Di penghujung tahun. Kita pernah menyalahkan waktu yang tak memberi izin untuk saling bertemu.Setidaknya untuk berucap “apa kalian sehat? Baik-baik saja kan?” dalam lima detik, berlalu.
Pada akhirnya, jawaban dari kekesalan itu ada di dalam
pekan-pekan tahun baru, 3-5 Januari 2015. Wacana akan tetap menjadi wacana bila
kita tak memiliki tekad untuk merealisasikannya. Right? Yes, I am agree with the quote.
4 April 2014 di nasi bakar, gulon (hasil nyontek diary power
rangers hehe) lahirlah sebuah kesepakatan untuk merancang bulan pelampiasan,
Desember 2014. Bukan pelampiasan setelah hampir satu tahun lamanya banyak
“penundaan”. Heee..bukan penundaan SPP loh ya
-_- itu urusan belakangan. Ini penundaan……..bingung juga nyebutnya heu
heu. Pokoknya penundaan, wis gitu aja.
Seperti di status sebelumnya:
Kalau 5 cm punya Mahameru utk menyatukan kembali keping-keping pejuang yg berserakan, kami punya Magelang yg akan menyimpan kenangan kami bersama gugusan alam dan keajaiban dunianya.
Momilk Manahan pukul 19.15 WIB menjadi medan pertempuran
dalam menghadapi perundingan panjang dan konsolidasi rumit, Jogja cancel, Pacitan cancel, lalu jatuhlah pilihan pada
kota gethuk goreng. Magelang menjadi sasaran liburan di bulan pelampiasan yang mundur beberapa
hari di bulan januari. Tak mengapa, lebih baik mundur daripada hanya menjadi
debu wacana manusia.
Jumat kumpul, sabtu sore esksekusi. Oke, Fine. Memang
begitulah kebiasaan dari dulu. Empat jam naik motor, berkelok, ditemani rintik
hujan dan dinginnya cuaca. Semua itu tak
ada apa-apanya kalau dibanding perjalanan setahun belakangan. Berat. I
know it. Bermalam di magelang, sebelas-duabelas, cuacanya menipu kayak di
Matesih. Mendadak beku pas bangun tidur.
Trip pertama, menemani beberapa teman yang punya mimpi buat
pengurusan badan. Janjinya pas wisuda mau kurus, biar afdol joggingnya naik
turun tangga Borobudhur. Baru dapat setengah, sudah lupa sama janjinya sendiri.
Itu juga kebiasaan, sudah biasa. Akhirnya badan masih segitu-segitu saja.
Dan lihatlah, dirimu (kalian) bagi bunga dimusim semi yang tersenyum. Menatap indahnya dunia yang seiring menyambut jawaban segala gundahmu.-Ada Band “Masih”-
Wajah-wajah yang sudah kembali
seperti semula. Kekusutan yang mendadak hilang
dan aura bahagia yang memancar. I
saw it, yesterday. Kalau Borobudhur punya bibir mesti dia tersenyum juga
melihat kedatangan kita. Pada stupa yang bisu, ku bisikkan sebuah harapan
kekanak-kanankkan: terima kasih, simpanlah kenangan kami ini sampai kamu tak mampu
berdiri lagi. Bila kamu tak kuat dan serasa ingin roboh, sampaikanlah cerita
tentang kami pada langit biru diatasmu. Dia akan membantu menyimpan kenangan
itu. Sampai kapan pun. Sampai langitnya juga runtuh seperti dirimu.
Semakin kesini kita akan semakin paham bahwa yang mahal itu bukan uang, melainkan waktu dalam kebersamaan.
Next trip, sungai Elo, bukan
eh’lo? -_-
Are you know rafting? Saudaraya
arung jeram mungkin, kalau bukan kakaknya ya paling adiknya, atau bahkan
saudaranya. Pengalaman yang tak mungkin aku lupakan. Pertama kali dalam hidup,
menambah coretan 100 mimpi dibuku. Karena belum masuk daftar mimpi, aku
langsung tulis dan langsung aku coret waktu itu juga haha
Takut? Banget. Mungkin kerena
kebiasaan keluarga yang mengatur anak perempuannya untuk selalu anteng. Jadi ya
beginilah, masih terlalu takut dengan yang ekstrem-ekstrem begitu. Komunitasku,
motorku, rumahku, bapak ibu adikku sudah aku titipkan kalau terjadi apa-apa
sama aku. Ehh ternyata Cuma begitu. Aku kira sampai bergulat dengan arus yang
ganas. Aku selamat..yeah. tidak seseram yang aku bayangkan. Memang, sebelum
kita tahklukkan masa depan, kita harus bisa melawan ketakutan didalam diri kita
sendiri dulu. Terima kasih..aku sadar..aku tidak bisa selamanya terkungkung
dalam ketakutan diri. Gara-gara sinetron juga nih -_- pulang nanti, pasti ada
sesi diomeli. Ketika posisi seperti ini, keinginan untuk jadi laki-laki mencul
lagi. Biar tidak terlalu dikhawatirkan, kalau aku laki-laki kan mau ngapain aja
setidaknya bebas dari omelan. Ya, tidak bisa dipungkiri juga sih kalau itu
bukti bapak dan ibu sayang sama aku. Aku si sulung, harus bisa jadi contoh
adik-adikku, aku perempuan yang harus bisa jaga diri sendiri, aku haniah, anak
bapak Tugiyanto dan ibu Ruswanti yang dimasa depan nanti akan membahagiakan
mereka bagaimanapun caranya (yang jelas halal). Aaaa..mendadak homesick :’(
Dari banyaknya
kisah yang sudah terlukis dihidup ini, semua berarti. Yang ini, yang itu, dan
semuanya member pengalaman berbeda. Seperti kalian, siapapun kalian, kalian
tetap berharga.
Tak ada Zafran, yang pandai merangkai sajak dan percaya dengan kekuatan cinta. Tak ada Arial yang berpostur layaknya pahlawan di medan perang. Tak ada Ian yang punya kutukan combo dan gak lulus-lulus kuliahnya karena kebanyakan indomie. Tak ada Riani yang paling cantik seakan-akan bidadari jatuh dari langit kemudian turun ke bumi untuk minta kuah indomie. Tak ada Genta si penguasa impian yang hanya akan memandang ke satu arah untuk waktu yang sangat lama. Hanya kalian, teman yang apa adanya (semoga).
Pada
gunung-gunung yang seolah melambaikan tangan pada kami yang hendak pulang. Aku
bisikkan kembali sebuah harapan:
aku titipkan kenangan ini bersama kalian. Jagalah sampai waktu yang tak bisa ditentukan. Berikan aku kesempatan untuk menyapamu dan membuka kenangan itu dilain waktu. Entah kapan, entah bersama siapa, entah sedang apa, lalu ingatkan aku waktu-waktu itu.
Terakhir, lagu hadiah sekaligus penutup dan
ucapan terima kasihku. Lagu ini pemberian seseorang yang jelas tidak akan pernah
kita lupa sosoknya, ia bisa menjadi ayah, kakak, sekaligus teman untuk kita.
Tebaklah sendiri orangnya.. download or play this song and listen it. Untuk
kalian semua, yang sudah membantu melukis di kanvas hidup ini.
Terima kasih kawan teman baikkuKau membuatku senang membuat ceriaSahabat, paling sejati. Selalu……Persahabatan kita kisah klasikkuSahabat, paling sejati. Selalu…Syalala aku genbira..Syalala slalu tertawa..Syalala aku bahagia..Syalala bersama…Jatuh bangun bersama selama iniSuka duka bersama selama iniSahabat, paling sejati selalu….Song by: Gigi “Sahabat”







0 komentar:
Posting Komentar