Selasa, 19 September 2017

PUTRA PUTRI LAWU (BAGIAN 1)

Selamat bulan September :D akhirnya ada moment buat nulis lagi hehe. In this time, I will explain to you about my experience. What is it? Yes, to be tourist ambassador of Karanganyar. Keinggris-inggrisannya udahan ya, takut kesleo lidah. Kembali ke bahasa Indonesia yuh. So, eh..jadi kemarin saya dapat kesempatan menjadi finalis duta wisata Kabupaten Karanganyar 2017. I write this just for you, lahh inggris maneh haha.
            Tulisan ini saya buat untuk teman-teman yang mungkin di kesempatan sebelumnya belum lolos, atau punya keinginan untuk jadi “Putra-Putri Lawu” di periode selanjutnya, atau mau ikutan ajang sejenis di daerah kalian masing-masing. Soalnya, kemarin-kemarin pas searching google, sedikit sekali informasi yang bisa saya dapat tentang event ini. Belajar dari pengalaman sih, semoga pengalaman saya yang tak seberapa ini bisa bermanfaat yah untuk teman-teman semua.

Logo Paguyuban Putra Putri Lawu

            Sebenarnya kalau dibilang gak niat sih bukan, tetap niat kok. Hanya saja niat utamanya adalah mengukur dan mengupgrade kualitas diri. Saya tidak mengejar kemenangan, harus juara atau gimana gitu, tidak!. Sudah sampai di tahap top ten bagi saya sudah syukur Alhamdulillah, karena visi saya yang utama adalah mengukur kemampuan diri tadi.  Apa yang saya inginkan sudah tercapai pula, apalagi kalau bukan pengalaman. ya kan? Sulitlah untuk menjelaskan lebih rinci kenapa tiba-tiba bisa bermanuver ke sektor pariwisata (karena banyak teman yang kaget juga haha). Dasarnya saya orang yang ubet, dan suka coba-coba gitu (kecuali buat anak, jangan coba-coba kata caplang). Pas pengumuman top ten saja saya tinggal tidur hehe. Baru ngeh pas dihubungi salah satu finalis juga yang ngucapin selamat dan akhirnya jadi pasangan dinas sampai sekarang. Sumpah, dulu itu antara percaya enggak percaya. Sempat bimbang mau mundur loh L tapi karena saya membawa nama pihak tertentu juga, dengan bismillah saya jalani semuanya.
Photo session top 10

Untuk pihak-pihak yang merasa saya kecewakan, saya mohon maaf sebesar-besarnya ya. Sungguh saya tidak pernah ada niatan untuk membuat kalian kecewa terhadap saya :’. Kemudian, untuk teman-teman yang sudah mendukung secara langsung maupun tidak langsung, saya ucapkan terima kasih sedalam-dalam, seluas-luasnya, dan sebesr-besarnya yah. Semoga kebaikan kalian dibalas sama Allah karena kalian sudah menjadi orang-orang baik di kehidupan saya.
            Oke, selesai sesi curhatnya. Kita mulai bagian inti tentang seleksi duta wisata khususnya wilayah Kabupaten Karanganyar tercinta. Pertama-tama sebelum mendaftar, ada beberapa hal yang perlu disiapkan gais:
Percaya Diri (Behavior)
Bisa dibilang ini adalah fondasi dasar kamu untuk ikut ajang yang seperti ini. Yah, tidak perlu dijelaskan ya kalau yang namanya “duta” harus siap jadi public figure. Akan banyak mata yang melihat, bahkan mengomentari apa yang ada di dalam diri kamu dan apa yang kamu lakukan. Kalau kamu tidak punya percaya diri lebih, takutnya baru dikomen sedikit saja, jiwamu goyah, terus stress, terus down, terus ngambek dan mundur. Padahal banyak hal baru yang akan kamu temukan dengan menjadi seorang “duta.”
      Percaya diri disini bukan berarti harus menganggap diri paling baik ya. Bukan begitu. Percaya diri disini adalah sikap yang mendasari kamu agar lebih tahan banting terhadap hal-hal yang tiba-tiba datang. Contoh kecil dari pengalaman saya kemarin adalah fashion show. Itu pengalaman pertama hehe. Dulu pas kecil sih pernah punya cita-cita jadi model, dan Allah mengabulkannya di usia 23 tahun ini. Alhamdulillah yak. Mungkin bagi orang yang tidak percaya diri, fashion show adalah ujian yang berat. Salah dikit kelihatan, jadi wajib banyak belajar. Saya juga masih harus banyak belajar kok.
     Bicara soal fashion show, ada hal yang membuat saya cukup sedih, bajunya gak pas. Padahal sudah diukur. Yang harusnya saya pakai baju tertutup (karena berjilbab) mau tidak mau harus ganti dengan dress di bawah lutut karena adanya itu. Sebagai catatan untuk kalian, yang namanya fashion show memang mau tidak mau harus memakai baju yang ada. Kita tidak bisa meminta “mau kita” ke desainer, kecuali ada kesepakatan sebelumnya seperti saya tadi (trouble tadi di luar kendali ya). Jadi, buat kamu yang tidak mau ambil resiko, pikir-pikirlah lagi untuk jadi model kalau ideologi berpakaian kamu kaku. Jujur saya terbiasa dengan jilbab agak lebar sebenarnya, tapi mau tidak mau harus berjilbab lilit (seleher) karena fashion show itu. Akhirnya antisipasi yang paling memungkinkan adalah menutupi dada dengan slempang. Buat para muslimah yang tidak berani ambil resiko, jangan coba-coba yah. Biar saya saja yang dapat dosa. Semoga informasi ini bisa menjadi antisipasi kalian.
            Kalau ada yang nyeletuk, kamu kan muslimah, kok kayak gitu sih? Jujur susah sekali menjawabnya. Saya bukan nabi yang harus selalu di jalan kebenaran. Ada kalanya manusia terpleset. Mungkin ini adalah bagian dari ujian hidup yang harus saya hadapi. Tolong sekali, biar saya dan Allah saja yang menilai. Kalau mau berkomentar, silakan kasih solusi/ masukan buat saya, bukan menghakimi. Via japri lebih afdol. Saya siap menerima masukan teman-teman. Ada kalanya iman di atas, ada kalanya iman di bawah. Bagian ini skip ya, bikin nangis soalnya.
Lanjuuttt. Selain percaya diri, perilaku (secara umum) kamu juga harus baik ya. Pelajari bagaimana bersikap dengan orang-orang di sekitar. Bagaimana cara mengungkapkan pendapat, menolak argument, sampai melakukan aktivitas sehari-hari. Intinya adalah kamu harus ngerti apa itu sopan santun dan bagaimana aplikasinya.  
Penampilan (Beauty)
            Penampilan di sini tidak harus cantik, putih, tinggi, berambut panjang atau ganteng, rambut klimis, tinggi, six pack ya. Penampilan dalam hal ini lebih ke iner beauty sih kalau menurut saya. Soalnya, saya juga biasa saja, maksudnya enggak cantik-cantik amat kayak Soong He Kyo atau Min Ah (ngekek parah). Kalau perilaku kamu baik, kecantikan dan kegantengan itu akan terpancar sendiri tanpa kamu harus bilang ke semua warga negara Indonesia kok kalau kamu itu cantik/ ganteng. Kalau penampilan secara fisik, cukup dengan menjaga kebersihan dan kerapian. Coba belajar berpakaian yang baik, artinya jangan sembarangan pakai baju gitu. Jilbab merah, baju hijau, celana biru laut, beehhh..jemuran jalan Mbak/ Mas? Paham ya maksud saya J
Kecerdasan (Brain)
            Jangan coba-coba menjadi duta wisata tanpa belajar. Eh, semua hal ding, tidak hanya duta wisata atau duta-duta lainnya. Belajar adalah tugas kita sebagai manusia hidup. Ilmu pengetahuan berkembang terus cuy, jadi jangan sampai kita diam kalau enggak mau dibilang manusia purba ditengah kemajuan zaman ini. Ada banyak cara untuk belajar. Google sudah menyiapkan semuanya. Kamu bisa mulai dengan membuka situs web remi milik pemerintah kabupatenmu (klik di sini). Download semua informasi yang ada seputar kepariwisataan dan anak cucunya. Dari ajang ini saya merasa tiba-tiba pintar wkwk. Tahu sih tahu, tapi setelah menikmati proses belajar, banyak sekali pengetahuan yang saya dapat. Akhirnya merasa makin bodoh deh. Ternyata banyak hal yang belum saya tahu. Tidak ada ruginya belajar hal baru, suer!
            Buat kamu yang sudah punya kenalan duta wisata periode sebelumnya, bisa tuh di WA. Banyak-banyakin tanya tentang proses/ tahap seleksinya, apa saja yang perlu disiapkan, boleh juga ngasih harapan tapi jangan palsu. Misalnya, “Mas/ Mbak, nanti kalau aku lolos, aku traktir seminggu deh” wkwk. Dijamin Mas/ Mbaknya siap 24 jam balesin WA. *bercanda ding haha

            Gitu dulu yah, ada banyak sebenarnya yang harus dibahas. Untuk detailnya di post selanjutnya insyaallah. Mungkin tulisan selanjutnya lebih ke proses dari seleksi sampai final. Selamat membaca, semoga bermanfaat bagi kalian semua. 

0 komentar:

Posting Komentar