Kamis, 08 Januari 2015

Kutitipkan Kenangan Bersamamu



Di penghujung  tahun. Kita pernah menyalahkan waktu yang tak memberi  izin untuk saling bertemu.Setidaknya untuk berucap “apa kalian sehat? Baik-baik saja kan?” dalam lima detik, berlalu.
Pada akhirnya, jawaban dari kekesalan itu ada di dalam pekan-pekan tahun baru, 3-5 Januari 2015. Wacana akan tetap menjadi wacana bila kita tak memiliki tekad untuk merealisasikannya. Right? Yes, I am agree with the quote.
4 April 2014 di nasi bakar, gulon (hasil nyontek diary power rangers hehe) lahirlah sebuah kesepakatan untuk merancang bulan pelampiasan, Desember 2014. Bukan pelampiasan setelah hampir satu tahun lamanya banyak “penundaan”. Heee..bukan penundaan SPP loh ya  -_- itu urusan belakangan. Ini penundaan……..bingung juga nyebutnya heu heu. Pokoknya penundaan, wis gitu aja.
Seperti di status sebelumnya:  
 Kalau 5 cm punya Mahameru utk menyatukan kembali keping-keping pejuang yg berserakan, kami punya Magelang yg akan menyimpan kenangan kami bersama gugusan alam dan keajaiban dunianya.

Momilk Manahan pukul 19.15 WIB menjadi medan pertempuran dalam menghadapi perundingan panjang dan konsolidasi rumit, Jogja cancel,  Pacitan cancel, lalu jatuhlah pilihan pada kota gethuk goreng. Magelang menjadi sasaran liburan  di bulan pelampiasan yang mundur beberapa hari di bulan januari. Tak mengapa, lebih baik mundur daripada hanya menjadi debu wacana manusia.
Jumat kumpul, sabtu sore esksekusi. Oke, Fine. Memang begitulah kebiasaan dari dulu. Empat jam naik motor, berkelok, ditemani rintik hujan dan dinginnya cuaca. Semua itu tak  ada apa-apanya kalau dibanding perjalanan setahun belakangan. Berat. I know it. Bermalam di magelang, sebelas-duabelas, cuacanya menipu kayak di Matesih. Mendadak beku pas bangun tidur.
Trip pertama, menemani beberapa teman yang punya mimpi buat pengurusan badan. Janjinya pas wisuda mau kurus, biar afdol joggingnya naik turun tangga Borobudhur. Baru dapat setengah, sudah lupa sama janjinya sendiri. Itu juga kebiasaan, sudah biasa. Akhirnya badan masih segitu-segitu saja.

Dan lihatlah, dirimu (kalian) bagi bunga dimusim semi yang tersenyum. Menatap indahnya dunia yang seiring menyambut jawaban segala gundahmu.
-Ada Band “Masih”-

Wajah-wajah yang sudah kembali seperti semula. Kekusutan yang mendadak hilang  dan aura  bahagia yang memancar. I saw it, yesterday. Kalau Borobudhur punya bibir mesti dia tersenyum juga melihat kedatangan kita. Pada stupa yang bisu, ku bisikkan sebuah harapan kekanak-kanankkan: terima kasih, simpanlah kenangan kami ini sampai kamu tak mampu berdiri lagi. Bila kamu tak kuat dan serasa ingin roboh, sampaikanlah cerita tentang kami pada langit biru diatasmu. Dia akan membantu menyimpan kenangan itu. Sampai kapan pun. Sampai langitnya juga runtuh seperti dirimu.

Semakin kesini kita akan semakin paham bahwa yang mahal itu bukan uang, melainkan waktu dalam kebersamaan.

Next trip, sungai Elo, bukan eh’lo? -_-
Are you know rafting? Saudaraya arung jeram mungkin, kalau bukan kakaknya ya paling adiknya, atau bahkan saudaranya. Pengalaman yang tak mungkin aku lupakan. Pertama kali dalam hidup, menambah coretan 100 mimpi dibuku. Karena belum masuk daftar mimpi, aku langsung tulis dan langsung aku coret waktu itu juga haha
Takut? Banget. Mungkin kerena kebiasaan keluarga yang mengatur anak perempuannya untuk selalu anteng. Jadi ya beginilah, masih terlalu takut dengan yang ekstrem-ekstrem begitu. Komunitasku, motorku, rumahku, bapak ibu adikku sudah aku titipkan kalau terjadi apa-apa sama aku. Ehh ternyata Cuma begitu. Aku kira sampai bergulat dengan arus yang ganas. Aku selamat..yeah. tidak seseram yang aku bayangkan. Memang, sebelum kita tahklukkan masa depan, kita harus bisa melawan ketakutan didalam diri kita sendiri dulu. Terima kasih..aku sadar..aku tidak bisa selamanya terkungkung dalam ketakutan diri. Gara-gara sinetron juga nih -_- pulang nanti, pasti ada sesi diomeli. Ketika posisi seperti ini, keinginan untuk jadi laki-laki mencul lagi. Biar tidak terlalu dikhawatirkan, kalau aku laki-laki kan mau ngapain aja setidaknya bebas dari omelan. Ya, tidak bisa dipungkiri juga sih kalau itu bukti bapak dan ibu sayang sama aku. Aku si sulung, harus bisa jadi contoh adik-adikku, aku perempuan yang harus bisa jaga diri sendiri, aku haniah, anak bapak Tugiyanto dan ibu Ruswanti yang dimasa depan nanti akan membahagiakan mereka bagaimanapun caranya (yang jelas halal). Aaaa..mendadak homesick :’(
Dari banyaknya kisah yang sudah terlukis dihidup ini, semua berarti. Yang ini, yang itu, dan semuanya member pengalaman berbeda. Seperti kalian, siapapun kalian, kalian tetap berharga. 

Tak ada Zafran, yang pandai merangkai sajak dan percaya dengan kekuatan cinta. Tak ada Arial yang berpostur layaknya pahlawan di medan perang. Tak ada Ian yang punya kutukan combo dan gak lulus-lulus kuliahnya karena kebanyakan indomie. Tak ada Riani yang paling cantik seakan-akan bidadari jatuh dari langit kemudian turun ke bumi untuk minta kuah indomie. Tak ada Genta si penguasa impian yang hanya akan  memandang ke satu arah untuk waktu yang sangat lama. Hanya kalian, teman yang apa adanya (semoga).

Pada gunung-gunung yang seolah melambaikan tangan pada kami yang hendak pulang. Aku bisikkan kembali sebuah harapan:

 aku titipkan kenangan ini bersama kalian. Jagalah sampai waktu yang tak bisa ditentukan. Berikan aku kesempatan untuk menyapamu dan membuka kenangan itu dilain waktu. Entah kapan, entah bersama siapa, entah sedang apa, lalu ingatkan aku waktu-waktu itu.

 Terakhir, lagu hadiah sekaligus penutup dan ucapan terima kasihku. Lagu ini pemberian seseorang yang jelas tidak akan pernah kita lupa sosoknya, ia bisa menjadi ayah, kakak, sekaligus teman untuk kita. Tebaklah sendiri orangnya.. download or play this song and listen it. Untuk kalian semua, yang sudah membantu melukis di kanvas hidup ini.

Terima kasih kawan teman baikku
Kau membuatku senang membuat ceria
Sahabat, paling sejati. Selalu……
Persahabatan kita kisah klasikku
Sahabat, paling sejati. Selalu…
Syalala aku genbira..
Syalala slalu tertawa..
Syalala aku bahagia..
Syalala bersama…
Jatuh bangun bersama selama ini
Suka duka bersama selama ini
Sahabat, paling sejati selalu….
Song by: Gigi “Sahabat”









0 komentar:

Posting Komentar