Setiap orang memiliki
kadar keberuntungannya masing-masing. yap, begitu juga dengan aku hehe. Kalau
dibilang beruntung ya “beruntung banget” bisa berangkat ke Makassar bersama
teman-teman seperjuangan. Siapa sangka mimpi ini menjadi nyata. Mimpi anak sederhana
yang aku cetuskan beberapa tahun lalu. Orang boleh menertawakan mimpi itu, tapi
aku terima saja dengan lapang dada. Saat ini mereka boleh tertawa, lain waktu
aku yang akan membuat mereka terdiam lama menatap mimpiku yang sudah menjadi
nyata.
Aku pengen naik pesawat
Aku percaya Allah itu Maha Adil. Ia akan membayar semuanya
dengan harga pas. Rasa-rasanya forum nasional inilah bayaran yang paling mahal
bila mengingat setahun belakangan. Cukup tahu saja, nanti ndak dikira pamer.
Hari Rabu, 8 April 2015 aku berangkat ke Surabaya menuju
Bandara Juanda. Bersama lima kawan lain yang sama-sama baru pertama kali ke
luar jawa. Kata adik tingkat saat itu dia sempat bingung gimana cara pesan
tiket pesawat haha. Setengah hari kita lalui di jalanan. Sekitar pukul 19.30
WIB rombongan UNS ini sampai di bandara. Take off masih pukul 11.00 WIB. Sambil nenteng koper layaknya mau liburan, muter-muter bentar sambil foto-foto, lumayanlah buat bahan cerita di rumah. Beberapa
jam kami nikmati di pelataran bandara sambil menikmati suasananya. Ada rasa
takut dan deg-degan melihat pesawat yang berlalu lalang hehe..

Tibalah saatnya cek in. kita masuk di ruang keberangkatan. Semua
barang bawaan dicek. Memastikan tidak ada barang-barang berbahaya yang dibawa
penumpang. setelah pemeriksaan selesai saatnya memasuki cabin pesawat. Cukup terkesima
karena baru pertama kalinya haha. Tiba-tiba jadi ingat cita-cita waktu kecil
ingin jadi pramugrari. Pas pesawat sudah mau melangit rasanya tuh serem, badan
kayak ditarik secara paksa gitu. Enak sih, seru juga. Dari atas pesawat aku
lihat lampu-lampu bertaburan. Indah benget. Seperti pecahan emas yang
berserakan. Seremnya naik pesawat Cuma pas naik dan mau turun saja sih kalau
ambil penerbangan malam. Selebihnya hanya goyang-goyang kecil yang tidak
terlalu keras. Alhamdulillah selamat sampai landing di bandara Sultan Hassanudin
Makassar.
Kira-kira pukul 01.30 WITA aku sampai di Makassar dan dijemput sama panitia dari Universitas Hassanudin. Namanya Muhammad Widianto. Nyatanya dia bukan panitia inti, dia delegasi UNHAS yang merangkap. LO sebenarnya buat UNS adalah Erwin. Anak UNHAS asli. Kalau si Widi tadi orang Sragen yang tinggal di Makassar. heleehh..
Beberapa hari di UNHAS agenda utamanya adalah sidang dan musyawarah membahas AD, ART, GBHO dan proker untuk Persatuan Mahasiswa Bidikmisi Nasional selama setahun ke depan.
Dari seekia banyak moment penting entah kenapa yang paling berkesan adalah ketika aku dipertemukan dengan kakak-kakak yang sebenarnya sudah lulus namun masih diberi amanah untuk membangun bidikmisi, Sebut saja mereka tim formatur. Mereka adalah orang-orang keren yang dikumpulan jdi satu oleh DIKTI. latar belakang mereka sama, sama-sama berasal dari keluarga sederhana. Sama-sama orang beruntung bisa mendapat bidikmisi untuk kuliah hingga lulus. Mereka ada yang seorang presma, mawapres, duta wisata, duta perawat nasional dan segenap prestasi-prestasi cemerlang sudah mereka kantongi. Sungguh, bertemu mereka seakan-akan mendapat cahaya semangat baru untuk melanjutkan hidup ahaha..
 |
| Tim Formatur |
Anehnya, sekeren-kerenya orang mereka semua punya sisi aneh yang membuat orang geleng-geleng kepala. huahahahah
 |
| Drama pengemis |
Setelah banyaknya omongan buruk tentang eksklusifitas anak-anak bidikmisi, akhirnya terbentuk juga forum nasional yang bisa menaungi seluruh penerima bidikmisi dan alumninya. Semoga dengan ini generasi emas Indonesia akan lahir untuk kemajuan bangsa dan negara. Aku pikir memang ini penting dan harus ada. Biar keberadaan bidikmisi lebih maksimal dan tak lekang oleh waktu eaaa...
Bersyukur..bersyukur dan bersyukur..itulah kata kerja yang tak boleh kami lupa. Teman-teman bidikmisi se-Indonesia yang aku cinta.
 |
| Delegasi Bidikmisi se-Indonesia |
Daan..berakhirlah pada waktu untuk mengucapkan selamat tinggal. Membawa hasil musyawarah dan program-program yang harus segera ditargetkan. Cuaca begitu buruk ketika perjalanan kembali ke kampung halaman. Hujan deras menyapa, pesawat jadi delay agak lama.
Ketika di pesawat, awan-awan tebal begitu ramai. Mendung membuat jendela blur. Namun, ketika cerahnya hari sudah menyapa, sungguh tak bisa aku pungkiri indahnya kepulauan Indonesia. Dari atas sana seperti serpihan surga. Pabtas saja Indonesia banyak diincar oleh negara tetangga. Hamparan pulau hijau dan birunya lauu membuat mata tak mempu berkedip. Semua adalah lukisan Tuhan. Subhanallah..
Meskipun sempat hampir jantungan karena cuaca buruk ketika terbang, alhamdulillah Allah masih memberi keselamatan. Sekitar pukul 17.00 WIB rombongan UNS sampai di Bandara Adi Sucipto.
 |
| Alhamdulillah |
 |
| Bandara Adi Sucipto |
oiya sebelum pulang kami sempat mampir ke warung makan Coto Makassar, makanan khas daerah sana. Rasanya agak asam. Isinya daging sapi dengan kuah keruh. Katanya sih air rempah-rempah yang membuat keruh. Harganya 10 ribu per mangkok. Sudah termasuk dua buah ketupat dan segelas air putih dingin.
 |
| Coto Makassar |
begitulah perjalanan sederhanaku. Meski sederhana begitu banyak hikmah yang aku dapat. Yang jelas mimpi untuk naik pesawat sudah terkabul. Terima kasih ya Allah, sunguh Engkau Dzat Yang Maha Besar.
 |
| Pinjam ya hehe..Jateng-DIY memang oke |
 |
| Tempat oleh-oleh |
0 komentar:
Posting Komentar