Jumat, 20 Februari 2015

Sastra, Perempuan dan Zaman

Sastra, Perempuan dan Zaman
                Masih ingat cerita “Siti Nurbaya, kasih yang tak sampai?” Saya kira anda lupa, karena saya pun kadang ingat kadang juga lupa haha.. Jadi Siti Nurbaya adalah ikon yang paling menonjol dalam karya sastra angkatan balai pustaka. Dimana pada angkatan tersebut mengangkat masalah-masalah yang menyangkut tentang adat yang berlaku pada suatu zaman. Orang-orang atau pujangga terdahulu mengkritik atau menampakkan ketidaksetujuannya terhadap adat dengan menulis karya sastra. Salah satu pujangga yang mendapat penghargaan dari pemerintah RI karena karyanya yang fenomenal adalah  Marah Rusli penulis roman “Siti Nurbaya”. Penulis asal padang ini menulis cerita Siti Nurbaya sebagai kritikan terhadap kasus kawin paksa yang sering menimpa kaum perempuan pada zaman dahulu. 

                Karya sastra yang lagi-lagi mengangkat tokoh perempuan meskipun bukan tokoh sentral namun memiliki andil tinggi dalam alurnya adalah roman “Salah Asuhan”. Roman ini menceritakan tentang seorang ibu yang salah mendidik anaknya. Anaknya benama Hanafi, didikan ibunya adalah sang ibu sangat menginginkan agar anaknya berpikir modern, berjiwa progresif, terpelajar, terdidik, sehingga sejak kecil Hanafi dididik kebarat-baratan. Cara mengasuh yang salah membuat Hanafi sombong dan sering merendahkan orang lain. Roman salah asuhan merupakan kritik kepada masyarakat Indonesia pada zaman penjajahan dulu yang sering kali bersikap kebarat-baratan dan lupa daratan. Perempuan adalah sekolah pertama dalam keluarga. Intelegensi, kecerdasan dan kecermatannya dalam berpikir dan bertindak ibarat amunusi awal seorang anak manusia yang belum tahu apa-apa untuk mengembara di dunia selanjutnya.
                Sekarang di zaman dimana roman tak lagi diproduksi namun perempuan tetap menjadi produk dengan kuantitas diatas laki-laki. Sangat disayangkan bila nasibnya sama dengan cerita-cerita roman baik Siti Nurbaya maupun Salah Asuhan. Roman memang cerita fiksi belaka, namun sesungguhnya cerita fiksi pun berangkatnya juga dari pengalaman nyata.
Semoga saja sekitar beberapa puluh tahun lagi muncul karya-karya yang mengangkat perempuan menjadi sosok yang memiliki potensi luar biasa, tidak sebagai obyek pelecehan maupun dianggap kaum lemah, pasrah dan hanya berkewajiban di dapur dan kamar saja.
                Bukan berarti meminta hak lebih diatas laki-laki, namun memiliki hak untuk mengembangkan potensi, tidak lupa dengan peran dan hakikatnya sebagai perempuan sejati. Bukan mengarah pada feminisme namun berkaca pada idealisme dan realisme. Zaman tidak dapat dipungkiri menuntut perempuan mengambil peran aktif bukan penonton dibalik panggung.
                Ladies and education. Karena perempuan adalah ujung tombak pendidikan pertama dalam keluarga. Ditanganya ada masa depan putra-putri bangsa yang merupakan pewaris sah ibu pertiwi dan penerus generasi ke generasi.
                Ladies and career. Karena perempuan zaman sekarang mau tak mau juga harus bisa bekerja dan mereka memiliki cita-cita akan pekerjaan yang diinginkan. Manusia memiliki cita-cita, perempuan adalah manusia sehingga wajar bila perempuan ingin merengkuh cita-citanya.
Ladies and leadership. Karena perempuan juga memiliki  kemampuan untuk memimpin. Kimbal Young mengungkakan hakikat kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong orang lain untuk mengajak berbuat sesuatu; berdasarkan akseptasi/ penerimaan kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus. Sehingga tidak hanya dilihat dari jenis kelamin atau fisik semata.
                Ladies and historis. Perempuan dan hakikatnya. Dimana ketika perempuan mendapat porsi lebih dari kodrat pokoknya maka sekali-kali tidak boleh meninggalkan hakikatnya. Perempuan yang merupakan sosok anggun, baik tindak-tuturnya, bersahaja, keibuan, dan sebagainya.
                Cukup sekian, bila ada salah tulisan, pengungkapan maupun yang lainnya saya ucapkan mohon maaf. Dan bila anda setuju bahwa perempuan memang harus cerdas, cerdas dalam hal pendidikan, cerdas dalam menjalani karir dan cerdas dalam menjadi pemimpin namun tidak lupa pada hakikatnya maka mulailah belajar menjadi seorang "perempuan". Sejak zaman adanya roman hingga sekarang perempuan tak lantas tiba-tiba berhenti dibicarakan. Golongan mereka tetap  menjadi sorotan karena merekalah pendidik generasi masa depan dan PEREMPUAN ADALAH PILAR PERADABAN. Maka  jangan biarkan peradaban ini roboh karena perempuannya yang tidak kokoh.

0 komentar:

Posting Komentar