Jumat, 27 Desember 2013

Sebuah Monolog Hidup

                                                               Kamu Tahu?

Ketika tiba-tiba air matamu jatuh tanpa kau tahu alasannya, apa kamu tahu kenapa?
Ketika  perasaanmu tiba-tiba perih dan sekujur tubuhmu panas melihat hal yang tak kau sukai, kamu tahu itu kenapa?
Dan ketika tanganmu mengepal kuat tanpa aba-aba ingin menonjok wajahnya, kamu tahu itu kenapa?
Ya, aku tak tahu itu kenapa, maka dari itu aku bertanya. Aku bertanya dan berharap dirimu yang banyak  janji itu bisa memberi jawaban yang jelas dan tuntas untuk segala pertanyaan yang aku lontarkan hanya padamu.
Kamu tahu? sakit hati ini, ketika janji yang kamu ucapkan ternyata kamu sendiri yang mengingkari. Kamu tahu? Ketika sosokmu tak ada, aku mati-matian mencari pengganti pundak yang bisa sejenak aku sandari. Namun ternyata, tak ada. Ya! Tak ada yang bisa memposisikan pundaknya senyaman pundakmu yang selama ini menjadi tempat bernaungnya kesedihanku.
Kamu tahu? Ketika ketiadaanmu  aku berusaha mengisi kekosongan yang kamu tinggalkan. Kamu tahu? Kamu tahu itu telah aku lakukan? dan ketika kamu datang tak kau tanyakan sama sekali keadaanku saat kau pergi pada waktu itu.
Kamu tahu? Ketika posisimu terjepit oleh masalah yang menikammu dari segala penjuru aku yang tak pernah sekalipun menjatuhkan perasaanmu. Kamu tahu? Tahu? Aku satu-satunya orang yang membangun semangatmu meski aku tahu itu adalah murni kesalahanmu.
Kamu tahu? Ketika batin ini terkadang merasa tak mampu lagi menahan sesak yang tanpa sadar telah kau hinggapkan padaku dan sudah mencapai ambang batas hidupku. Kamu tahu? Bila ada panci, kursi, meja, batu, atau pisau ingin rasanya aku menikammu. Namun, apa kamu tahu? Ketika aku melihat wajahmu aku pun tak jadi menghajarmu dengan amarahku. Kamu tahu? Kamu tahu kenapa itu?
Kamu tahu? Disaat orang-orang disekitarmu meluncurkan kata-kata pedas terhadapmu, aku yang menjadi tameng itu dari telingamu. Aku yang merasakan pahitnya cacian, pedasnya makian dan sakitnya hujatan yang sebenarnya itu ditujukan padamu.
Kamu tahu? Kata-kata indah yang membuatmu salah paham itu sebenarnya aku tujukan hanya untukmu. Apa kamu tahu? Tahu? Hah..! jawab pertanyaanku! Apa kamu tahu itu?
Kamu tahu? Karena aku tahu temanku sendiri mengejarmu, aku rela menjauh secara perlahan.
Kamu tahu? Dibalik pintu aku menangis sendu meratapi nasibku.
Lalu ketika aku menyatakan akan pergi meninggalkanmu, kenapa mulutmu diam bagai bisu.
Dan sampai sekarang pun aku tak tahu jawabannya. Jawaban darimu maupun jawaban dari diriku. 
_MONOLOG_

0 komentar:

Posting Komentar