Selasa, 20 Januari 2015

Yudhistira



Bumi gonjang-ganjing..trekk..trekk..trekk..
Ya, sekilas Aku dengar suara Ki Bagus, Dalang yang namaya termansyur di desaku Matesih, kabupaten Karangnyar. Dengan cekatan tangannya mengoyang-goyangkan bilah-bilah wayang yang aku sendiri tak hapal siapa saja nama tokohnya. Sorot lampu dari balik kain putih menjadi hiasan yang maha dahsyat bagai panggung heboh sekelas grup band peterpen. Ki bagus mulai mengambil satu lagi wayang dengan tangannya, kali ini pilihannya jatuh pada wayang bernama Yudhistira.  Komat-kamit mulut si Dalang merangkai cerita laksana kereta pada jalur terbaiknya, lancar, runtut, dan mulus. Dari kisahnya si wayang Yudhistira, aku terpana, aku tergoda, aku terbayang sosok Yudhistira pada dunia nyata.
Cah Ayu, ayo pulang dulu. Wis bengi nduk”, teriak Ibu dari tribun penonton paling belakang. Seperti induk ayam mencari anaknya, dia terobos kerumunan penonton lain, maju tanpa ada yang bisa menghalangi, menarik anak perawannya pulang ke kandang. “Ahh..Ibu ini, mengganggu khayalku saja”, batinku sambil memoncongkan bibir.
“iya Ibu, iya, Vita juga mau pulang ini, ndak usah diteriaki begitu, Vita malu”.
“halah, kowe iki, ayo gek ndang bali mulih, wis sore cah ayu”
Tangan lembut Ibu menarik tanganku. Mengandeng aku pulang dan meninggalkan Ki Bagus, Dalang idaman. Tentu juga meninggalkan khayalku tentang Yudhistira, sosok lelaki yang pendiam, adil, sabar, jujur dan pasrah, namun sayang seribu sayang hanya wayang, iya wa-ya-ng. 

***
Tumpukan kertas menggunung tak karuan di atas meja belajar. Disampingnya laptop menyala, menampakkan gelembung-gelembung yang bertebaran di layar, pertanda beberapa saat tak disentuh penggunanya. Itu pekerjaanku ketika hari senin sampai jumat, mengerjakan laporan dan tugas kuliah yang kadang membuat muka ini tampak seperti kertas berjalan. Muka pucat karena begadang semalaman.  
“Vit, kamu pulang ke rumah hari ini?,” Tanya Kak Tria, kakak kos yang selama ini setia menunggu oleh-olehku dari rumah.
“iya mbak, Novita pulang nanti agak sorean, biar gak kepanasan dijalan,” timpalku.
            Motor supra melaju dengan kencangnya. Menerobos para pengendara yang lambat menggelindingkan roda. Asap jalanan mengepul, membuat tenggorokan serasa tercekat dan hidung tak ingin menhirup kotoran-kotoran terbang. Entah apa yang dipikirkan para penunggu angkot, penumpang bis atau peminta-minta yang sibuk melirik kesini dan kesana. Yang jelas, di dalam pikiranku adalah kepulan aroma masakan Ibu tercinta, telur ceplok ditambah irisan bawang merah aduhai rasanya. Satu lagi, Ki Bagus, Dalang desa itu juga ada di kepalaku. Tak sabar rasanya ingin melanjutkan kisah Yudhistira, wayang idola, pujaan jiwa.
Ciiittttt…
Jantung seakan jadi ballerina. Lompat-lompat, naik-turun. Ujung-ujung jari bergetar, hasil antara kaku dan kaget. Di depan motorku seorang Bapak Tua mau di ciumnya. Oh Tuhan, ini peringatan darimu agar aku tak membayangkan hal-hal itu, telur ceplok butan ibu dan wayang itu. “Ma..ma..maaf pak, saya tidak lihat tadi”, aku terbata mengucap. Kami berdua minggir ke kanan jalan. Rasa bersalah yang tak mau hilang membuatku tergerak untuk mengantarkan Pak Tua itu pulang.
Ndak usah, saya bisa pulang sendiri”, katanya pelan dengan nada khas laki-laki lanjut usia.
“Tapi pak, apa tidak apa-apa? Kalau begitu ini saya ada sedikit rezeki untuk naik angkot pulang,” ucapku seraya merogoh saku dan menyelipkan uang dua puluh ribu ke telapak tangan Pak Tua.
“apa ini? saya bukan pengemis mbak”.
Aku terlonjak. Bingung mau aku taruh mana muka yang terlanjur malu dan merah padam. “Sukur Vit, mampus lu, salah orang”, muncul suara dari dalam hati.
***
Weekend kembali menyapa setelah beberapa hari bertarung di penatnya dunia perkuliahan. Bayang-bayang telur ceplok melingkar-lingkar diatas kepala, sudah saatnya aku menjemputnya di meja makan rumah tercinta.
            Menikmati kelokan demi kelokan jalan raya dengan jalur yang tak pernah berubah membuatku jenuh menatap. Satu-satunya hiburan yang bisa mengobati adalah membayangkan hal-hal yang bisa membuatku bahagia, apalagi kalau buka telur ceplok dan kisahnya Yudhistira. Tiba di kelokan terakhir, ingatanku mengarah pada sosok Pak Tua yang dulu aku kira pengemis dan hampir tertabrak oleh motorku. Aku amati lebih teliti, sosok itu masih ada, hanya saja kini ia duduk di pinggir jalan raya.
Minggu berikutnya ketika aku perjalanan pulang menuju rumah dia tetap ada. Dan lagi, minggu ke empat setelah pertemuanku dengannya ia masih ada. Minggu kelima aku benar-benar dibuat penasaran olehnya. Minggu ke enam menjelang, hati ini mengatakan, temui dia. Beberapa minggu ini bayangan telur ceplok dan wayang yudhistira tergantikan oleh sosok Pak Tua. Dikelokan terakhir aku berhenti. Mengamati setiap sosok yang lalu lalang dan mencari sosok yang biasanya duduk sendirian.
“Permisi Bu, Pak Tua yang biasanya duduk disini ada dimana ya?”, tanyaku pada seorang Ibu penjual kembang eceran.
“Oh, Pak Dahlan ya mbak? Kurang tahu, biasanya jam segini sudah nangkring disitu sih mbak, tunggu saja. Lah mbak ini siapanya?”
            Aku tak menjawab, hanya senyum-senyum saja ketika ditanyai. Lamat-lamat sosok Pak Tua itu muncul dari seberang jalan, aku mengucap permisi dan ngacir pergi menghampirinya. “Pak, masih ingat dengan saya? Yang tempo hari hampir menabrak bapak?”. Pak Tua itu diam kemudian berujar “Iya”. Ahh.. jawaban yang tak di harapkan, satu kata dan tak berarti banyak. Pembicaraan hari itu hanya sebatas kata ya dan tidak. Baiklah, aku memaklumi perilakunya, siapa aku yang tiba-tiba datang dan seperti polisi  mau mengintrogasi. Tentu saja dia hanya menjawab sekenanya.
***
            Strategi kedua aku rancang karena rasa penasaranku sudah memuncak. Aku nekat ngintil dari belakang ketika Pak Dahlan berjalan pergi. Ternyata dia benar-benar pulang, bukan ke rumah seperti yang aku bayangkan, namun pulang ke sebuah bangunan yang bertuliskan panti jompo “Sari Asih”. Rasa penasaranku terjawab, baru beberapa, belum semuanya. Aku beranikan diri masuk lebih dalam, ke dalam panti jompo dan ke dalam kehidupan Pak Dahlan.

***
“Permisi Bu, saya Novita dari Universitas X ingin mengadakan penelitian kecil-kecilan di panti jompo ini, apakah di perbolehkan?”, kataku bohong. Dalam hati aku memohon ampun kepada Tuhan agar kelakuanku ini diampuni-Nya.
            “Silahkan mbak, saya senang-senang saja kalau ada yang mau penelitian disini,” kata Ibu penjaga Panti. Pembicaraan serius itu dimulai. Semuanya terungkap seperti mendung yang bergeser menyibak mentari. Pak Dahlan yang selama ini aku temukan duduk di pinggir jalan itu ternyata benar salah satu penghuni panti. Kepenatannya dia obati dengan duduk menikmati udara jalan raya dan melihat orang-orang berkendara. Aku diajak berkeliling mengitari panti jompo, orang-orang tua duduk melamun di depan kamar tanda kesepian. Hanya beberapa yang aku lihat sedang mengobrol atau sedang sibuk bersama perawat yang ada di panti itu.
            “Bu, apa tidak kasihan melihat mereka kesepian seperti ini?”, tanyaku pada Ibu penjaga panti.
            “Kalau ditanya begitu saya pun kasihan mbak, tapi kalau harus diajak keluar panti kami yang kesulitan. Perawat disini hanya beberapa, kalau pun ingin di ajak pergi ke suatu tempat yang bisa kami kunjungi pun tak ada”.
            “Seandainya saya yang membawa tempat itu kesini gimana, Bu?”
            “Ha..Maksud mbak Novita?”
Aku jelaskan panjang lebar rencanaku membawa suatu hiburan bagi para orang lansia ini. Sepi yang mengelayut dalam jiwa mereka harus segera diobati. Bila tidak dapat membawa mereka keluar untuk mencari hiburan maka membawa hiburan itu masuk kesini adalah solusinya.
***
            “Tolonglah pak, saya harap bapak mengerti kondisi mereka”. Rengekku pada Ki Bagus.
            “Ehh nduk, aku ngerti. Masalahnya bapak jadi dalang juga butuh penghasilan. Emang kamu yang tinggal minta orang tua. Lihat tuh anak saya butuh makan, sekolah, apalagi ini mau lebaran. Jasa dalang sudah mulai di tinggalkan, orang-orang pada sukanya dangdut oplosan. Sudah, kamu cari orang lain saja,” jelas Dalang desa itu mrengut. Ia menolak tawaranku untuk manggung di panti karena alasan ekonomi. Aku pulang dengan tangan hampa tanpa hasil. Celengan satu-satunya yang aku miliki sudah ludes untuk membeli handphone baru bulan lalu karena yang lama sudah tak bisa di pakai lagi. Uang dari mana untuk bisa membawa dalang itu ke panti jompo. Aku tak memiliki relasi lain selain Ki Bagus.
            “Kenapa to nduk? Katanya mau ke rumah pak dalang?”.
            “Sudah Bu, nihil. Beliau tidak mau karena Vita maunya gratisan”.
Aku mulai putus asa. Terngiang-ngiang janjiku pada Ibu penjaga. Kalau sampai aku gagal, betapa banyak dosa yang harus aku tanggung. Sudah berbohong ingkar pula. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali bohong, dua tiga dosa mengikuti. Ini tidak lucu.
            “Bu, kalau cincin dan kalung Vita digadaikan saja bagaimana? Vita ikhlas, toh itu jarang dipakai,” ujarku memelas pada ibu.
            “Kamu yakin? Itu warisan eyang buyutmu loh”. Berat. Berat sekali rasanya dihadapkan pada dua pilihan ini.
Pagi-pagi ketika ayam jago sudah berhenti berkokok. Jam di dinding tak berhenti berdetak. Jarumnya mengarah pada pukul 08.04 WIB. Dengan cincin dan kalung warisan di genggaman, jalanku menuju pegadaian.
Di depan meja registrasi. Hatiku berat namun tekadku kuat. Emas ini tak sebanding dengan kebahagiaan puluhan lansia yang ada di panti jompo itu. Senyum mereka mahal, bahagia mereka tak ada yang jual. Cincin dan kalung kini berpindah tangan, selamat tinggal. Kalau pun bisa di tebus, mungkin aku harus berpikir dua kali untuk mencari uang pengganti.
Uang tiga ratus ribu itu aku bawa ke rumah Pak Dalang. Berharap hatinya terbuka dan mau menerima tawaran manggung di panti jompo. “Ini pak, saya ada sedikit uang. Vita harap Pak Dalang berkenan menerimanya dan mau manggung disana”.
            “Tiga ratus ya, baiklah. Kamu mau saya cerita tentang apa?”
Tak usah berpikir lama, mulutku mengatakan jawaban atas pertanyaannya. “Ceritakan tentang wayang Yudhistira yang tempo hari pernah Ki Bagus ceritakan di acara balai desa, itu bagus Ki”.
Siang itu juga berbagai persiapan dilakukan di panti jompo. Ada yang menata kursi, mencari batang pohon pisang, memasang lampu dan beberapa perlengkapan pewayangan lainnya. Lansia-lansia sempat bingung, baru kali ini gedung bertembok tinggi itu riuh dengan orang –orang baru. Biasanya hanya tampak beberapa orang yang tengah menjenguk nenek, kakek atau saudaranya yang tinggal di panti jompo.
Yudhistira kembali berlaga. Kisahnya tak jua membuat aku jenuh karenanya. Tak hanya aku, para lansia itu tersenyum bahagia di tengah riuhnya panggung sandiwara. Aku bahagia melihat tawa yang tak aku temukan ketika pertama kali aku memasuki gedung ini. Ibarat warna, abu-abu yang tadinya menyelimuti setiap petak wilayah ini berubah menjadi warna-warni karena pementasan Ki Dalang yang cakap dan piawai. Tak rugi aku korbankan warisan eyang.
Malam menjadi saksi bisu sebuah perhelatan. Ia tak diam. Sorot kerlap-kerlip bintang menjadi hiasan yang mahal dan tak bisa dibeli.  Waktu menunjukkan pukul dua belas kurang seperempat, sang Yudhistira telah kembali pada dunianya. Ki bagus lantas bersiap-siap pulang, membereskan barang-barang dan memasukkannya ke kotak perlengkapan. Wayang-wayangnya adalah harta yang tak ternilai, dari situ peseran uang ia dapat untuk menghidupi anak istrinya di rumah. Dengan lembut ia tata para wayang di dalam kotak khusus agar terjaga kualitasnya. “ Ki, terima kasih atas pementasannya tadi. Entah kenapa Vita selalu terpukau dengan tampilan wayang Ki Bagus,” sapaku pada Ki Dalang yang tengan membereskan wayang.
“Iya, nduk. Jadilah seperti Yudhistira, tirulah wataknya yang sabar, jujur, adil, dan pasrah dalam menghadapi hidup. Teruslah berbuat kebaikan seperti yang kamu lakukan saat ini, saya percaya bahwa kebaikannmu pasti ada balasan setimpalnya dari Yang Maha Kuasa.”
Pak Dalang itu tiba-tiba menjadi begitu berbeda. Tadi pagi aku lihat Ki Bagus yang mata duitan dan tidak pedulian, namun kini berubah menjadi dalang yang begitu bijaksana tindak tanduknya. Mungkin uang hanyalah menjadi alasan baginya. Agar terus hidup dan terus menyebarkan ilmu kepada manusia melalui panggung dan wayangnya.  Seperti saat ini, dengan uang tiga ratus ribu ia ajarkan karakter Yudhistira yang tak bisa aku lupa.
Waktu yang larut membuatku memutuskan untuk tidur semalam di panti jompo. Pertama kalinya aku merebahkan diri bersama para lansia yang menyimpan banyak kisah di masa mudanya. Sebelum tidur aku berniat untuk mencuci tangan dan kaki ke kamar mandi. Sendiri aku susuri lorong demi lorong hingga langkahku berhenti pada sosok yang tak asing. Sumber dari rasa penasaranku sampai saat ini, Pak dahlan.
“Permisi Pak Dahlan, kenapa belum tidur, ini sudah malam sekali, wayangnya juga sudah selesai,” sapaku. Pak Dahlan menoleh, tersenyum tipis menatapku.
“Kemarilah anakku,” tanganya mengisyaratkan aku untuk duduk tepat disamping duduknya. Aku manut.
“Dulu bapak pernah seumuran kamu, hari-hari bapak habiskan untuk bersenang-senang dan balapan di jalan. Skripsi yang harusnya bapak selesaikan bapak tinggal begitu saja karena tak mau susah. Pada akhirnya bapak hanya dibuang keluarga karena kehadiran bapak menambah beban mereka. Mungkin jika dahulu bapak benar-benar memanfaatkan masa muda, bapak bisa jadi pegawai negeri, bukan hidup seperti ini”.
Aku melongo. Melihat sosok yang dahulu hampir aku tambrak raganya itu adalah mantan pembalap. Mungkin karena itu, untuk melepas kepenatannya di dalam panti jompo ia habiskan waktu duduk di pinggir jalan menikmati manusia lalu lalang dengan kendaraan.
“Terima kasih ya nduk, wayangnya bagus sekali tadi,” katanya lagi.
“Iya pak Dahlan, sama-sama,” jawabku singkat. Aku pamit pergi karena rasa kantuk sudah benar-benar akut menjalari.
Diatas dipan kutatap langit-langit kamar. Betapa menyedihkan para orang tua yang hidupnya di kubangan. Terisolir dalam ruangan dan sanak saudara pun jauh tak bisa jumpa. Mereka bukan orang buangan. Mereka seonggok daging bernyawa yang terkadang kurang perhatian dan kasih sayang dari sekitarnya. Sulit memang, mengurus mereka layaknya mengurus balita. Kini ketika hidup hanya tinggal menunggu mati, mereka tak pantas disakiti. Perumpamaan kereta yang mau berjalan, sudah sepantasnya diisi dengan penumpang yang sesuai tujuan supaya ketika kereta itu berangkat tak ada kesia-siaan. Ketika para lansia itu tengah menunggu hari-hari terakhirnya, maka isi dengan hiruk pikuk bahagia bukan nestapa dengan kurungan duka. “kesambet apa aku ini tiba-tiba jadi filosofis begini”, batinku sambil ketawa ketiwi. Selimut aku sibakkan. Dinginnya ruangan mulai menjalar.
Ada rasa bahagia, ada raga puas dan ada rasa bangga. Aku kembali pulang. Siap menjalani aktivitasku sebagai mahasiswa seperti semula. Beberapa waktu ini pikiranku terkoyak terus oleh sosok tua yang aku kira peminta-minta. Sekarang sudah lega. Semua sudah terjawab.
 Pintu jati ruang tamu aku sibak, mengucap salam dan melangkah pasti menuju meja makan. Perut ini keroncongan karena sejak kemarin siang sesuap nasi tak sempat aku masukkan. Bau telor ceplok bawang merah ibu sudah menari-nari dihidungku. Ketika aku buka kurungan makanan, ada benda yang tak asing dimataku. Menyilaukan. Cincin dan kalung warisan itu kembali. Membawa semua kenangan masa lalu bersama eyang. Ada secarik kertas disampingnya, aku baca: Ini dari Ibumu tercinta untuk anak perawan yang begitu mengidolakan Yudhistira. Aku meringis, malu-malu pada Ibu. “Sejak kapan ibu tahu?”, tanyaku.






0 komentar:

Posting Komentar