuan.
Bagaimana
pun, kita tak lagi punya kesempatan untuk mengelak tentang pentingnya peran
perempuan dari zaman ke zaman. Bila tak banyak yang tahu mengenai seorang
Kurniawan Gunadi, bagaimana dengan yang satu ini? Tentunya sosok B. J. Habibie
tidak akan pernah terusir dari ingatan masyarakat Indoneisa. Perjuangannya
menciptakan pesawat terbang mengalir dari generasi ke generasi. Menjadi pil
semangat bagi generasi muda untuk senantiasa berprestasi di bidangnya. Adalah
rahasia umum bahwa, dibalik kehebatan beliau, ada Ibu Ainun yang menyertai
setiap langkahnya. Kisahnya diadaptasi dalam film berjudul Habibie dan Ainun
yang telah banyak ditayangkan pula di berbagai negara tetangga. “Saya dan Ainun
adalah dua raga yang berada dalam satu jiwa,” begitulah Bapak Habibie
memuliakan perempuan yang selalu ada di sampingnya. Air matanya selalu menetes
ketika berbicara mengenai istri yang telah meninggalkannya terlebih dahulu ke
hadapan- Nya.
Mari kita tutup sejenak cerita mengenai Habibie dan
Ainun. Sebagai generasi muda, terutama perempuan- perempuan muda yang mungkin
adalah anda yang sedang membaca ini, apakah harus menjadi Ainun untuk bisa
dikatakan perempuan hebat? Pelaut ulung adalah teman ombak besar. Proses yang
ia lalui tak akan pernah menghianati hasil. Bila ingin menjadi bernilai, berarti
harus rela ditempa. Menjadi perempuan yang bernilai lebih, berarti harus ada
usaha.
Dalam
Islam, Khadijah r.a istri Rasulullah adalah sosok yang luar biasa. Bahasa anak
muda sekarang ini adalah Alpha female.
Alpha female adalah peremuan yang memiliki
berperan dalam kelompoknya. Para perempuan yang menginspirasi, memimpin,
menggerakkan orang- orang sekitarnya, dan membawa perubahan. Sampai sekarang
pun, banyak muslimah yang mengidolakan dan mencontoh beliau. Mencontoh tindak
tanduknya, cara berbisnisnya, hingga cara beliau memuliakan nabi Muhammad SAW. Alpha female mencerminkan hubungan
perempuan dengan lingkungan sekitarnya. Bagi saya, menjadi alpha female pada zaman ini bukan berarti harus menjadi ketua RT,
bupati, gubernur, walikota, atau presiden. Alpha
female lebih mengarah kepada peran untuk berbagi kepada sesama, terutama
sesama perempuan. Bukan hanya berbagi harta, namun berbagi ilmu baik ilmu agama
yang dipahami maupun ilmu kehidupan yang berasal dari pengalaman- pengalaman.
Perlu digaris bawahi bahwa menyembunyikan ilmu adalah sebuah larangan dalam
islam. Dalam sebuah hadist berbunyi:
Man
su’ila ‘an ‘ilmin fakatamahu uljima yaumal qiyaamati bilijaamin minnaarin
(Barang siapa ditanya
tentang suatu ilmu kemudian menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan
dicambuk dengan cambuk neraka)
Entah
akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, setiap perempuan wajib
berpendidikan tinggi karena mereka akan menjadi seorang ibu. Ibu- ibu yang
cerdas akan melahirkan anak- anak yang cerdas. Tentunya, ibu adalah perempuan
yang akan menjadi madrasah pertama
bagi anak- anaknya. Membagikan ilmu yang ia miliki kepada anak- anaknya. Apa
yang akan terjadi bila kita menjadi perempuan yang malas belajar? Tentu semua
sudah mengetahui jawabannya.
Tentu
kita semua sepakat dengan kalimat “Perempuan terdidik akan menghasilkan
generasi yang terdidik.” Entah siapa pun yang mencetuskan ungkapan itu pertama
kali yang jelas begitu tenar kini. Generasi yang terdidik adalah generasi yang
mampu membangun zaman, tidak hanya numpang tidur dan makan (hedonis). Generasi
Hedonisme adalah genarasi yang sudah tertutup mata hatinya oleh kepentingan dan
kesenangan dunia. Selalu mengutamakan “mata’un qalil” atau kesenangan yang semu
saja. Bila seorang ibu melahirkan seorang anak, maka ia membangun dunia satu
generasi. Apalagi bila melahirkan anak yang dibekali ilmu agama yang baik, maka
ia sedang membangun satu generasi beserta kejayaannya esok hari.
Kita
memang tidak memiliki pilihan untuk menjadi laki- laki atau perempuan. Pun
tidak memiliki kesempatan untuk hidup di beberapa zaman. Namun, kita punya
pilihan untuk menjadi perempuan pembangun peradaban. Besarnya peran seorang
perempuan dalam membangun generasi, tak boleh hanya dipandang sebelah mata
apalagi diacuhkan begitu saja. Perlu adanya usaha untuk turut serta membangun
bangsa dan menghidupkan islam dalam setiap dekadenya. Khadijah, Maryam, Aisyah,
Ainun dan sosok- sosok hebat lain adalah sekian dari puluhan ribu perempuan yang
dapat memberikan teladan bagi kita semua.
(Telah termuat di
majalah Cahaya Hati)
0 komentar:
Posting Komentar