Sabtu, 17 Januari 2015

Fenomena Pemerolehan Bahasa pada Anak-anak



Makalah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Psikolinguistik


Dosen pengampu:
Prof. Dr. Andayani, M. Pd.

Disusun oleh:
Haniah
K1212035

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Bahasa adalah suatu obyek yang perkembangannya tidak dapat dihentikan. Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupan (Legowo, 2009: 23). Bahasa juga sebuah nikmat Tuhan yang hanya dimiliki manusia sejak bayi hingga mati. Siapa sangka pemerolehan bahasa tidak hanya menunggu seorang bayi tumbuh dewasa dan bisa berkata-kata, namun bayi yang belum bisa mengucapkan satu huruf saja sebenarnya sudah melakukan aktivitas berbahasa.
 Fakta tersebut diperkuat oleh Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali, M. Pd dalam pidato pengukuhan guru besarnya pada 12 Desember 2012. Beliau menjelaskan: Setidak-tidaknya ada tiga fakta tentang belajar bahasa yang tidak bisa kita  tolak  kebenarannya,  Pertama.  semua  anak  bayi  yang  dilahirkan normal  akan menguasai  bahasa  yang  dipergunakan  oleh  lingkungannya. Ini  terjadi  tanpa  melihat  di  mana  bayi  itu  dilahirkan,  siapa  yang melahirkan,  bagaimana  ia  dilahirkan.  Kenyataan  ini  terjadi  secara universal, sehingga hal tersebut menolak anggapan bahwa bahasa adalah warisan  sosial.  Pemerolehan  bahasa  ini  tumbuh  secara  bertahap,  yaitu mulai dari penguasaan bunyi-bunyi prabahasa, kemudian muncul 'kalimat satu  kata'  (one  word  sentence).  Selanjutnya  muncul  'kalimat  dua  kata', kalimat sederhana, dan kemudian kalimat-kalimat yang strukturnya  lebih kompleks.
Fakta  kedua  adalah  bahwa waktu  yang  dipergunakan  oleh  seorang anak untuk menguasai kaidah bahasa yang sangat kompleks terjadi pada waktu  yang  relatif  singkat  dan  sangat  menakjubkan,  karena  peristiwa belajar bahasa itu seakan-akan dialami oleh anak tanpa kesulitan apa pun. Fakta  Iain  yang  membuat  peneliti  perkembangan  bahasa  anak tercengang  adalah  kemampuan  anak  menyimpulkan  kaidah,  membuat kategorisasi kata, memilah morfem-morfem penanda kala, jenis kelamin-jumlah,  dan  sebagainya.  Pada  hal,  dalam  kenyataan,  kita melihat  bahwa masukan  bahasa  (input)  yang  diterima  oleh  anak  ketika  anak  belajar bahasa  sangatlah  bervariasi.  Di  dalam  masukan  bahasa  itu  pun  tidak pernah ada pemilahan bahwa  ini kalimat yang salah dan  ini kalimat yang betul menurut  kaidah,  ini  kalimat  yang  diucapkan  tidak  secara  lengkap karena  penuturnya menganggap  hal  itu  tidak  perlu  diungkapkan  secara lengkap.  Namun,  fakta  menyatakan  bahwa  urutan  pemerolehan  bahasa pada  tahap  awal  seakan-akan  ditetapkan  waktunya. Ketiga fakta tersebut tentu menjadi  salah satu sumber belajar yang  mengusik penulis untuk mengetahui fenomena pemerolehan bahasa apa saja yang terjadi pada usia anak-anak.
Penting juga mengetahui jenis atau ragam pemerolehan bahasa. Banyaknya jenis atau tipe, beragamnya umur, latar belakang dan faktor-faktor lain tentu membuat fenomena pemerolehan bahasa semakin berkembang.  Dengan mengetahui jenisnya maka aka nada kemudahan untuk menganalisis lebih lanjut.

B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Bagaimana ragam pemerolehan bahasa itu?
b.      Bagaimana fenomena pemerolehan bahasa pada anak-anak?

C.    MANFAAT PENULISAN
a.       Mengetahui ragam pemerolehan bahasa
b.      Mengetahui fenomena pemerolehan bahasa pada anak-anak



BAB II
KAJIAN TEORI

A.    PENGERTIAN PEMEROLEHAN BAHASA
Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Kapasitas ini melibatkan berbagai kemampuan seperti sintaksis, fonetik, dan kosakata yang luas. Bahasa yang diperoleh bisa berupa vokal seperti pada bahasa lisan atau manual seperti pada bahasa isyarat. Pemerolehan bahasa biasanya merujuk pada pemerolehan bahasa pertama yang mengkaji pemerolehan anak terhadap bahasa ibu mereka dan bukan pemerolehan bahasa kedua yang mengkaji pemerolehan bahasa tambahan oleh anak-anak atau orang dewasa (Wikipedia.org).
Mengenai pemerolehan bahasa ini terdapat beberapa pengertian. Pengertian yang satu mengatakan bahwa pemerolehan bahasa mempunyai suatu permulaan yang tiba-tiba, mendadak. Kemerdekaan bahasa mulai sekitar usia satu tahun di saat anak-anak mulai menggunakan kata-kata lepas atau kata-kata terpisah dari sandi linguistik untuk mencapai tujuan sosial mereka. Pengertian lain mengatakan bahwa pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi kognitif pra-linguistik.

Chaer (2003: 167) menjelaskam bahwa pemerolehan bahasa merupakan proses yang berlangsung didalam otak seseorang kanak-kanan ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya dengan cara meniru ucapan-ucapan yang didengarnya. Dengan demikian anak tersebut meniru ucapan-ucapan yang ia dengar melalui rangsanagan dan tanggapan yang dilalui panca inderanya maka seorang anak akan mencapai tahap kemampuan menghasilkan bahasa seperti model-model bahasa orang dewasa yang ia dengar.
Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa pertama (B1) anak terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Maksudnya adalah dalam mengutarakan sesuatu berfungsi untuk menyampaikan maksud atau keinginan tertentu. Pemerolehan bahasa anak-anak  dapat dikatakan memiliki ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit. (Yogatama, 2011: 69)
Maryati, dkk (2011: 4) mengutip pendapat Tarigan (1998) yang menjelaskan  Pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan, dan kemampuan untuk memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan dengan hal tersebut, maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman ataupun pengungkapan secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal.
Fromkin dan Rodman (dalam Yogatama, 2011: 69) menyebutkan ada beberapa hal yang dilakukan dan tidak dilakukan seorang anak ketika belajar atau memperoleh bahasa:
1.      Anak tidak belajar bahasa dengan cara menyimpan semua kata dan kalimat dalam sebuah kamus mental raksasa. Daftar kata-kata itu terbatas, tetapi tidak ada kamus yang bisa mencakup semua kalimat yang idak terbatas jumlahnya.
2.      Anak-anak dapat belajar menyusun kalimat, kebanyakan berupa kalimat yang belum pernah mereka hasilkan sebelumnya.
3.      Anak-anak belajar memahami kalimat yang belum pernah mereka dengar.




BAB III
PEMBAHASAN

A.    RAGAM PEMEROLEHAN BAHASA
Pemerolehan bahasa diklasifikasikan kedalam berbagai jenis. Maryati, dkk (2011: 10)  mengambil banyak sumber untuk menjelaskan ragam tersebut. Ragam atau jenis pemerolehan bahasa dapat kita tinjau dari berbagai sudut pandang, yaitu :
1.      Berdasarkan bentuk
Ditinjau dari segi bentuk, ragam pemerolehan bahasa anak meliputi :
a.       Pemerolehan bahasa pertama atau  first language acquisition 
b.      Pemerolehan bahasa kedua atau  second language acquisition
c.       Pemerolehan berulang-ulang atau  re-acquestion (klein, 1986 ; 3)
2.      Berdasarkan urutan
Ditinjau dari segi urutan, ragam pemerolehan anak meliputi :
a.       Pemerolehan bahasa pertama atau  first language acquisition
b.      Pemerolehan bahasa kedua atau  secong language acquisition (Winitiz, 1981 ; Stevens, 1984)
3.      Berdasarkan jumlah
Ditinjau dari segi jumlah, ragam pemerolehan anak meliputi :
a.       Pemerolehan satu bahasa atau monolingual acquestion
b.      Pemerolehan dua bahasa atau  bilingual acquestion ( Gracia, 1983).
4.      Berdasarkan media
Ditinjau dari segi media, ragam pemerolehan anak meliputi :
a.       Pemerolehan lisan atau oral language acquestion
b.      Pemerolehan bahasa tulis atau  written language acquestion (Freedman, 1985)
5.      Berdasarkan keaslian
Ditinjau dari segi keaslian atau keasingan, ragam pemerolehan anak meliputi :
a.       Pemerolehan bahasa asli atau native language acquestion
b.      Pemerolehan bahasa asing atau  foreign language acquestion (Winitz, 1981)


B.     PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK-ANAK
Banyak fenomena pemerolehan bahasa yang bisa ditemukan pada anak-anak. Macam-macam fenomena yang terjadi tergantung pada tingkatan umur anak-anak. Berikut ini hasil pembahasannya:
Pemerolehan bahasa tidak hanya berbentuk ujaran, namun juga bisa berbentuk isyarat. Bayi yang belum bisa mengeja huruf maupun melafalkan kata cenderung melakukan fenomena dibawah ini sebagai salah satu kegiatan pemerolehan bahasa pada masanya.

Isyarat
Artinya
·         Mengeluarkan makanan dari mulut
·         Mendorong putting susu dari mulut dengan lidah
·         Menolehkan kepala dari putting susu
Kenyang atau tidak lapar
·         Mencabik (pout)
Tidak senang
·         Mendorong benda jauh-jauh
Tidak menginginkannya
·         Menjangkau benda
Ingin memilikinya
·         Menjangkau seseorang
·         Tersenyum dan mengacungkan jari
Ingin ditimang atau digendong
·         Mengecapkan bibir atau mengeluarkan lidah
Lapar
        Bersin berlebihan
       Bergeliat
Dingin
         Bergeliat, meronta dan menangis selama berpakaian dan mandi
Tidak suka adanya pembatasan kegiatan

Beralih ke anak-anak dengan usia yang lebih tinggi. Berikut ini hasil sebuah penelitian  dalam suatu kelompok mengenai pemerolehan bahasa pada anak usia 3-5 tahun.
Anak  usia  3  tahun  memperoleh  jumlah kosakata  lebih  sedikit  dari  anak  usia  4  tahun  dan  5  tahun,  sedangkan  anak  usia  4 tahun memperoleh jumlah kosakata lebih banyak dari anak usia 5 tahun, namun disini selisih yang diperoleh anak usia 4 tahun dan 5 tahun tidak terlalu jauh, rata-rata anak usia  4  tahun  dan  5  tahun  telah  memperoleh  1000  kosakata  lebih.  Dengan  adanya perbedaan  individual dalam  jumlah pemerolehan kosakata mungkin  terjadi. Semakin bertambahnya  usia  memang  membuat  pemerolehan  kosakata  seorang  anak  akan semakin  bertambah.  Namun,  tetapi  karena  masing-masing  anak  mempunyai karakteristik  dan  keunikan  tersendiri  dari  pribadinya  yang  membuat  adanya perbedaan  individual  jumlah  kosakata  yang  diperoleh  seorang  anak  dari  usia  3    5 tahun. Dengan demikian dapat diketahui bahwa anak-anak memiliki karakteristik dan keunikan  tersendiri  dari  pribadinya.  Selain  itu  jenis  kata  terbanyak  yang  diperoleh anak usia 3 – 5  tahun  tidak mempunyai perbandingan yang  terlalu menonjol karena rata-rata anak usia 3 – 5  tahun menguasai  jenis kata benda yang menduduki urutan pertama. Kemudia kata kerja, kata sifat, dan kata lainnya.
Ada pula fenomena pemerolehan bahasa yang ditinjau dari perkembangan pra sekolah dan masa sekolah. Anak-anak prasekolah berupaya mengumpulkan nama-nama benda dan orang didunia namun hanya satu kata. Kemudian seiring bertambahnya umur mereka dapat menguasai beberapa kata sekaligus. Pada masa ini anak-anak mulai dapat menjawab pertanyaan sederhana dengan jawaban “ya”, “tidak”, jawaban yang menuntut informasi. Anak-anak mulai menciptakan lambang bunyi dan menggabungkan kalimat, klausa dan lain sebagainya. Pada perkembangan masa sekolah pertumbuhan sistem semantik dan sintaksis anak terus berkembang diiringi pengalaman yang semakin luas. Pada masa ini anak-anak mulai mengenal struktur dan kemampuan metalinguistik yang teus berkembang.
Selain fenomena positif, anak-anak juga mengalami masa pemerolehan bahsa yang mengarah pada perilaku negative atau disebut penyampaian yang tidak sosial. Pertama adalah melebih-lebihkan, hal ini terjadi pada anak usia 5 dan 7 tahun, merea berada pada posisi imajinasi yang melebihi penalaran. Secara sadar maupun tidak sadar mereka mengungkapkan hal-hal yang berlebihan. Kedua yakni membual, bualan paling banyak dilakukan pada anak usia 8-12 tahun. Hal ini terjadi karena pada umur itu mereka mengalami kecemasan terhadap kedudukan di dalam kelompok bermain. Ketiga adalah sebutan, umumnya terjadi pada bagian akhir masa anak-anak. Sebutan yang digunakan cenderung negatif, seperti bloon atau gendut agar nilai penting anak lain turun sedangkan keunggulan yang mereka miliki terlihat. Keempat yakni komentar hinaan. Anak-anak mulai mengeluarkan komentar hinaan dari usia 3 tahun untuk memaksa ego, menyalurkan perasaan, tersinggung, memberitahu pendapatnya tentang oramg lain.

 

BAB IV
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Kesimpulan pertama yang langsung terlihat adalah pemerolehan bahasa diklasifikasikan menjadi beberapa jenis sesuai dengan hal yang mendasari. Hal ini akan mempermudah para peneliti atau pengembang bahasa selanjutnya untuk mengembangkan penelitian tersebut.
Kesimpulan kedua yang dapat diambil adalah pemerolehan bahasa tidak hanya dapat dicerminkan melalui ujaran berupa kalimat saja namun juga syarat seperti yang terjadi pada bayi. Kemudian untuk anak-anak usia prasekolah dan usia sekolah sudah mulai berbahasa dengan baik. Berikut ini beberapa fenomena pemerolah bahasa pada anak-anak:
·       Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal
·       Anak sudah mamou membandingkan, missal besar dan kecil
·      Anak banyak bertanya, baik tentang benda , nama, tempat, dimana dan darimana
·      Anak-anak sudah banyak menggunakan kata-kata yang berawalan dan berakhiran

B.     SARAN
Banyak penelitian mengenai pemerolehan bahasa pada anak-anak. Hal tersebut dapat dijadikan referensi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan fenomena kebahasaan yang salah satunya adalah pemerolehan bahasa.





DAFTAR PUSTAKA
Azizah, Fathia Noor. Tanpa tahun. Pemerolehan Kosakata Anak Usia 3-5 Tahun di PAUD Kelompok Bermain Inklusif Anak Ceria Universitas Airlangga. Skriptorium, Vol. 1, No. 3
Yogatama, Adiprana. 2011. Pemerolehan Bahasa pada Anak Usia 3 Tahun Ditinjau dari Sudut Pandang Morfosintaksis. Jurnal LENSA, Vol. 1, No. 1
Hurlock, Elizabeth B. 1991. Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Chaer, Abdul. 2003. Psikolingiuistik: Kajian Teoritik. Jakarta: PT Rineka Cipta
Ghazali, Syukur. 2012. Mewujudkan Pemerolehan Bahasa dalam Pembelajaran di dalam Kelas. Pidato pengukuhan guru besar Universitas Negeri malang. 12 Desember 2012
Legowo, Edi, dkk. 2009. Perkembangan Peserta Didik. Surakarta: Yuma Pustaka
            www.wikipedia.org. diakses pada 20 November 2014 pukul 05.00 WIB


0 komentar:

Posting Komentar