Minggu, 29 Desember 2013

Pemuda, Sosok Pengubah Dunia (Seharusnya)


Dimana arus darah mengalir dengan derasnya, itu pemuda.

Dimana pemikiran masih dalam idealismenya, itu pemuda.
Dimana semangatnya menggebu luar biasa, itu pemuda.
Dan dimana itu pemuda, kamulah orangnya.
We are young. Kita adalah pemuda. Ketika setiap manusia membanggakan status kepemudaannya, berarti itulah pertanda bahwa ia sadar bahwa dirinya pemuda. Sekarung potensi yang dimiliki seorang pemuda seharusnya membuat Indonesia bangga karena memiliki cadangan penerus bangsa yang melimpah. Usia yang produktif akan melandasi terciptanya inovasi-inovasi yang luar biasa. Keadaan fisik yang baik membuat para pemuda pantang untuk diam tanpa gerak karena tubuhnya yang kuat akan menjadi lemah ketika ia tak melakukan apa-apa. Kemampuan teknologi yang tinggi membuatnya bisa segaris dengan perkembangan zaman yang tak akan mampu kita hentikan laju teknologinya. Sikap yang terbuka membuat semua pemikiran yang luar biasa dari lain kepala dapat diolah menjadi suatu pemikiran ekstra yang mampu mengubah dunia pada waktunya.

Ya, itulah pemuda (seharusnya). Namun sayang seribu sayang, fakta bersiul riang dengan kenyataan. 40 % dari 200.000.000 jumlah pengangguran didunia merupakan pemuda. International Labour Organization (ILO) menyatakannya dengan angka 75.000.000 juta pemuda adalah pengangguran.
Then, how about your country? Indonesia, ibu pertiwi yang kita cinta. International Labour Organization (ILO) mengungkapkan bahwa 50 % pengangguran di Indonesia adalah pemuda. Jangan kaget dahulu, masih ada fakta yang mencengangkan dari itu. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapepenas) menohok kita dengan datanya yang berbunyi Indonesia merupakan Negara nomor satu dengan jumlah pengangguran muda tertinggi di Asia Pasifik.
Maraknya pemuda pengangguran disebabkan oleh banyak hal. Ketidaksinkronnya pendidikan terdahulu dengan perkembangan zaman yang melesat adalah salah satu sebabnya. Dimana kebebasan berekspresi dan pengembangan skill yang dirasa sangat kurang ditanamkan pada diri siswa-siswanya dahulu harus menantang zaman yang membutuhkan kemampuan komunikasi, leadership dan banyak lagi tuntutannya. Masih ingat dengan pembelajaran terdahulu?  Kita hanya diberikan materi dengan kondisi pembelajaran yang satu arah dan monoton. Guru menjadi center atau pusat pembelajaran kemudian  siswa menjadi objeknya. Pengupasan teori itu penting, namun alangkah baiknya ada implementasi langsung meskipun sederhana namun memberikan pemahaman ekstra melalui pengalaman. Pengalamanlah yang akan membentuk skill dan dengan skill pengalaman akan semakin berkembang lagi.  Bukan permasalahan tidak ada sarana dan prasarana dilingkungan pendidikan. Tapi bagaimana bisa menciptakan sarana dan prasarana itu didepan kita, tidak melulu mengemis harta pada orang-orang berdasi diatas sana. Guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, bukan pengemis minta dana atau sarana dan prasarana.
Kenapa skill? Karena Skill dan pengalaman yang tinggilah yang dibutuhkan dunia kerja (O’Higgins: 2001). Foundation skill atau kemampuan dasar seperti kemampuan membaca, menulis dan mengerti teks sangatlah kurang dalam keberjalanan pendidikan dizaman global. Dibutuhkan skil-skil penunjang yang akan melengkapi kekurangannya. Transferable skill adalah kemampuan untuk menganalisa masalah, menemukan solusi, mengkomunikasikan ide dan informasi secara efektif, kreatif, kemampuan memimpin dan mendemonstrasikan kemampuan enterpreuner. Setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, dan pada saatnya nanti semuanya akan mempunyai kesempatan untuk memimpin. Seorang pemimpin tidak hanya pandai berdeklamasi namun sudah sangat jelas bahwa pemimpin adalah pemutus sebuah kebijakan, mengeksekusi solusi dan menentukan jalan yang akan diambil. Technical skill tidak kalah penting, dimana setiap manusia sebaiknya mempunyai kemampuan memahami dan mengaplikasikan kenapa sesuatu ada dan bagaimana menanggapinya.
Ketiga skill tersebut idealnya dimiliki para pemuda, tapi pada kenyataannya mungkin baru sepersekian persen yang sudah mengembangkannya. UNESCO atau suatu badan pendidikan internasional milik PBB menyatakan bahwa pendidikan masih menyentuh ranah foundation skill saja.
Terus apakah kita harus menyalahkan perubahan zaman yang melesat cepat. Tidak! Rasa malas telah merasuk pada kepribadian pemuda, itulah masalahnya. Senang dengan hal-hal yang serba instan dan praktis, padahal ke-praktisan itulah yang mengurangi pembelajaran proses. Proses yang seharusnya memberikan pengalaman harus terpotong demi sikap minta enak pada pemuda. Proses yang mereka jalani untuk menuju suatu tujuan tidak lengkap, dicuri oleh makluk yang bernama malas dan kepraktisan. 

Kamu pemuda, kamu pengubah dunia (Seharusnya). Sudah tidak zaman lagi kalau hanya duduk berkutat dengan buku dan buku. Seimbangkan! Diluar sana banyak ilmu tanpa harus membaca buku. Skill harus ada dalam pemuda karena masa depan menantang itu semua. Memang bukan pekerjaan orientasi kita, tapi apa kita bisa hidup tanpa kerja? Tidak. Mau jadi pengangguran? Mau jadi beban Negara? Mau jadi gunjingan dikeluarga karena katanya sarjana tapi kerjanya nongkrong didepan rumah saja?
Kita adalah pemuda dan yakinlah dengan semangat kita, kita mampu mengubah dunia Dengan ilmu yang seimbang (Skill dan teori) kita membangun dunia. Dengan malas kita mengiamatkan dunia. Bukan dengan menjadi presiden Amerika atau Negara super power yang lainnya, tapi dari hal yang ada di sekitar kita. Perubahan itu berawal dari hal-hal kecil dan sederhana. Semangat menuntut ilmu, menyebarkannya dan implementasinya.

0 komentar:

Posting Komentar