Aku adalah anak pertama dari empat bersaudara. Adik-adikku
masih sekolah, ada yang SD, TK dan balita. Setiap melihat mereka harapan untuk
melanjutkan ke jenjang perkuliahan seakan pupus ditelan jagad. Ada setitik rasa
kekhawatiran bila aku bersikukuh melanjutkan keputusan ini. Kedua orang tuaku
yang semakin sengsara dengan himpitan ekonomi sebenarnya tidak masalah, tapi
apakah aku tega melihat mereka mengais
peseran uang untuk kehidupan kami berenam.
Ditengah kebuntuan yang melanda dan detik-detik menjelang
ujian nasional SMA, munculah setitik harapan itu. Dapartemen pendidikan kembali
menerapkan sistem Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur undangan.
Siswa yang berhak mendapatkannya adalah yang peringkatnya 50% terbaik
disekolah, tapi tergantung predikat sekolah itu sendiri. Air mata penuh syukur
membuncah ketika aku mengetahui bahwa diriku masuk deretan siswa yang beruntung
itu. Waktu yang diberikan untuk mendaftar secara online tidak banyak, seingatku
tiga hari terakhir penutupan jalur undangan sekolahku baru menyuruh siswanya
mendaftar menggunakan fasilitas laboratorium komputer milik sekolah. Aku
binggung, teman-temanku yang lain telah membayar uang pendaftaran sebesar Rp
250.000 untuk mendapatkan kode akses. Saat itu, uang spp yang seharusnya segera
dilunasi pun belum sempat dibayar kedua orang tuaku karena masalah finansial
yang seret. Walhasil aku berusaha mencari jalan keluar dengan mendatangi guru BP
yang waktu itu memberikan informasi mengenai beasiswa non rupiah alias gratis
bernama Bidik Misi dari DIKTI jauh-jauh hari sebelumnya. Baiklah, aku
melengkapi semua persyaratannya dan melangkah menuju perguruan tinggi yang aku
impikan, UGM.
Selama delapan jam non-stop aku nangkring didepan layar
komputer, 3o–50 kali memasukkan pasword, NISN, dan KAP. Berusaha dengan sabar
untuk masuk 2 portal yang sama-sama sulit untuk kutembus, portal SNMPTN dan
Bidikmisi. Ada secercah rasa takut bila pendaftaran online ini gagal, otomatis
akan gagal pula kesempatanku menghirup udara kampus. Beberapa jam hingga sore
menjelang portal-portal itu akhirnya berhasil terbuka, tiba waktu memasukkan
jurusan yang dipilih aku bimbang. Disisi lain aku ingin sekali menjadi civitas
akademika di kampus megah yang telah aku dambakan sejak lama, UGM. Tetapi
disisi lain pula aku berharap besar bisa diterima lewat jalur undangan ini,
karena tidak ingin mengecewakan kedua
orang tuaku.
Dengan berat hati aku
hapus nama UGM di layar komputer dan dihatiku. Mungkin inilah jalan terbaik
yang harus aku ambil, dalam pikiranku terbersit sepotong firman Allah SWT yang
berbunyi, “ Tidak semua yang kamu anggap baik itu baik pula untukmu, boleh jadi
apa yang kamu anggap buruk itulah yang terbaik untukmu”. Dengan menyebut nama
Allah aku memilih UNY dan UNNES sebagai tujuan kuliah tanpa meminta restu kedua
orang tua terlebih dahulu, karena aku yakin mereka tidak akan mengizinkan anak
perempuannya sendirian menuntut ilmu ke tempat sejauh itu. Tiba saatnya
mencetak kartu tanda peserta, aku kembali dibuat kecewa. Seluruh dokumen yang
baru saja aku download untuk keperluan SNMPTN undangan tidak bisa dibuka karena
flasdiskku dimangsa virus dan harus diformat.
Hari terakhir
pendaftaran online aku masih sibuk mengutak-atik laptop hasil pinjaman teman
untuk mendownload ulang kartu peserta yang harus segera diprint out dan
dikumpulkan ke ruang BP. Alhamdulillah
Allah mempermudahnya. Saat itu juga aku
bergegas ke ruang Bp dan berniat mencetak kartu disana karena tidak dipungut
biaya, tapi berulang-ulang aku mencolokkan flasdisk ke komputer tetap saja tidak
bisa. Tiba-tiba saja aku ingat, kemarin teman-temanku yang lain mencetak kartu
dilaboratorium Komputer kemudian aku bergegas menuju laboratorium yang jaraknya
memang tidak terlalu jauh. Entah kenapa printer yang biasanya tidak pernah
pindah dari laboratorium mendadak hilang saat aku benar-benar membutuhkannya.
Beberapa kali aku mengelus dada mohon untuk diberikan kesabaran ekstra.
Mau tak mau aku harus mencetak ditempat fotocopy terdekat. Ada
perasaan was-was saat itu, karena aku tak membawa uang sepeserpun. Untungnya
ada dua temanku yang sama-sama belum mencetak kartu sehingga “ngutang”-lah jalan keluar terbaik bagiku. Menuju tempat
fotocopy pertama yang kami dapati adalah kekecewaan karena tumben sekali toko
langganan itu tutup lebih awal dari biasanya. Lanjut ke tempat fotocopy yang
kedua masalah baru muncul, data yang hendak kami cetak tidak terbaca komputer
ditoko itu. Keluarlah banyak kertas yang kami tidak tahu apa arti
tulisan-tulisan yang tercetak didalamnya, dengan panik salah satu temanku berusaha
menghentikan laju mesin cetak itu sebelum kertas-kertas yang dikeluarkan
membludak. Kegagalan tak hentinya melanda, hingga akhirnya kami memutuskan
untuk berjalan ke tempat fotocopy terakhir yang terletak di pojok barat
kelurahan semanggi, pasar kliwon, padahal posisi kami waktu itu berada dipojok
timur. Aku ingat betul cuaca ketika itu matahari tepat berada diatas kepala
dengan semburat panas yang luar biasa. Tak mengapa-lah, toh ini demi cita-cita
kami juga.
Aku yakin lebih dari 70% bahwa aku akan diterima lewat jalur
undangan ini, karena program studi yang aku ambil juga tidak terlalu
muluk-muluk menurutku. Sampai dirumah aku menceritakan semuanya pada kedua
orang tua, dari universitas yang aku pilih hingga prodi-prodi yang aku daftari.
Apa yang aku dapat sangat jauh dari bayanganku semula, bukannya mendapat doa
tapi malah dimarahi habis-habisan karena
tidak membicarannya terlebih dahulu. Mereka kecewa padaku.
“Untuk apa anak perempuan kuliah jauh-jauh ? wong yang dekat saja ada ”, kata ibu
dengan nada menekan.
“saya Cuma ingin kuliah bu, itu saja. Semakin saya jauh,
saya semakin bisa mandiri kan bu?”, jelasku waktu itu.
Aku menangis, tapi apa boleh buat semuanya sudah terlanjur
dan tidak ada yang bisa mengubahnya kecuali ada mukjizat dari Allah SWT.
Hari-hari menjelang ujian nasional begitu berat, ditambah beban hasil SNMPTN
undangan yang belum jelas kapan keluar. Dari sekolahku ada penawaran les SNMPTN
dengan biaya cukup murah, yaitu Rp 100.000 dengan pembelajaran yang dimulai
seminggu setelah UN berlangsung hingga seminggu sebelum tes SNMPTN
dilaksanakan. Entah mengapa hatiku memberi isyarat untuk mengikuti bimbingan
sederhana tersebut sesuai anjuran kedua orang tuaku juga.
Hal yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, pengumuman SNMPTN
undangan itu cukup mengagetkan beberapa pihak termasuk aku yang dinyatakan
tidak lolos. Bumi ini seakan runtuh dan membuatku benar-benar putus asa
karenanya. Tidak ada lagi semangat untuk melanjutkan sekolah apalagi mengikuti
SNMPTN jalur tulis yang terkenal sangat sulit ditembus tapi mempunyai proporsi
lebih untuk menerima calon mahasiswa baru. Beberapa orang teman selalu
memberikan dorongan agar semangatku terpompa kembali, dan akhirnya dengan modal
seadanya aku melangkah maju menembus SNMPTN tulis. Kali ini aku tak mau
melewatkan satu hal yang sangat penting dan pernah aku lupakan dikesempatan
yang lalu, campur tangan orang tua.
“Bapak, Ibu sekarang Hani serahkan segala keputusan mengenai
kelanjutan sekolahku. Apapun saran dan masukan dari kalian akan Hani terima”,
ujarku pasrah.
“Sudahlah nak, cari sekolah yang dekat saja, kamu itu
perempuan. Tidak baik sekolah jauh-jauh, bapak dan ibu hanya ingin kamu bisa
jadi guru agar masa depanmu terjamin nak”, kata Ibu menasehati. Dengan mantap,
ketika pendaftaran online aku memasukkan universitas yang paling dekat dengan
tempat tinggalku dan mengubur dalam-dalam impian untuk menuntut ilmu dikota
pelajar, Jogjakarta. Program studi yang sangat aku hindari tapi begitu
diinginkan kedua orang tuaku pun aku pilih dengan ikhlas demi kebahagiaan
mereka.
Ketika mengerjakan
soal aku tak henti-hentinya menyebut nama Allah agar diberi kemudahan dalam
mengerjakannya. Hari-hari penuh rasa deg-degan kembali menyelimutiku. Menunggu
sesuatu yang sangat tidak bisa ditebak adalah hal yang paling membuatku stres.
Seminggu sebelum pengumuman ujian tulis aku jatuh sakit dan terkapar ditempat
tidur hingga beberapa hari. Saat hari yang dinanti tiba pun aku masih lemah dan
tidak ada keberanian untuk membuka situs resmi SNMPTN. Beberapa temanku sudah
mengirimkan sms dan menyatakan diri bahwa mereka tidak lolos, aku semakin kacau
memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Handphoneku berdering ditengah
kegelisahan. Saat kuangkat sebuah suara memekakkan telinga masuk ke telingaku
dan berlanjut ke dada hingga membuat
dadaku serasa mau loncat keluar karena berita yang tak bisa kupercaya, aku
diterima. Sujud syukur langsung kuhaturkan pada Dzat Pemilik Semesta. Inikah
nikmat yang kau sembunyikan dariku dulu ya Allah ?? setelah ujian-ujian yang
Kau sandarkan padaku, kini Kau berikan kado yang tak terduga dan begitu indah.
Semenjak saat itu aku yakin
bahwa ridlo orang tua memenglah perwujudan dari ridlo Illahi Rabbi. Semoga apa
yang aku torehkan ini dapat menginspirasi kalian semua para pembaca, bahwa
dedikasi orang tua tidak akan pernah lepas dari keberhasilan yang telah kita
capai maupun yang akan kita capai dihari esok. _MenitiLangit

.jpg)






Jadi ini perjuanganmu dapet universitas??
BalasHapus