Sabtu, 28 Maret 2015

Kisahmu Sepanjang Masa, Aqin.

“kenapa Allah begitu baik?”
Ya, satu pertanyaan itu yang melayang-layang dikepalaku selama semalaman. Siapa sangka, agenda yang tidak terencana ini berbuah kesadaran.
Awan mendung terlukis dilangit  Solo. Perjalanan dari Solopos menuju kentingan terasa begitu cepat karena dibarengi rasa cemas jikalau hujan turun sebelum kami tiba. Hari itu, 28 Maret 2017 adalah jadwalku diskusi jurnalistik bersama salah satu forum kepenulisan milik Afifah Afra yang berdomisili di kota solo. Beberapa adik tingkat yang memiliki hobi serupa aku ajak untuk menemani sekaligus jalan-jalan melepas penatnya tugas kuliah. Setelah diskusi selesai, kami sepakat  untuk makan bersama. Cacing-cacing didalam perut harus segera diselamatkan.
Heran, ada jalan yang lebih cepat menuju kampus. Namun, adik-adik ini malah mengambil jalan paling jauh. “mereka butuh jalan-jalan mbk,” kata Maul, adik tingkat yang aku boncengkan dibelakang.  Aku mengiyakan saja. Mungkin inilah saatnya aku leren memikirkan masa kuliah tingkat tua. Cukup mengikuti bagaimana pola hidup adik-adik selama seharian ini.
Menerobos rintikan air yang kian besar butirannya. Keptusan mau makan dimana aku serahkan sepenuhnya kepada adik-adik. Sampailah kami di tempat makan Gudeg Jogja daerah ngoresan.  Apalah ini, jauh-jauh dari Manahan ternyata makannya hanya di samping kosan. Beberapa meter dari tempat makan itu kosku bertengger. Elah dik…
Memesan makan, membahas apa saja, tertawa, bercanda, ya itulah jadinya aku ketika bersama mereka. Rasanya menjadi Haniah yang lebih muda dua tahun. Mendadak lupa bahwa sudah semester tua. Senangnya, rasanya tak memiliki beban apapun. Prosesi makan selesai. Ibu pemilik tempat makan menawarkan untuk “tambah” bila belum kenyang. Menawarkan es cuma-cuma bila masih haus. Baik sekali.
Sang ibu merapat pada tempat duduk kami. Lesehan bersama kumpulan mahasiswa yang sedang “lari dari kenyataan.”  Haha . Siapa kira, sang ibu adalah tante dari Aqin, salah satu mahasiswa UNS yang terlebih dahulu dipanggil Allah karena penyakit GBS. Aku ingat betul ketika mahasiswa UNS secara serentak mengumpulkan dana untuk membantu pengobatan Aqin yang biayanya ratusan juta rupiah. Aku juga kembali ingat dua tahun lalu aku sempat menjengu Aqin. Masih tampak jelas kondisinya. Beberapa selang panjang menghiasi alat pernapasannya. Ia terbaring lemah di ruang ICU Dr. Oen. Rumah sekaligus tempat makan itu mungil. Terletak di gang awan 1, samping kuburan cina. Ternyata, rumah makan itu adalah obat kesepian dari sang ibu. Perses seperti nama Aqin, tempat makan itu dinamai.
kondisi Aqin
“biar banyak mahasiswa yang main, jadi ibu tidak kesepian. Pokoknya semua yang kesini sudah ibu anggap anak sendiri,” kata sang ibu.
Aku melongo. Adik-adik lebih melongo karena mereka belum masuk universitas ketika Aqin masih ada. Melalui raut wajah sang ibu, bisa kulihat bekas-bekas kehilangan yang mungkin tak pernah bisa hilang. Bunda (ibu kandung Aqin) masuk ke kamar dan mengambil sebuah handphone yang terpasang foto Aqin. “Ibu ndak akan pernah hapus foto ini, tidak akan pernah mbk.” Oke fix. Sisi melankolisku bergejolak.
Bunda bercerita betapa baik dan cantik anaknya. Penurut dengan orang tua dan sregep. Hanya saja, ada satu hal yang disayangkan katanya. Dia begitu malas untuk makan bila sudah kelelahan, memilih tidur saja. Aktif di organisasi kampus pula.  Berawal dari  sakit maag yang kemudian berujung pada maut, itu kesimpulan yang bisa aku ambil dari pemaparan panjang bunda. Maag yang kronis membuat sistem kekebalan tubuh Aqin  terganggu, sehingga banyak penyakit yang bisa menyerang dia kapan pun. GBS menjalari Aqin selama 44 hari sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir. “sesibuk atau secapek apapun jangan lupa makan. Sehat itu nikmat. Minimal bawa roti dan air minum kemana-mana. Ibu sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan anak,” ujar sang ibu menasihati.
Aku tertampar. Ingat kebiasaanku yang jarang makan. Sehari sekali, bisa dua kali saja sudah Alhamdulillah. Ketika pulang ke matesih ibu selalu marah-marah dan menjudment aku cacingan. “Tidak ibu, aku baik-baik saja,” itulah yang aku ungkapkan dalam bahasa jawa. Bukan karena pengiritan, hanya saja kau tak bisa makan sendirian. Aku juga tak suka makan dengan buru-buru. Lebih baik tak makan sekalian bila waktu dan agenda sedang tak bisa menunggu. Sungguh kebiasaan tak makan itu merusak diri sendiri. Entah bagaimana cara Allah mengingatkan setiap umatnya. Aku rasa hari inilah Allah bermaksud membuka mataku. Persoalan tak makan ini harusnya bukan lagi masalah diusiaku yang ke 21 ini. Beberapa memori di kepalaku muncul lagi, “bagaimana mau mengurus anak orang kalau ngurus diri sendiri saja belum bisa.” Ya. Itu nasihat dari seseorang yang aku lupa siapa. Sebut saja dia anonim.
Adik-adik yang ikut nimbrung ternyata antusias juga dengan cerita sang ibu dan bunda. Berbincangan kami ditutup dengan sholat jamaah magrib. Hujan masih belum berdamai. Makin lama-makin deras saja. rasanya tak ingin pulang. Muhksin tertidur pulas. Lutfi, Agung dan maul berbaring santai sambil menonton film. Aku? Pikiranku masih berlari-lari,“Besok aku harus beli sarapan!”. Sungguh makan ditempat ini serasa di rumah sendiri, kami benar-benar tak ingin pulang. Semoga Allah menempatkanmu disisi terbaiknya Aqin.  

0 komentar:

Posting Komentar