Sastra, Perempuan dan
Zaman
Masih
ingat cerita “Siti Nurbaya, kasih yang tak sampai?” Saya kira anda lupa, karena
saya pun kadang ingat kadang juga lupa haha.. Jadi Siti Nurbaya adalah ikon
yang paling menonjol dalam karya sastra angkatan balai pustaka. Dimana pada
angkatan tersebut mengangkat masalah-masalah yang menyangkut tentang adat yang
berlaku pada suatu zaman. Orang-orang atau pujangga terdahulu mengkritik atau
menampakkan ketidaksetujuannya terhadap adat dengan menulis karya sastra. Salah
satu pujangga yang mendapat penghargaan dari pemerintah RI karena karyanya yang
fenomenal adalah Marah Rusli penulis
roman “Siti Nurbaya”. Penulis asal padang ini menulis cerita Siti Nurbaya
sebagai kritikan terhadap kasus kawin paksa yang sering menimpa kaum perempuan
pada zaman dahulu.
Karya
sastra yang lagi-lagi mengangkat tokoh perempuan meskipun bukan tokoh sentral
namun memiliki andil tinggi dalam alurnya adalah roman “Salah Asuhan”. Roman
ini menceritakan tentang seorang ibu yang salah mendidik anaknya. Anaknya
benama Hanafi, didikan ibunya adalah sang ibu sangat menginginkan agar anaknya
berpikir modern, berjiwa progresif, terpelajar, terdidik, sehingga sejak kecil
Hanafi dididik kebarat-baratan. Cara mengasuh yang salah membuat Hanafi sombong
dan sering merendahkan orang lain. Roman salah asuhan merupakan kritik kepada
masyarakat Indonesia pada zaman penjajahan dulu yang sering kali bersikap
kebarat-baratan dan lupa daratan. Perempuan adalah sekolah pertama dalam
keluarga. Intelegensi, kecerdasan dan kecermatannya dalam berpikir dan
bertindak ibarat amunusi awal seorang anak manusia yang belum tahu apa-apa
untuk mengembara di dunia selanjutnya.
Sekarang
di zaman dimana roman tak lagi diproduksi namun perempuan tetap menjadi produk
dengan kuantitas diatas laki-laki. Sangat disayangkan bila nasibnya sama dengan
cerita-cerita roman baik Siti Nurbaya maupun Salah Asuhan. Roman memang cerita
fiksi belaka, namun sesungguhnya cerita fiksi pun berangkatnya juga dari
pengalaman nyata.
Semoga saja
sekitar beberapa puluh tahun lagi muncul karya-karya yang mengangkat perempuan
menjadi sosok yang memiliki potensi luar biasa, tidak sebagai obyek pelecehan
maupun dianggap kaum lemah, pasrah dan hanya berkewajiban di dapur dan kamar
saja.
Bukan
berarti meminta hak lebih diatas laki-laki, namun memiliki hak untuk
mengembangkan potensi, tidak lupa dengan peran dan hakikatnya sebagai perempuan
sejati. Bukan mengarah pada feminisme namun berkaca pada idealisme dan
realisme. Zaman tidak dapat dipungkiri menuntut perempuan mengambil peran aktif
bukan penonton dibalik panggung.
Ladies and education. Karena perempuan
adalah ujung tombak pendidikan pertama dalam keluarga. Ditanganya ada masa
depan putra-putri bangsa yang merupakan pewaris sah ibu pertiwi dan penerus
generasi ke generasi.
Ladies and career. Karena perempuan
zaman sekarang mau tak mau juga harus bisa bekerja dan mereka memiliki
cita-cita akan pekerjaan yang diinginkan. Manusia memiliki cita-cita, perempuan
adalah manusia sehingga wajar bila perempuan ingin merengkuh cita-citanya.
Ladies and leadership. Karena perempuan
juga memiliki kemampuan untuk memimpin.
Kimbal Young mengungkakan hakikat kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang
didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong orang lain untuk
mengajak berbuat sesuatu; berdasarkan akseptasi/ penerimaan kelompoknya dan
memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus. Sehingga tidak hanya
dilihat dari jenis kelamin atau fisik semata.
Ladies and historis. Perempuan dan
hakikatnya. Dimana ketika perempuan mendapat porsi lebih dari kodrat pokoknya
maka sekali-kali tidak boleh meninggalkan hakikatnya. Perempuan yang merupakan
sosok anggun, baik tindak-tuturnya, bersahaja, keibuan, dan sebagainya.
Cukup
sekian, bila ada salah tulisan, pengungkapan maupun yang lainnya saya ucapkan
mohon maaf. Dan bila anda setuju bahwa perempuan memang harus cerdas, cerdas
dalam hal pendidikan, cerdas dalam menjalani karir dan cerdas dalam menjadi
pemimpin namun tidak lupa pada hakikatnya maka mulailah belajar menjadi seorang "perempuan". Sejak zaman adanya roman hingga
sekarang perempuan tak lantas tiba-tiba berhenti dibicarakan. Golongan mereka tetap menjadi sorotan karena merekalah pendidik
generasi masa depan dan PEREMPUAN ADALAH PILAR PERADABAN. Maka jangan biarkan peradaban ini roboh karena
perempuannya yang tidak kokoh.








0 komentar:
Posting Komentar