Jarum pendek jam
menodongkan ujungnya pada angka 4 dan jarum panjang ke angka 12. Hari sudah
sore. Panas suda sedikit mereda dibandingkan siang tadi. Usai membersihkan
badan, meluruhkan segala lelah dengan air aku meluncur ke tempat yang untuk
beberapa kali ini menjadi sumber rezeki. Aku dan blacki –sebutan untuk motor
kesayanganku- menyusuri pedaringan, pasar jebres, STIE AUB dan pada akhirnya
sampai di kecamatan Kadipiro, Solo.
Gang-gang kecil aku
lalui, sesekali bersenandung menyambut rezeki. Blacki berhenti. Helm merah
hasil pinjaman teman kos aku lepas dari batok kepala. Beberapa waktu ini aku
mengandalkan helm pinjaman, helm kesayanganku yang harganya tak seberapa
hilang. Heran sama malingnya, helm murahan diembat juga.
Aku masuk ke pelataran.
Tak mengucap salam seperti biasa yang aku lakukan ketika memasuki rumah.
Keluarga kecil ini berbeda Tuhan. Si gadis kecil muncul menyambutku. “mbak hani
datang..mbak hani datang…,” begitulah kiranya perayaan selamat datang untukku.
Gigi gadis kecil itu “gigis”, mungkin kebanyakan makan permen. Rambutnya model
salah satu kartun di televisi. Sebahu namun lurus kecoklatan. Namanya Melinda.
Melinda Patricia, si anak kecil yang selalu menyebut dirinya adalah putrid elsa
di film Frozen. Lucu sekali ketawanya ketika berceletuk, “aku putri Elsa yang
di Frozen itu loh mbak. Jadi panggil aku Melinda Elsa ya..” Aku iyakan saja. Toh,
dengan anggukan sederhana akan membuatnya tersenyum bahagia dan dia akan
menurut untuk aku ajari membaca.
Ya beginilah caraku
(berusaha) menikmati hidup. Menberikan les privat untuk salah satu anak TK. Berharap
kegiatan ini mampu menjadi menambal penatku dengan dunia kuliah. Menjadi sumber
penghasilan tambahan juga (semoga~). Pertama kali mengajar..buset deh, nih
badan serasa loggkrak alias capek banget. Ngajar satu anak kecil sama dengan
ngajari 10 anak SMA. Susah banget, dikit-dikit minta main. Baru baca satu huruf
minta main. Al hasil ngelesiku didominasi dengan main-main haha. Seperti tujuan
awalku, menghilangkan penat. Aku sukses! Jangan dikira gampang, penat hilang
lelah yang datang. Bosen sedikit si Melinda ngambek. Yang makan dulu lah, ke
kamar mandi dulu lah, main skoter dululah. “Hemm..pengen tak borgol juga nih
anak lama-lama,” pikir jahatku. Sama-sama kerja dua jam capeknya tiga kali
lipat dari kerjaku jadi front office. Kaki tangan pegal semua. Sampai kos bisa
aku pastikan langsung tidur memeluk guling.
Secapek apapun
mengajar, tetap saja aku bahagia. Bersama Melinda dan tingkah polahnya aku
belajar mengasuh anak, atau lebih tepatnya adik yang masih sangat aktif, belum
bisa dikontrol secara penuh. Secara, dulu ketika masa adik-adikku masih
seumurannya melinda aku masih di taraf umur anak yang labil (SD). Pokoknya yang
penting adikku diam, gimana pun itu caranya. Menguak kenangan sebentar #eaaa..
Sering sekali sama ibu diminta untuk nyuapin adikku bubur Sun. Aku masih ingat
sekali bubur itu punya varian rasa yang beragam, salah satunya adalah beras
merah. Yummy. Aku lebih senang rasa pisang sebenarnya. Kalau jatahku beli
bubur, meskipun ibu minta beli yang rasa beras merah tetap akan aku belikan
yang rasa pisang haha. Atau kalau enggak suruh beli tiga bungkus, dua bungkus
rasa beras merah satu bungkus rasa pisng. Anggap saja ini upah anak solehah. Memulai
aktivitas tiap sore, “ndulang” adik. Aku suapkan satu sendok ke mulut adikku.
Dia makan pelan sekali. Kemudian aku suapkan ke mulutku sendiri dua kali dengan
sigap biar ibu tak tahu kelakuanku. Makanku cepat sekali. Secara, itu bubur tak
perlu dikunyah, gigiku sudah tumbuh dan adikku masih ompong aja. Kalau sudah
habis dan adik masih rewel, aku akan kembali ke dapur.
Bilang sama ibu, “bu,
adik masih lapar. Tak buatkan bubur lagi ya”. Begitulah kalimatku beberapa kali
hingga tak kusangka buburnya sudah habis, baik di mangkuk maupun dibungkus. Begitu
seterusnya untuk tiga generasi. Ibuku akan ngomel begini, “loh, kok habis
buburnya. Yang makan kamu apa adik ini?”, dengan tampang tanpa dosa aku
berdalih, “adik tadi lapar banget bu, jadi makannya rada banyakan hehe..” Ibu
menimpali lagi,” lha sing lemu kok malah koe udu adimu?” begitulah
percakapanku, silahkan dialih bahasakan ke Bahasa Jawa sendiri ya.
![]() |
| anaknya kurang satu -_- |
Ya begitulah tingkahku “ngemong”
tiga adikku. Masih sangat tak mutu. Berbeda dengan sekarang. Meskipun Melinda bukan
adik kandungku, tapi dengan dia aku banyak belajar bagaimana cara memperlakukan
anak kecil secara manusiawi. Tidak lagi dengan mengambil jatah bubur beras
maerah, tapi memberikan apa yang dimiliki dan dibutuhkan. Menjadi lebih sabar,
mengajari pelan-pelan dan berusaha mengerti apa yang sebenarnya dia butuhkan. Dahulu
bodo amat adik mau dapat nilai berapa, sekarang pokoknya anak ini harus bisa. Searching
banyak metode belajar biar ini anak jauh dari nilai jelek. Ikut deg-degkan
ketika penerimaan rapor. Wah, merasa bersalah aku dengan adik-adikku. Tiga generasi
bubur beras merah mereka aku korupsi semua. Andai mbak dulu sudah ngerti cara
memperlakukan kalian…








0 komentar:
Posting Komentar