Jumat, 28 Maret 2014

Izin-Nya, izinmu, izinku




Aku adalah anak pertama dari empat bersaudara. Adik-adikku masih sekolah, ada yang SD, TK dan balita. Setiap melihat mereka harapan untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan seakan pupus ditelan jagad. Ada setitik rasa kekhawatiran bila aku bersikukuh melanjutkan keputusan ini. Kedua orang tuaku yang semakin sengsara dengan himpitan ekonomi sebenarnya tidak masalah, tapi apakah aku tega melihat mereka  mengais peseran uang untuk kehidupan kami berenam.
Ditengah kebuntuan yang melanda dan detik-detik menjelang ujian nasional SMA, munculah setitik harapan itu. Dapartemen pendidikan kembali menerapkan sistem Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur undangan. Siswa yang berhak mendapatkannya adalah yang peringkatnya 50% terbaik disekolah, tapi tergantung predikat sekolah itu sendiri. Air mata penuh syukur membuncah ketika aku mengetahui bahwa diriku masuk deretan siswa yang beruntung itu. Waktu yang diberikan untuk mendaftar secara online tidak banyak, seingatku tiga hari terakhir penutupan jalur undangan sekolahku baru menyuruh siswanya mendaftar menggunakan fasilitas laboratorium komputer milik sekolah. Aku binggung, teman-temanku yang lain telah membayar uang pendaftaran sebesar Rp 250.000 untuk mendapatkan kode akses. Saat itu, uang spp yang seharusnya segera dilunasi pun belum sempat dibayar kedua orang tuaku karena masalah finansial yang seret. Walhasil aku berusaha mencari jalan keluar dengan mendatangi guru BP yang waktu itu memberikan informasi mengenai beasiswa non rupiah alias gratis bernama Bidik Misi dari DIKTI jauh-jauh hari sebelumnya. Baiklah, aku melengkapi semua persyaratannya dan melangkah menuju perguruan tinggi yang aku impikan, UGM.
Selama delapan jam non-stop aku nangkring didepan layar komputer, 3o–50 kali memasukkan pasword, NISN, dan KAP. Berusaha dengan sabar untuk masuk 2 portal yang sama-sama sulit untuk kutembus, portal SNMPTN dan Bidikmisi. Ada secercah rasa takut bila pendaftaran online ini gagal, otomatis akan gagal pula kesempatanku menghirup udara kampus. Beberapa jam hingga sore menjelang portal-portal itu akhirnya berhasil terbuka, tiba waktu memasukkan jurusan yang dipilih aku bimbang. Disisi lain aku ingin sekali menjadi civitas akademika di kampus megah yang telah aku dambakan sejak lama, UGM. Tetapi disisi lain pula aku berharap besar bisa diterima lewat jalur undangan ini, karena  tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku.
 Dengan berat hati aku hapus nama UGM di layar komputer dan dihatiku. Mungkin inilah jalan terbaik yang harus aku ambil, dalam pikiranku terbersit sepotong firman Allah SWT yang berbunyi, “ Tidak semua yang kamu anggap baik itu baik pula untukmu, boleh jadi apa yang kamu anggap buruk itulah yang terbaik untukmu”. Dengan menyebut nama Allah aku memilih UNY dan UNNES sebagai tujuan kuliah tanpa meminta restu kedua orang tua terlebih dahulu, karena aku yakin mereka tidak akan mengizinkan anak perempuannya sendirian menuntut ilmu ke tempat sejauh itu. Tiba saatnya mencetak kartu tanda peserta, aku kembali dibuat kecewa. Seluruh dokumen yang baru saja aku download untuk keperluan SNMPTN undangan tidak bisa dibuka karena flasdiskku dimangsa virus dan harus diformat.
 Hari terakhir pendaftaran online aku masih sibuk mengutak-atik laptop hasil pinjaman teman untuk mendownload ulang kartu peserta yang harus segera diprint out dan dikumpulkan  ke ruang BP. Alhamdulillah Allah mempermudahnya.  Saat itu juga aku bergegas ke ruang Bp dan berniat mencetak kartu disana karena tidak dipungut biaya, tapi berulang-ulang aku mencolokkan flasdisk ke komputer tetap saja tidak bisa. Tiba-tiba saja aku ingat, kemarin teman-temanku yang lain mencetak kartu dilaboratorium Komputer kemudian aku bergegas menuju laboratorium yang jaraknya memang tidak terlalu jauh. Entah kenapa printer yang biasanya tidak pernah pindah dari laboratorium mendadak hilang saat aku benar-benar membutuhkannya. Beberapa kali aku mengelus dada mohon untuk diberikan kesabaran ekstra.
Mau tak mau aku harus mencetak ditempat fotocopy terdekat. Ada perasaan was-was saat itu, karena aku tak membawa uang sepeserpun. Untungnya ada dua temanku yang sama-sama belum mencetak kartu sehingga “ngutang”-lah  jalan keluar terbaik bagiku. Menuju tempat fotocopy pertama yang kami dapati adalah kekecewaan karena tumben sekali toko langganan itu tutup lebih awal dari biasanya. Lanjut ke tempat fotocopy yang kedua masalah baru muncul, data yang hendak kami cetak tidak terbaca komputer ditoko itu. Keluarlah banyak kertas yang kami tidak tahu apa arti tulisan-tulisan yang tercetak didalamnya, dengan panik salah satu temanku berusaha menghentikan laju mesin cetak itu sebelum kertas-kertas yang dikeluarkan membludak. Kegagalan tak hentinya melanda, hingga akhirnya kami memutuskan untuk berjalan ke tempat fotocopy terakhir yang terletak di pojok barat kelurahan semanggi, pasar kliwon, padahal posisi kami waktu itu berada dipojok timur. Aku ingat betul cuaca ketika itu matahari tepat berada diatas kepala dengan semburat panas yang luar biasa. Tak mengapa-lah, toh ini demi cita-cita kami juga.
Aku yakin lebih dari 70% bahwa aku akan diterima lewat jalur undangan ini, karena program studi yang aku ambil juga tidak terlalu muluk-muluk menurutku. Sampai dirumah aku menceritakan semuanya pada kedua orang tua, dari universitas yang aku pilih hingga prodi-prodi yang aku daftari. Apa yang aku dapat sangat jauh dari bayanganku semula, bukannya mendapat doa tapi malah  dimarahi habis-habisan karena tidak membicarannya terlebih dahulu. Mereka kecewa padaku.
“Untuk apa anak perempuan kuliah jauh-jauh ? wong yang dekat saja ada ”, kata ibu dengan nada menekan.
“saya Cuma ingin kuliah bu, itu saja. Semakin saya jauh, saya semakin bisa mandiri kan bu?”, jelasku waktu itu.
Aku menangis, tapi apa boleh buat semuanya sudah terlanjur dan tidak ada yang bisa mengubahnya kecuali ada mukjizat dari Allah SWT. Hari-hari menjelang ujian nasional begitu berat, ditambah beban hasil SNMPTN undangan yang belum jelas kapan keluar. Dari sekolahku ada penawaran les SNMPTN dengan biaya cukup murah, yaitu Rp 100.000 dengan pembelajaran yang dimulai seminggu setelah UN berlangsung hingga seminggu sebelum tes SNMPTN dilaksanakan. Entah mengapa hatiku memberi isyarat untuk mengikuti bimbingan sederhana tersebut sesuai anjuran kedua orang tuaku juga.
Hal yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, pengumuman SNMPTN undangan itu cukup mengagetkan beberapa pihak termasuk aku yang dinyatakan tidak lolos. Bumi ini seakan runtuh dan membuatku benar-benar putus asa karenanya. Tidak ada lagi semangat untuk melanjutkan sekolah apalagi mengikuti SNMPTN jalur tulis yang terkenal sangat sulit ditembus tapi mempunyai proporsi lebih untuk menerima calon mahasiswa baru. Beberapa orang teman selalu memberikan dorongan agar semangatku terpompa kembali, dan akhirnya dengan modal seadanya aku melangkah maju menembus SNMPTN tulis. Kali ini aku tak mau melewatkan satu hal yang sangat penting dan pernah aku lupakan dikesempatan yang lalu, campur tangan orang tua.
“Bapak, Ibu sekarang Hani serahkan segala keputusan mengenai kelanjutan sekolahku. Apapun saran dan masukan dari kalian akan Hani terima”, ujarku pasrah.
“Sudahlah nak, cari sekolah yang dekat saja, kamu itu perempuan. Tidak baik sekolah jauh-jauh, bapak dan ibu hanya ingin kamu bisa jadi guru agar masa depanmu terjamin nak”, kata Ibu menasehati. Dengan mantap, ketika pendaftaran online aku memasukkan universitas yang paling dekat dengan tempat tinggalku dan mengubur dalam-dalam impian untuk menuntut ilmu dikota pelajar, Jogjakarta. Program studi yang sangat aku hindari tapi begitu diinginkan kedua orang tuaku pun aku pilih dengan ikhlas demi kebahagiaan mereka.
 Ketika mengerjakan soal aku tak henti-hentinya menyebut nama Allah agar diberi kemudahan dalam mengerjakannya. Hari-hari penuh rasa deg-degan kembali menyelimutiku. Menunggu sesuatu yang sangat tidak bisa ditebak adalah hal yang paling membuatku stres. Seminggu sebelum pengumuman ujian tulis aku jatuh sakit dan terkapar ditempat tidur hingga beberapa hari. Saat hari yang dinanti tiba pun aku masih lemah dan tidak ada keberanian untuk membuka situs resmi SNMPTN. Beberapa temanku sudah mengirimkan sms dan menyatakan diri bahwa mereka tidak lolos, aku semakin kacau memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Handphoneku berdering ditengah kegelisahan. Saat kuangkat sebuah suara memekakkan telinga masuk ke telingaku dan berlanjut ke dada  hingga membuat dadaku serasa mau loncat keluar karena berita yang tak bisa kupercaya, aku diterima. Sujud syukur langsung kuhaturkan pada Dzat Pemilik Semesta. Inikah nikmat yang kau sembunyikan dariku dulu ya Allah ?? setelah ujian-ujian yang Kau sandarkan padaku, kini Kau berikan kado yang tak terduga dan begitu indah.
Semenjak saat itu aku yakin bahwa ridlo orang tua memenglah perwujudan dari ridlo Illahi Rabbi. Semoga apa yang aku torehkan ini dapat menginspirasi kalian semua para pembaca, bahwa dedikasi orang tua tidak akan pernah lepas dari keberhasilan yang telah kita capai maupun yang akan kita capai dihari esok. _MenitiLangit

1 komentar: