Makalah
ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Psikolinguistik
Dosen
pengampu:
Prof.
Dr. Andayani, M. Pd.
Disusun
oleh:
Haniah
K1212035
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Bahasa
adalah suatu obyek yang perkembangannya tidak dapat dihentikan. Bahasa
merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupan
(Legowo, 2009: 23). Bahasa juga sebuah nikmat Tuhan yang hanya dimiliki manusia
sejak bayi hingga mati. Siapa sangka pemerolehan bahasa tidak hanya menunggu
seorang bayi tumbuh dewasa dan bisa berkata-kata, namun bayi yang belum bisa
mengucapkan satu huruf saja sebenarnya sudah melakukan aktivitas berbahasa.
Fakta tersebut diperkuat oleh Prof. Dr. H. A.
Syukur Ghazali, M. Pd dalam pidato pengukuhan guru besarnya pada 12 Desember
2012. Beliau menjelaskan: Setidak-tidaknya ada tiga fakta tentang belajar
bahasa yang tidak bisa kita tolak kebenarannya,
Pertama. semua anak
bayi yang dilahirkan normal akan menguasai bahasa
yang dipergunakan oleh
lingkungannya. Ini terjadi tanpa
melihat di mana
bayi itu dilahirkan,
siapa yang melahirkan, bagaimana
ia dilahirkan. Kenyataan
ini terjadi secara universal, sehingga hal tersebut
menolak anggapan bahwa bahasa adalah warisan
sosial. Pemerolehan bahasa
ini tumbuh secara
bertahap, yaitu mulai dari
penguasaan bunyi-bunyi prabahasa, kemudian muncul 'kalimat satu kata' (one
word sentence). Selanjutnya
muncul 'kalimat dua
kata', kalimat sederhana, dan
kemudian kalimat-kalimat yang strukturnya
lebih kompleks.
Fakta kedua
adalah bahwa waktu yang
dipergunakan oleh seorang anak untuk menguasai kaidah bahasa
yang sangat kompleks terjadi pada waktu
yang relatif singkat
dan sangat menakjubkan,
karena peristiwa belajar bahasa
itu seakan-akan dialami oleh anak tanpa kesulitan apa pun. Fakta Iain
yang membuat peneliti
perkembangan bahasa anak tercengang adalah
kemampuan anak menyimpulkan
kaidah, membuat kategorisasi
kata, memilah morfem-morfem penanda kala, jenis kelamin-jumlah, dan
sebagainya. Pada hal,
dalam kenyataan, kita melihat
bahwa masukan bahasa (input)
yang diterima oleh
anak ketika anak
belajar bahasa sangatlah bervariasi.
Di dalam masukan
bahasa itu pun
tidak pernah ada pemilahan bahwa
ini kalimat yang salah dan ini
kalimat yang betul menurut kaidah, ini
kalimat yang diucapkan
tidak secara lengkap karena penuturnya menganggap hal
itu tidak perlu
diungkapkan secara lengkap. Namun,
fakta menyatakan bahwa
urutan pemerolehan bahasa pada
tahap awal seakan-akan
ditetapkan waktunya. Ketiga fakta
tersebut tentu menjadi salah satu sumber
belajar yang mengusik penulis untuk
mengetahui fenomena pemerolehan bahasa apa saja yang terjadi pada usia
anak-anak.
Penting
juga mengetahui jenis atau ragam pemerolehan bahasa. Banyaknya jenis atau tipe,
beragamnya umur, latar belakang dan faktor-faktor lain tentu membuat fenomena
pemerolehan bahasa semakin berkembang. Dengan
mengetahui jenisnya maka aka nada kemudahan untuk menganalisis lebih lanjut.
B.
RUMUSAN
MASALAH
a. Bagaimana
ragam pemerolehan bahasa itu?
b. Bagaimana
fenomena pemerolehan bahasa pada anak-anak?
C.
MANFAAT
PENULISAN
a. Mengetahui
ragam pemerolehan bahasa
b. Mengetahui
fenomena pemerolehan bahasa pada anak-anak
BAB
II
KAJIAN
TEORI
A.
PENGERTIAN
PEMEROLEHAN BAHASA
Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah proses
manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap,
menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Kapasitas
ini melibatkan berbagai kemampuan seperti sintaksis, fonetik, dan kosakata yang luas. Bahasa yang diperoleh bisa berupa vokal seperti
pada bahasa lisan atau manual seperti pada bahasa
isyarat. Pemerolehan
bahasa biasanya merujuk pada pemerolehan bahasa pertama yang mengkaji
pemerolehan anak terhadap bahasa
ibu mereka dan bukan pemerolehan bahasa kedua yang mengkaji pemerolehan bahasa tambahan
oleh anak-anak atau orang dewasa (Wikipedia.org).
Mengenai pemerolehan bahasa ini terdapat beberapa pengertian. Pengertian
yang satu mengatakan bahwa pemerolehan bahasa mempunyai suatu permulaan yang tiba-tiba,
mendadak. Kemerdekaan bahasa mulai sekitar usia satu tahun di saat anak-anak
mulai menggunakan kata-kata lepas atau kata-kata terpisah dari sandi linguistik
untuk mencapai tujuan sosial mereka. Pengertian lain mengatakan bahwa
pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari
prestasi-prestasi kognitif pra-linguistik.
Chaer (2003: 167) menjelaskam
bahwa pemerolehan bahasa merupakan proses yang berlangsung didalam otak
seseorang kanak-kanan ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa
ibunya dengan cara meniru ucapan-ucapan yang didengarnya. Dengan demikian anak
tersebut meniru ucapan-ucapan yang ia dengar melalui rangsanagan dan tanggapan
yang dilalui panca inderanya maka seorang anak akan mencapai tahap kemampuan menghasilkan
bahasa seperti model-model bahasa orang dewasa yang ia dengar.
Proses anak
mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan
pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa pertama (B1) anak terjadi bila anak yang
sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa
pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada
bentuk bahasanya. Maksudnya adalah dalam mengutarakan sesuatu berfungsi untuk
menyampaikan maksud atau keinginan tertentu. Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan memiliki ciri kesinambungan,
memiliki suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana
menuju gabungan kata yang lebih rumit. (Yogatama, 2011: 69)
Maryati, dkk (2011: 4) mengutip pendapat Tarigan
(1998) yang menjelaskan Pemerolehan
bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan
tuturan secara spontan, dan kemampuan untuk memahami tuturan orang lain. Jika
dikaitkan dengan hal tersebut, maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa
adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman ataupun
pengungkapan secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal.
Fromkin dan Rodman (dalam Yogatama, 2011: 69)
menyebutkan ada beberapa hal yang dilakukan dan tidak dilakukan seorang anak
ketika belajar atau memperoleh bahasa:
1.
Anak
tidak belajar bahasa dengan cara menyimpan semua kata dan kalimat dalam sebuah
kamus mental raksasa. Daftar kata-kata itu terbatas, tetapi tidak ada kamus
yang bisa mencakup semua kalimat yang idak terbatas jumlahnya.
2.
Anak-anak
dapat belajar menyusun kalimat, kebanyakan berupa kalimat yang belum pernah
mereka hasilkan sebelumnya.
3.
Anak-anak
belajar memahami kalimat yang belum pernah mereka dengar.
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
RAGAM
PEMEROLEHAN BAHASA
Pemerolehan bahasa diklasifikasikan kedalam berbagai
jenis. Maryati, dkk (2011: 10) mengambil
banyak sumber untuk menjelaskan ragam tersebut. Ragam atau jenis pemerolehan
bahasa dapat kita tinjau dari berbagai sudut pandang, yaitu :
1. Berdasarkan
bentuk
Ditinjau
dari segi bentuk, ragam pemerolehan bahasa anak meliputi :
a. Pemerolehan
bahasa pertama atau first language acquisition
b. Pemerolehan
bahasa kedua atau second language acquisition
c. Pemerolehan
berulang-ulang atau re-acquestion (klein, 1986 ; 3)
2. Berdasarkan
urutan
Ditinjau
dari segi urutan, ragam pemerolehan anak meliputi :
a. Pemerolehan
bahasa pertama atau first language acquisition
b. Pemerolehan
bahasa kedua atau secong language acquisition (Winitiz, 1981 ;
Stevens, 1984)
3. Berdasarkan
jumlah
Ditinjau
dari segi jumlah, ragam pemerolehan anak meliputi :
a. Pemerolehan
satu bahasa atau monolingual acquestion
b. Pemerolehan
dua bahasa atau bilingual acquestion ( Gracia, 1983).
4. Berdasarkan media
Ditinjau
dari segi media, ragam pemerolehan anak meliputi :
a. Pemerolehan
lisan atau oral language acquestion
b. Pemerolehan
bahasa tulis atau written language acquestion (Freedman, 1985)
5. Berdasarkan
keaslian
Ditinjau
dari segi keaslian atau keasingan, ragam pemerolehan anak meliputi :
a. Pemerolehan
bahasa asli atau native language acquestion
b. Pemerolehan
bahasa asing atau foreign language acquestion (Winitz, 1981)
B.
PEMEROLEHAN
BAHASA PADA ANAK-ANAK
Banyak
fenomena pemerolehan bahasa yang bisa ditemukan pada anak-anak. Macam-macam
fenomena yang terjadi tergantung pada tingkatan umur anak-anak. Berikut ini
hasil pembahasannya:
Pemerolehan
bahasa tidak hanya berbentuk ujaran, namun juga bisa berbentuk isyarat. Bayi
yang belum bisa mengeja huruf maupun melafalkan kata cenderung melakukan
fenomena dibawah ini sebagai salah satu kegiatan pemerolehan bahasa pada
masanya.
|
Isyarat
|
Artinya
|
|
·
Mengeluarkan makanan dari mulut
·
Mendorong putting susu dari mulut
dengan lidah
·
Menolehkan kepala dari putting
susu
|
Kenyang
atau tidak lapar
|
|
·
Mencabik (pout)
|
Tidak
senang
|
|
·
Mendorong benda jauh-jauh
|
Tidak
menginginkannya
|
|
·
Menjangkau benda
|
Ingin
memilikinya
|
|
·
Menjangkau seseorang
·
Tersenyum dan mengacungkan jari
|
Ingin
ditimang atau digendong
|
|
·
Mengecapkan bibir atau
mengeluarkan lidah
|
Lapar
|
|
Bersin berlebihan
Bergeliat
|
Dingin
|
|
Bergeliat, meronta dan menangis
selama berpakaian dan mandi
|
Tidak
suka adanya pembatasan kegiatan
|
Beralih
ke anak-anak dengan usia yang lebih tinggi. Berikut ini hasil sebuah
penelitian dalam suatu kelompok mengenai
pemerolehan bahasa pada anak usia 3-5 tahun.
Anak usia
3 tahun memperoleh
jumlah kosakata lebih sedikit
dari anak usia
4 tahun dan
5 tahun, sedangkan
anak usia 4 tahun memperoleh jumlah kosakata lebih
banyak dari anak usia 5 tahun, namun disini selisih yang diperoleh anak usia 4
tahun dan 5 tahun tidak terlalu jauh, rata-rata anak usia 4
tahun dan 5
tahun telah memperoleh
1000 kosakata lebih.
Dengan adanya perbedaan individual dalam jumlah pemerolehan kosakata mungkin terjadi. Semakin bertambahnya usia memang membuat
pemerolehan kosakata seorang
anak akan semakin bertambah.
Namun, tetapi karena
masing-masing anak mempunyai karakteristik dan
keunikan tersendiri dari
pribadinya yang membuat
adanya perbedaan individual jumlah
kosakata yang diperoleh
seorang anak dari
usia 3 – 5
tahun. Dengan demikian dapat diketahui bahwa anak-anak memiliki karakteristik
dan keunikan tersendiri dari
pribadinya. Selain itu
jenis kata terbanyak
yang diperoleh anak usia 3 – 5 tahun
tidak mempunyai perbandingan yang
terlalu menonjol karena rata-rata anak usia 3 – 5 tahun menguasai jenis kata benda yang menduduki urutan pertama.
Kemudia kata kerja, kata sifat, dan kata lainnya.
Ada
pula fenomena pemerolehan bahasa yang ditinjau dari perkembangan pra sekolah
dan masa sekolah. Anak-anak prasekolah berupaya mengumpulkan nama-nama benda
dan orang didunia namun hanya satu kata. Kemudian seiring bertambahnya umur
mereka dapat menguasai beberapa kata sekaligus. Pada masa ini anak-anak mulai dapat
menjawab pertanyaan sederhana dengan jawaban “ya”, “tidak”, jawaban yang
menuntut informasi. Anak-anak mulai menciptakan lambang bunyi dan menggabungkan
kalimat, klausa dan lain sebagainya. Pada perkembangan masa sekolah pertumbuhan
sistem semantik dan sintaksis anak terus berkembang diiringi pengalaman yang
semakin luas. Pada masa ini anak-anak mulai mengenal struktur dan kemampuan
metalinguistik yang teus berkembang.
Selain
fenomena positif, anak-anak juga mengalami masa pemerolehan bahsa yang mengarah
pada perilaku negative atau disebut penyampaian yang tidak sosial. Pertama
adalah melebih-lebihkan, hal ini terjadi pada anak usia 5 dan 7 tahun, merea
berada pada posisi imajinasi yang melebihi penalaran. Secara sadar maupun tidak
sadar mereka mengungkapkan hal-hal yang berlebihan. Kedua yakni membual, bualan
paling banyak dilakukan pada anak usia 8-12 tahun. Hal ini terjadi karena pada
umur itu mereka mengalami kecemasan terhadap kedudukan di dalam kelompok
bermain. Ketiga adalah sebutan, umumnya terjadi pada bagian akhir masa
anak-anak. Sebutan yang digunakan cenderung negatif, seperti bloon atau gendut
agar nilai penting anak lain turun sedangkan keunggulan yang mereka miliki
terlihat. Keempat yakni komentar hinaan. Anak-anak mulai mengeluarkan komentar
hinaan dari usia 3 tahun untuk memaksa ego, menyalurkan perasaan, tersinggung,
memberitahu pendapatnya tentang oramg lain.
BAB
IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Kesimpulan
pertama yang langsung terlihat adalah pemerolehan bahasa diklasifikasikan
menjadi beberapa jenis sesuai dengan hal yang mendasari. Hal ini akan
mempermudah para peneliti atau pengembang bahasa selanjutnya untuk
mengembangkan penelitian tersebut.
Kesimpulan
kedua yang dapat diambil adalah pemerolehan bahasa tidak hanya dapat
dicerminkan melalui ujaran berupa kalimat saja namun juga syarat seperti yang
terjadi pada bayi. Kemudian untuk anak-anak usia prasekolah dan usia sekolah
sudah mulai berbahasa dengan baik. Berikut ini beberapa fenomena pemerolah
bahasa pada anak-anak:
· Anak
sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal
· Anak
sudah mamou membandingkan, missal besar dan kecil
· Anak
banyak bertanya, baik tentang benda , nama, tempat, dimana dan darimana
· Anak-anak
sudah banyak menggunakan kata-kata yang berawalan dan berakhiran
B.
SARAN
Banyak
penelitian mengenai pemerolehan bahasa pada anak-anak. Hal tersebut dapat
dijadikan referensi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan terutama yang
berkaitan dengan fenomena kebahasaan yang salah satunya adalah pemerolehan
bahasa.
DAFTAR PUSTAKA
Azizah, Fathia Noor. Tanpa tahun. Pemerolehan Kosakata Anak Usia 3-5 Tahun di
PAUD Kelompok Bermain Inklusif Anak Ceria Universitas Airlangga.
Skriptorium, Vol. 1, No. 3
Yogatama, Adiprana. 2011. Pemerolehan Bahasa pada Anak Usia 3 Tahun
Ditinjau dari Sudut Pandang Morfosintaksis. Jurnal LENSA, Vol. 1, No. 1
Hurlock,
Elizabeth B. 1991. Perkembangan Anak
Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Chaer,
Abdul. 2003. Psikolingiuistik: Kajian Teoritik. Jakarta: PT Rineka Cipta
Ghazali, Syukur. 2012. Mewujudkan Pemerolehan Bahasa dalam
Pembelajaran di dalam Kelas. Pidato pengukuhan guru besar Universitas
Negeri malang. 12 Desember 2012
Legowo,
Edi, dkk. 2009. Perkembangan Peserta
Didik. Surakarta: Yuma Pustaka







0 komentar:
Posting Komentar