Selasa, 14 Januari 2014

Belajar Mencintai Apa yang Sudah Diberi


 “Sekeras apapun kita mencapai sebuah impian, meski Tuhan melarang, namun kerja kerasnya tak akan menguap sia-sia” _Haniah_

Jogjakarta, 8-10 Januari 2014
Mengawali liburan semester tiga menuju semester genap sebagai mahasiswa Universitas Sebelas Surakarta bagiku adalah sebuah kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan. Alhasil, inilah waktu untuk melancong ke kota pelajar. Yey..kota yang dulu pernah menjadi impianku untuk menuntut ilmu disalah satu perguruan tinggi negeri yang namanya tak asing lagi ditelinga anak-anak kelas 3 SMA. Namun, Tuhan punya rencana lain, dan rencananya memang sungguh luar biasa.

Dalam Al-qur’an surat ar-rahman, sangat ditekankan hingga berulang kali, “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”. Tak satupun makhluk yang bisa menyalahkan Tuhan. Rencananya kadang menyakitkan diawal namun membahagiaakan diakhir adegan. Dan kini, jawaban atas kesedihan itu muncul sepotong demi sepotong mengobati hati yang luka karenanya.

Singkat cerita kini bangku kuliah yang aku duduki adalah Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Awalnya aku menganggap hidup ini tak adil, dimana awalnya aku berlimpah pujian tapi kemudian terjerembab dalam pahitnya kenyataan. SNMPTN Undangan yang dulu masih hangat-hangat tahi ayam dicanangkan membuat aku sadar bahwa perjuangan itu diperlukan, tidak ada yang serba instan seperti kebiasaan mengubah nilai rapor yang kini ramai diperbincangkan. Kalau soal mark up nilai begitu aku tak ambil pusing dan tak mau sombong, karena dari kelas 1 SMA Alhamdulillah nilaiku lumayan diatas rata-rata.

Bagai meminum racun berbungkus susu, manis kelihatannya namun pahit kenyataannya. Manis karena aku masuk golongan siswa yang punya kesempatan mendaftarkan diri di SNMPTN Undangan namun pahitnya luar biasa setelah tahu bahwa aku gagal. Mau menyalahkan siapa? Sekolah? Guru? Orang tuaku? Teman-temanku? Aku? Atau malah Tuhan? Inilah takdir, dimana berbagai lini tak ada yang bisah disalahkan.
Seminggu aku terbaring lemah tak berdaya dikamar pasca pengumuman. Stress mikir harus sekolah dimana. Masih ada satu jalur yang bisa digunakan, yaitu SNMPTN Tulis dan menurutku  kesempatannya kecil sekecil lubang sedotan. Modal otak seadanya dan doa orang tua aku berangkat ke medan ujian. Ada hal satu yang berubah, aku tak lagi mengambil universitas dikota pelajar, tapi di kota bengawan, jurusan pendidikan pula sesuai mandat orang tua.

Pada akhirnya aku diterima pilihan pertama sekaligus pilihan orang tua, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Nikmat-Nya tak bisa aku pungkiri sampai hari ini adalah ketika aku dinyatakan juga lolos beasiswa Bidik Misi yang telah aku perjuangkan sejak masih SMA. Dan tanpa diduga, lewat perjalananku dan jatuh bangunku mendapat bangku kuliah ini lahirlah bukuku yang pertama berjudul “Meniti langit” yang aku harap bisa menmotivasi para pelajar yang mau kuliah namun terkendala biaya dan kesempatan yang tertunda tanpa diminta.

Dan faktanya, hidup dikota pelajar tak semudah yang aku kira. Solo masih menjadi sahabat terbaik bagi anak-anak kos, alias biaya hidupnya lebih murah dibanding beberapa daerah. Lingkungannya masih ramah dengan wanita, agak jauh dari bursa belanja yang terkadang sulit dikekang oleh kaum hawa. Dekat dengan kampung halaman yang sewaktu-waktu bisa pulang untuk melepas rindu pada ayah dan bunda. Tuhan melarangku lewat takdirnya, dan prosesnya aku nikmati dengan suka cita karena ternyata banyak hikmah dibalik itu semua.

“Tidak semua yang kamu anggap baik itu baik pula untukmu, bisa jadi apa yang kamu anggap buruk itu adalah yang terbaik untukmu…” (QS. Al-baqarah: 126)

Setidaknya meski gagal menuntut ilmu disana, aku pernah menginjakkan kaki dikampus idaman (dulunya). Tugas kita, mahasiswa saat ini adalah mengisi kesempatan dan nikmat yang sudah Allah berikan dengan sebaik-baiknya, menjaga amanah orang tua dan mengukir jejak bagi almamater tercinta.


Salam hangat dari kota pelajar, Jogjakarta

0 komentar:

Posting Komentar