Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerima 837 laporan terkait Ujian Nasional (UN)
SMA/SMK/MA/SMA LB 2012. 213 diantaranya terkait kecurangan.
Lead
dari salah satu portal berita nasional diatas menggambarkan betapa parahnya
kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya siswa-siswi Sekolah Menengah Atas
dan sederajat yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi.
Keputusan Muhammad Nuh selaku Mendikbud yang menghapuskan SNMPTN jalur tulis
mengundang banyak polemik di masyarakat terutama para mahasiswa yang telah
merasakan proses berjalannya SNMPTN baik undangan maupun tulis pada tahun-tahun
sebelumnya. Mahasiswa yang akan berperan sebagai agent of change atau agent of
control social harus mempunyai kualitas lebih dan tidak boleh hanya sekadar
“ecek-ecek” belaka. Mereka memegang
peran sebagai agen-agen perubahan dan akan menjadi pemegang kekuasaan
selanjutnya setelah para generasi-generasi tua saat ini lengser atau pensiun.
Untuk itu sejak proses awal penyaringan mahasiswa baru pun harus dengan standarisasi
yang berkualitas. Kembali ke permasalahan awal mengenai penetapan SNMPTN 2013 atau
yang lebih menyoroti pada SNMPTN Undangan tahun ini. Memang, tidak dapat
dipungkiri bahwa ada dampak positif yang langsung bisa dirasakan oleh beberapa
pihak seperti siswa itu sendiri dan sekolahnya. Tidak adanya pungutan biaya
alias gratisnya pendaftaran SNMPTN undangan tahun ini cukup melegakan mereka.
Tapi dibalik itu semua tersimpan masalah-masalah yang tidak bisa dianggap
enteng. Tidak banyak orang tahu namun sayangnya hal ini benar-benar terjadi.
Beberapa masalah tersebut antara lain :
Manipulasi Nilai
Penggunaan
nilai rapor sebagai salah satu syarat mengikuti SNMPTN Undangan secara tidak
langsung ikut meningkatkan kecurangan atau manipulasi nilai rapor oleh pihak
sekolah. Kuantitas siswa yang diterima di PTN menjadi salah satu aspek untuk
meningkatkan akreditasi sekolah yang bersangkutan terkadang dijadikan dalih
untuk memanipilasi nilai rapor para siswanya agar peluang untuk diterima
semakin terbuka lebar. Sistem Pangkalan Data Siswa dan Sekolah (PDSS) yang
menampung rekam jejak akademik semua siswa di suatu sekolah sejak semester
pertama dirasa belum dapat menanggulagi masalah ini, karena masih sangat
memungkinkan penggelembungan nilai rapor menjelang pendaftaran SNMPTN 2013.
Pencanangan SNMPTN Undangan yang telah berlangsung sejak 2010 lalu tidak
menutup memungkinkan bahwa mark up nilai
tidak hanya dilakukan pada siswa kelas XII saja tapi juga adik-adik mereka di
kelas X dan XI untuk memperlebar peluang ditahun-tahun setelahnya.
Memperkecil Kesempatan
SNMPTN
2013 yang lebih menfokuskan pada siswa lulusan 2013 memperkecil kesempatan bagi
siswa-siswi yang telah lulus di tahun sebelumnya tapi belum mendapat kesempatan
mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri. Bila dengan SNMPTN tulis
mereka mempunyai proporsi yang seimbang karena tidak memihak pada salah satu
lulusan di tahun tertentu, maka ditahun 2013 mereka harus berlapang dada
memberikan kesempatan lebih besar pada adik-adik kelasnya yang baru lulus.
Jalur mandiri yang diharapkan menjadi alternatif ternyata tidak terlalu
menyelesaikan polemik ini karena lagi-lagi ada keberpihakan. Untuk kalangan
yang mempunyai strata finansial baik mengikuti Ujian mandiri tentu tidak ada
apa-apanya, tapi bagi kelas menengah ke bawah hal ini pasti menjadi faktor penghambat untuk bisa mendapat
kursi di PTN. Mereka yang sudah mempersiapkan SNMPTN tulis sejak 1-2 tahun
sebelumnya harus rela menerima kenyataan yang tidak menyenangkan ini.
Meningkatkan Kecurangan
Bagi
siswa-siswi yang telah mengetahui bahwa nilai rapor mereka masih dirasa kurang
memenuhi untuk bisa diterima di PTN pasti akan melakukan segala cara untuk
menutup kekurangan tersebut. Sayangnya, salah satu jalan yang ditempuh peserta
didik di Indonesia adalah mencontek ketika ujian. Budaya instan dan degradasi
kepercayaan diri menjadi salah satu faktor peningkatan kasus kecurangan ujian
nasional. Pemerintah yang berencana membuat 20 paket soal ujian nasional 2013
belum bisa menjamin kejujuran siswa-siswi. Dari UN tahun lalu saja diperoleh
laporan kecurangan hingga 213 laporan, meningkat daripada tahun 2011 yang hanya
109 laporan. Padahal jika dibandingkan jumlah variasi soal antara tahun 2012 yaitu
5 tipe soal dan tahun 2011 hanya 2 tipe soal A dan B. Kenyataanya banyak
sedikitnya tipe soal tidak menutup kecurangan demi kecurangan yang ada dalam
ujian nasional. Kecurangan di SNMPTN tulis pun dapat dikatakan sangat minim
bahkan tidak ada. Selain soal-soal yang juga bervariasi, di dalam satu kelas peserta
mempunyai latar belakang sekolah yang berbeda, apabila ada pun hanya 1-2 orang
saja sehingga menutup kemungkinan bahwa mereka telah saling kenal sebelumnya.
Dari
segi kualitas soal UN dan SNMPTN tentunya sangat berbeda jauh. Soal-soal UN
hanya bersifat evaluatif sedangkan soal-soal SNMPTN jelas-jelas bertujuan untuk
menyaring siswa-siswa yang memenuhi kriteria dan pantas mengikuti pembelajaran
di tingkat Universitas.
Kurang Transparasi
Ketidakjelasan
mengenai nilai-nilai atau aspek-aspek apa saja yang menjadi alasan siswa
diterima maupun ditolak dari SNMPTN terutama jalur undangan memerlukan
transparasi yang jelas. Koordinator Bidang pendidikan, Indonesia Corruption
Watch (ICW) juga menyatakan bahwa dirahasiakannya nilai seluruh peserta SNMPTN
akan membuat rawannya kecurangan. Selain itu, kurangnya transparasi ini bisa
berakibat semakin suburnya praktik jual-beli kursi di PTN. Dengan adanya
keterbukaan diharapkan mampu mengobati rasa penasaran siswa, wali murid,
guru-guru dan pihak-pihak yang terkait dalam masalah kependidikan mengenai
proses dan seleksi yang terjadi selama SNMPTN berlangsung hingga keluarnya
pengumuman lolos atau tidak lolos. Bila dibandingkan dengan SNMPTN tulis,
setidaknya para peserta telah mengerjakan soal-soal sehingga dapat
memperkirakan sejauh mana keberhasilan yang dapat ia capai dengan menkalkulasi
jumlah jawaban yang yakin bisa terjawab dengan yang tidak.
Sensasi Ujian
Sayang sekali bila moment SNMPTN menjadi sangat biasa bahkan tidak berkesan
sama sekali. Sensasi yang di timbulkan melalui SNMPTN tulis tidak akan pernah
terjadi di SNMPTN tahun ini. Bagaimana seorang siswa belajar mati-matian untuk
mempersiapkan SNMPTN tulisnya, mencari tempat ujian, mengerjakan soal-soal yang
cukup asing hingga menunggu detik-detik pengumuman lolos yang terkadang hingga
membuat seseorang mengalami stres dan jatuh sakit. Seorang siswa yang akan
menghadapi SNMPTN dipastikan akan belajar dengan giat sehingga meningkatkan
intensitas belajarnya dibandingkan dengan siswa yang hanya mengandalkan nilai
rapor atau ujian mandiri yang kadang telah lebih dahulu membuat pesimis karena
kesempatan untuk diterima yang relatif sangat kecil. Hal tersebut akan selalu
terkenang dan dapat menjadi pemicu semangat ketika kegiatan kuliah dirasa
membosankan. Berbeda dengan SNMPTN undangan yang sangat memposisikan siswanya
“PW (Posisi Wenak)”. Mulai dari arsip berkas hingga proses-proses yang lain
sudah diusahan oleh sekolah masing-masing. Mereka tinggal tunggu jadi dan
melihat pengumuman, tidak ada “greget”
sama sekali dalam pengalaman hidup yang dijalani seperti ini.
Itulah
sekelumit masalah-masalah yang muncul bail itu disengaja maupun tidak. Secara
keseluruhan tentu kami meninginkan keputusan-keputusan yang lebih baik,
transparan serta adil bagi semua pihak.







0 komentar:
Posting Komentar