Jumat, 28 Maret 2014

MAU DIBAWA KEMANA PENDIDIKAN KITA ?



 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerima 837 laporan terkait Ujian Nasional (UN) SMA/SMK/MA/SMA LB 2012. 213 diantaranya terkait kecurangan.

Lead dari salah satu portal berita nasional diatas menggambarkan betapa parahnya kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya siswa-siswi Sekolah Menengah Atas dan sederajat yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi. Keputusan Muhammad Nuh selaku Mendikbud yang menghapuskan SNMPTN jalur tulis mengundang banyak polemik di masyarakat terutama para mahasiswa yang telah merasakan proses berjalannya SNMPTN baik undangan maupun tulis pada tahun-tahun sebelumnya. Mahasiswa yang akan berperan sebagai agent of change atau agent of control social harus mempunyai kualitas lebih dan tidak boleh hanya sekadar “ecek-ecek” belaka. Mereka memegang peran sebagai agen-agen perubahan dan akan menjadi pemegang kekuasaan selanjutnya setelah para generasi-generasi tua saat ini lengser atau pensiun. Untuk itu sejak proses awal penyaringan mahasiswa baru pun harus dengan standarisasi yang berkualitas. Kembali ke permasalahan awal mengenai penetapan SNMPTN 2013 atau yang lebih menyoroti pada SNMPTN Undangan tahun ini. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa ada dampak positif yang langsung bisa dirasakan oleh beberapa pihak seperti siswa itu sendiri dan sekolahnya. Tidak adanya pungutan biaya alias gratisnya pendaftaran SNMPTN undangan tahun ini cukup melegakan mereka. Tapi dibalik itu semua tersimpan masalah-masalah yang tidak bisa dianggap enteng. Tidak banyak orang tahu namun sayangnya hal ini benar-benar terjadi. Beberapa masalah tersebut antara lain :
Manipulasi Nilai
Penggunaan nilai rapor sebagai salah satu syarat mengikuti SNMPTN Undangan secara tidak langsung ikut meningkatkan kecurangan atau manipulasi nilai rapor oleh pihak sekolah. Kuantitas siswa yang diterima di PTN menjadi salah satu aspek untuk meningkatkan akreditasi sekolah yang bersangkutan terkadang dijadikan dalih untuk memanipilasi nilai rapor para siswanya agar peluang untuk diterima semakin terbuka lebar. Sistem Pangkalan Data Siswa dan Sekolah (PDSS) yang menampung rekam jejak akademik semua siswa di suatu sekolah sejak semester pertama dirasa belum dapat menanggulagi masalah ini, karena masih sangat memungkinkan penggelembungan nilai rapor menjelang pendaftaran SNMPTN 2013. Pencanangan SNMPTN Undangan yang telah berlangsung sejak 2010 lalu tidak menutup memungkinkan bahwa mark up nilai tidak hanya dilakukan pada siswa kelas XII saja tapi juga adik-adik mereka di kelas X dan XI untuk memperlebar peluang ditahun-tahun setelahnya.
Memperkecil Kesempatan
SNMPTN 2013 yang lebih menfokuskan pada siswa lulusan 2013 memperkecil kesempatan bagi siswa-siswi yang telah lulus di tahun sebelumnya tapi belum mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri. Bila dengan SNMPTN tulis mereka mempunyai proporsi yang seimbang karena tidak memihak pada salah satu lulusan di tahun tertentu, maka ditahun 2013 mereka harus berlapang dada memberikan kesempatan lebih besar pada adik-adik kelasnya yang baru lulus. Jalur mandiri yang diharapkan menjadi alternatif ternyata tidak terlalu menyelesaikan polemik ini karena lagi-lagi ada keberpihakan. Untuk kalangan yang mempunyai strata finansial baik mengikuti Ujian mandiri tentu tidak ada apa-apanya, tapi bagi kelas menengah ke bawah hal ini pasti  menjadi faktor penghambat untuk bisa mendapat kursi di PTN. Mereka yang sudah mempersiapkan SNMPTN tulis sejak 1-2 tahun sebelumnya harus rela menerima kenyataan yang tidak menyenangkan ini.
Meningkatkan Kecurangan
Bagi siswa-siswi yang telah mengetahui bahwa nilai rapor mereka masih dirasa kurang memenuhi untuk bisa diterima di PTN pasti akan melakukan segala cara untuk menutup kekurangan tersebut. Sayangnya, salah satu jalan yang ditempuh peserta didik di Indonesia adalah mencontek ketika ujian. Budaya instan dan degradasi kepercayaan diri menjadi salah satu faktor peningkatan kasus kecurangan ujian nasional. Pemerintah yang berencana membuat 20 paket soal ujian nasional 2013 belum bisa menjamin kejujuran siswa-siswi. Dari UN tahun lalu saja diperoleh laporan kecurangan hingga 213 laporan, meningkat daripada tahun 2011 yang hanya 109 laporan. Padahal jika dibandingkan jumlah variasi soal antara tahun 2012 yaitu 5 tipe soal dan tahun 2011 hanya 2 tipe soal A dan B. Kenyataanya banyak sedikitnya tipe soal tidak menutup kecurangan demi kecurangan yang ada dalam ujian nasional. Kecurangan di SNMPTN tulis pun dapat dikatakan sangat minim bahkan tidak ada. Selain soal-soal yang juga bervariasi, di dalam satu kelas peserta mempunyai latar belakang sekolah yang berbeda, apabila ada pun hanya 1-2 orang saja sehingga menutup kemungkinan bahwa mereka telah saling kenal sebelumnya.
Dari segi kualitas soal UN dan SNMPTN tentunya sangat berbeda jauh. Soal-soal UN hanya bersifat evaluatif sedangkan soal-soal SNMPTN jelas-jelas bertujuan untuk menyaring siswa-siswa yang memenuhi kriteria dan pantas mengikuti pembelajaran di tingkat Universitas.
Kurang Transparasi
Ketidakjelasan mengenai nilai-nilai atau aspek-aspek apa saja yang menjadi alasan siswa diterima maupun ditolak dari SNMPTN terutama jalur undangan memerlukan transparasi yang jelas. Koordinator Bidang pendidikan, Indonesia Corruption Watch (ICW) juga menyatakan bahwa dirahasiakannya nilai seluruh peserta SNMPTN akan membuat rawannya kecurangan. Selain itu, kurangnya transparasi ini bisa berakibat semakin suburnya praktik jual-beli kursi di PTN. Dengan adanya keterbukaan diharapkan mampu mengobati rasa penasaran siswa, wali murid, guru-guru dan pihak-pihak yang terkait dalam masalah kependidikan mengenai proses dan seleksi yang terjadi selama SNMPTN berlangsung hingga keluarnya pengumuman lolos atau tidak lolos. Bila dibandingkan dengan SNMPTN tulis, setidaknya para peserta telah mengerjakan soal-soal sehingga dapat memperkirakan sejauh mana keberhasilan yang dapat ia capai dengan menkalkulasi jumlah jawaban yang yakin bisa terjawab dengan yang tidak.
Sensasi Ujian
Sayang sekali bila moment SNMPTN  menjadi sangat biasa bahkan tidak berkesan sama sekali. Sensasi yang di timbulkan melalui SNMPTN tulis tidak akan pernah terjadi di SNMPTN tahun ini. Bagaimana seorang siswa belajar mati-matian untuk mempersiapkan SNMPTN tulisnya, mencari tempat ujian, mengerjakan soal-soal yang cukup asing hingga menunggu detik-detik pengumuman lolos yang terkadang hingga membuat seseorang mengalami stres dan jatuh sakit. Seorang siswa yang akan menghadapi SNMPTN dipastikan akan belajar dengan giat sehingga meningkatkan intensitas belajarnya dibandingkan dengan siswa yang hanya mengandalkan nilai rapor atau ujian mandiri yang kadang telah lebih dahulu membuat pesimis karena kesempatan untuk diterima yang relatif sangat kecil. Hal tersebut akan selalu terkenang dan dapat menjadi pemicu semangat ketika kegiatan kuliah dirasa membosankan. Berbeda dengan SNMPTN undangan yang sangat memposisikan siswanya “PW (Posisi Wenak)”. Mulai dari arsip berkas hingga proses-proses yang lain sudah diusahan oleh sekolah masing-masing. Mereka tinggal tunggu jadi dan melihat pengumuman, tidak ada “greget” sama sekali dalam pengalaman hidup yang dijalani seperti ini.
Itulah sekelumit masalah-masalah yang muncul bail itu disengaja maupun tidak. Secara keseluruhan tentu kami meninginkan keputusan-keputusan yang lebih baik, transparan serta adil bagi semua pihak.






                                                        
                                                        

0 komentar:

Posting Komentar