“kenapa Allah begitu baik?”
Ya, satu pertanyaan itu yang melayang-layang dikepalaku
selama semalaman. Siapa sangka, agenda yang tidak terencana ini berbuah
kesadaran.
Awan mendung terlukis dilangit Solo. Perjalanan dari Solopos menuju kentingan
terasa begitu cepat karena dibarengi rasa cemas jikalau hujan turun sebelum
kami tiba. Hari itu, 28 Maret 2017 adalah jadwalku diskusi jurnalistik bersama
salah satu forum kepenulisan milik Afifah Afra yang berdomisili di kota solo. Beberapa
adik tingkat yang memiliki hobi serupa aku ajak untuk menemani sekaligus
jalan-jalan melepas penatnya tugas kuliah. Setelah diskusi selesai, kami
sepakat untuk makan bersama. Cacing-cacing
didalam perut harus segera diselamatkan.
Heran, ada jalan yang lebih cepat menuju kampus. Namun,
adik-adik ini malah mengambil jalan paling jauh. “mereka butuh jalan-jalan mbk,”
kata Maul, adik tingkat yang aku boncengkan dibelakang. Aku mengiyakan saja. Mungkin inilah saatnya
aku leren memikirkan masa kuliah
tingkat tua. Cukup mengikuti bagaimana pola hidup adik-adik selama seharian
ini.
Menerobos rintikan air yang kian besar butirannya. Keptusan mau makan dimana aku serahkan sepenuhnya kepada adik-adik. Sampailah
kami di tempat makan Gudeg Jogja daerah ngoresan. Apalah ini, jauh-jauh dari Manahan
ternyata makannya hanya di samping kosan. Beberapa meter dari tempat makan itu
kosku bertengger. Elah dik…
Memesan makan, membahas apa saja, tertawa, bercanda, ya
itulah jadinya aku ketika bersama mereka. Rasanya menjadi Haniah yang lebih
muda dua tahun. Mendadak lupa bahwa sudah semester tua. Senangnya, rasanya tak
memiliki beban apapun. Prosesi makan selesai. Ibu pemilik tempat makan
menawarkan untuk “tambah” bila belum kenyang. Menawarkan es cuma-cuma bila
masih haus. Baik sekali.
Sang ibu merapat pada tempat duduk kami. Lesehan bersama
kumpulan mahasiswa yang sedang “lari dari kenyataan.” Haha . Siapa kira, sang ibu adalah tante dari Aqin, salah satu mahasiswa UNS yang terlebih dahulu dipanggil Allah karena
penyakit GBS. Aku ingat betul ketika mahasiswa UNS secara serentak mengumpulkan
dana untuk membantu pengobatan Aqin yang biayanya ratusan juta rupiah. Aku juga
kembali ingat dua tahun lalu aku sempat menjengu Aqin. Masih tampak jelas
kondisinya. Beberapa selang panjang menghiasi alat pernapasannya. Ia terbaring
lemah di ruang ICU Dr. Oen. Rumah sekaligus tempat makan itu mungil. Terletak di
gang awan 1, samping kuburan cina. Ternyata, rumah makan itu adalah obat
kesepian dari sang ibu. Perses seperti nama Aqin, tempat makan itu dinamai.
![]() |
| kondisi Aqin |
“biar banyak mahasiswa yang main, jadi ibu tidak kesepian. Pokoknya
semua yang kesini sudah ibu anggap anak sendiri,” kata sang ibu.
Aku melongo. Adik-adik lebih melongo karena mereka belum
masuk universitas ketika Aqin masih ada. Melalui raut wajah sang ibu, bisa
kulihat bekas-bekas kehilangan yang mungkin tak pernah bisa hilang. Bunda (ibu
kandung Aqin) masuk ke kamar dan mengambil sebuah handphone yang terpasang foto
Aqin. “Ibu ndak akan pernah hapus foto ini, tidak akan pernah mbk.” Oke fix.
Sisi melankolisku bergejolak.
Bunda bercerita betapa baik dan cantik anaknya. Penurut dengan
orang tua dan sregep. Hanya saja, ada
satu hal yang disayangkan katanya. Dia begitu malas untuk makan bila sudah
kelelahan, memilih tidur saja. Aktif di organisasi kampus pula. Berawal dari sakit maag yang kemudian berujung pada maut,
itu kesimpulan yang bisa aku ambil dari pemaparan panjang bunda. Maag yang
kronis membuat sistem kekebalan tubuh Aqin terganggu, sehingga banyak penyakit yang bisa
menyerang dia kapan pun. GBS menjalari Aqin selama 44 hari sebelum akhirnya
menghembuskan napas terakhir. “sesibuk atau secapek apapun jangan lupa makan. Sehat
itu nikmat. Minimal bawa roti dan air minum kemana-mana. Ibu sudah merasakan
bagaimana rasanya kehilangan anak,” ujar sang ibu menasihati.
Aku tertampar. Ingat kebiasaanku yang jarang makan. Sehari sekali,
bisa dua kali saja sudah Alhamdulillah. Ketika pulang ke matesih ibu selalu
marah-marah dan menjudment aku cacingan.
“Tidak ibu, aku baik-baik saja,” itulah yang aku ungkapkan dalam bahasa jawa. Bukan
karena pengiritan, hanya saja kau tak bisa makan sendirian. Aku juga tak suka
makan dengan buru-buru. Lebih baik tak makan sekalian bila waktu dan agenda sedang
tak bisa menunggu. Sungguh kebiasaan tak makan itu merusak diri sendiri. Entah
bagaimana cara Allah mengingatkan setiap umatnya. Aku rasa hari inilah Allah
bermaksud membuka mataku. Persoalan tak makan ini harusnya bukan lagi masalah
diusiaku yang ke 21 ini. Beberapa memori di kepalaku muncul lagi, “bagaimana
mau mengurus anak orang kalau ngurus diri sendiri saja belum bisa.” Ya. Itu nasihat
dari seseorang yang aku lupa siapa. Sebut saja dia anonim.
Adik-adik yang ikut nimbrung ternyata antusias juga dengan
cerita sang ibu dan bunda. Berbincangan kami ditutup dengan sholat jamaah
magrib. Hujan masih belum berdamai. Makin lama-makin deras saja. rasanya tak
ingin pulang. Muhksin tertidur pulas. Lutfi, Agung dan maul berbaring santai
sambil menonton film. Aku? Pikiranku masih berlari-lari,“Besok aku harus beli
sarapan!”. Sungguh makan ditempat ini serasa di rumah sendiri, kami benar-benar
tak ingin pulang. Semoga Allah menempatkanmu disisi terbaiknya Aqin.








0 komentar:
Posting Komentar